Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
91. Perjuangan untuk si jagoan.


__ADS_3

"Aduuuhh.. apa Abang tadi pagi terlalu kencang??" ucapnya panik sendiri.


"Ijin Abang.. Panglima cari Abang" kata Oka tergopoh-gopoh.


"Duuhh.. Ya Allah.. kamu tolong ambilkan istri saya minuman ya! Saya kesana sebentar" perintahnya pada Oka. Oka segera melaksanakan perintah.


"Sabar ya dek.. Abang kesana sebentar" Rival mengusap pipi Shila lalu berlari ke lokasi acara.


##


"Minuman ya???" Oka berjalan ke gedung ramah tamah. Melihat banyaknya gelas untuk penyambutan panglima. Oka mengambil minuman dari tempatnya.


"Benar nggak ya Abang bilang tadi" tanya Oka pada dirinya sendiri dengan ragu.


##


"Bang.. cepat kembali, Shila takut" lirih nya dengan takut sebab ia sempat melihat flek saat buang air kecil tadi.


"Ini mbak..!!" Oka menyerahkan segelas minuman pada Shila.


Tak tanggung-tanggung.. Shila langsung menghabiskan minuman itu. Sesaat kemudian Shila baru menyadari itu bukan minuman seperti biasanya. Dadanya merasa sangat panas, perutnya perlahan terasa sakit, kepalanya pusing. Tak lama Shila pun muntah hebat.


Oka panik melihat Shila, ia segera menelepon Rival.


Rival mendengar ponselnya berdering. Tapi tak mungkin untuknya mengangkat panggilan telepon itu karena di hadapannya ada panglima.


"Angkat saja Kapten!!" perintah panglima.


"Siap salah Panglima" tegas Rival


"Angkat saja. Bukannya istrimu ada di luar, siapa tau butuh bantuan" kata panglima.


"Siap!!! Ijin mengangkat telepon"


Rival sedikit menyingkir dari hadapan panglima.


"Abaaanngg.. gawat bang... Mbak Shila........" panik Oka di seberang sana.


Tanpa pamit Rival langsung berlari meninggalkan panglima tanpa aba-aba. Danyon sampai malu harus berkata apa dengan sikap Rival. Tapi Panglima biasa saja dengan tingkah Rival, karena Panglima tau sifat Kapten Rivaldi yang ia dengar.


-_-_-_-


Beberapa orang mengikuti Rival. Shila mengejang, Oka bingung harus berbuat apa.


"Ada apa??? Kenapa istriku jadi begini" Bukan main paniknya Rival saat ini.


"Habis minum langsung begini bang" cemas Oka.

__ADS_1


Rival mengambil gelas yang ada disana lalu mencium baunya.


"Kamu kasih arak ke istri Abang??????" bentak Rival.


"Iya bang" jawab Oka dengan bingung.


Rival langsung menampar pipi Oka sekencangnya.


"Bodoh kamu!!!!! Apa kamu lahir dari batu sampai kasih istri Abang arak??????" bentak Rival lagi.


"Kata Abang Khan kasih minuman" kilah Oka.


"Tapi nggak minuman tradisional untuk penyambutan Panglima donk Okaaaaaa" kemarahan Rival mencuat hebat.


Rival panik berusaha menyadarkan Shila. Tak lama Shila muntah lagi. Badannya menggelinjang kesakitan.


"Apa rasanya sayang!! Bilang sama Abang!!" Rival menyesali karena sudah meninggalkan istrinya.. Kedua istrinya terlalu polos menghadapi dunia.


Shila memeluk Rival dengan erat saat sakit mulai menderanya.


"Bang.. perut Shila terlalu sakit"


Rival hampir tidak bisa bicara. Rasa cemasnya semakin mengacak perasaan.


"Aaarrggghhh.. tolong Shila bang!!? Sakit sekali!" Shila mulai mengeluh lagi.


"Sebenarnya anak Abang sudah pengen keluar" lirih Shila tak bisa menutupi lagi.


"Apa dek??? Ya Allah.. Kamu tuh??"


"Bawa mobil kesini!!!" perintah Rival.


***


Farhan sibuk menanganinya Shila yang sudah tidak sadar. Rival sungguh merutuki dirinya sendiri. Apalagi ia masih merasa sangat marah dengan kebodohan Oka. Bagaimana bisa ada pria sebodoh Oka.


"Ini gimana sih Val. Kenapa sampai meminum arak?" gerutu Farhan. Ia cekatan menyiapkan alat untuk persalinan Shila.


"Istrimu mabuk nih. Kita serba kerja keras. Obat nggak bisa sembarangan di kasih karena istrimu baru minum alkohol" jelas Farhan.


Tak lama Shila kejang lagi. Farhan harus memutuskan tindakan.


"Anakmu dalam bahaya Val.. sungsang.. dan lagi banyak komplikasi yang sudah aku bilang waktu itu"


Rival lemas, dadanya terasa sakit sekali.


"Tindakan apa yang paling memungkinkan??" tanya Rival.

__ADS_1


"Operasi, tapi istrimu baru minum alkohol, dan lagi keadaan bayimu sudah tipis harapan. Jika kamu pilih Shila.. kamu tidak akan melihat bayimu, tapi kalau kamu memilih bayimu.. Kamu akan membesarkan anakmu sendirian" jawab Farhan.


Disitulah jiwa seorang suami dan seorang ayah di uji. Batinnya begitu tertekan, harus memilih antara istri atau anaknya. Air matanya menetes melihat Shila tidak sadarkan diri. Rival menyentuh tangan Shila.


"Hidup dan mati hanya milik Allah.. saya tidak bisa memilih. Lakukan apa yang harus kamu lakukan.. tapi ijinkan saya menemani istri saya di ruang operasi" pinta Rival.


"Baiklah.." Farhan menyetujui. Lalu menyiapkan ruang operasi meninggalkan Rival.


Rival membungkuk, mengecup perut Shila, lalu beralih mengecup kening Shila.


"Jangan takut sayang!! Abang menemani"


Rival meremas dadanya dengan kuat, sakit itu menderanya lagi bahkan sangat sakit dan semakin sakit.


"Maaf Abang menangis!" Rival menghapus air matanya, tapi entah kenapa air mata itu tidak mau menurut padanya.


"Kamu tau nggak, Abang pernah ada di posisi setakut ini saat Yara melahirkan Abrian. Tapi hari ini, Abang sangat ketakutan kalau kamu akan pergi tinggalkan Abang! Jangan ya sayang!!! Abang mohon" pintanya terisak pilu menciumi wajah Shila lalu mendekap Shila dengan posesif.


Tak terlukiskan bagaimana terguncangnya Rival merasakan dirinya sendiri hari ini. Rival menggenggam tangan Shila, menyimpannya di pipinya.


"Dengarkan isi hati Abang. Tiga setengah tahun Abang bersama Yara. Meninggalkan perasaan cinta yang tidak bisa Abang lupakan.. tapi dua setengah tahun Abang bersamamu, hanya kamu yang bisa membalikan perasaan hati Abang. Jika kamu bertemu Yara.. katakan Abang merindukannya. Tapi tolong..kembalilah kamu pada Abang!! Sebab di dunia ini hanya ada nama Shila di hati Abang"


Farhan sudah kembali dan menyerahkan pakaian operasi pada Rival.


"Siapkan mentalmu Val!!!"


Rival memejam mengatur nafasnya.


"Astagfirullah hal adzim Ya Allah" Rival menguatkan batinnya.


***


Rival melihat dengan mata kepalanya sendiri perut Shila di bedah. Rasa ngilu, cemas, takut bercampur menjadi satu. Air matanya terus menetes. Terlihat Farhan bersama seorang dokter lagi mengangkat sesosok mungil dari dalam perut Shila. Bayi laki-laki sesuai keinginannya. Tangis pecah melihat bayinya yang masih terlalu kecil untuk di lahirkan dengan berat dua kilogram. Lirih suara tangis bayi menghantam kuat jiwanya, terlihat wajah jagoan kecil yang bagai di dalam cermin seperti dia.


"Selamat datang jagoan papa" senyumnya pilu. Rival mendekati putranya melantunkan Adzan yang sangat berat keluar dari bibirnya.


Detak jantung Shila sangat lemah bahkan nyaris hilang. Farhan menyerahkan bayi itu pada perawat saat melihat Shila sudah di ambang batas. Farhan segera menangani keadaan Shila lagi. Rival duduk terpaku melihat wanita yang sangat ia cintai berada pada fase hidup dan mati.


Segala upaya di lakukan Farhan. Rival menatap wajah Shila, ada bulir air mata yang menetes disana. Keringat Farhan bercucuran.. setiap tindakannya pun penuh harap, berpacu dengan waktu. Sesaat kemudian..


Farhan menepuk bahu Rival pelan seolah memberinya kekuatan.


Rival menyandarkan kepalanya di samping bahu Shila yang terbaring di ruang operasi. Lirih Rival membacakan doa untuk istri tercinta. Ia berhenti saat merasakan gemuruh dalam dadanya sudah tidak bisa ia pikul lagi. Tangisnya tumpah ruah.


"Ma.. I love you"


.

__ADS_1


.


__ADS_2