Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
60. Derita asrama


__ADS_3

Rival tidak mengangkat panggilan telepon itu tapi hanya memberinya pesan


R : Abang masih di luar. Setelah sampai rumah Abang langsung merapat ke kantor.


A : Siap!!


"Ada apa bang?" tanya Shila.


"Pekerjaan kantor saja" jawab Rival sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku.


Ya Allah Shila.. mudah-mudahan kamu kuat sayang.


***


"Kamu masuk dulu istirahat sama anak-anak. Abang mau ke Batalyon dulu" pamitnya.


"Iya bang"


-_-_-_-_-


"Biar Shila Abang ajak saja ke rumah mama"


"Shila pasti tidak nyaman bang" kata Arshen.


"Terus bagaimana? kalau dia tinggal di kost mu juga akan menambah prasangka buruk orang" Rival mulai pusing.


"Biarkan saja Shila di rumah bang. Asal dia tidak keluar bertemu dengan ibu-ibu" saran Arshen.


"Ini asrama Arshen. Suara ibu-ibu bagaikan petasan yang sekali meletus semua orang bisa dengar" kesal Rival.


"Astaga.. bagaimana para suami itu mendidik istrinya"


"Ini parah bang" ucap Arshen menunduk.


Rival memijat pangkal hidungnya.


"Abang pasti menjaganya baik-baik"


***


"Nggak perlu ikut olahraga dek" kata Rival.


"Tapi sejak Abang libur kemarin Shila nggak ikut kegiatan sudah tiga Minggu bang. Shila juga nggak keluar rumah selama itu"


"Abang lebih senang kamu di rumah" pinta Rival lembut.


"Tapi hari ini olahraga gabungan bang. Bu Danyon minta Shila ikut. Masa istri Abang nggak olahraga" tanya Shila.


"Abang nanti yang akan menghadap Bu Danyon" senyumnya.


"Ya sudah Abang berangkat dulu ya! sudah siang sekali ini dek. Assalamu'alaikum.." pamit Rival.


"Wa'alaikumsalam.."


***


"Bu Rival, masuk saja. Saya tunggu. Saya kangen nih lama tidak jumpa" ucap Bu Danyon pada sambungan telepon.


"Siap Bu. Saya hadir" kata Shila.

__ADS_1


-_-_-_-_-


Olahraga sudah di laksanakan. Rival sibuk dengan pekerjaannya hingga tak melihat Shila disana.



Shila mencuci tangannya, bermaksud akan menyuapi Lilan dan Abrian. Di lihat jam tangannya masih ada waktu 45 menit sebelum Arben pulang sekolah TK.


"Iihh.. Bu Rival kembali. Tidak tau malu ya" kata Bu Wisnu.


"Iya.. Kalau suami kita di rayu juga gimana?" imbuh Bu Salim.


Shila sedikit mendengar percakapan mereka di balik dinding. Ia tau kemana arah pembicaraan para ibu itu.


"Kasian sekali Dankin. Pasti di guna-guna sama si Shila itu"


Shila perlahan menghindar dari sana. Namun tanpa disadari, Rival ikut mendengarkan pembicaraan itu tanpa sepengetahuan Shila dan Shila pun tidak tau ada suaminy disana.


"Ya Allah Gusti, parah sekali. Jangan sampai istriku dengar. Ini terlalu fatal" gumam Rival dalam hati.


Rival berjalan meninggalkan tempat itu menyimpan gemuruh emosi dalam batinnya.


"Tolong panggilkan Pak Wisnu dan Pak Salim!!" perintah Rival.


***


"Kalian bisa mendidik istri atau tidak???" ucap Rival pada Wisnu dan Salim.


"Siap salah!!" jawab keduanya.


"Kalau kalian tidak tau berita. Jangan asal buka suara apalagi istri kalian itu karung bodol. Kalian tau dampaknya pada istri saya??" tegur Rival.


"Terima sanksi kalian!!!!" tegas Rival.


-_-_-_-_-


Nampak di lapangan yang sepi Wisnu dan Salim menerima hukuman dari Rival.


"Istri kita ngomong apa sih bang?" tanya Wisnu yang tidak tau apa-apa.


"Sepertinya tentang istri Danki yang minggat dari asrama saat Danki dinas luar, lalu bekerja sebagai wts di perbatasan" jawab Salim.


"Ya Tuhan bang. Jangan telan segala berita seperti itu mentah-mentah. Kalau Bu Rival dengar pasti down sekali. Pantas saja Danki tidak terima" sesal Wisnu.


"Aarrgghh.. kau tau mulut wanita. Ya sudah.. mau bagaimana lagi. Kita tanggung saja akibat kicauan istri kita" jawab Salim dengan pasrah.


"Astagfirullah.. Saya harus tegas dengan istri" gumam Wisnu.


"Saya juga"


-_-_-_-_-


"Pak Wisnu.. Pak Salim.. Apa bapak melihat suami saya?" tanya Shila dengan sopan.


"Ijin ibu, Danki ada di lapangan untuk setting tempat menembak besok" jawab Pak Wisnu.


Dari jauh terlihat Bu Wisnu tergopoh-gopoh menarik lengan suaminya.


"Ayo pulang yah!"

__ADS_1


"Ijin Bu, kami duluan" kata Wisnu.


"Nggak perlu kasih salam yah" ketus Bu Wisnu.


Shila hanya mengangguk dan tersenyum namun dalam hatinya menangis kencang.


"Mama sedih?" tanya Abrian yang tidak sengaja melihat mata mamanya memerah.


"Nggak sayang. Mama kelilipan" jawab Shila dengan riang.


-_-_-_-


Di rumah nampak biasa saja seolah tak ada yang terjadi, hanya perasaan Rival melihat Shila sedikit berbeda.


"Ada apa sayang" tanya Rival sebelum mereka tidur.


"Nggak ada apa-apa bang! Emangnya kenapa?"


Rival bernapas lega mengira Shila tak tau apapun tentang suasana Batalyon yang lumayan memanas.


"Oohh.. Abang kira pengen Abang peluk" godanya.


"Abaaanngg.. tidurlah bang. Sudah malam nih" kata Shila merasa geli karena Rival menempel terus padanya.


Shila coba untuk kuat demi Abang.


***


Pagi hari Shila belanja sayur di tukang sayur keliling. Tampak banyak ibu-ibu tapi tidak ada yang menyapa Shila sama sekali. Bahkan saat Shila menyapa mereka, tidak ada yang menjawabnya dan Shila tetap tersenyum sambil menggendong Lilan. Tidak ada tangis dari wajahnya. Ia tetap tersenyum.


-_-_-_-_-


Selesai pengarahan, Rival menandatangani berkasnya, tak sengaja siku nya menyenggol bingkai foto Shila hingga pecah di lantai.


"Kenapa perasaanku tidak enak" gumamnya mengusap dadanya pelan.


Rival melihat jam sudah menunjukan pukul 10.30. Waktunya Arben pulang. Ia membersihkan dulu serpihan kaca di lantai lalu berangkat menjemput Arben.


***


Shila mencium dengan penuh kasih sayang di pipi Abrian dan Lilan yang tidur pulas di ranjangnya. Ia membelai putra dan putrinya. Shila bangun dan berdiri di depan cermin rias dan mengusap pantulan wajah dirinya.


***


"Cepat masuk ke dalam!! Matahari terik sekali! Bilang sama mama, papa langsung berangkat ke kantor" pesannya.


"Oke papa" jawab Arben lalu berlari ke dalam rumah.


Baru saja Rival akan menarik gas di motornya, terdengar teriakan kuat dari dalam rumah.


"Mamaaaaaaaa"


Rival sangat kaget, ia turun dengan cepat hingga motornya ikut terjatuh. Arshen yang melintas bersama Gandhi bingung melihat reaksi Rival. Mutia dan beberapa tetangga ikut keluar saat mendengar suara tangis histeris Arben.


Rival masuk ke dalam rumah melihat Arben menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Rival menoleh ke arah kamar. Seketika Rival bagai tersambar petir tak tau bagaimana merasakan detak jantungnya.


"Astagfirullah hal adzim... Shilaaaa"


.

__ADS_1


.


__ADS_2