Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )

Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu )
106. Mulai mencintai ( END )


__ADS_3

Keluarga Rival sudah kembali ke asrama masih ada rasa sedih dalam hati mereka perihal kepergian Naya. Tak lepas kepikiran Randy yang masih terpukul karena kehilangan Naya.


Malam hari usai terawih, Arben pamit pergi menemui seseorang.


#


Arben menunggu seseorang di ruang karaoke privat yang ia pesan. Sudah lima batang rokok ia hisap menunggu kebosanan. Beberapa gelas minuman juga ia tenggak disana. Seorang gadis masuk dan langsung duduk di pangkuan Arben. Gadis itu m*****t dengan kasar bibir Arben.


Arben melepaskan ciuman itu.


"Kenapa? mas mau bagaimana?" tanya Carissa. Kekasih Arben.


"Mas ingin mencintaimu bukan karena nafsu" kata Arben.


"Tapi ini sudah bukan hal yang aneh khan mas"


"Mas tau, tapi mas ingin menjagamu sampai pernikahan kita nanti sayang. Mas mau kita sama-sama ikhlas melakukannya tanpa beban dan rasa bersalah" kata Arben.


"Oya?? Bagaimana kalau begini?" Carissa membuka kancing bajunya lalu memeluk wajah Arben tepat di dadanya. Arben bersandar lemas tanpa perlawanan.


#


Arben mengancingkan kembali pakaiannya. Ia mengusap wajahnya. Rasa bersalah kini menghantui nya.


"Apa kamu begini dengan pria lain selain sama mas?" tanya Arben mengintrogasi Rissa.


"Ayolah mas, jangan berlebihan" bujuk Rissa.


Ponsel Rissa bergetar, ada panggilan mendadak.


"Maaf sayang, aku harus terbang hari ini" kata Rissa mencium pipi Arben.


"Tapi kamu baru turun" protes Arben yang masih merasa rindu.


"Ini demi masa depan kita sayang" ucapnya sambil menyambar tas dan bill tagihan ruang karaoke.


"Tinggalkan saja. nanti mas yang bayar"


"Pakai saja buat kebutuhan mas, harga ruang karaoke ini lumayan mahal lho" kata Rissa sambil berlalu.


Sifatmu nggak berubah sayang. Mas harap setelah kita menikah, kamu bisa sedikit lebih menghargai mas.


***

__ADS_1


Tengah malam Arben mandi dan segera sholat, sungguh hatinya begitu resah bisa berbuat seperti itu bersama Rissa.


#


"Kenapa lu bang? Abis begituan sama Rissa ya?" tanya Brian.


Arben celingukan langsung menampar pelan bibir Brian.


"Mulut apa radio? Asal bunyi aja" tegur Arben.


"Itu.. di leher lu apaan tuh?" tanya Brian.


"Alergi"


"Lu kata gue si Imung Bang? Bisa lu kibulin?" kata Brian.


"Ya sudah, itu masalah lu. Pokoknya hati-hati dan tanggung jawab"


***


Mulai saat itu entah kenapa perasaan Arben begitu terpikat dengan Carissa, yang tertanam di pikirannya hanya Carissa.


"Ben.. kalau Rissa istri mu, silakan sedalam itu kamu memikirkan dia. Tapi kalau masih sebatas pacar, jangan macam-macam. Sebentar lagi kamu selesai pendidikan" kata Rival mengingatkan Arben.


"Sekedar happy aja pa. Nggak main perempuan kok. Brian ini setia pa, kalau Brian yang merusak ya Brian tanggung jawab" kata Brian.


Rival langsung menjitak putranya. "Sembarangan!!!!. Jangan main perempuan!! Cintai wanita dengan hatimu..bukan matamu. ingat kata papa!!"


"Siap!!" jawab kedua putra Rival.


***


Hari raya telah usai. Saatnya Arben dan Abrian kembali ke pendidikan. Tinggal selangkah lagi Arben akan lulus dari pendidikan nya.


Shila memeluk kedua putranya.


"Baik-baik disana ya nak. Jaga kesehatan. Jaga diri. Berjanjilah untuk tidak terlalu dekat dengan perempuan"


"Iya mama" jawab keduanya.


"Arben hanya cinta mama"


"Brian juga cinta mama"

__ADS_1


Kedua putra Rival itu segera menaiki bus menuju tempat pendidikan.


***


Enam bulan telah berlalu. Hari pelantikan Arben menjadi seorang Letda akhirnya datang juga.


Arben berdiri tegak menatap lurus ke arah depan.Ada rasa tak terbayangkan dalam hatinya. Pangkat itu kini bertengger sempurna di atas bahunya. Ada foto kecil dalam genggaman tangan kirinya. Foto mama Yara. Air matanya meleleh deras.


Mama.. ini juga untuk mama. Yang tenang disana ya ma. Banggakah mama melihat Arben sudah menjadi seperti papa. Hanya sesaat Arben bisa melihat mama. Biarkan mama ada disana.. doa Arben selalu menyertai mama.


Rival berdiri di depan putranya, seketika Arben memberikan hormat pertama nya setelah menjadi seorang Letda. Rival membalas hormat dari putra pertamanya serta memeluknya.


"Selamat nak, kamu berhasil. Dan kehidupan selanjutnya baru akan kamu mulai. Bersikaplah bijak sebagai seorang pria!" pesan papanya.


"Siap..!!"


Arben menoleh menatap wajah Shila yang sendu mengharu biru. Arben melepas topinya lalu menyerahkan topi pada Shila. Saat Shila menerimanya, Arben berlutut memeluk dan mencium kaki Shila.


"Jangan nak, mama nggak pantas mendapatkan nya" kata Shila terisak. Rival sudah menyangga punggung istrinya itu.


"Arben memang tidak terlahir dari rahim mama, tapi Arben hidup dari darah dan kasih sayang mama. Karena mama..Arben tidak pernah kekurangan cinta dan kasih sayang orang tua. Dari mama, Arben paham rasanya mencintai seorang wanita. Surga tetap ada di telapak kaki mama"


"Arbeenn" suara Shila tercekat mendengar perlakuan putranya.


Arben merogoh saku celananya. "Ma.. ini pertama kalinya Arben membelikan mama satu set perhiasan untuk mama"


"Nggak usah nyogok mama" sela Rival yang sebenarnya tidak kuat dengan pemandangan di depan matanya kali ini.


"Ini hanya perhiasan murah pa, hasil kerja sampingan Arben. Dan ini untuk mama" kata Arben.


Tangan Shila gemetar menerima pemberian putranya. Arben pun memeluk mamanya dengan sayang.


"Kelak Arben tidak akan mempermainkan wanita. Seperti kata papa, cintai wanita dengan hatimu, bukan matamu"


"Mama..adalah cinta pertama Arben"


.


.


.


END

__ADS_1


__ADS_2