
Para anggota menikmati acara syukuran kecil-kecilan yang diadakan Kapten mereka. Tawa riang, canda tawa terlihat menyenangkan disana.
"Abang mau kopi?" tanya Shila sambil membawa sepiring makanan untuk suaminya.
"Nggak dek" jawab Rival.
"Tumben bang?"
"Dada Abang sedikit sakit" ucapnya sambil mengusap ringan dadanya sendiri.
"Nanti Shila seka di kamar ya bang!" kata Shila.
"Iya sayang" senyumnya.
"Kalau gitu Abang makan dulu ya!".
Rival tersenyum mengangguk.
Shila menyuapi suaminya makan. Sampai saat ini dalam hati Rival terus menangisi nasib istrinya. Perih dan lara ia telan sendiri.
Dulu..saat menikah dengan Abang, Yara pun tak beruntung hingga akhir hayatnya hanya sesal dalam hati Abang ini yang tersisa. Kini kamu disisi Abang, tak ingin Abang mengulang segala kepedihan itu. Abang ingin kamu bahagia, biarpun Abang harus sakit dan terluka, melihat senyum indahmu itu.. Abang sudah bahagia.
***
Rival menutup laptopnya usai memeriksa laporan yang akan ia tanda tangani esok.
Rival memejamkan mata bertumpu pada tangan yang bertaut di atas meja. Shila mengusap pundak suaminya dengan sayang.
Rival menengadah menatap Shila yang mengusap pundaknya. Shila sedikit membungkuk mencium kening suaminya.
"Abang tidak mau berbagi dengan Shila?" tanya Shila yang melihat raut wajah Rival seolah banyak tekanan.
"Hanya masalah pekerjaan saja dek" jawabnya.
"Apa Shila nggak boleh tau?"
"Boleh sayang.. tapi ini bukan kapasitas mu untuk berpikir rumit" kata Rival.
"Terus Shila bisa bantu apa bang?"
"Sini!!!!" Rival menepuk pahanya agar Shila duduk disana.
"Menurut apa kata Abang. Ikhlas mencintai Abang" jawabnya.
Rival mencium bibir manis Shila, saat ini hanya itu obat terbaik yang ia inginkan.
"Abang mau kasih hadiahmu sekarang" kata Rival dengan suara beratnya.
***
__ADS_1
Shila melihat jari manisnya, jari manis kanannya masih terpasang cincin kawinnya, jari manis kirinya ada cincin ulir gading berlapis emas dari Rival. Setelah semalam mereka melakukannya, Rival menyematkan cincin ulir itu untuknya.
Flashback on
"Enak nggak?"
Shila mengangguk, pipinya memerah.
Rival bergeser dari posisinya mengatur nafas yang belum pulih. Tangannya meraba di sekitar kasur.
"Mana jarimu" pinta Rival.
Shila menunjukan jarinya pada Rival. Suaminya itu langsung memasang cincin ulir gading indah di jari manis kirinya. Shila memperhatikan cincin cantik itu, unik.. namun indah.
"Selamat ulang tahun sayang, panjang umur, sehat selalu. Tetap sayang Abang ya" ucapnya.
"Terima kasih banyak ya bang" ucapnya memeluk Rival tak bisa membendung air matanya.
"Iya sayang.. Sudah donk yank.. kebanyakan nangis nanti air matamu habis" bujuk Rival.
"Bang.. bukannya cincin seperti ini mahal harganya ya?" tanya Shila.
"Nggak"
"Yang Shila dengar mahal bang"
"Yang paling mahal untuk Abang itu cuma anak-anak dan kamu saja" jawab Rival.
Flashback off
***
braaaaakk
Suara keras terdengar dari halaman depan gerbang barak BKO.
"Suara apa itu?" Rival keluar dari ruang gudang. Ia baru mengambil mesin pemangkas rumput.
"Coba Abang lihat" kata Shila.
Rival menuju ke depan jalan dan melihat barang stok dapur jatuh berantakan di depan gerbang.
"Heh..kalau nggak bisa bawa motor jangan sekencang itu" kesal Gandhi menendang ban motor orang yang menabraknya.
"Bantu ambil barang yang berserakan ini!" perintah Rival pada anak buahnya. Rival mendekati penabrak motor Gandhi.
Tak ada respon dari penabrak.. Gandhi menarik paksa helm pengendara itu. Tak disangka ada rambut hitam panjang terurai indah.
Gandhi melotot melihat gadis cantik yang ada di hadapannya tak terkecuali dengan Rival yang tak menyangka ternyata yang mengendarai motornya adalah seorang wanita.
__ADS_1
"Cantik bang?" tanya Shila tiba-tiba pada Rival yang tanpa sadar ikut terpaku juga.
"Astagfirullah..." Rival kaget melihat Shila sudah ada di sampingnya.
"Cantik kamu lah sayang" ucap Rival.
Shila meninggalkan tempat itu tanpa ekspresi wajah.
Astaga.. ngambek. Bisa nggak dapat jatah nih nanti malam.
"Dek.. tunggu Abang!" Rival mengejar Shila masuk ke dalam kamar.
"Ngambek ya?" tanya Rival.
"Nggak"
"Masa???"
"Iya bang.. iihh.. Abang punya mata, terserah Abang mau lihat apa" jawabnya datar.
Kasihannya kamu sayang. Cemburu saja sampai harus kamu tahan.
"Ya sudah sebentar ya!" kata Rival.
"Abang mau kemana?" tanya Shila melihat Rival akan meninggalkan kamar.
"Mau minta nomer telepon perempuan tadi" jawab Rival sengaja memancing Shila.
"Terus mau apa?" selidik Shila.
"Buat cadangan" jawab Rival santai.
Shila diam dan langsung merebahkan diri di kasurnya.
"Pergilah bang, Shila tidak melarang" ucapnya pasrah menahan air mata.
Rival tak ingin meneruskan lagi. Ia ikut tidur di alam satu kasur bersama Shila.
"Kalau marah bilang marah, kalau cemburu bilang cemburu" kata Rival.
"Shila nggak marah" ucapnya.
Rival sedikit menarik dirinya.
"Berarti kamu ijinkan Abang?" tanya Rival.
Seketika itu juga Shila memeluknya tanpa suara.
"Jangan membohongi diri sendiri. Cemburu itu hakmu. Kamu istri Abang" tegas Rival.
__ADS_1
.
.