Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson


__ADS_3

Pada akhirnya manusia akan sendirian di akhir hidupnya.


Jadi untuk apa repot-repot mencari pendamping hidup jika itu tidak berlaku selamanya?


-Agatha Anderson-


.


.


.


Suara ketukan heels terdengar di ruangan yang sunyi itu, wanita itu berdiri dengan tangan terlipat di depan dada menatap keluar dinding kaca ruang kerjanya.


"Jadi apa maksud dari semua kalimatmu tadi Josh?" tanyanya pada seorang pria yang tampak sempurna dalam balutan jas hitamnya. Rambut yang ditata rapi membuatnya tampak seperti pahatan karya indah ketika cahaya matahari menyinarinya melalui kaca.


"Aku harus mengatakannya berapa kali Nona? Ah, tidak-aku sudah sangat kesal padamu sekarang Agatha!"


"Semuanya hanya terdengar seperti omong kosong di telingaku Josh. Dan sama sekali tidak bisa kumengerti."


Pria tampan yang sedang duduk bersandar pada pinggiran meja itu kembali menghela napasnya lelah. Sudah satu jam mereka berdua berada di ruangan ini membicarakan hal yang sama berulang kali. Dan wanita di hadapannya itu seolah tuli dengan semua hal yang telah dikatakannya.


"Sudahlah Agatha, pikirkan apa yang kukatakan dan jangan membuatku sakit kepala." pria itu meletakkan cangkir kopinya lalu berjalan menghampiri wanita cantik yang berdiri diam itu.


"Aku tidak mengerti sama sekali."


"Ya, kau mengerti Agatha. Sangat tahu apa yang kubicarakan. Hanya tidak mau mengerti, pikirkan semua yang kukatakan dan beri aku jawaban secepatnya. Aku tidak mau digantung oleh ayahmu."


Kemudian pria itu berbalik sudah terlalu lelah bicara dengan seorang Agatha. Tidak ada yang bisa mengalahkan sifat keras kepala Agatha Anderson. Dan segera kembali ke ruangannya adalah cara terbaik mendinginkan kepalanya.

__ADS_1


Agatha dengan ekspresi tak terbaca masih berdiri disana termenung memanjakan matanya dengan pemandangan ratusan gedung dari dinding kaca. Gedung-gedung yang tampak kecil dari lantai 23 tempatnya berada sekarang.


Sialan, kenapa pria tua itu tidak bicara langsung padanya alih-alih pada Joshua? Oh tentu saja bagi pria tua itu dirinya tidak lebih dari sebuah alat penghasil uang yang tidak bisa diajaknya bicara.


Agatha berbalik lalu menekan sebuah tombol pada telepon diatas meja kerjanya.


"Josh, kembalilah ke ruanganku."


"Maaf, tapi aku tidak mau Nona. Aku baru saja membuka pintuku dan masuk tapi kau sudah menyuruhku kembali? Aku bahkan belum sempat duduk. Kau gila! Ekhm-saya menunggu jawaban anda secepatnya."


Dan tanpa bicara lagi, pria yang dipanggilnya Joshua yang merupakan personal asistennya itu menutup pembicaraan meraka. Jangan salah paham pada sikap Joshua pada Agatha. Jika kalian tahu pekerjaaan seorang pawang singa, itulah Joshua. Dia satu-satunya pria yang bisa mengendalikan Agatha, yang bisa berteriak, memarahi dan menolak seorang Agatha pada situasi tertentu.


Spesial?


Tentu saja, karena Joshua sebenarnya adalah seorang sahabat yang di paksa terikat oleh Agatha. Seseorang yang seharusnya kini menjadi pengacara hebat namun harus merelakan impiannya karena perbuatan seorang Agatha dan berakhir dengan jabatan personal asisten selama 5 tahun ini.


Baiklah kurasa cukup mengenai Joshua nanti kita bicarakan lagi, dan kita kembali pada Agatha yang kini benar-benar ingin sekali menghancurkan dinding kaca di depannya lalu melompat dari lantai 23.


"Oh damn!" umpatnya kemudian mengambil sebatang rokok dari lacinya, menyalakan dan menghisapnya pelan. Kepulan asap dari bibirnya itu membuat sosoknya terlihat angkuh, tak terbantahkan, dan absolut.


Pikirannya yang kacau mengharuskannya bersahabat dengan batang nikotin itu.


Setelah semua hal yang berlalu dengan baik-baik saja, tiba-tiba saja Joshua datang dengan kabar yang sama sekali tidak pernah ingin dia dengar. Berita yang sudah pasti datang dari keluarganya setelah agenda bertemu dengan ayahnya tadi siang. Bukan salah Joshua sebenarnya, hanya saja pria itu harus siap menjadi sasaran kekesalan dan amarah untuk semua hal terkait hidupnya.


Kembali menyesap lalu menghembuskan asap rokoknya pelan kini Agatha memilih untuk merebahkan diri di salah satu sofa di sudut ruangannya setelah memastikan mengunci pintu melalui remote yang digenggamnya. Agatha memijit keningnya yang terasa pening dan lelah.


"Berita sialan, hanya mendengarnya saja aku sudah merasa pusing. Apalagi yang harus kulakukan untuk menghindarinya?" gumamnya lalu kembali menyesap batang rokoknya.


Bukannya tidak memiliki keinginan yang secara umum bersama dengan seseorang yang menemani hidupnya nanti, hanya saja konsep menghabiskan sisa hidup bersama seseorang bukanlah hal yang cocok bagi pemikiran Agatha.

__ADS_1


Dia cukup pandai bersosialisasi, dia bahkan cukup profesional membangun hubungan relasi dengan siapapun tanpa terkecuali, namun tetap saja kepalanya menolak setiap kali gambaran hubungan serius itu mulai tercetak dikepalanya.


Mengurus hidupnya saja sudah cukup merepotkan jadi kenapa dia harus merepotkan diri lagi hanya untuk mengurusi hidup orang lain? Apalagi jika itu untuk selamanya, bukankah itu sangat merepotkan?


Banyak hal yang ingin dilakukannya sendirian dan juga banyak hal yang harus dicapai olehnya sendirian.


Konsep romantis itu sudah lama terbuang dari hati dan hidup seorang Agatha. Yang entah sejak kapan mulai tidak bisa lagi memahami apa arti romantisme yang diagungkan oleh jutaan orang.


Jika di dunia ini ada satu hal yang menjadi daftar akhir dari keinginannya, itu adalah pernikahan.


Agatha membenci segala sesuatu dengan konsep pernikahan. BIG NO! for that damn thing!!!


Dan hal itulah yang disampaikan Joshua padanya. Sebuah lamaran dari keluarga konglomerat yang ditujukan padanya dengan status akan menunggu tanpa batas waktu sampai Agatha mau menjawabnya.


Sedikit aneh dari puluhan lamaran yang biasanya datang padanya, tapi Agatha tidak peduli karena baginya semua lamaran itu adalah penawaran yang wajib ditolak.


Dan untuk hal itu Agatha harus bersiap karena cepat atau lambat ayahnya pasti akan turun tangan jika Joshua tidak bisa melakukan tugas darinya. Hal itu jugalah yang membuat Agatha semakin enggan karena apapun yang berhubungan dengan ayahnya hanya akan berakhir sebagai perdebatan.


"Kenapa manusia harus berpasangan? Lagipula mereka juga akan berpisah pada akhirnya, jadi untuk apa susah payah menemukan satu orang hanya untuk membuatmu bahagia?" gumamnya pelan dengan mata yang kini mulai memberat.


Diletakkannya batang rokok yang masih setengah itu kedalam asbak, kemudian setelah menutup tirai dan memastikan ruangannya gelap Agatha mulai memejamkan matanya.


Kantor adalah rumah kedua dimana dia bisa merasa aman dari gangguan dunia, bahkan kini ponselnya yang bergetar terus menerus diatas meja tak membuat Agatha terganggu dan melanjutkan istirahatnya berharap apa yang baru saja terjadi hanyalah mimpi buruk.


Agatha Anderson, wanita berparas cantik yang penuh kesempurnan dan kebaikan yang menyertainya namun dalam sekejap bisa menjadi Angel from the Hell saat sendirian atau bersama Joshua.


Namun tidak ada yang benar-benar tahu dua sisi seorang Agatha Anderson.


...

__ADS_1


Riexx1323


__ADS_2