
...Karena setiap manusia memiliki kedudukan dan kesempatan yang sama dihadapan waktu....
...Bahagia atau sedih....
...Berhenti atau terus berjalan....
...Pada akhirnya manusia lah yang memilih keputusannya....
.......
.......
.......
Pilihan untuk datang dengan segala resiko yang ada membuatnya kini berada di ruangan ini selama hampir tiga jam. Masih dalam keheningan yang sama.
Setelah Agatha dilarikan ke rumah sakit, dia secepat mungkin memacu mobilnya menuju kesana.
Dan tepat ketika langkahnya terhenti di depan pintu ruangan tempat istrinya berada, telinganya mendengar hal yang saat itu melemaskan kakinya seketika.
"Aku... hamil..."
Kalimat yang mampu membuatnya merasakan serangan emosi dalam waktu bersamaan. Takut, senang, cemas, bahagia dan haru bercampur jadi satu. Kepalanya serasa kosong hingga dia jatuh terduduk di depan pintu.
Agatha hamil.
Itu adalah anak mereka.
Anaknya. Darah dagingnya.
Dan jika tidak salah ingat, ini adalah dua bulan terakhir waktu perjanjian pernikahannya.
Christ masih menatap pada Agatha yang sudah menangis selama hampir satu jam tanpa mengucapkan apapun.
"Bicaralah."
Satu kalimat yang membuat Christ terhenyak dan merasakan secercah harapan.
"Agatha..."
"Apapun yang kau katakan akan mempengaruhi keputusanku pada anak ini."
"Agatha jangan berkata begitu..."
"Karena itulah sebaiknya kau bicara jujur dengan bijak," tukasnya dingin.
Hati Christ mencelos. Merasa sakit namun dia layak mendapatkan itu.
"Agatha, aku minta maaf. Aku tahu kesalahanku tidak bisa termaafkan, aku tidak akan membuat alasan yang hsnya akan membuatmu semakin membenciku."
Christ terdiam sesaat, air muka pria itu begitu keruh dan gemetar yang terdengar dari suaranya menandakan semua rasa berat yang kini ditanggungnya.
"Kau bisa menyebutku pembunuh, aku tidak akan mengelak. Aku begitu menyukaimu sehingga semua itu justru menjadikanku penjahat yang sesungguhnya. Aku menyesalkan sikap impulsifku saat itu. Dan aku tahu ini sudah sangat terlambat untuk permohonan maaf juga penyesalanku. Aku tidak pernah melupakan kejadian itu selama hidupku."
"Semua kebahagiaan dan cinta yang kuberikan padamu bukan kebohongan. Aku mencintaimu selama ini, bertahan dengan perasaan itu selama ini dan tidak pernah berubah," ucap pria itu pelan dengan segaris senyuman getir di ujung bibirnya.
Christ ingin memperjuangkan cintanya, ingin tetap mencintai dan membahagiakan Agatha selama sisa hidupnya, ingin membuat wanita itu mengerti dan memaafkannya. Namun pembicaraan antara dirinya, Leon dan Arthur semalam membuatnya berpikir kembali bahwa jika semuanya diteruskan atas kehendaknya, sekalipun tujuannya adalah untuk membahagiakan Agatha maka itu hanya akan mengulang kesalahan yang sama.
Ditambah lagi berita kehamilan Agatha sekarang.
Rasa bersalahnya menjadi berlipat jika dia memaksakan kehendaknya.
"Kenapa kau harus melakukannya, Christ?" akhirnya Agatha bersuara meskipun tidak lebih terdengar dari sebuah bisikan. "Kau tidak seharusnya menghilangkan nyawanya."
Christ berusaha menahan panas di sudut matanya yang mengancam untuk menurunkan bulir air mata. Tak akan ada yang bisa memaafkan sebuah pembunuhan. Apalagi nyawa milik seseorang yang sangat berarti dalam hidup.
"Aku tidak pernah bermaksud begitu pada Mikael dan jika kau memang tidak bisa memaafkanku... aku akan menerimanya. Apapun keputusanmu sekarang dan bayi yang ada dalam perutmu—"
Agatha mengusap air matanya dalam diam, bahkan dia merasa segala sesuatunya begitu menyesakkan.
"Keluar."
"Agatha..."
"Pergi dari sini."
Christ tak lagi bisa menahan bulir kristal yang akhirnya menetes dari sudut matanya. Rasanya lebih sakit daripada apapun yang pernah dirasakannya selama ini.
"Agatha, maafkan aku..."
Dia tidak ingin melangkahkan kakinya keluar, dia tidak ingin meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti ini tapi melihat isak tangis Agatha membuatnya begitu sakit hingga perlahan kakinya melangkah mundur keluar dari sana.
.
.
.
Sudah satu minggu sejak Agatha memaksa pulang dari rumah sakit.
Joshua tahu segalanya menjadi jauh lebih berat bagi Agatha setelah mengetahui bahwa ada kehidupan baru dalam dirinya di saat hatinya dihancurkan oleh pria yang membuatnya bahagia.
Hari itu Joshua terpaksa meninggalkan Agatha karena ada hal yang harus diurusnya di kantor. Gabriel pun masih ada meeting sampai sore, dan berjanji akan menemani Agatha secepatnya jika dia sudah selesai.
__ADS_1
Rasanya was-was meninggalkan Agatha sendirian, Joshua memastikan semua pelayannya untuk selalu ada di dekat kamar Agatha dan mengawasi sahabatnya itu.
Agatha sempat keluar kamar untuk mengantarnya berangkat. Wanita itu tampak pucat dan kurus karena dia menolak makan atau akan kembali memuntahkannya.
"Aku tidak apa-apa, jangan khawatirkan aku. Bekerjalah dengan benar," ucap Agatha saat Joshua bimbang sebelum masuk mobil.
"Bagaimana aku tidak khawatir jika melihatmu begini?"
"Aku baik-baik saja, Joshie."
Dan dengan berat hati Joshua masuk ke mobil setelah memeluk erat Agatha.
"Kau tahu kan aku akan selalu ada untukmu kan? Aku menyayangimu Agatha."
"Thank you, Joshie. For everything and being my best friend. I hope you'll find your own happiness."
"And I'll happy if you happy."
Joshua mengusak kepala Agatha pelan sebelum benar-benar pergi.
Agatha kembali melangkahkan kakinya ke dalam. Seorang pelayan yang khusus ditunjuk oleh Joshua berjalan di belakangnya.
"Anda harus makan siang, Nona. Saya akan menyiapkannya untuk anda."
"Nanti saja. Sebelum itu bisakah aku minta tolong padamu?"
"Ya, Nona."
"Bawakan aku bunga Lily putih sebanyak yang bisa kau temukan di toko bunga. Aku akan makan jika kau sudah membawa semua bunga itu ke kamar."
Sedikit terheran dengan permintaan sang nona, pelayan itu kemudian mengangguk.
"Baik nona, akan segera saya laksanakan."
"Oh, satu lagi. Pastikan kau meletakkan dan menyusunnya dengan rapi di kamar. Aku mau mandi dan kuharap semuanya sudah siap begitu aku selesai."
"Baik, nona," pelayan itu tidak berkata apa-apa lagi selain berkoordinasi dengan para pelayan lain untuk segera mencari bunga Lily putih.
Agatha berhenti saat melewati kaca besar di ruang tengah. Menatap pantulan dirinya yang terlihat begitu payah dan tersenyum samar. Manik coklatnya beralih pada perutnya yang memang belum terlihat, mengusapnya pelan penuh kasih.
"Maaf karena kau harus memiliki ibu yang tidak sempurna dan buruk sepertiku."
Kemudian Agatha kembali ke kamarnya, melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Dia butuh kesegaran air untuk memperbaiki dirinya.
.
.
.
Satu tangannya menempel pada ponsel di telinganya. Menghubungi seseorang yang bisa berlari bersamanya.
"Gabriel!"
'Ada apa Josh, aku baru saja selesai dan akan menuju rumahmu.'
"Cepatlah pergi kerumahku sekarang!"
'Ada apa?' suara Gabriel terdengar cemas sekarang.
"Agatha! Dia membutuhkan kita sekarang!"
Setelahnya Joshua mematikan sambungan dan secepat mungkin memacu mobilnya kembali ke kediamannya.
Baru saja pelayan di rumah menghubunginya dengan kepanikan karena sang nona tidak kunjung keluar dari kamar mandi setelah dua jam berada di dalam.
Begitu memasuki rumah Joshua berlari ke kamar Agatha dan betapa terkejutnya dia melihat ratusan tangkai Lily putih mendekorasi kamar. Perasaannya tidak nyaman.
Lily putih.
Mikael.
Ini seperti sebuah pemakaman.
Diilihatnya para pelayan dan penjaga berada didepan pintu, mengetuk dengan cemas.
"Apa yang kalian lakukan! Buka pintunya!" teriaknya.
"Kami tidak bisa membukanya tuan..."
Kemudian dengan sekali tendang, Joshua mendobrak pintu itu.
Dan netranya membola saat melihat Agatha.
.
.
.
Agatha berjalan pelan menyusuri padang bunga itu.
Angin yang berhembus meniup rambutnya membuatnya merasa lega.
__ADS_1
Sejauh matanya memandang hanya ada hamparan Lily putih disana.
Indah.
Berjalan lebih jauh maniknya menatap sosok familier yang ada di hadapannya, berdiri memunggunginya.
"Mikael?"
Panggilannya membuat sang pemilik nama menoleh dan tersenyum.
"Agatha..."
"Kau! Bisa bicara?"
Agatha menatap tidak percaya sebelum berlari menghambur ke pelukan prianya. Pria yang menjadi hidupnya.
"Aku merindukanmu Mikael, sangat rindu."
Air matanya turun perlahan namun tangan Mikael mengusapnya lembut.
"Aku juga merindukanmu," ucap pria manis itu kemudian memeluk Agatha erat.
Keduanya melepas rindu dan berjalan menyusuri padang bunga Lily bersama. Seolah tak ada yang bisa memisahkan mereka disini.
Agatha tidak melepas tautan tangan diantara mereka sampai sebuah suara memanggilnya.
"Mommy?"
Agatha menoleh dan mendapati seorang anak laki-laki tampan tengah menatapnya dengan sorot mata berbinar.
"Siapa?"
"Mommy tidak mengenaliku? Kenapa Mommy berjalan jauh sekali. Aku ingin pulang. Papa sudah menunggu."
Agatha tentu kebingungan dan menatap Mikael.
"Dia putramu."
"Apa? Tapi bagaimana..."
"Dia putramu bersama Christ."
Agatha masih tidak mengerti hingga Mikael menggenggam bahunya lembut dan menatapnya dengan senyuman hangat.
"Agatha, kau tahu aku sangat menyukaimu kan?"
Agatha mengangguk sebagai jawaban.
"Aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun. Kau lihat tempat ini begitu indah kan? Aku akan selalu menunggumu disini."
Mikael merengkuh Agatha dalam pelukannya dan mencium lembut kening wanita itu.
"Aku akan selalu menunggu untuk bersamamu disini. Tapi tidak sekarang."
Mikael menatap anak laki-laki tampan yang masih menatap sang ibu penuh harap.
"Kembalilah bersamanya dan juga Christ."
"Tapi aku ingin bersamamu."
"Aku tahu. Tapi kau ingat apa yang terjadi padaku kan? Aku ditinggalkan oleh orangtuaku. Dan aku tidak ingin kau menjadi orangtua seperti itu."
Agatha membiarkan air matanya jatuh mendengar ucapan Mikael.
"Kembalilah. Berbahagialah bersama Christ dan putra kalian."
"Mom..."
"Christ bukanlah pria yang jahat. Aku percaya dia sangat mencintaimu sama sepertiku. Berbahagialah bersamanya, Agatha."
Wangi bunga Lily menyapu indra penciumannya ketika matanya perlahan terbuka dan menyadari wajah-wajah cemas di sekelilingnya.
"Agatha!"
"Sunshine!"
Christ memeluk tubuhnya begitu erat dengan air mata membasahi wajahnya. Tubuh pria itu gemetar hebat.
"Kau sudah janji tidak akan pergi. Kenapa kau melakukannya?"
Perlahan tangan kurus Agatha mengusap punggung pria itu.
"Maafkan aku, sudah membuatmu khawatir. Aku janji tidak akan pernah pergi," bisik Agatha pelan dan Christ yang mendengar itu sontak mengeratkan pelukannya.
"Agatha... maaf."
"Aku memaafkanmu, Christopher Winston. Berjanjilah untuk terus hidup bersamaku."
Tangis kedua insan yang remuk akan luka masa lalu itu pecah. Terdengar pilu namun ada senyuman hangat yang mengikuti, juga harapan agar mereka saling menyembuhkan.
"Aku janji. Aku akan selalu bersamamu dan juga anak kita."
.
__ADS_1
.
Riexx1323.