Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Sebuah Momen Awal


__ADS_3

...Kadang ada suatu masa dimana apa yang dikatakan dan diinginkan oleh hati tidak berjalan searah dengan apa yang terjadi. ...


.......


.......


.......


Saat memasuki ruang makan keduanya dikejutkan dengan pengaturan meja makan yang sudah dipenuhi oleh banyak makanan dan terlebih lagi penataannya yang terlihat sempurna seperti restoran berkelas.


Bahkan Agatha sempat tercengang saat menatap ruang makan sebelum akhirnya duduk di samping Joshua.


Wow, kau benar-benar menata semua ini Christ? Aku tidak bisa mempercayai mataku," Joshua masih terlihat kagum dengan binar di matanya. Dia tidak menduga CEO dari perusahaan besar ini bahkan bisa menyiapkan sesuatu seperti ini.


Christoper tersenyum, "Aku terlalu bersemangat hari ini, lagipula bukan hanya aku yang melakukannya Josh. Kau memasak ini semua bersamaku,"


"Tetap saja, penataannya memukau."


"Kau tidak lupa hanya kita berempat yang akan makan kan? Kau membuat terlalu banyak hidangan," kali ini Agatha bersuara dengan ekspresi dinginnya, tak berniat untuk memberikan pujian untuk pria dihadapannya itu.


"Agatha, yang benar saja! Christ sudah menyiapkan semua ini untukmu, mana sikap terimakasihmu?" omel Joshua yang tidak habis pikir kenapa sahabatnya ini sangat dingin pada Christopher, bukankah seharusnya dia mencoba bersikap lebih ramah?


Mendengar itu Leon sempat membelalakkan matanya dan dengan cepat menoleh untuk melihat reaksi sepupunya itu. Namun Christopher hanya tersenyum dan sepertinya sama sekali tidak tersinggung atas ucapan Agatha.


"Ya, terimakasih," gumamnya kemudian.


Agatha mengucapkan kalimat itu dengan cepat tanpa nada memuji atau apapun tapi anehnya itu cukup membuat Christoper tersenyum senang.


Tiga puluh menit berlalu tanpa suara, hanya dentingan alat makan yang saling beradu. Keempatnya nampak cukup menikmati apalagi Leon yang sejak tadi menikmati semua hidangan tanpa terkecuali membuat sang sepupu kesal padanya.


"Bisakah kau makan pelan-pelan? Aku membuatnya untuk mereka tapi kenapa kau yang menghabiskannya?" bisik Christopher yang mengomeli sepupunya itu.


"Masih ada banyak, kenapa kau mengomeliku?" Leon tak ambil pusing dengan perbuatan Christopher toh memang dia makan dalam batas wajar.


Agatha selesai lebih dulu sebelum akhirnya yang lain juga selesai dan atas paksaan Christopher maka Leon bertugas membereskan semua peralatan sehabis makan dibantu oleh Joshua. Sementara dua yang lain kini sedang berada di ruang tengah. Agatha sibuk dengan ponselnya sementara Christopher sibuk memandangi wanita di depannya itu.

__ADS_1


"Agatha," panggilnya yang hanya mendapat respon berupa lirikan dari wanita itu. "Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?"


Agatha mengangkat kepalanya dan menatap pria itu, tapi tatapannya tidak menyiratkan apa-apa. "Kau mau aku bicara apa?"


"Apapun itu, kau tidak ingin tahu tentangku?"


Agatha berkedip beberapa kali, mencerna pertanyaan Christ yang menurutnya aneh. Untuk apa bertanya, aku sudah menyelidiki latar belakangmu jauh sebelum ini. — pikir Agatha.


"Aku tidak tahu harus bertanya apa," jawab Agatha setelah sepuluh menit diam. Karena benar bahwa Agatha tidak pandai bicara basa basi dengan orang lain atau berpura-pura untuk itu. Dia tidak perlu menanyakan apa yang sudah diketahuinya kan?


Christopher sempat terdiam dengan jawaban yang dilontarkan wanita cantik itu namun kemudian dia tertawa ringan seolah apa yang dilakukan Agatha adalah hal yang membuatnya senang. "Astaga, aku benar-benar selalu terkejut dengan sikapmu Agatha. Namun anehnya aku menyukainya."


Agatha mendengus mendengarnya, "Kau tidak sibuk hari ini?"


Tawa Christopher berhenti demi mendengar satu pertanyaan asal dari Agatha, "Apa kau akan mengajakku berkencan? Aku bisa mengosongkan jadwalku untukmu."


"Tidak, aku bertanya karena sepertinya kau 'sangat senggang' sehingga sempat datang kemari. Bukankah seharusnya kau sibuk?" lagi-lagi kalimatnya terdengar tidak berperasaan di telinga orang yang mendengarnya, meski sepertinya pria itu sama sekali tidak keberatan.


"Yah, sebenarnya aku harus menghadiri rapat 30 menit lagi tapi jika kau menginginkanku berada disini lebih lama, aku tidak keberatan menundanya."


Agatha hanya bisa berpikir pria ini sedikit tidak waras karena bagaimana bisa seorang pimpinan bermain dengan keputusannya seperti ini?


"Kita pergi sekarang?" tanya Joshua memastikan karena dilihatnya dua tamu mereka bahkan belum berpamitan untuk pergi.


"Ya, mereka berdua juga akan pergi. Bukankah kau harus segera menghadiri rapat? Sebaiknya kau bergegas," meski tidak bermaksud begitu namun kesannya seperti mengusir di telinga Joshua hingga dia menatap tidak enak pada dua tamu lain yang anehnya justru tersenyum.


"Baiklah, karena tunanganku ini sangat sibuk hingga tidak mau lebih lama bersamaku jadi aku pun harus pergi, ya kan Leon?"


"Terserah padamu," jawab Leon yang sepertinya tidak kaget dengan interaksi aneh ini, "Kau benar-benar di mabuk cinta Christ," tambahnya berbisik membuat sepupunya itu terkekeh kecil.


Mereka turun bersama dan berpisah di lobi depan, tampak sekali Christ sebenarnya tidak berniat untuk segera pergi sementara Leon sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.


"Kau tidak mau kuantar?" tawarnya pada Agatha yang berdiri disamping Joshua.


"Tidak perlu. Aku sangat yakin kau harus bergegas karena 30 menitmu sudah terpotong 15 menit," Agatha melirik jam tangan di pergelangan tangan pria itu. Christopher mendesah seolah terpaksa disuruh melakukan sesuatu yang tidak disukainya.

__ADS_1


"Kurasa 15 menit cukup untuk sampai di Harrington tepat waktu. Sampai jumpa, Agatha. Bye Josh," kemudian pria itu memasuki mobil dengan Leon yang sudah menunggu.


Dan saat mobil itu telah keluar dari area apartemennya, Agatha menghembuskan napasnya.


"Kenapa?"


"Dia orang yang melelahkan," jawab Agatha yang kemudian berjalan menuju mobilnya sementara Joshua mengikuti.


"Jadi kau akan bagaimana?" tanya Joshua yang masuk di belakang kemudi.


"Aku akan memikirkan cara memutuskannya saat kita selesai dengan proyek MediCe."


"Agatha, tak bisakah kau mencoba untuk menerimanya saja?"


"Tidak."


"Dia pria yang baik, jangan bersikap kejam begitu padanya."


"Justru karena dia baik, maka tidak seharusnya dia mengejarku."


Dan mereka melanjutkan perjalanan mereka dalam diam.


Joshua tahu akan butuh waktu lama bagi Agatha, dan dia tidak mau memaksa apapun itu.


Sementara Agatha yakin bahwa percuma baginya berusaha. Karena cacat dalam dirinya tidak mungkin lagi sembuh seperti sedia kala. Jika itu bisa kembali maka keyakinannya tidak lebih dari lima persen saja. Jika saja ini terjadi beberapa tahun yang lalu dia akan tertawa dan tersenyum, dia pun mungkin bisa merasakan apa yang disebut dengan bahagia. Mungkin dia sudah menjadi Agatha yang berbeda dan dia tidak perlu larut dalam penyesalan seperti sekarang. Tangannya kini beralih ke dalam tasnya, menarik sebuah buku kecil dengan sampul coklat yang sudah tampak kusam. Buku yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi. Dan bagaikan jimat, Agatha menggenggamnya erat sebelum mendekapnya dalam diam dan tenggelam dalam bentangan rasa masa lalu yang kini tiba-tiba justru hadir mendekapnya.


Apa kau melihatku?


Apa kau bahagia?


Aku ingin bertemu denganmu...


.


.

__ADS_1


.


Riexx1323.


__ADS_2