
...Kehangatan rumah adalah sesuatu yang sudah lama kulupakan....
.......
.......
.......
Agatha berdiri diam dengan canggung ketika Ny. Winston memeluknya erat dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya.
Kemudian wanita itu menggandeng lengan Agatha menuju ruang tengah. Dan Agatha bisa merasakan kebahagiaan meluap dari wanita yang kini duduk di sampingnya itu.
"Aku sudah lama meminta Christ membawamu kemari tapi baru sekarang dia menepatinya."
"Maaf, aku terlalu sibuk hingga tidak menyempatkan waktu untuk datang menemui anda Ny. Winston."
"Kau memanggilku apa?" wanita itu sejenak terdiam lalu menggeleng pelan, "Kau bisa memanggilku ibu," ucapnya sembari menggenggam tangan Agatha lembut.
Tentu saja Agatha tidak menduga wanita paruh baya di hadapannya ini akan mengatakan hal itu, dan dia tidak tahu harus merespon bagaimana.
"Coba panggil aku ibu."
Agatha tentu saja terperangah, bagaimana dia harus mengucapkannya? Tapi wanita di hadapannya itu menatapnya penuh harap.
"Em, baiklah i-bu..."
Dan sebuah pelukan hangat merengkuh Agatha yang bahkan tidak sempat bereaksi apa-apa.
"Sungguh aku merasa sangat bahagia mendengarmu memanggilku ibu."
Agatha menarik sebuah senyum tipis menanggapi ucapan wanita paruh baya yang masih memeluknya itu.
"Ehem, bukankah aku seharusnya ikut dalam pelukan kalian?" suara Christopher menginterupsi dan membuat sang ibu melepaskan pelukannya.
"Oh Christ, ibu senang sekali. Jadi tidak sabar melihat kalian segera menikah."
Christopher tersenyum, "Akan kuusahakan secepatnya ibu," lalu tatapannya beralih pada Agatha yang sudah melempar tatapan memperingatkan padanya, membuatnya tak bisa menahan seringai kecilnya.
"Aku sudah menyiapkan makan malamnya, sebaiknya kita makan sekarang."
"Kau memasak secepat ini?" tanya Agatha mengingat pria itu meninggalkannya tiga puluh menit yang lalu.
"Tidak, ibu sudah memasak sebelumnya. Aku hanya melanjutkan dan menyiapkan hidangan penutup."
__ADS_1
Kemudian pria itu mengulurkan tangannya untuk membantu sang ibu berdiri dari duduknya, lalu beralih pada Agatha.
"Mau kugandeng menuju ruang makan?" bisiknya ketika Agatha sudah berdiri di sampingnya.
"Diam, aku bisa sendiri," jawabnya melenggang pergi setelah menggandeng lengan Ny. Winston dan meninggalkan pria itu tertawa kecil.
Sudah lama Agatha tidak berada dalam situasi makan malam seperti ini. Ny. Winston menyiapkan segala hal untuknya, membuatnya mencicipi begitu banyak masakan yang rasanya hommie sekali seperti buatan ibunya.
Agatha jadi teringat sosok ibunya yang dulu selalu melakukan hal seperti ini padanya, membuatnya menjadi orang pertama yang mencicipi setiap resep baru dan harus ribut bertengkar dengan Gabriel karena kakaknya itu selalu protes karena cemburu.
"Apa makanannya tidak sesuai seleramu, Agatha?" tanya Ny. Winston ketika melihat Agatha terdiam sejenak.
"Ah, tidak Nyo—maksudku ibu. Ini enak sekali, terimakasih."
"Kalau begitu makan yang banyak ya, aku sudah mengatur komposisi semua hidangan ini agar tidak membuatmu gemuk," ujar wanita itu tersenyum dan tangannya kembali mengusap punggung tangan Agatha sekilas.
"Terimakasih."
Christopher yang duduk di hadapan kedua wanita itu hanya tersenyum melihat interaksi keduanya. Dalam sorot manik indahnya yang terlihat tenang itu sebenarnya menyimpan banyak arti yang tidak terkatakan, dan pria itu kembali melanjutkan makannya dalam diam.
Seusai makan malam, Ny. Winston menemani Agatha sebentar menikmati suasana di halaman belakang sementara Christopher memilih untuk membersihkan bekas makan malam mereka.
Anehnya di rumah sebesar ini tidak ada asisten rumah tangga yang tinggal. Mereka semua pulang setelah jam kerja mereka berakhir pada pukul enam sore.
"Terimakasih sudah memenuhi undanganku, dan kuharap kau mencintai putraku dengan sepenuh hatimu."
"Christ sangat menyukaimu. Dia selalu menceritakan—"
Sebuah panggilan dari ponsel Ny. Winston menginterupsi perbincangan satu arah mereka. Dan dengan berat hati Ny. Winston harus secepatnya kembali ke rumah sakit karena kondisi pasien yang memburuk tiba-tiba. Agatha bisa melihat bahwa sosok keibuan itu kini telah tergantikan oleh sosok wibawa dari seorang dr. Cassandra Winston yang kini tergesa pergi setelah memeluk erat Agatha dan merasa tidak enak karena harus meninggalkan mereka sekarang. Padahal dia yang mengundang Agatha untuk datang hari ini.
Mereka mengantarnya sampai memasuki mobil bersama seorang supir setelah sebelumnya wanita itu keras kepala ingin menyetir sendirian. Tentu saja Christopher melarang karena ini sudah malam dan tidak baik mengemudi dalam keadaan tergesa seperti itu.
"Ibuku cantik sekali kan saat berubah jadi dokter?"
Agatha melirik pria di sampingnya yang tampak tersenyum bangga pada sosok ibunya yang sudah keluar dari gerbang.
"Dia memang cantik, sayang sekali kebaikannya tidak menurun pada putranya," jawab Agatha dingin di ujung bibirnya.
Christopher tertawa kecil, "Aku dan Arthur memang memiliki gen dominan dari ayah berupa wajah tampan tapi kami juga memiliki hati baik seperti ibu."
Mendengar itu Agatha mendengus, "Jadi kapan kau akan mengantarku pulang?"
"Haruskah? Ini juga akan menjadi rumahmu jika kau menikah denganku nanti."
__ADS_1
"Diam, Christ."
Pria itu tidak bisa menahan senyumnya, "Mau keliling rumah sebentar?" tawarnya.
"Kau benar-benar menguji kesabaranku."
"Oh ayolah, selagi kau ada disini dan aku memaksamu," dan pria itu menggandeng tangan Agatha mengikutinya berkeliling.
Dan melalui tur singkat itu Agatha dapat menyimpulkan bahwa sekalipun keluarga Winston kaya raya namun kepribadian mereka sederhana, terlihat dari barang dan desain rumah mereka yang memang dari luar terlihat sangat mewah namun interiornya lebih hangat dan nyaman seperti rumahnya dulu.
Namun ada sesuatu yang membuat Agatha bertanya pada sang pemilik rumah.
"Kenapa ruangan itu di kunci seperti itu?" tanyanya setelah melihat ruangan dengan pintu kayu yang dirantai dengan gembok ganda. Entah hanya perasaannya atau memang benar dia merasakan pria di sampingnya itu seketika menghentikan langkahnya namun hanya sesaat sebelum akhirnya kembali berjalan pelan disampingnya.
"Tidak ada, itu hanya lelucon antara aku dan Arthur. Kami sering bertengkar dan biasanya dikurung disana oleh Ayah," jawabnya dengan tawa kecil yang terdengar sedikit berbeda dari biasanya yang didengar Agatha.
Bukannya Agatha peduli, hanya saja sedikit janggal. Tapi sudahlah, itu bukan urusannya.
Dan karena Agatha terus menerus berkata ingin segera kembali maka dengan berat hati pria itu menurutinya sekalipun dia masih ingin bersama Agatha. Baiklah, masih ada banyak waktu untuk bersamanya nanti.
Ya, akan ada banyak waktu.
Agatha menatap sekilas kediaman keluarga Winston itu sebelum memasuki mobil. Setidaknya keluarga ini tidak terlalu buruk. Dan mungkin hanya sedikit namun untuk sesaat tadi Agatha merasakan kembali nuansa 'rumah' seperti beberapa tahun yang lalu. Hanya sebentar perasaan itu ada di hatinya ketika Ny. Winston memeluknya membuat Agatha sempat merasakan kehadiran ibunya lagi di sana.
Menghela pelan, Agatha buru-buru menepis perasaannya yang sedikit emosional itu.
Oh, ayolah Agatha jangan bersikap dramatis seperti itu.
Tadi itu adalah hal yang biasa saja. Jangan berlebihan dan bersikap lemah, itu sama sekali tidak cocok untukmu.
Lagipula hal seperti tadi tidak akan terjadi lagi. Jadi lupakan.
Agatha mengucapkannya dalam hati dengan penuh keyakinan.
Benar, dia adalah Agatha. Tidak perlu menjadi lemah hanya karena sebuah perasaan yang tidak bertahan lama.
Kembali memasang wajah dingin dan datarnya Agatha kini menatap jalanan di depan, mengabaikan sepenuhnya sosok pria yang duduk di balik kemudi di sampingnya.
Pria yang sejak tadi diam dan menatapnya dengan sorot yang tidak bisa dijelaskan.
.
.
__ADS_1
.
Riexx1323.