Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Kejutan Yang Tidak Tepat


__ADS_3

...Hati yang rapuh tidak akan bisa sembuh begitu saja sekalipun berusaha menjauh....


...Lagi......


...Sang waktu yang berkuasa ...


...dan manusia hanya bisa bertaruh....


.......


.......


.......


Sudah hampir dua minggu Agatha mengurung dirinya. Tidak pergi kemanapun, tidak melakukan apapun dan tidak menemui siapapun.


Bahkan dia tidak menyentuh alat komunikasi dalam bentuk apapun. Membiarkan dunia berjalan tanpa dirinya.


Dan rumah Joshua Sanders adalah benteng terbaik baginya.


Sejak kejadian yang mengejutkan beberapa waktu lalu, dia memutus segala hubungan dengan siapapun selain Joshua dan ayahnya.


Dia bahkan harus membohongi sang ayah karena tidak mau membuat kondisi ayahnya menurun dan jatuh jika mengetahui permasalahannya.


Tentu Joshua membantunya membuat alasan.


Gabriel?


Jangan tanyakan itu karena setiap hari kakaknya itu membuat keributan dan bertengkar dengan Joshua untuk menemuinya. Tapi Joshua selalu berhasil mengatasinya.


Dan satu lagi yang setiap hari bahkan setiap jam membuat keributan. Christopher Winston.


Pria itu tidak mau melangkah pergi dari kediaman Joshua jika bukan karena diseret oleh Leon sebab menimbulkan keributan. Christ sudah seperti orang gila yang tidak lagi peduli pada hal lain di dunia ini selain Agatha. Joshua bahkan harus menambah penjagaan ekstra di kediamannya. Untung saja pria itu sudah memindahkan Agatha dari apartemen ke kediamannya sendiri. Karena bagaimanapun keributan ini tidak boleh terlihat oleh publik.


"Kau tidak bisa begini, Josh. Aku berhak menemui adikku!"


"Aku tidak mengijinkanmu kecuali Agatha sendiri yang ingin bertemu denganmu, Gab."


Siang itu Gabriel kembali ke kediaman Joshua. Bahkan jika dilihat seperti akan ada perkelahian dalam film-film mafia melihat jumlah penjaga dari Joshua dan penjaga yang dibawa oleh Gabriel.


"Kau keterlaluan! Jangan melampaui batasanmu dalam masalah ini Josh."


"Aku tidak melampaui batas apapun Gab. Justru kau, Christ dan rencana kalianlah yang melampaui batas dalam hidup Agatha. Dia hanya seorang wanita biasa yang memiliki hati rapuh sekalipun dia tidak pernah menampakkannya. Hanya karena dia tidak pernah mengeluh, merengek atau bergantung pada orang lain bukan berarti Agatha sekuat itu menerima semua kebohongan kalian," cerca Joshua.


Dia sendiri tidak tahu kenapa sikapnya pada Agatha seprotektif ini. Jika dikatakan apakah dia menaruh hati pada Agatha dibalik semua sikapnya, maka jawabannya adalah tidak. Semua cinta dan kasih sayangnya pada Agatha tulus sebagai sahabat dan juga seorang kakak. Semua rasanya pada Agatha jauh melampaui perasaan pria pada wanita. 


Gabriel mengusap wajahnya kasar mendengar penuturan Joshua. Memang benar ini adalah salahnya sebagai kakak yang pada akhirnya melukai Agatha. Tapi semua dia lakukan demi kebaikan dan Agatha harus memahami hal itu.


"Baiklah kau bisa melarangku bertemu Agatha saat ini, tapi setidaknya biarkan Christ menemuinya. Dia adalah suaminya dan berhak atas diri Agatha. Biarkan mereka menyelesaikan permasalahan ini, Josh."


"Tidak bisa. Bagaimana aku akan mengizinkan jika pertemuan mereka hanya akan semakin menyakiti Agatha? Apa kau tahu berapa lama dan seberapa sering Agatha menangis selama dia ada di sini? Kau tahu seberapa sering dia terbangun kembali karena mimpi buruk? Kau sudah pernah melihat semua itu dulu Gab, dan aku yakin kau tidak mau mengulangi untuk melihatnya. Jadi biarkan Agatha menenangkan dirinya sekarang."


"Joshua, kumohon."


"Tidak, Gab. Aku tidak mau meninggalkannya dalam keadaan terpuruk lagi. Kau tahu aku menyesali saat aku tidak ada untuknya di saat masa sulit itu dulu."


Gabriel menghela putus asa. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan Joshua untuk hal yang menyangkut Agatha termasuk dirinya sendiri. 


"Baiklah, aku akan tetap datang setiap hari sekalipun kau tidak mempertemukanku dengan Agatha. Jaga adikku baik-baik dan pastikan dia tidak sakit."


Gabriel kemudian pergi dari kediaman Joshua dan meninggalkan beberapa penjaga. Setidaknya dia percaya bahwa Agatha akan aman saat bersama Joshua.


.


.


.

__ADS_1


Agatha meringkuk diam menatap tetes hujan yang mengetuk jendela kaca.


Dia merasa kosong. Semuanya terasa tidak nyata dan dia begitu merindukan Mikael sekarang.


Apa Mikael lebih bahagia di sana sekarang?


Apa Mikael tengah menertawakan kebodohannya?


Tapi tidak. Mikael bukan orang seperti itu.


Dalam kepalanya terputar semua hal yang selama ini terjadi.


Kenapa dia sebodoh ini dan tidak pernah menyadari selama ini bahwa Christ ada dalam lingkungan masa lalunya?


Seharusnya dia tetap pada keyakinan awalnya membenci pria itu. Tidak berusaha meletakkan kepercayaan pada pria itu setelah semua sikap dan perbuatan baiknya.


Ah, perbuatan baik?


Semuanya hanya kebohongan.


Semuanya palsu.


Agatha mengusap sudut matanya kasar. Tidak membiarkan bulir air matanya jatuh.


Damn.


Dia telah jatuh cinta pada orang yang membunuh Mikaelnya.


"Agatha, kau harus makan."


Suara Joshua membuat dirinya teralihkan dan menoleh pada sahabatnya yang datang bersama pelayan, membawakan makanan untuknya.


"Aku tidak lapar."


Joshua duduk di sampingnya dan mengusap punggung tangannya lembut, tatapan terluka jelas terlihat pada sorot mata pria itu.


"Kau harus makan. Aku memasaknya sendiri untukmu, ya?"


Joshua lega, karena Agatha tidak mau makan sejak pindah kemari. Hanya makan sekali sehari itupun dipaksa olehnya. Dia khawatir sahabatnya itu akan sakit.


Dan benar saja, setelah suapan kelima Agatha memuntahkan kembali makananya.


"Agatha! Astaga!" seru Joshua yang langsung menahan tubuh Agatha dan menepuk pelan punggung sahabatnya itu.


"Panggilkan dokter! Cepat!" perintahnya kemudian membawa Agatha ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Kau tidak apa-apa? Bagian mana yang sakit?" tanya Joshua khawatir.


"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing."


"Ayo istirahat dulu di kamar."


Joshua membimbing Agatha kembali menuju tempat tidur, membaringkan sahabatnya itu dengan pelan.


"Joshie..."


"Ya?"


"Terimakasih. Kau selalu ada untukku."


Mendengar itu Joshua merengkuh Agatha kembali dalam pelukannya. Dia merasa gagal menjadi pelindung Agatha.


"Kapanpun kau menghubungiku, aku akan selalu ada untukmu."


"Joshie, apakah aku tidak boleh bahagia?"


"Sshh! Jangan mengucapkan hal bodoh seperti itu lagi. Aku akan memastikan kau bahagia."

__ADS_1


Dan tak lama kemudian dokter datang, Joshua keluar dan membiarkan dokter memeriksa sahabatnya itu.


"Tuan Sanders. Bisakah kita bicara?" panggil dokter membuat Joshua langsung memdekat.


"Apakah ada sesuatu?"


"Tidak ada, tuan. Namun saya harus melalui pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit."


"Baiklah aku akan  membawa Agatha kesana."


"Baik, tuan."


.


.


.


Joshua berjalan mondar mandir tidak tenang sejak tadi. Pasalnya dokter mengatakan Agatha baik-baik saja, dia  hanya kelelahan dan banyak pikiran.


Lalu kenapa harus ada pemeriksaan lebih lanjut?


Dia sudah memberitahu Gabriel tentang keadaan Agatha, dengan harapan sahabatnya itu tidak khawatir. Bagaimanapun keadaan Agatha lebih penting dari apapun.


"Joshua! Ada apa?"


Gabriel setengah berlari menghampirinya dengan raut wajah khawatir.


"Apa yang terjadi pada Agatha?"


"Dokter bilang tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan tapi mereka melakukan pemeriksaan lanjutan."


Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka dengan sosok dokter yang keluar dari sana.


"Bagaimana dok, apa yang terjadi pada Agatha?"


Dokter itu menatap bergantian antara Gabriel dan Joshua membuat kedua pria itu semakin khawatir.


"Tidak ada hal yang buruk. Nona Agatha hanya butuh istirahat lebih banyak lagi, karena beliau sedang mengandung dengan usia kehamilan 4 minggu," ucap dokter yang kemudian tersenyum dan menepuk bahu kedua pria dihadapannya.


"A-apa yang anda katakan?"


"Agatha hamil?"


"Ya, benar tuan sekalian."


Dan kedua pria itu hanya bisa saling pandang dengan keadaan yang sama-sama terkejut.


"Anda yakin, Dokter?"


"Tentu saja, karena itulah saya meminta agar nona Agatha datang kemari dan mendapatkan USG. Selamat tuan."


Setelah mengucapkannya, dokter itu pamit undur diri meninggalkan dua pria yang masih belum sadar dari keterkejutannya.


Keduanya bersamaan berderap masuk menuju ruangan tempat Agatha berada. Wanita itu tengah diam dan bersimbah air mata.


Melihat kedua pria yang berarti dalam hidupnya, Agatha semakin terisak.


"Aku... hamil..."


Tepat saat Agatha mengucapkannya terdengar sesuatu yang besar berdebum di luar pintu ruangan.


Sebelum Gabriel bergerak memeriksa, pintu itu bergeser terbuka dengan sosok Christ yang jatuh terduduk di depan pintu dengan pandangan kosong.


.


.

__ADS_1


.


Riexx1323.


__ADS_2