Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Keputusan


__ADS_3

Apa aku harus berkorban dan menjadi orang baik lagi?


.


.


.


Dalam ruangan yang lampunya sudah dimatikan sebagian itu, Agatha duduk diam dengan kepala pusing.


Setelah pembicaraannya dengan Christopher Winston tadi sore, dia bimbang pada keputusannya.


Dia belum memberi jawaban atas penawaran itu, tapi jika di pikir kembali memang tidak ada jalan lain. Gabriel sudah mengiriminya setumpuk dokumen mengenai keluarga Winston, tentang perusahaan yang mereka kelola, juga pekerjaan keluarga Winston yang sebagian besar mengelola perusahaan farmasi sendiri.


Tuan Winston dan istrinya adalah dokter bedah terkemuka, sebelum meninggal bahkan tuan Winston membuat sebuah laboratorium untuk istrinya. Laboratorium inilah yang ditawarkan Christopher Winston padanya.


Dengan ini semua Agatha tidak punya alasan untuk menolak atau menaruh curiga lagi pada mereka.


Itu bagus.


Tapi bagian terburuknya adalah syarat yang diajukan oleh pria itu agar dia menerima lamarannya.


Kenapa harus memintanya? Apakah pria itu menganggap ini candaan? Bagaimana dia meminta kompensasi kerjasama menjadi hal pribadi?


Akan lebih baik jika pria itu meminta keuntungan kerjasama yang normal.


Bahkan pria itu menolak saat Agatha mengajukan pembagian hasil yang lebih dari 50% yang akan diberikan untuknya. Dia tetap pada keinginannya agar Agatha menerima lamarannya.


Aku hanya mau kau menerima lamaranku, Agatha.


Bukan berarti kita akan segera menikah jika itu yang kau khawatirkan.


Menerima lamaranku hanya akan merubah statusmu menjadi tunanganku, bukan istriku. Dan kita bisa membicarakan pernikahan itu nanti saat kau sudah siap.


Itulah yang dikatakan pria itu sebelum pergi tadi.


Dan sekarang Agatha berpikir keras untuk menghindari keputusan ini, tapi bagaimana dengan Senna Rod? Dia tidak bisa membuat Senna Rod jatuh.


Tidak bisa.


Rasanya Agatha ingin melemparkan dirinya keluar dari dinding kaca dan meluncur ke lantai dasar.


Ini bukan solusi.


Ini adalah penyelesaian yang hanya akan menimbulkan masalah baru.


Sialan.


Ponselnya bergetar menunjukkan notifikasi pesan dari Joshua.


Agatha menyuruh sahabatnya itu pulang lebih dulu karena dia ingin sendirian sekarang.


Agatha menatap layar komputernya, email dari Senna Rod yang melaporkan stok medis khusus hanya akan bertahan selama satu bulan. Dan itu semakin membuat Agatha tertekan.


Setelah menghembuskan napas panjang yang lelah, Agatha meraih ponselnya menghubungi seseorang.


.


.


.


Angin dingin berhembus malam itu melewati jendela kaca yang terbuka.


Agatha menatap keluar dengan wajah datar, dia sepertinya sudah kehilangan setengah kewarasannya karena sekarang dia sedang ada di mobil bersama Christopher Winston.


Keduanya sudah berada di depan gedung apartemen Agatha sejak tiga puluh menit yang lalu.

__ADS_1


Christopher Winston tidak mengerti kenapa wanita itu menghubungi untuk di antar pulang, namun setelah sampai dia bahkan tidak keluar maupun berbicara sepatah kata.


"Agatha, kau mau kuantar masuk?"


Agatha tidak menjawab dan hanya menatap keluar. Sulit menilai ekspresi wajahnya.


Christopher menatap wanita disampingnya itu bingung, dia tidak ingin menyimpulkan apapun dan hanya bisa diam menunggu.


"Aku menerima penawaranmu tuan Winston."


"Eh-apa? Aku tidak salah dengar, Agatha?"


Wanita itu memutar tubuhnya menghadap pada Christopher Winston, menatap pria itu tepat di matanya sebelum manik coklatnya beralih ke arah lain, "Setelah pertimbangan demi Senna Rod, aku menerima penawaranmu."


"Kau menerima lamaranku?" senyum cerah tidak bisa disembunyikan oleh Christopher ketika mendengar jawaban Agatha, bahkan sinar matanya berkilau penuh kegembiraan.


"Aku menerima penawaran kerjasama darimu."


"Ya, itu maksudku yang artinya kau juga menerima lamaranku. Oh-terimakasih Agatha!"


Agatha kembali menatap pria itu namun tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dia sendiri tidak yakin kenapa dia mengambil keputusan ini seolah ada bagian lain dari dirinya yang bergerak mengambil alih kesadarannya.


"Kuharap kau segera mempersiapkan laboratorium secepatnya, tuan Winston. Aku tidak suka menunda pekerjaan."


"Baiklah, aku akan mempersiapkannya sesegera mungkin agar kalian bisa menggunakannya."


"Kuharap kau tidak mengambil kesempatan ini untuk mencurangi atau menjatuhkan kami. Jika kau melakukannya maka aku sendiri yang akan menghancurkan kalian," ucap Agatha dingin namun tidak melunturkan senyuman di wajah Christopher Winston.


"Kau bisa percaya padaku, Agatha."


"Baiklah, besok aku akan meminta Joshua mengirimkan berkas kerjasama kita. Kalau begitu, selamat malam tuan Winston," setelah mengucapkannya Agatha hendak keluar namun Christopher menahannya.


"Tunggu Agatha, karena kau sudah menerima lamaranku bukankah keluarga kita harus bertemu?" tanyanya.


"Kita bisa bicarakan itu nanti."


Agatha mengerang dalam hati, dia tidak memikirkan hal ini. Dia berpikir jawabannya pada Christopher Winston sudah cukup untuk memulai kerjasama ini, dia lupa bahwa ini akan melibatkan keluarganya.


Tapi ini tetaplah sebuah kerjasama dan dia yakin akan bisa mengatasi masalah ini nanti setelah urusan ini selesai.


"Terserah padamu, tuan Winston."


"Baiklah, aku akan mengaturnya. Dan satu hal lagi Agatha, karena kau sudah menerima lamaranku jadi panggil aku dengan namaku. Aku lelah mendengar kau terus menerus memanggilku tuan Winston."


Menghela pelan dan merutuk dalam hati, Agatha meraih pintu dan membukanya. Melepaskan satu lengannya yang sejak tadi ditahan oleh pria itu lalu keluar.


"Baiklah, selamat malam Christ."


Setelah mengucapkan itu Agatha berlalu menuju apartemennya. Meninggalkan Christopher Winston dengan senyum lebar dan perasaan membuncah dalam hatinya.


Pria itu menggeleng pelan dan menyisir rambutnya ke belakang. Menatap pantulan wajahnya yang penuh senyum dari kaca.


Sungguh dia tidak menduga Agatha akan menjawab secepat ini karena saat memberikan syarat penawaran dia tidak seratus persen berharap. Dia juga tahu kemungkinan Agatha menolaknya lebih besar. Tapi siapa sangka jika hasilnya berbanding terbalik dari dugaannya?


Dia memang tidak pernah bisa menebak seorang Agatha Anderson.


Christ?


Panggilan itu entah kenapa terdengar manis di telinganya sekalipun Leon, ibu dan kakaknya juga memanggil begitu tapi rasanya berbeda.


Seolah ada ratusan kupu kupu yang menggelitik perutnya saat mendengar Agatha mengucapkannya.


One step closer.


And I'll make you mine, Agatha.


Menyalakan mesin, pria itu kembali melajukan mobilnya membelah jalanan malam. Hatinya yang berbunga membuatnya melaju dengan nyaman, sampai kemudian menyambungkan panggilan ponsel pada seseorang.

__ADS_1


"Leon, aku membutuhkanmu sekarang. Pergilah ke apartemenku dan bawa beberapa wine untukku."


Kemudian masih dengan senyum di bibirnya, pria itu mematikan panggilan. Tidak sabar menyampaikan berita ini pada sepupunya.


.


.


.


"Jadi masalah apa lagi yang kau perbuat sampai harus menyuruhku membawa wine kemari?" gerutu Leon saat membuka pintu apartemen Christopher dengan kedua tangannya membawa paper bag berisi wine pesanan sepupunya itu.


Tapi pemandangan aneh sedang tampak di hadapannya.


Christopher sedang menata meja makan dengan beberapa hidangan yang sepertinya dimasak sendiri oleh pria itu.


"Kau kenapa?" tanyanya ragu dan berjalan mendekat.


"Oh, sepupu kesayanganku. Duduklah, sudah kusiapkan makan malam untuk kita," jawab Christopher ringan membuat Leon mengerutkan kening heran.


"Are you okay, brother?"


"Yes, I'm in good day. Really good day."


Masih dengan heran Leon mengamati gerak gerik sepupunya yang sesekali tersenyum sendiri itu. Seolah tubuhnya sangat ringan untuk bergerak di dapur.


"Apa? Jangan membuatku berpikir kau sudah gila, Christ."


"Tunggu sebentar, nanti kujelaskan," kemudian setelah meletakkan hidangan terakhir dan melepas apronnya, pria itu duduk dihadapan Leon lalu mengeluarkan wine, membukanya dan menuangnya di gelas yang sudah disiapkannya.


"Dia menerimaku."


"Apa? Siapa yang menerima?"


"Agatha Anderson, dia menerima lamaranku."


"Apa?!"


"Aku akan mengatur pertemuan keluarga, dan aku memintamu mengatur laboratorium pribadi ibu. Keluarkan peralatan kita karena orang-orang dari MediCe akan menempatinya."


"Hah? Tunggu Christ, jelaskan dulu satu persatu. Ada apa sebenarnya?"


Tak lama pria itu menjelaskan semuanya mulai dari awal hingga kesepakatan yang ditawarkannya dan berakhir lamarannya yang diterima. Membuat Leon yang melahap makan malam hampir tersedak mendengarnya.


"Kau benar-benar manipulatif Christ! Bagaimana bisa kau mengajukan kerjasama demi kepentingan pribadimu? Ini tidak seperti dirimu."


"Yeah, aku tahu ini sedikit menyimpang dari kepribadianku. Dan seperti yang kukatakan sebelumnya bahwa aku tidak berharap seratus persen pada hasilnya tapi keberuntungan berjalan menghampiriku."


"Tapi itu artinya Agatha hanya menganggap ini sebagai bagian kerjasama, bukan murni keinginannya menerima lamaranmu."


"Benar, itu bukan masalah karena aku akan membuatnya jatuh cinta padaku. Dan aku tidak akan melepaskannya."


"Kau benar-benar terobsesi padanya? Aku tidak pernah melihatmu mengejar wanita sampai seperti ini."


"Ini bukan sebuah obsesi, Leon. Aku sudah mencintainya untuk waktu yang lama."


Ya, sudah lama.


Dan setelah semua kesulitan yang dihadapinya untuk menemukan Agatha.


Akhirnya takdir mulai berpihak padanya, dan dia berharap kali ini takdir tidak akan mengecewakannya lagi.


.


.


.

__ADS_1


Riexx1323.


__ADS_2