Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson


__ADS_3

Aku tidak suka peraturan kehidupan yang mengharuskanku diam dan terlihat seperti boneka pajangan.


.


.


.


Wanita itu duduk dengan kaki bersilang dan tangan yang terlipat di depan dada. Raut wajahnya menunjukan ketegasan, elegan dan tenang namun tatapan dari obsidian coklatnya itu mampu mengintimidasi siapapun yang menatapnya.


Agatha sudah berada di ruangan ini sejak empat puluh lima menit yang lalu menatap dengan bosan lilin lilin yang berpendar keemasan di atas meja makan yang di hiasi nuansa black and gold itu.


Di ujung meja sebelah kanannya seorang pria berusia 60 tahun sedang duduk dengan kedua tangannya tertangkup di atas meja menatap Agatha dengan sorot mata yang teduh bijaksana. Sementara Agatha memilih untuk menatap ke semua arah kecuali pria tua itu. Pria tua yang sangat mencintainya namun kadang menggunakannya sebagai robot pencetak uang yaitu Ayahnya.


"Agatha..."


"Jangan bicara padaku Ayah jika hanya untuk mengatakan omong kosong," tukasnya dingin.


"Dengarkan aku Agatha, semua yang kukatakan padamu bukan omong kosong. Bukan aku yang mengusulkan hal ini, kau bisa tanya Gabriel."


"Gabriel itu sama denganmu Ayah, dia akan menuruti semua yang kau katakan," ucapnya kini menoleh pada sang Ayah dengan enggan, pria itu masih menatapnya dengan sorot mata tua yang kehangatannya selalu terpancar. Agatha tahu Ayahnya bukan orang yang licik, tapi dia sangat tahu Ayahnya itu sangat cerdik dan manipulatif di balik sikap ramah tamah dan hangatnya. Dia bisa menaklukkan manusia jenis apapun hanya dengan bicara dan menatap mereka. Karena itu Agatha memilih untuk menghindari bertatap mata dengannya.


"Jadi, maafkan aku karena telah membuat kalian menunggu lama," sebuah suara merdu dan ramah menyela pembicaraan mereka yang sebenarnya cukup pendek.


Seorang pria berperawakan tinggi berkulit putih dan berhidung mancung, datang dengan senyumannya yang tampan menyapa keduanya. Dia adalah Gabriel Anderson kakak Agatha, orang penuh kharisma yang selalu beruntung dalam segala hal di keluarga mereka. Sangat berbanding terbalik dengan bungsu dari keluarga ini, Zander Anderson.


"Jika tidak berniat untuk datang sebaiknya kau tidak muncul Gab. Kau hanya membuang waktuku," ketus Agatha dengan matanya yang mengekori sosok Gabriel yang kini duduk di hadapannya di seberang meja.


"Maaf sekali tapi aku benar-benar sibuk Agatha, hanya kau saja yang tidak mau peduli padaku."


"Untuk apa aku peduli padamu?"


Kemudian suara deheman rendah sang Ayah menghentikan pertengkaran kecil mereka. "Jadi karena kalian berdua sudah ada disini aku ingin bicara."


Agatha meraih gelas wine-nya lalu menyesapnya, ekspresinya menunjukkan sedikit kekesalan. Karena sungguh semarah apapun dia pada Gabriel atau ayahnya, Agatha tidak akan bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Sementara Gabriel menatap adiknya itu dengan senyum yang mungkin bagi sebagian orang mempesona tapi terlihat sangat menyebalkan di mata Agatha.


"Jadi bisakah kalian mulai? Aku sudah hampir mati bosan menunggu," ucap Agatha yang kemudian ditanggapi seulas senyum dari sang Ayah.


"Agatha seperti yang sudah kau tahu, keluarga Winston mengajukan lamaran kepada keluarga kita. Dan sebelum kau menyela atau marah padaku, ini bukan aku yang menyarankan atau sengaja menempatkanmu dalam situasi ini lagi seperti sebelumnya. Aku tahu kau selalu menolak perjodohan yang kuatur untukmu puluhan kali, tapi kali ini aku tidak ikut campur."


Agatha merotasikan matanya mendengar kalimat ayahnya. Dia sudah bosan dengan puluhan perjodohan yang selalu ditawarkan oleh ayahnya. Agatha membenci segala sesuatu yang merujuk pada konsep pernikahan. Tidak ada alasan khusus, hanya benci.


"Jadi jika bukan karena campur tanganmu, lalu siapa?"


Ayahnya tersenyum dan menatap putra sulungnya, "Biar Gabriel yang menjelaskan," lalu Gabriel berdehem pelan masih dengan senyum disudut bibirnya.


"Aku adalah orang yang bertanggung jawab atas lamaran kali ini, sweetheart," ucap Gabriel yang seketika membuat Agatha mendelik menatapnya tak percaya.


"Tunggu! jangan marah dulu akan kujelaskan lebih lanjut jadi dengarkan aku," lalu setelah meminum air di gelasnya Gabriel kembali menjelaskan.


"Kau tahu aku pergi ke Los Angeles beberapa waktu yang lalu kan? Nah, aku bertemu dengan sahabatku di sana dan kami kebetulan menangani kontrak yang sama dengan satu perusahaan. Dan sewaktu kami bersama, sahabatku bercerita bahwa dia sedang banyak pikiran karena adiknya."


Agatha mengerutkan kening mendengar penjelasan Gabriel, "Lalu apa hubungannya with the all fucking things?"


"Agatha, jaga ucapanmu dan biasakan tidak lagi mengatakan hal-hal kasar seperti itu," tegur tuan Anderson yang merasa putrinya ini semakin hari semakin kehilangan sisi manisnya.


"Kepala keluarga Winston sudah meninggal dunia dan ibunya menginginkan pernikahan putra keduanya sebelum dia mungkin juga bisa sewaktu-waktu meninggalkan dunia ini, jadi dia meminta sahabatku ini mencari pasangan untuk adiknya sesegera mungkin," Gabriel menatap reaksi Agatha dan setelah memastikan adiknya itu masih belum berekspresi apa-apa dia segera melanjutkan.


"Dan Arthur meminta bantuanku yang tentu saja dengan senang hati aku langsung teringat pada adik tercintaku ini," masih dengan senyum di sudut bibirnya Gabriel mengacuhkan tatapan tidak percaya sekaligus kesal yang dilemparkan Agatha.


"Jadi Gab, maksudmu aku harus menikah hanya untuk menuruti keinginan seorang wanita yang mungkin akan segera mati dan juga kekhawatiran seorang kakak? Are you kidding me, Gab?" ujar Agatha benar-benar tidak percaya alasan tidak masuk akal sang kakak dan ide pernikahan sialan ini.


"Agatha jaga ucapanmu," tegur sang ayah.


"Aku yakin kalian tidak sebodoh dan seputus asa itu memintaku untuk menikah. Ayah! Kenapa kau harus mengikuti omong kosong Gabriel? Apa hidupku ini hanya lelucon bagi kalian?" amuk Agatha yang kini bergantian menatap ayah dan sang kakak dengan tajam.


Gabriel saling pandang dengan sang ayah, mereka berdua tahu akan jadi hal sulit membujuk Agatha. Bahkan tak jarang mereka akan saling bertengkar demi mempertahankan ego dan pendapat masing-masing meskipun akhir yang bisa dipastikan adalah Agatha mendapatkan apa yang di inginkannya.


Tapi untuk kali ini Gabriel dan sang ayah tidak mau mengalah, bukan demi alasan politik dalam bisnis atau berkaitan dengan keuntungan materi karena siapa pun tahu bahwa kekayaan keluarga Anderson tak bisa turun dari posisi teratas di negeri ini, namun kali ini keduanya harus bisa meyakinkan Agatha bahwa perjodohan kali ini sangat penting.

__ADS_1


"Agatha kumohon kali ini saja, dan aku tidak akan meminta apapun lagi padamu."


"No and never Gab, cari saja wanita lain yang mau melakukan kebodohan seperti ini. Aku Agatha Anderson tidak akan menikah," tegasnya lalu saat melihat sang ayah hendak mengatakan sesuatu dia menambahkan, "Jangan paksa aku demi alasan apapun."


Setelah mengatakannya Agatha bangkit berdiri dan setelah berpamitan secara formal pada kakak dan ayahnya, dia meninggalkan ruangan itu dan disambut oleh Joshua yang sedari tadi menunggunya di depan.


"Jadi bagaimana?" tanyanya mengikuti langkah Agatha.


"Josh, jangan libatkan aku untuk hal seperti ini lagi sekalipun Gabriel atau ayahku memerintahmu. Kau hanya harus mendengarkanku," tegasnya menoleh pada si personal asisten lalu masuk menuju mobil mewahnya yang sudah menunggu di halaman.


Joshua hanya bisa menatap wanita cantik itu tanpa memberikan jawaban apapun karena dia tahu percuma berdebat dengan seorang Agatha. Dia tidak akan menang.


Mereka kini kembali ke kantor karena Agatha masih memiliki janji dengan beberapa klien yang harus ditunda karena pertemuan mendadak tadi.


.


.


.


Pukul delapan malam.


Agatha melajukan mobilnya keluar dari basement kantornya menuju ke apartemennya. Joshua sudah pulang, mereka berpisah seusai meeting dan Agatha dengan keras kepalanya ingin pulang sendirian tanpa diantar sahabatnya itu.


Agatha butuh sendirian.


Setelah semua hal gila yang terjadi hari ini. Dia butuh me time-nya.


Empat puluh lima menit berkendara Agatha sampai di gedung apartemennya. Segera dia menuju lantai 27 tempat tinggalnya. Baru saja kakinya melangkah keluar dari lift, dia dikejutkan oleh seseorang yang berdiri tepat di hadapannya.


Laki-laki berperawakan tinggi, tegap dalam balutan kemeja dan setelan jas warna navy yang nampak sangat pas di badannya. Agatha menatap laki-laki di hadapannya itu yang kini menoleh dan juga tengah menatapnya dengan segaris senyuman.


Who is he?


Dan yang lebih penting, kenapa ada di apartemennya?

__ADS_1


....


Riexx 1323.


__ADS_2