
Dia adalah variabel tak terduga yang benar-benar harus kusingkirkan.
-Agatha-
.
.
.
Kau membawaku kemana tuan Winston?" tuntut Agatha curiga begitu pria itu turun dari mobil dan membuka pintu untuknya.
"Menenangkan perutmu yang sedang berdemo sejak tadi. Ayo," Winston meraih tangan Agatha lembut namun cukup kuat untuk memaksa Agatha turun.
"Aku tidak akan melakukan hal aneh-aneh Agatha, jangan memasang wajah curiga begitu."
"Hell, bagaimana aku percaya pada ucapan seseorang yang hobi membobol privasi orang lain."
Mengabaikan protesnya kini Winston berjalan mendahului wanita itu menuju rumah yang sepertinya masih memiliki penghuni yang terjaga di jam tengah malam begini. Sementara Agatha dengan terpaksa mengikuti pria di depannya itu dan bersiap dengan nomor darurat di ponselnya jika pria ini macam-macam dengannya.
Setelah memasuki rumah itu Agatha sedikit terkejut melihat interior yang rupanya sebuah restoran itu. Suasana hangat langsung terasa bagi Agatha yang baru pertama kali mendatangi tempat itu.
"Oh Christ! Lama tidak melihatmu, apa yang membawamu datang?" Seorang wanita di pertengahan usia 50-an berjalan menghampiri saat melihat mereka datang.
"Hai Ellena," sapa Winston yang kemudian memeluk wanita itu, tampaknya mereka cukup dekat.
"Apa aku mengejutkanmu?."
"Ya, kurasa sudah hampir tiga bulan kau tidak datang. Lalu siapa wanita cantik yang kau bawa kali ini?" tanya wanita bernama Ellena itu saat matanya menangkap keberadaan Agatha yang diam tak jauh dari pintu.
Christoper Winston menoleh pada Agatha kemudian tersenyum.
"Dialah alasanku datang Elle, calon istri yang kelaparan ditengah malam," ucapnya ringan tanpa peduli Agatha sudah mendelik protes dan menahan diri untuk tidak berkata kasar di hadapan orang lain.
"Calon istri? Astaga Christ! Sayaaang! Cepatlah kemari dan temui Christ kita yang datang bersama calon istrinya," teriak Ellena pada seseorang yang sepertinya masih ada di dalam.
Tak lama seorang pria tampan yang sepertinya seusia dengan Ellena keluar dari pantry. Pria itu masih terlihat menawan di usianya yang tidak lagi muda, dengan mata berwarna dark bronze itu kini tersenyum ramah kemudian memeluk Christopher dan menepuk bahunya ramah.
__ADS_1
"Jadi kau datang tiba-tiba dengan membawa calon istri?"
"Kurasa begitu, kemarilah Agatha." ucap Christopher yang kemudian berjalan menghampiri Agatha yang cukup speechless dan kesal, lalu tanpa peduli pria itu menggandeng tangan Agatha membawanya mendekati pasangan di depan mereka.
Ini menyebalkan dan Agatha tidak tahu kenapa dirinya harus mengikuti Christopher Winston. Ingin sekali dia keluar dari situasi ini setelah pria itu dengan seenaknya memperkenalkan dirinya pada kenalannya itu sebagai calon istrinya. Dan yang lebih membuat Agatha kesal adalah dirinya yang tidak bisa mendebat Winston dan justru diam saja meski sekarang rasanya dia ingin mencabik-cabik pria yang saat ini ada di dapur bersama kedua pemilik restoran.
Agatha sangat menahan diri untuk tidak mengamuk di hadapan orang asing yang baru ditemuinya, tentu saja dia harus menjaga image-nya.
Pukul 01.25 pagi dan dia masih ada di luar bersama orang yang paling tidak disukainya saat ini.
Agatha duduk di salah satu meja yang berada di sudut ruangan dengan jendela besar menghadap halaman luas dengan lampu hias yang cantik. Tapi untuk apa mengagumi keindahan suasana di jam segini?
Namun yang membuat Agatha sedikit heran adalah beberapa pengunjung yang masih ada di sini di jam seperti ini. Bukankah ini sudah melewati jam operasional sebuah restoran untuk buka?
Acara melamunnya dibuyarkan oleh kedatangan Christopher Winston yang membawa sepiring daging sapi yang dibungkus puff pastry yang dipanggang, membawa aroma menggoda untuk perut Agatha yang sejak tadi memang sudah tersiksa. Namun bukan Agatha namanya jika langsung menyambut hidangan lezat di hadapannya dengan antusias selayaknya orang lain melainkan memasang wajah datarnya dengan kedua tangannya terlipat di depan dada, apalagi di hadapan Christopher Winston yang dibencinya dia tidak mau menampakkan sedikitpun sikap lemah.
"Jadi ini menu makan malam-ah, menu makan dini harimu Agatha," ucap Winston sembari meletakkan piring di hadapan Agatha dengan kepuasan yang tergambar jelas di wajahnya.
"Kau memaksaku makan di jam seperti ini tuan Winston?" tanya Agatha sarkas meski kenyataannya perutnya sudah meronta sejak tadi.
"Ya aku memaksa karena aku tidak ingin melihat calon istriku pingsan setelah sampai di rumahnya dalam keadaan sendirian."
"Kenapa? Itu kan benar, yah entah itu cepat atau lambat kau memang akan jadi istriku, Agatha."
"Itu tidak akan terjadi."
"Kita tidak tahu apa yang terjadi di masa depan Agatha, jadi segeralah makan atau hidangan itu akan dingin," ucapnya lagi-lagi dengan senyum puas.
Apa pria ini tidak capek? Sebentar-sebentar tersenyum. Cih.
Agatha ragu, dia ingin makan tapi harga dirinya lebih tinggi di hadapan pria ini. Dia tidak ingin terlihat kelaparan meski Winston sudah mendengar bunyi perutnya tadi.
Setelah mempertimbangkan sejenak, Agatha menegakkan tubuhnya lalu mengambil peralatan makan dan bersiap menyantap hidangannya saat menyadari bahwa Winston sedang menatapnya dengan tangan menopang dagu.
"Kau tidak makan?"
"Hm? Aku masih menunggu hidanganku siap dari Elle dan Dave," jawabnya tanpa mengalihkan tatapan dari Agatha yang tentu saja membuat wanita itu jengah lalu meletakkan pisau dan garpunya.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa makan dengan tatapan kelaparan seseorang di hadapanku," jawabnya dingin.
"Aku tidak selapar itu Agatha, makan saja duluan," kemudian tak lama setelah itu Elle datang membawa semangkuk hidangan olahan daging ayam yang juga memiliki aroma menggoda.
"Chicken tikka masala favoritmu Christ, dan juga kentang goreng," ucap wanita itu ketika meletakkan hidangan di hadapan Winston.
"Thanks, Elle."
"Semoga kalian menikmatinya, dan Agatha kau harus menghabiskan hidanganmu yang di buat langsung oleh Christ," ujar wanita itu yang seketika membuat Agatha menatap pria di hadapannya yang kini tampak ingin menyanggah.
"Benarkah?" tanya Agatha kemudian.
"Ah, ya itu, begini-begini aku lumayan bisa memasak," gumam pria itu dengan suara lirih yang masih bisa didengar oleh Agatha. Dan entah kenapa Agatha merasa pria itu sedikit malu-malu.
"Christ pandai memasak dan sering membantu kami di sini saat dia muda dan tidak sesibuk sekarang. Kau harus sering-sering memintanya untuk memasak untukmu, Agatha," wanita itu tertawa ringan membuat suasana canggung itu sedikit menghangat karena sekarang Christoper Winston sedang mati-matian berjuang menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena ucapan Ellena.
"Elle, berhentilah membicarakanku dan biarkan kami menyantap hidangan," ujar pria itu sembari tertawa ringan hingga Elle meninggalkan keduanya kembali dalam keheningan.
Dan Agatha bisa mengatakan bahwa hidangan ini sungguh sangat lezat atau karena faktor perutnya yang lapar.
Setelah perbincangan singkat bersama pemilik restoran, mereka akhirnya pulang. Sekarang Agatha benar-benar lelah, kepalanya terasa berdenyut karena jam tidurnya sudah terlewat sangat terlambat sementara sekarang sudah menunjukkan pukul 02.15 dini hari.
Dalam perjalanan pulang keduanya memilih diam atau lebih tepatnya Winston membiarkan Agatha beristirahat. Wanita itu menolehkan wajahnya ke arah luar dengan kepala bersandar di jendela.
Sedikit banyak Christopher merasa bersalah karena 'membawa' wanita ini hingga lewat tengah malam tapi mana mungkin dia membiarkan Agatha pulang dengan perut kosong karena wanita itu pasti memilih untuk mengabaikan rasa laparnya.
Diliriknya Agatha yang tampak sudah jatuh tertidur itu dan seulas senyum terukir di sudut bibirnya. Hari ini dia sungguh-sungguh tidak menduga akan bertemu Agatha di pinggir jalan. Memang beberapa waktu kemarin dia sering menghabiskan waktu untuk berada di sekitar Agatha tapi hari ini dia di sibukkan oleh urusan kantor pusat dengan Leon hingga membuatnya pulang tengah malam.
Dan takdir dengan baik hati mempertemukannya dengan Agatha.
.
.
.
__ADS_1
Riexx1323.