Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Pilihan Yang Sudah Ditetapkan


__ADS_3

...Segala sesuatunya menjadi tak beraturan dan di luar rencana jika itu menyangkut dirimu....


...Entah itu baik atau buruk....


.......


.......


.......


Langkah kaki keduanya terdengar tergesa di lorong rumah sakit yang sunyi. Agatha berjalan beberapa langkah di depan sedikit terburu mengingat ucapan Gabriel beberapa jam lalu mengenai kondisi ayah mereka.


Agatha memang selalu mendebat ayahnya setiap saat namun bukan berarti dia benci dan tidak peduli. Justru dia sangat menyayangi sang ayah lebih dari apapun hanya saja lemah lembut memang bukan 'love language' nya.


Sementara pria yang sejak tadi berjalan mengikutinya dalam diam tidak berkata apapun selain memperhatikan setiap gerak wanita di depannya ini dengan tatapan khawatir.


Agatha melihat David berdiri di luar ruangan ayahnya.


"Nona, anda sudah datang," sapa David yang menunduk hormat pada Agatha. Kelihatannya sang nona tidak dalam suasana hati yang baik.


"Kau! Kenapa bisa terjadi kecelakaan pada ayah? Apa yang kau lakukan?" amuk Agatha menatap tajam pada pria yang sebenarnya beberapa tahun lebih tua di atasnya itu. Tampak David gelisah karena pertanyaan sang nona.


"Maafkan kelalaian saya, Nona."


"Aku selalu percaya padamu, kenapa kali ini kau teledor? Kau bahkan tahu ayah baru saja melakukan perawatan beberapa minggu yang lalu!"


"Agatha, jangan seperti ini."


Christopher yang berdiri di belakang Agatha berusaha menghentikan amukan wanitanya yang memang sejak dalam perjalanan tadi sudah buruk.


"Saya sungguh-sungguh minta maaf, Nona. Saya lalai dalam menjaga Tuan besar," David tampak bersalah dan menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap sang nona.


"Sampai terjadi hal buruk pada ayah, kupastikan kau tidak akan hidup dengan tenang!" tajamnya membuat David semakin menunduk.


"Sunshine, sudah. Jangan lampiaskan amarahmu padanya. Dia sudah minta maaf, sebaiknya kita masuk."


Christopher merasa sedikit kasihan melihat pria yang tampak pucat ketakutan itu, Agatha yang sedang marah tidak baik untuk kesehatan mental orang lain.


Begitu memasuki ruang rawat sang ayah, mereka disambut oleh Gabriel yang tampak kelelahan namun terlihat lega saat melihat Agatha.


"Agatha! My Princess," Gabriel memeluk sang adik erat.


"Aku mengkhawatirkanmu, kau tidak apa-apa? Aku hampir gila hanya mendengar kabarmu dari Joshua selama ini," ujarnya mengusak pelan kepala sang adik membuat si empunya semakin merengut.


"I'm okay, Gab. Dan berhenti mengusak kepalaku."


Gabriel terkekeh kemudian manik matanya beralih pada Christopher yang masih setia di samping Agatha.


"Hai Christ, senang melihatmu di sini. Aku sudah khawatir karena Joshua tidak bisa menemaninya kemari. Aku beruntung memiliki adik ipar sepertimu," ucapnya yang membuat Agatha seketika melempar tatapan dingin nan tajam sebelum berjalan mendekat ke ranjang ayahnya.


"Dia kenapa?" tanya Gabriel setelah Agatha meninggalkan mereka berdua.


"Suasana hatinya tidak baik sejak tadi."

__ADS_1


"Padahal kukira adikku itu akan tampak pucat dan ringkih setelah koma selama dua hari."


Christopher tertawa ringan mendengar itu, "Dia baru saja mengamuk pada seseorang di depan pintu."


"Oh! David?" tanya Gabriel kaget karena sebelumnya dia sendiri sudah menegur asisten pribadi ayahnya itu.


Agatha menggenggam jemari kokoh sang ayah yang kini terasa dingin dan lemah itu. Ayahnya sedang tertidur mungkin karena efek obat. Hatinya serasa diremas melihat alat bantu pernapasan yang ada pada ayahnya. Ayahnya sering mengalami gangguan dalam bernapas karena infeksi paru-parunya, tapi kondisi terakhir yang didengarnya dari Gabriel beberapa minggu lalu ayahnya mengidap Emfisema yang cukup akut. Menurut dokter pribadi ayahnya, penyakit ini berkembang menjadi lebih parah seiring berjalannya waktu. Meskipun selama ini ayahnya sering melakukan perawatan namun penanganan emfisema hanya dapat memperlambat perkembangan penyakit tersebut, tetapi tidak bisa memulihkan alveolus yang rusak. Agatha sadar kebiasaan merokok sang ayah adalah penyebab utamanya.


"Masih belum bangun ya? Padahal ayah sudah tidur lama," ucap Gabriel yang kini sudah berdiri di samping Agatha.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa terjadi hal seperti ini?"


"Menurut David saat di perjalanan menuju asrama Zander, ayah terus menerus batuk di dalam mobil. Lalu tiba-tiba ayah tersedak dan tidak bisa bernapas, David panik karena mereka sedang di tengah jalan dan tidak bisa menepi sementara David mengemudikan mobil sendiri tanpa sopir. Dan karena tidak fokus menyetir, David justru menabrak mobil lainnya."


"Kenapa David menyetir sendiri? Bukankah biasanya ayah dijemput?" tanya Agatha emosi, dia tidak bisa menolerir kesalahan seperti ini karena biasanya kemanapun mereka pergi, David dan ayahnya selalu dijemput oleh sopir.


"Ada hal mendesak yang membuat sopir yang bertugas menjemput tiba-tiba membatalkan tugasnya."


"Tidak bisa begitu, seharusnya mereka bertanggung jawab pada pekerjaan mereka! Untuk apa aku mengeluarkan uang jika mereka tidak bisa bekerja dengan baik!"


"Agatha, tenangkan dirimu. Lagipula ayah sendiri yang meminta David tidak memanggil sopir lain."


Mendengar itu Agatha mengurut pelipisnya dan menbuang napas panjang. Cukup melelahkan jika harus memikirkan sikap ayahnya yang terkadang bertindak sesuka hati. Gabriel tersenyum melihat adik perempuannya itu berusaha tidak meledak. Agatha mudah tersulut emosi untuk hal-hal seperti ini.


Christopher yang sejak tadi duduk diam di sofa mengamati kakak beradik itu kemudian beranjak menghampiri mereka. Di saat bersamaan tuan Anderson membuka mata dari tidurnya.


"Agatha, apakah itu kau?" tanya tuan Anderson parau dan lirih.


"Ayah, ini aku," Agatha sontak memeluk sang ayah erat hingga pria tua itu terkekeh pelan sambil mengusap kepala putri kesayangannya.


"Kau menunjukkan cintamu kalau ayah sudah seperti ini ya? Biasanya putri ayah ini selalu marah-marah kan?" gurau tuan Anderson yang ditanggapi oleh cebikan kesal Agatha. Kemudian manik tuan Anderson menangkap sosok Christopher yang berdiri diantara kedua anaknya.


"Oh, Christopher? Sungguh kau berada disini atau aku hanya berhalusinasi?"


Christopher tersenyum hangat dan mendekat, "Selamat sore tuan Anderson, benar ini adalah saya. Maaf karena datang terlambat seperti ini."


"Jangan bicara formal padaku, Nak. Panggil aku ayah, meski ini baru pertemuan kedua kita."


"Saya merasa kurang sopan, tuan Anderson."


"Baiklah, terserah padamu saja, Nak," tuan Anderson terbatuk kecil sebelum mengambil napas panjang, "Aku senang melihat kalian datang bersama sekarang. Perasaanku mejadi lebih ringan."


"Ayah jangan banyak bicara, istirahatlah banyak-banyak dan biarkan Gabriel saja yang bekerja."


"Tentu aku bekerja denganmu juga, Princess," sanggah Gabriel buru-buru dengan seringai kecilnya, membuat Agatha memutar mata.


Oh ya, karena kecelakaan tuan Anderson dan Agatha terjadi di hari yang sama, Gabriel tidak memberitahukan mengenai jatuhnya Agatha pada sang ayah karena takut membuat khawatir. 


"Agatha, maaf jika ayah membuatmu khawatir. Dan seperti yang kau tahu bahwa penyakit ini hanya akan memburuk seiring berjalannya waktu. Ayah tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari nanti."


"Ayah, kenapa membicarakan hal seperti ini? Ayah akan segera baik-baik saja, aku akan mencari dokter terbaik untuk mengobati ayah."


Tuan Anderson tertawa kecil disela-sela batuknya sebelum melanjutkan, "Ayah punya permintaan padamu. Kuharap putri ayah ini bisa mengabulkannya."

__ADS_1


Agatha menggenggam tangan sang ayah, dia tidak suka jika ayahnya mulai bicara seperti ini, tidak suka ayahnya terlihat lemah seperti ini. 


"Ayah ingin aku melakukan apa?"


Tuan Anderson tersenyum sebelum mengatur napasnya yang berat, "Ayah bisa beristirahat dengan tenang dan menjalani perawatan jika ayah tidak khawatir lagi tentangmu."


"Aku baik-baik saja , Ayah tidak perlu khawatir."


"Ayah tahu, tapi bukan itu maksudku Nak. Ayah ingin kau segera menikah dengan Christopher."


Baik Agatha ataupun Christopher keduanya terkejut mendengar ucapan tuan Anderson, hanya Gabriel yang bersikap tenang.


"Ayah, kenapa harus menikah? Aku bisa melakukan apapun yang Ayah inginkan tapi tidak dengan menikah."


Alis tuan Anderson berkerut mendengar jawaban putrinya sebelum napasnya yang berat kini mulai semakin berat. Gabriel segera mendekat dan menekan tombol darurat memanggil dokter.


"Ayah! Ayah kenapa? Gabriel!"


"Tunggu di luar, Agatha! Kenapa dokternya lama sih!" Gabriel baru akan melangkah menuju pintu ketika dokter masuk. Semua orang diharuskan keluar dari ruangan, Agatha menunggu dengan tidak tenang di depan pintu kaca.


"Agatha, kita harus bicara sebentar,'" Christopher yang sejak tadi diam menarik pelan lengan Agatha.


"Apa Christ? Nanti saja bicaranya, aku sedang mengkhawatirkan ayah—"


"Agatha, lihat aku! Tenang dulu." Christopher memegang kedua bahu Agatha memaksa wanita itu menatapnya, "Tarik napas dan atur napasmu dulu."


Setelah dirasanya Agatha lebih tenang, Christopher melanjutkan, "Aku tahu ini bukan saat yang tepat tapi haruskah kau menolak mentah-mentah keinginan ayahmu? Beliau tidak tahu pertunangan kita yang hanya berdasarkan kerjasama, bukankah berlebihan dan tidak wajar kau menolak menikah di hadapannya seperti tadi?" ucap Christopher pelan agar Gabriel yang duduk tidak jauh dari mereka tidak mendengarnya.


Benar. 


Kenapa tadi dia mengatakan tidak mau menikah di hadapan ayahnya? 


Ayahnya pasti terkejut terlebih pria yang berstatus tunangannya berdiri tepat disampingnya?


 That damn stupid! 


Dialah yang menyebabkan ayahnya seperti ini. Di tatapannya Gabriel yang masih duduk terdiam dengan mata terpejam, kakaknya itu belum mengatakan apapun tapi pasti akan bertanya.


Sial, bagaimana?


Sentuhan Christopher yang lembut pada pipinya membuat Agatha kembali tersadar, pria itu tengah menatapnya dengan sorot mata lembut dan seolah menenangkan dan entah kenapa hal itu membuatnya terdiam.


"Lalu bagaimana? Apa yang harus kukatakan pada ayah?"


Christopher tersenyum sebelum tangannya meraih lembut jemari Agatha, "Kau percaya padaku? Setidaknya kali ini demi ayahmu," ucapnya lembut dan hanya bisa ditanggapi diam oleh Agatha.


"Kita akan menikah. Agatha Dwyne Anderson, aku akan menikahimu."


.


.


.

__ADS_1


Riexx1323.


__ADS_2