Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Joshua Sanders


__ADS_3

...Perasaan tidak nyaman dan juga fakta kecil yang masih abu-abu di hadapanku. Jika aku menguliknya lebih jelas, apakah aku disebut keterlaluan? - Joshua...


.......


.......


.......


Joshua tengah berada di dapur membuat secangkir kopi sambil sesekali matanya melirik ke arah ruang tamunya menunggu sepupu Christ itu terbangun. Hal pertama yang ingin dilakukannya adalah meminta penjelasan tentang ucapan Leon semalam dan semoga saja itu bukan sesuatu yang harus diwaspadainya.


Tak lama pria dengan kaos putih itu terbangun dari tidurnya dan kebingungan dengan tempatnya berada sekarang sampai dia melihat Joshua datang dengan secangkir air putih dan kopi.


"Joshua? Ada apa ini, aku ada di tempatmu?" tanyanya linglung menerima gelas air putih dari Joshua.


"Ya, semalam ada orang yang menggangguku dengan menelepon tengah malam dalam keadaan nyaris tidak sadar."


"Ah, ****! Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengganggumu," pria itu mengusak rambutnya yang sudah berantakan dengan ekspresi tidak enak pada Joshua.


"Tidak apa-apa,"


Joshua menatap Leon dengan pertimbangan apakah dia harus menanyakan perihal semalam atau tidak, karena bisa saja pria ini tidak ingat atau mengelak.


"Apa yang kau lakukan semalam disana, terbiasa begitu sendirian?" tanya Joshua pada akhirnya.


"Ah, itu bukan kebiasaan hanya saja aku terkadang perlu melepaskan stresku seperti itu. Kau tahu kan pekerjaan kita memiliki banyak tekanan? Orang-orang menganggap bekerja dengan posisi tinggi di sebuah perusahaan ternama adalah hal yang mudah. Banyak bawahan dan orang yang bisa disuruh ini itu, dan sayangnya aku bukan tipe orang seperti itu. Aku harus mengerjakan banyak hal sendirian untuk memastikan segalanya benar atau Christ akan menggantungku," omelnya panjang lebar dan sejauh ingatan Joshua ini pertama kalinya Leon bicara sebanyak ini dengannya.


"Sepertinya aku bisa memahaminya," sahut Joshua karena sungguh seperti itu jugalah pekerjaannya bersama Agatha.


"Em, Joshua apakah semalam aku melakukan hal yang kurang pantas? Maksudku mungkin aku mengacaukan sesuatu...?" tanya Leon ragu-ragu.


"Tidak ada, tapi kau mengatakan hal yang mengganggu pikiranku."


"Apa? Aku bilang apa? Apa aku menyinggungmu? Astagaa—maafkan aku Josh, aku benar-benar tidak bermaksud begitu," Leon menatap Joshua tidak enak dan melihat lawan bicaranya hanya diam dengan ekspresi serius membuatnya semakin panik.


"Kau tidak ingat apa yang kau katakan semalam?"


Leon tampak berpikir dan mengingat hal bodoh apa yang dilakukannya. Tapi kemudian dia menggeleng.


"Aku tidak ingat. Sorry."


Joshua memperhatikan Leon dengan seksama, mencari tanda-tanda kebohongan pada Leon. Meski tak lama kemudian dia menghela napas dan memutuskan bahwa Leon sepertinya benar-benar tidak ingat.


"Baiklah, lupakan saja."

__ADS_1


"Aku sungguh-sungguh tidak nyaman, tapi apapun itu kuharap kau bisa memaafkanku, Josh. Aku benar-benar minta maaf."


"Ya ya, sudahlah tidak apa-apa," bohong sekali bahwa dia tidak apa-apa karena kepalanya masih penuh dengan berbagai macam kemungkinan yang muncul dari pernyataan Leon semalam.


"Kau mau membersihkan dirimu dulu atau bagaimana, aku harus segera berangkat 30 menit lagi."


"Ah, sebaiknya aku segera pulang karena aku juga harus segera berangkat."


Leon merapikan dirinya sebelum beranjak dan pamit pada Joshua.


"Terimakasih sudah mau menjemputku dan memberi tumpangan tidur. Kuharap kau tidak keberatan karena sekarang aku juga harus membiasakan diri tanpa Christ."


"It's okay, kau bisa minta tolong padaku kapanpun itu."


"Thank you, Josh."


Selepas kepergian Leon, Joshua segera menekan sebuah kontak panggilan di ponselnya. Sekalipun dia tidak mau berprasangka buruk tapi segala sesuatu yang berkaintan dengan Agatha harus dipastikannya tidak berbahaya. Mungkin masih terlalu awal menaruh kecurigaan karena ini baru beberpa hari setelah sahabatnya itu menikah dan tentu dia tidak mau merusak momen apapun.


Karenanya Joshua memutuskan untuk menyimpan informasi yang masih belum jelas kebenarannya ini sendirian, mungkin ada baiknya dia berbagi dengan Gabriel nantinya karena bagaimanapun Gabriel menyayangi Agatha sama besarnya seperti dirinya.


"Rafe, bagaimana dengan tugas yang kuberikan padamu? Sudah mendapatkan hasilnya?"


'Hasil yang kudapatkan hampir sama dengan sebelumnya. Hanya saja ada informasi yang sedikit bercabang tentangnya sepuluh tahun yang lalu.'


'Ada informasi yang mengatakan sepuluh tahun yang lalu dia tinggal di sini dan juga di Skotlandia.'


"Bukankah informasi yang sebelumnya mengatakan di memang menghabiskan masa mudanya di Skotlandia? Dia tinggal bersama kakek dan neneknya di sana."


'Tapi informasi yang lain mengatakan dia ada di sini dan tidak pernah ke Skotlandia."


"Kau yakin dengan sumber informasinya?"


'Tentu saja.'


"Baiklah, lanjutkan pencarianmu. Aku ingin jejak sepuluh tahun yang lalu tentang Christopher Winston tanpa ada yang terlewat, entah sekecil apapun kau harus mengambil informasi itu."


Setelah mematikan panggilan Joshua tampak terganggu oleh fakta yang baru disampaikan oleh Rafe, salah satu bawahannya dalam pencarian informasi.


Awal dia menyelidiki Christ tidak ada informasi ini, apa mungkin dia salah waktu itu? Jelas-jelas data yang ada menunjukkan bahwa pria itu berada di Skotlandia dan menetap di sana selama lima tahun. Mungkin bukan sesuatu yang serius karena keluarga Winston bersih dari jejak kriminal, bisa saja Christ memang memiliki waktu di sana untuk hal lain.


Hal yang benar-benar mengganggunya adalah ucapan Leon tentang 'pemuda tak bersuara' karena keberadaan Mikael terlalu pribadi untuk diketahui orang lain. Juga tentang kematian pemuda itu.


"Kenapa hal-hal seperti ini muncul di saat kau mulai hidup barumu, Agatha?" gumamnya pelan, kemudian beranjak untuk segera ke kantor.

__ADS_1


Dia ingin memberitahu Gabriel tapi mungkin harus menunggu sampai Rafe kembali bersama informasi yang lebih akurat nanti. Joshua tidak ingin gegabah untuk apapun yang menyangkut hidup Agatha.


.......


.......


.......


Sementara itu Leon yang dalam perjalanan pulangnya masih memikirkan kira-kira apa yang diucapkannya saat tidak sadar hingga membuat Joshua Sanders menatapnya dengan tatapan serius seperti tadi.


Apa itu hal buruk?


Seingatnya dia tidak membenci Joshua jadi tidak mungkin dia berkata kasar kan?


Dia bukannya sengaja memanggil Joshua semalam, kesal pada teman-temannya yang sibuk terutama sepupunya yang sedang berbahagia sampai-sampai tidak menjawab semua panggilan dan pesan darinya. Dan tanpa sadar dia justru menghubungi Joshua Sanders yang tidak terlalu akrab.


"Sial, apa yang sebenarnya kukatakan ya? Perasaanku tidak nyaman, kuharap bukan sesuatu yang buruk atau Christ akan membunuhku nanti," gerutunya frustasi.


Dia memang bukan orang yang mudah mengumbar rahasia orang lain hanya saja di waktu-waktu tertentu ketika limit emosinya sedikit lagi mencapai batas, dia bisa menjadi bumerang bagi si pemilik rahasia jika ditambah dengan kebiasaannya mengkonsumsi minuman beralkohol untuk menghibur diri.


Yang jelas setelah ini dia tidak bisa begitu saja menghindari Joshua karena akan tidak nyaman jika dia menjauh tiba-tiba setelah melakukan sesuatu entah apa itu padanya kan?


Setiap manusia di bumi ini memiliki rahasia


yang mungkin bisa dibaginya untuk beberapa orang terpercaya


atau bahkan mungkin hanya disimpan rapat-rapat olehnya sendiri.


Namun keinginan manusia bukanlah takdir.


Sekeras apapun manusia berusaha terkadang yang terjadi adalah hal-hal sebaliknya


Cepat atau lambat, takdir akan datang dan membawa jalannya sendiri.


Entah jalan yang mudah ataupun jalan yang sulit dilalui.


Dan manusia tidak pernah tahu bagaimana takdir akan menemukannya.


.


.


.

__ADS_1


Riexx1323.


__ADS_2