
...Masa untuk membiasakan diri itu tidak mudah. Akan ada lebih banyak penolakan daripada penerimaan....
.......
.......
.......
Angin kering berhembus menyambut kedatangan mereka di tengah teriknya matahari pulau Dewata. Mereka baru saja keluar dari Ngurah Rai International Airport dan dalam perjalanan menuju resort tempat mereka akan menghabiskan satu pekan waktu mereka di pulau ini.
Kemarin saat Christ meminta pendapatnya untuk tujuan bulan madu, tempat pertama yang terlintas di kepala Agatha adalah pulau Bali. Meskipun banyak destinasi lain di dunia ini tapi Agatha lebih memilih datang kemari karena dia masih ingin menikmati suasana tenang dan juga hamparan laut. Agatha merasa kecewa karena liburan singkatnya di Maladewa harus terganggu oleh kecelakaan kecil sebelumnya. Lagipula Maladewa berbeda dengan Bali, suasana di sini lebih sibuk dan Agatha ingin merasakan itu.
"Agatha, kau mau makan dulu sebelum ke penginapan?"
"Boleh, aku sedikit lapar. Carikan tempat yang juga menyediakan menu lokal ya," jawab Agatha yang tampak menikmati hembusan angin dari jendela yang dibukanya.
Chrst tersenyum, setidaknya mereka harus mengakrabkan diri sebagai teman dulu iya kan? Jadi anggap saja ini liburan bersama teman spesial.
Sejujurnya Christ menghubungi Joshua sebelum mereka pergi, dia meminta bantuan sahabat istrinya itu, menanyakan apa yang tidak disukai Agatha entah itu makanan, kebiasaan atau hal-hal lain yang bisa merusak mood Agatha. Yah seperti yang kalian tahu, tidak ada orang yang mengenal Agatha lebih baik dari Joshua Sanders. Dan sekalipun Christ mengenal baik kepribadian istrinya itu tapi ada hal-hal kecil yang mungkin hanya diketahui oleh Joshua saja.
Meskipun di saat bersamaan lagi-lagi Christ harus mencoba untuk menekan rasa iri di hatinya pada posisi Joshua dalam hidup Agatha, dan dia sangat ingin merubah posisi itu. Sekalipun adalah hal yang mustahil mengalahkan Joshua Sanders dalam hati Agatha apalagi dalam keadaannya yang sekarang, tapi Christ tidak ingin menyerah karena Agatha adalah tujuan hidupnya.
.
.
.
Di ujung lain dunia, seorang pria tengah menyesap kopi hitamnya menatap sekeliling ruangan kosong tanpa penghuni. Duduk di ruang tamu dengan berkas-berkas berserakan di atas meja.
Saat ini Joshua sedang menunggu kedatangan Gabriel di ruangan Agatha. Rasanya aneh melihat ruangan ini tanpa pemiliknya. Sejujurnya Joshua sendiri tidak pernah berada jauh dari Agatha selama ini karena mereka selalu pergi kemanapun menjalankan tugas dan pekerjaan bersama. Dan itu sudah seperti keseharian yang tidak terpisahkan dari Joshua,
Baru dua hari Agatha pergi tapi rasanya ada sedikit kekosongan dalam hari-harinya.
Ah, bukan berarti dia tidak bahagia setelah sahabat kesayangannya itu akhirnya mau menikah, hanya saja dia masih belum terbiasa.
Jadi begini ya kehidupan tanpa Agatha?
Suara pintu yang terbuka membuat Joshua menoleh dan mendapati Gabriel yang datang dengan satu tangan membawa tas dan tangan satunya menempel pada ponsel di telinganya. Sedikit berantakan dan basah.
Begitu melihat Joshua yang duduk menunggu dengan kopi di tangannya seketika membuat Gabriel mengakhiri sambungan teleponnya.
"Maaf Josh, kau sudah lama menunggu?" ucapnya seraya duduk dihadapan Joshua.
__ADS_1
"Tidak lama Gab, hanya 30 menit sampai kopiku hampir habis," jawab Joshua yang meletakkan cangkirnya yang memang hampir kosong.
"Kau darimana kehujanan begitu? Kau tidak berjalan ataupun berlari untuk datang kemari kan?" tanyanya curiga karena Gabriel bukan tipe orang yang mau repot-repot di tengah hujan seperti itu.
"Ah, itu aku baru saja dari cafe depan kantor dan sayang sekali hujan turun saat aku akan kemari."
"Cafe? Depan kantor? Tidak biasanya," Joshua menatap Gabriel curiga karena sahabatnya ini tiba-tiba tampak salah tingkah. "Sejak kapan tuan muda Gabriel mau keluar masuk cafe apalagi yang ada di sekitar gedung kantornya? Bukankah biasanya kau menyuruh orang lain alih-alih pergi sendiri ditambah lagi di tengah hujan seperti ini?"
Joshua beranjak menuju walk in closet mini yang ada di samping kamar mandi untuk mengambil handuk dan kemeja kering untuk Gabriel. Jangan terkejut bila dalam ruang kerja Agatha ada tempat seperti itu, beberapa pakaian dan setelan formal milik Agatha dan Gabriel yang kadang diperlukan saat ada acara tertentu yang tiba-tiba.
"Aku hanya ingin sesekali pergi sendiri," jawab Joshua menerima handuk kering dari Joshua. "Kenapa menatapku curiga begitu?"
"Karena jawabanmu tidak seperti Gabriel yang kukenal," Joshua kembali duduk dan memperhatikan Gabriel yang sibuk mengeringkan diri kemudian pria itu beranjak untuk mengganti pakaiannya.
"Jadi, katakan padaku."
"Apa lagi?"
"Alasanmu rela kehujanan dan pergi ke cafe dekat kantor."
Gabriel merotasikan bola matanya sebelum menghela panjang dan duduk di hadapan Joshua. Tidak ada gunanya berbohong di hadapan Joshua, sahabatnya itu mirip sepertinya yang cepat mendeteksi kebohongan.
"Baiklah, aku menemui seorang teman. Dia bilang ada di sekitar sini dan karena kebetulan aku dalam perjalanan kemari maka sekalian aku mengajaknya bertemu."
"Pasti teman istimewa sampai kau rela kehujanan."
"Pasti cantik dan baik."
"Tentu saja. EH???" Gabriel terkejut dengan jawabannya sendiri. Mulutnya ini kenapa tidak bisa sedikit mengerem sih?
Joshus terbahak melihat sahabatnya itu panik keceplosan dan Gabriel yang menahan malu terlihat lucu karena telinganya langsung memerah.
"Kenapa kau panik hanya karena ketahuan olehku?" goda Joshua yang masih tertawa, "Itu bagus Gab, kau memang harus mulai mencari pasangan hidup."
"Diam. Bukan begitu, aku hanya bertemu bukan berkencan."
"Dan selama aku mengenalmu, kau tidak sembarangan mau menemui orang lain. Jelas kau meluangkan waktumu untuk kali ini."
Gabriel mengusap wajahnya yang memerah malu-malu, memang selama ini dia tidak pernah dekat secara khusus dengan wanita meskipun banyak wanita yang terang-terangan berusaha mendekatinya.
"Baiklah, aku memang tidak bisa bohong padamu. Aku memang meluangkan waktu kali ini meski hanya sebentar, kami sungguh lama tidak bertemu," jelasnya pada akhirnya, tangannya kini kembali sibuk menyalakan laptop dan mengeluarkan berkas-berkasnya.
"Jadi dia pernah jadi seseorang yang istimewa di masa lalu?"
__ADS_1
"Begitulah, lagipula aku sekarang sudah merasa lega karena adik tercintaku akhirnya menikah. Seperti ada beban yang terlepas, tapi bukan berarti aku melepaskannya begitu saja."
Joshua terdiam dengan seulas senyum tipis di sudut bibirnya. Sejujurnya dia pun merasa lega namun rasa kosong itu sedikit mengganggunya.
"Aku merasakan hal yang sama, tapi tahukah kau Gab? Ada rasa kosong yang aneh saat ini kurasakan. Apalagi saat aku berada di ruangan ini sendirian."
Mendengar hal itu Gabriel menatap pria yang menampakkan ekspresi sendu namun sulit diartikan itu. Gabriel tahu mungkin Joshua lebih merasa kehilangan.
"Kau menghabiskan hampir separuh hidupmu bersama adikku. Aku bisa mengerti dan memahaminya. Bahkan kau jauh lebih mengenal Agatha daripada aku."
"Benar, separuh hidup yang kuhabiskan mengurusnya. Aku hanya tidak menyangka rasanya seperti ini. Hahaha, aneh," dan tawa sumbang di penghujung kalimatnya entah kenapa terdengar sedikit pahit.
"Kurasa akan jauh lebih sulit bagimu untuk membiasakan diri. Bagiku sendiri Agatha selalu menjadi prioritas namun sejak dia memutuskan tinggal di apartemen dan keluar rumah mau tidak mau aku harus terbiasa jauh darinya. Dan dia semakin dekat denganmu."
Apa yang dikatakan oleh Gabriel tidak salah, memang seperti itulah hari-harinya selalu diisi oleh Agatha yang selalu mengganggunya setiap saat. Ah, perasaan ini mengganggunya.
"Joshua?"
"Hm?"
"Kau tidak sedang patah hati kan? Jangan bilang kau sebenarnya menyukai adikku diam-diam?" Gabriel menatapnya dengan mata membulat tak percaya.
"Jangan bicara sembarangan, Gab."
"Tapi mungkin saja kan, selama ini kau menyembunyikan—"
"Diam. Aku tidak begitu," menghembuskan napasnya panjang Joshua balas menatap Gabriel membantah. Karena memang bukan itu yang dirasakannya.
"Seperti yang kau katakan, dalam separuh hidupku selalu ada Agatha di dalamnya. Sekarang saat dia sudah memiliki kehidupan baru rasanya seperti aku ditinggalkan sendirian. Seperti saudara kembar yang terpisahkan tiba-tiba."
Gabriel mengerti hal itu dan hanya bisa memandang iba pada sahabatnya yang kini menyibukkan diri dengan data-data di hadapannya sekalipun matanya tidak fokus.
"Joshie."
"Hm?"
"Bagaimana jika kau juga mulai berkencan?"
Dan Joshua dengan kepala yang kini tidak fokus hanya bisa menatap Gabriel seolah sahabatnya itu baru saja menawarkan padanya sebuah pelontar untuk mendorongnya jatuh.
.
.
__ADS_1
.
Riexx1323.