
Agatha kini selalu bangun lebih pagi dan sebelum pukul 10 dia sudah keluar dari rumahnya, entah dijemput oleh Joshua atau diantar oleh sopir keluarganya. Dan kebiasaan barunya ini menimbulkan kecurigaan dari ayah dan kakaknya sampai-sampai keduanya menanyakan hal itu pada Joshua.
Tentu saja Joshua mengiyakan bahwa Agatha berada di rumahnya meski hanya sebagian kebenarannya saja. Karena tidak mungkin dia jujur bahwa Agatha sering menghabiskan waktunya di rumah asuh sekarang.
Keluarga Anderson bukanlah jenis orang kaya yang arogan. Mereka tidak akan memandang status seseorang dengan rendah, hanya saja kali ini atas permintaan Agatha agar ayah dan kakaknya tidak tahu mengenai Mikael. Hanya untuk jaga-jaga saja.
"Sampai kapan kau menggunakanku sebagai alasanmu? Aku tidak masalah asal kau tidak mulai terlalu pagi setiap hari," keluh Joshua saat keduanya dalam perjalanan menuju kampus.
"Not now Joshie, belum saatnya mereka tahu tentang Mikael. Aku hanya berusaha agar Mikael tidak terkejut jika berhubungan dengan keluargaku."
"Kau tahu ayahmu dan Gabriel tidak mungkin menyakiti Mikael."
"Benar, tapi Mikael terlalu polos jika harus terlibat dengan mereka."
Joshua yang menyetir kini melirik sang sahabat yang sibuk menggerakan tangannya mengikuti tutorial di layar yang tengah di pangkunya.
"Lagipula Joshie, kau memang benar-benar harus menjagaku kan?"
Joshua memutar bola matanya mendengar penuturan Agatha, ya benar sih dia tidak akan tega begitu saja melepaskan Agatha.
"Kau sesuka itu padanya?" tanyanya lagi setelah melihat betapa fokusnya Agatha belajar bahasa isyarat.
"Ya. I love him so much."
"Why should it be him?"
Agatha berhenti menggerakkan tangannya lalu menatap Joshua.
"There's no reason for it. I just love him."
"But you never know what love is before."
"Can't explain that but-setiap bersamanya aku bahagia, dan setiap hal yang ada padanya membuatku semakin menyukainya. Seperti sebuah magnet, apapun yang ada pada Mikael membuatku tertarik."
Joshua mengangguk, dia meyakinkan diri bahwa sahabatnya itu serius. Karena Agatha yang dingin tiba-tiba menyukai seseorang adalah hal luar biasa. Tentu saja jika orang-orang tahu maka akan jadi hal besar yang mungkin akan menimbulkan masalah untuk Mikael nanti, jadi ada baiknya hubungan keduanya tidak diketahui banyak orang.
Dan tentu Joshua berperan sebagai pengalih perhatian karena dialah yang akan selalu terlihat bersama Agatha kemana-mana. Begitu sampai di gerbang, Joshua menurunkan Agatha dan kembali melajukan mobilnya karena hari ini dia tidak ada jadwal kelas.
Agatha mendapatkan kelas pagi dan sayangnya Mikael justru mendapatkan kelas siang. Tapi ada selisih satu jam yang bisa mereka gunakan untuk bertemu di perpusatakaan. Tolong dipahami karena jarak gedung mereka terlalu jauh satu sama lain sehingga lokasi perpustakaan yang ada di tengah menjadi solusinya.
Tepukan pelan dibahunya membuat pemuda yang sedang serius membaca itu menoleh dan sedetik kemudian tersenyum saat melihat gadis berambut coklat yang berdiri di belakangnya.
"Maaf, kau lama menunggu?" Agatha mengambil duduk di samping Mikael.
'Tidak apa-apa. Kau berlari kemari? Agak terlihat berantakan,' kemudian tangannya terulur untuk merapikan beberapa helai rambut Agatha yang mencuat dari belakang telinganya.
"Yeah, sedikit berlari tapi tidak apa-apa," Mereka berdua memiliki tempat tertentu yang memang tidak banyak digunakan oleh orang lain sehingga kecil kemungkinan ada yang menatap ingin tahu pada mereka.
'Agatha, sepertinya besok kita tidak bisa bertemu.'
"Kenapa? Apa kau ada praktek sampai malam?" Agatha mengeluarkan bukunya, dia memang akan mengerjakan tugasnya disini.
__ADS_1
'Tidak, besok ada acara sosial yang diadakan oleh komunitas kampus. Aku akan ikut.'
"Oh ya? Memangnya ada komuntias seperti itu? Aku tidak pernah dengar," gumam Agatha yang langsung mendapat senyuman lebar dari Mikael.
'Tentu saja kau tidak tahu, selama ini sepertinya kau sibuk sendiri dengan duniamu.'
Agatha terdiam sejenak, benar sih kalaupun ada acara sosial seperti itu pasti ayahnya atau Gabriel akan menyuruh orang lain datang sebagai perwakilan.
"Aku boleh ikut?"
'Oh, kau tidak keberatan?'
"Tentu saja, kenapa harus keberatan? Yah, anggap saja aku mau mulai untuk keluar dari kesibukan duniaku."
Mikael tersenyum, 'Jadi kau tersinggung karena ucapanku barusan?'
"Tidak. Siapa yang begitu?"
'Kau cantik jika sedang merona malu seperti itu.'
"Aku tidak-Mikael, jangan mencoba untuk menggodaku!" Agatha mencubit lengan pemuda yang kini justru tersenyum lebar itu.
Agatha kadang berpikir seandainya Mikael bersuara, pasti suara tawanya terdengar begitu indah seperti penampakannya sekarang.
Agatha ikut tersenyum, hanya dengan melihatnya semua rasa yang ada dalam diri Mikael tersalurkan padanya. Dan Agatha menyukai perasaan itu.
Joshua sudah ada di kediaman Anderson pagi-pagi sekali, bagaimana tidak? Semalam Agatha merengek padanya untuk ikut kegiatan sosial kampus yang di maksud oleh Mikael. Sebenarnya tidak apa-apa jika gadis itu pergi, hanya saja jika tanpa Joshua maka sebagai gantinya ayahnya akan mengirim penjaga untuknya. Dan Agatha tidak mau itu.
"Tidak biasanya kalian mengikuti kegiatan sosial seperti itu. Memangnya ada apa kali ini?" tanya Gabriel yang sedang ada di ruang tengah bersama Joshua menunggu Agatha.
"Tidak ada apa-apa, hanya ingin sesekali mencoba. Lagipula ini pengalaman yang bagus."
Gabriel mengangguk mendengar jawaban Joshua, matanya menatap pada Joshua yang kini seperti sibuk menghindari kontak mata dengannya.
"Joshua, kuharap kau tidak menyembunyikan apapun dariku."
"Tidak ada yang kusembunyikan darimu, Gab. Kau tidak percaya padaku?"
"Aku percaya, hanya saja kau mungkin terlalu menuruti adikku."
"Aku menjaganya Gab, kau tidak perlu khawatir akan apapun."
Suara derap langkah menuruni tangga membuat keduanya mendongak. Agatha turun dengan setengah berlari menghampiri mereka.
"Kalian sedang membicarakan apa? Gab, jangan ganggu Joshie!"
"Apa? Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Gabriel polos.
"Tidak ada hal yang serius. Ya kan Gabriel?"
"Benar, dan sepertinya kalian harus segera pergi," ucap Gabriel yang kemudian segera mendorong kedua orang itu keluar. Dengan senyumnya Gabriel mengantar keduanya sampai masuk ke mobil.
__ADS_1
"Apa yang kau bicarakan pada Gabriel?" tanya Agatha saat mobil keduanya mulai melaju.
"Tidak ada, dia hanya penasaran kenapa adiknya ini tiba-tiba ingin mengikuti sebuah kegiatan sosial."
"Lalu kau jawab apa?"
"Mencari lebih banyak pengalaman baru. Memangnya apa lagi?"
"I love you Josh, you always safe me from crisis."
"And I hate you Sweetie," dan keduanya tertawa, selalu seperti itu. Mereka sudah saling memahami tanpa harus memberitahukan secara langsung. Dan itulah yang membuat ikatan keduanya terlihat begitu dekat di mata orang lain.
Mereka mengunjungi beberapa sekolah dasar kurang mampu di pinggiran kota untuk membagikan beberapa buku dan berdonasi. Cukup menyenangkan karena bertemu banyak anak yang antusias menyambut kedatangan mereka. Agatha yang baru pertama kali ikut sebenarnya cukup menyukainya hanya saja Mikael tampak lebih sibuk bersama yang lain dan mereka hanya beberapa kali berpapasan.
"Dia sibuk sekali," gerutu Agatha saat Mikael berada diantara kerumunan anak-anak yang mengantri untuk mendapatkan buku dongeng.
"He impressed me with his amazing things," sahut Joshua yang kini mengangkat beberapa kardus lagi ke dalam.
"He is the greatest person i have ever met, an angel," bisik Agatha kemudian melambaikan tangan saat Mikael menatap dan tersenyum padanya.
'Maaf, kita tidak memiliki banyak waktu bersama. Tapi aku senang kau ada di sini,' ucap pemuda itu.
"Aku juga senang berada di sini bersamamu dan melakukan semua ini."
Mikael kembali sibuk membawa beberapa hadiah untuk anak-anak yang sudah mereka persiapkan sebelumnya.
Hingga bunyi gedebuk keras tiba-tiba membuat beberapa orang yang ada di dalam ruangan menoleh. Mikael jatuh dengan barang-barang yang dibawanya berserakan.
Ada seseorang yang menabrak Mikael dan Agatha ingat bahwa dia adalah salah satu dari anak yang beberapa waktu lalu juga menabrak Mikael di undakan batu. Kenapa mereka ada disini? Dua dari temannya bahkan tidak berniat membantu Mikael yang memunguti bawaannya. Agatha yang melihatnya tentu kesal dan bergegas membantu Mikael, tidak lupa dengan tatapan tajamnya yang dia arahkan pada pemuda si penabrak yang hanya diam di hadapan Mikael.
Seorang pemuda lain datang dan mendorong ketiga pemuda itu, segera membantu Mikael. Agatha mengernyit heran karena tidak pernah melihat pemuda ini sebelumnya.
"Kenapa kalian mengganggu Mikael? Aku tidak akan segan-segan jika kalian begitu lagi," ucap pemuda itu, "Ayo Mikael, kita pergi."
Agatha kemudian menarik Joshua untuk mengikuti Mikael dan pemuda satunya. Mereka menyingkir ke lorong di luar kelas yang lebih sepi.
'Aku tidak apa-apa Felix, itu hanya kecelakaan.'
"Apanya yang tidak apa-apa? Disebut kecelakaan jika hanya sekali, kalau sudah berkali-kali itu namanya kesengajaan! Jangan terlalu baik pada orang-orang seperti mereka, itulah sebabnya aku tidak suka meninggalkanmu sendirian," pemuda itu masih mengomel sembari memutar-mutar tubuh Mikael, menilik apakah ada luka di sana.
"Apa selama aku pergi mereka mengganggumu?"
'Tidak, sudah kubilang kan kalau ini kecelakaan.'
Masih setengah menggerutu pemuda itu kemudian beralih menatap Agatha dan Joshua.
"Siapa mereka?"
'Ah, mereka teman baru yang pernah kuceritakan padamu. Ini Joshua dan ini Agatha.'
"Oh, hai. Aku Felix, kakak Mikael."
__ADS_1
Riexx1323.