Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — After Wedding Party


__ADS_3

...Karena dalam sumpah yang terucap  begitu banyak harapan yang menyala. Meski angin besar berhembus untuk memadamkannya....


.......


.......


.......


Agatha melepas heels tingginya kemudian menghempaskan tubuh ke tempat tidur. Sungguh lelah berdiri hampir lima jam di pesta dan terus menerus tersenyum.


Tamu yang datang memang tidak banyak, hanya beberapa teman dan relasi dekat keluarganya dan Christ. Tergolong privat party dengan jumlah tamu kurang dari delapan puluh orang karena mengingat reputasi kedua keluarga yang cukup terkenal, keluarga Anderson dan dokter Winston.


Agatha tidak pernah berlama-lama dalam undangan pesta sebelumnya, hanya 30 menit sampai satu jam saja biasanya. Karena itu dia tidak menduga kalau pesta pernikahan bisa selama ini.


Pesta pernikahannya baru saja berakhir dan dia sekarang ada di kamar hotel tempatnya dan Christ menginap.


Punggungnya terasa kaku apalagi sejak tadi terbungkus oleh gaun super ketat yang membuatnya tidak bisa bernapas dengan bebas.


Bunyi notifikasi pesan pada ponselnya membuatnya membuka mata dan meraih ponsel diatas bantal.


Pesan dari Joshua.


Selamat menempuh hidup baru, Sayang.


Kuharap ini menjadi awal baru untuk kebahagiaanmu.


Dan ya... kuharap kau tidak mengacaukan malam pertamamu.


Kau tahu maksudku kan?


Pokoknya, aku tidak akan mengganggumu selama kalian pergi berbulan madu.


Dan jangan hubungi aku, okay?


Sekali lagi selamat, Sayang.


Agatha mencebik setelah membaca pesan dari sahabatnya itu. Bisa-bisanya Joshua mengirimkan pesan seperti itu padanya. Maksudnya—kenapa harus diingatkan tentang malam pertama yang bahkan dia sendiri tidak memikirkannya.


Sebenarnya bukan tidak berpikir sama sekali, Agatha juga sempat memikirkannya karena bagaimanapun dia dan Christ sudah menikah. Tapi masalahnya adalah mereka menikah dengan sebuah kesepakatan dan batas waktu, dan yang paling utama adalah tidak adanya rasa cinta di hatinya.


Apakah mungkin 'tidur bersama' tanpa rasa cinta? Bukankah itu kasar?


Agatha menghela pendek, entahlah dia akan bicara lagi pada Christ nanti.


Oh, ngomong-ngomong soal Christ pasti pria itu kembali ke Hall karena saat mereka akan pergi tadi, Leon memanggilnya dan tampaknya ada hal serius yang perlu mereka bicarakan.


Tidak mau memikirkan hal itu Agatha kemudian membuka kopernya dan mengambil satu gaun tidurnya. Dia mau mandi dan tidur setelahnya.


.


.


.

__ADS_1


Agatha baru saja selesai setelah tiga puluh menit berendam air panas demi merilekskan tubuhnya.


Berniat mengeringkan rambutnya dan mengambil hairdryer, Agatha terkejut mendapati Christ duduk bersandar dengan tangannya memainkan ponsel. Pria itu sudah melepas tuxedo hitamnya menyisakan kemeja putih yang digulung hingga lengan dan beberapa kancing yang terbuka pada bagian atasnya.


Melihat kedatangan Agatha, pria itu segera meletakkan ponselnya dan mengalihkan perhatiannya pada Agatha.


"Sudah selesai mandi?" tanyanya dengan senyum tipis di bibirnya.


"Sudah, kau sendiri darimana saja?" Agatha duduk lalu menyiapkan hairdryer di meja rias.


"Ah, tadi ada tamu penting yang datang. Sebenarnya lebih tepat di sebut klien sih, baru datang dari Jepang untuk kontrak baru dengan perusahaan. Padahal aku sudah menyuruh Leon untuk menggantikan tapi dia memaksa untuk bertemu dan datang kemari."


"Membicarakan soal pekerjaan di hari pernikahan?"


"Bukan, dia datang untuk memberi selamat," jawab pria itu kemudian beranjak mendekati Agatha.


Mengambil alih handuk dan hairdyer dari tangan Agatha, Christ mulai mengeringkan rambut wanitanya.


Agatha sebenarnya cukup terkejut namun tidak menunjukkannya, dia hanya diam menatap pantulan sosok Christ dari cermin.


"Christ, kau masih ingat kesepakatan kita sebelum menikah kan?"


"Hm?"


"Christ, aku serius bertanya."


"Iya, aku ingat. Kenapa?"


"Kau tahu kan bahwa aku tidak mencintaimu?" tanya Agatha sedikit khawatir pria itu akan tersinggung.


Agatha sedikit was-was menatap bayangan Christ dalam cermin sebelum melanjutkan, "Baiklah, anggap saja begitu. Lalu masalahnya sekarang adalah—" rasanya sulit bagi mulut Agatha untuk mengucapkannya, bukankah topik ini rawan dibicarakan oleh pasangan yang baru menikah?


Menghela napasnya, Agatha memejamkan matanya sekilas. Sementara Christ masih fokus mengeringkan helaian rambutnya.


"Christ, masalahnya adalah—karena aku tidak memiliki perasaan itu padamu, bagaimana dengan malam pertama kita?" ucapnya pada akhirnya.


Sejenak tangan Christ berhenti menelusuri helai rambut Agatha, namun tidak lama pria itu melanjutkan.


"Jadi kau memikirkan hal ini?" tanyanya kemudian yang di telinga Agatha anehnya terdengar cukup tenang.


"Tentu saja aku memikirkannya. Maksudku—aku tidak ingin kau marah atau tersinggung tapi hubungan seperti itu bukankah hanya bisa dilakukan oleh orang yang saling mencintai?"


"Hh, belum apa-apa sepertinya aku sudah menyakitimu," ucap Agatha tidak enak karena sungguh dia sendiri bingung harus bagaimana.


"Maafkan aku, Christ."


Pria itu tidak menjawab dan masih memfokuskan tangannya pada pekerjaannya.


"Agatha, apa kau ingat apa yang kukatakan dalam kesepakatan kita?" tanya pria iti pada akhirnya, Agatha hanya diam dan tidak yakin harus menanggapi apa.


"Ya, aku ingat. Kau akan berusaha mengubah perasaanku."


"Benar, aku akan mengusahakan apapun untuk itu."

__ADS_1


"Artinya kau akan memaksaku melakukannya?"


Christ tersenyum lalu balas menatap Agatha dari pantulan cermin.


"Tidak, aku tidak akan memaksamu karena itu hanya akan menyakitimu. Yang ingin kukatakan adalah, kau mungkin tidak siap akan malam pertama kita dan aku memahami itu."


Meletakkan hairdryer-nya kembali ke atas meja, Christ tersenyum.


"Kita bisa melewati bagian 'malam pertama' dalam pernikahan kita," bisiknya kemudian.


Agatha yang sejak tadi sedikit gugup pada jawaban pria ini sekarang justru merasa kaget.


"Kau tidak marah padaku?"


"Tidak."


"Kenapa? Bukankah seharusnya kau marah atau tersinggung padaku?"


Agatha kini memutar duduknya demi menghadap pada pria yang menjadi suaminya ini.


"Sudah kering."


"Apa?" tanya Agatha tidak mengerti.


"Rambutmu sudah kering, Agatha."


Seolah mengabaikan pertanyaan dari Agatha Christopher justru membereskan handuk dan hairdryer yang baru dipakainya sementara Agatha memandangnya dengan tatapan penuh tanya.


"Jangan menatapku seperti itu, Agatha," ucap Christ yang kini justru tersenyum lebar.


"Tapi kau—" Agatha menghentikan ucapannya karena tiba-tiba Christ berdiri di hadapannya.


"Dengarkan aku, Agatha. Kau tidak perlu khawatir pada malam pertama kita yang yah... tidak bisa dilakukan seperti kebanyakan orang. Tapi tidak apa-apa, aku bisa memahaminya. Lagipula ini hanya malam pertama yang terlewat, bukankah kita masih memiliki ratusan malam-malam lainnya bersama? Jadi kenapa kau khawatir pada satu malam pertama saja?" lanjut Christ masih dengan tersenyum kemudian tangannya mengusak pucuk kepala Agatha dengan lembut.


"Aku mau mandi dulu. Kau bisa isrirahat dan tidur duluan. Aku yakin kau lelah," ujarnya kemudian berlalu menuju kamar mandi meninggalkan Agatha yang masih terdiam di tempatnya.


Agatha tidak bisa berpikir atau menanggapi semua ucapan Christ.


Apa-apaan pria ini?


Kenapa tanggapannya sama sekali berbeda dengan apa yang ada dibayangannya?


Bukankah wajar jika dia beraksi berlebihan?


Tapi Christ justru melakukan sebaliknya .


Apa dia benar-benar berbeda?


Agatha memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi, yang jelas Christ paham pada point pentingnya. Dan karena tubuhnya sejak tadi sudah meronta ingin berbaring maka sekarang Agatha merebahkan dirinya untuk segera beristirahat.


.


.

__ADS_1


.


Riexx1323.


__ADS_2