
...Mimpi buruk tak hanya terjadi ketika kita terlelap dalam tidur....
...Mimpi seperti itu akan hilang ketika kita terbangun....
...Namun mimpi buruk yang terjadi saat kita dalam keadaan sadar atau yang biasa kau sebut kenyataan buruk....
...Hal itu tidak akan hilang hanya karena kau menghindarinya....
...Dia akan hilang jika kau berani menghadapinya....
.......
.......
.......
Neona tersenyum penuh kemenangan ketika Chris akhirnya membalas pesannya. Tentu saja pria itu harus membalas. Dia pasti tidak ingin pernikahannya berada dalam masalah. Dan sayang sekali Neona bermaksud untuk menciptakan masalah itu.
Dengan ringan diketiknya balasan untuk pria itu.
^^^Aku tidak bermaksud apa-apa^^^
^^^Hanya ingin memberitahu saja kalau kerinduanku padamu telah membawaku terbang jauh dari Manhattan kemari.^^^
^^^Bukankah harusnya kau mengapresiasi usahaku untuk menemuimu?^^^
Neona kini duduk dengan congkak meyilangkan kaki menunggu balasan dari Christ. Sebelum datang kemari Neona sudah merencanakan banyak hal, sesudah dia mendengar berita pernikahan pujaan hatinya itu dia sudah bertekad akan menghancurkan kebahagiaan yang tak biasa didapatkannya itu.
Balasan dari Christ datang lebih cepat dari dugaannya.
^^^Hentikan omong kosongmu^^^
^^^Katakan apa maumu, Neona. Jangan pernah kau berani mendekati Agatha.^^^
Wah, lihatlah pria ini sudah tidak berubah dari dulu. Mencintai wanita itu dengan segala usahanya dan mungkin sekarang dia merasa sudah mendapatkan obsesinya itu.
^^^Terlambat.^^^
^^^Aku sudah menemukan cara untuk berada di dekat istrimu. Tentu saja sebagai tunangan yang ditinggalkan akau harus berkenalan kan? Aku masih tidak rela menyebut diriku sebagai mantan tunanganmu, Christ.^^^
Send.
^^^Neona, kuperingatkan kau.^^^
^^^Jangan bermain api denganku atau kau tahu akibatnya nanti.^^^
Seperti orang gila Neona tertawa membaca pesan ancaman yang dikirimkan oleh Christ. Sepertinya pria itu lupa bahwa dia memiliki rahasia yang disembunyikannya dari dunia. Dan Neona memegang rahasia itu.
^^^Jangan mengancamku Christ.^^^
^^^Aku masih memiliki kelemahanmu. Aku jadi ingin memastikan apakah istri tercintamu tahu akan hal itu.^^^
Send.
Tertawa penuh kemenangan Neona bersuka cita pada fakta dia bisa membuat pria itu tunduk padanya dan kalau memungkinkan dia ingin pria itu jatuh padanya.
.......
.......
.......
Christ mengeraskan rahangnya ketika membaca pesan balasan dari Neona. Rasa was-was dan kecemasan mulai merayapinya.
__ADS_1
Dugaannya benar bahwa kemunculan wanita itu akan membawa dampak buruk untuk hubungannya dengan Agatha. Hubungan yang baru saja terbangun sempurna setelah semua usahanya.
Dan jika itu akan hancur karena Neona—tidak! Dia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Membanting ponselnya, Christ memijat kepalanya yang seketika terasa berat. Dia berada di ruang kerjanya sekarang, tadi dia harus mengarang alasan untuk meninggalkan Agatha sebentar untuk membalas pesan Neona. Meskipun istrinya itu tidak peduli dengannya.
Dia tidak boleh membiarkan Neona bertemu dengan Agatha.
Menetralkan kembali emosi dan napasnya, Christ berjalan keluar ruang kerjanya dan menghampiri Agatha yang kini sedang duduk di sofa masih sibuk dengan pekerjaannya. Bagaimana dia akan memastikan hal itu pada Agatha.
"Pekerjaanmu sudah selesai?" Agatha melirik Christ yang kemudian duduk di sampingnya. Raut wajah pria itu sedikit tegang.
"Ya—sudah selesai," bahkan di telinganya sendiri Christ mendengar kegugupan dalam suaranya.
"Ada apa? Sepertinya kau terlihat sedikit terganggu," tanya Agatha yang sudah fokus kembali pada layar di pangkuannya.
Christ berusaha untuk tidak memperlihatkannya, tapi bagaimana Agatha menyadari itu? Padahal sejak tadi pandangan Agatha fokus pada layar.
"Tidak ada apa-apa, hanya sedikit masalah di kantor," bohongnya cepat, padahal dia tidak mau mencurangi Agatha untuk masalah kecil seperti ini.
"Pergi saja jika memang urusan pekerjaan. Aku tidak akan menahanmu," ucap Agatha dengan nada seperti biasa namun entah kenapa Christ merasa sedikit tertusuk oleh dinginnya kalimat itu.
Ya, memangnya sejak kapan istrinya itu benar-benar peduli padanya? Dengan melakukan 'hubungan' itu bukan berarti Agatha telah mencintainya kan? Harusnya dia tahu untuk tidak terlalu berharap dan bersabar seperti sebelumnya namun kali ini rasanya sakit.
Memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, Christ mengatur napasnya lagi.
Dia tidak boleh begini.
Terkejut, Christ merasakan telapak tangan Agatha yang dingin di keningnya. Rasanya menyejukkan dan membuat emosinya turun sedikit demi sedikit.
"Kau demam? Tubuhmu panas."
Agatha menarik tangannya bermaksud mengambil termometer namun Christ menahannya.
"Tapi aku butuh termometer untuk melihat suhu tubuhmu."
"Tidak usah, seperti ini sudah cukup."
Agatha beringsut mendekat, memindahkan gawai pintar di pangkuannya ke atas meja.
"Apa aku mengganggu pekerjaanmu?" tanya Christ tanpa membuka matanya.
"Tidak juga."
"Sepertinya kau sibuk sekali."
"Sebenarnya hari ini ada penandatanganan kerjasama baru produk fashion dan kecantikan untuk pusat perbelanjaan di sevendialy."
Fashion dan kecantikan?
Apa mungkin Neona...
"Oh, akhir-akhir ini produk fashion dan kecantikan memang sedang dalam tren global. Kali ini bekerja sama dengan siapa?"
Cemas dan berharap apa yang dipikirkannya tidak benar, Christ akhirnya menanyakan hal itu.
"Ya begitulah, kali ini dengan Serenity & Jewelry."
Serenity & Jewelry.
Salah satu perusahaan milik Gerald yang ada di bawah kepimpinan Neona.
Sial.
__ADS_1
"Sudah saling bertemu dengan pihak mereka?" tanyanya cemas.
"Harusnya hari ini aku menemui mereka, tapi seperti yang kau tahu—aku membolos kan hari ini, jadi Joshua yang mengambil alih."
Tanpa sadar Christ menghembuskan napas lega. Merasakan keberuntungan masih berpihak padanya karena akibat perbuatannya, Agatha tidak bertemu Neona hari ini.
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Kau menghembuskan napas lega. Sudah merasa baikan?"
"Sedikit, hm... Sunshine?"
Agatha memandangnya tanpa menjawab, tapi wanita itu jelas menunggu ucapannya.
"Apa kau sudah mencintaiku?"
Lagi-lagi Agatha tidak bisa menjawab pertanyaan itu, "Christ... jangan bertanya padaku—"
"Tidak apa-apa, aku akan menunggu. Dan aku akan terus mencintaimu."
Keduanya saling memandang dan dalam diam yang hanya beberapa detik itu udara terasa lebih berat.
Entah hati siapa yang lebih berat, namun sorot mata keduanya lebih banyak bicara daripada bibir mereka.
Berusaha saling menerjemahkan tatapan satu sama lain sebelum akhirnya Agatha memalingkan wajahnya lebih dulu.
Dan detik berikutnya sorot mata Agatha sudah kembali dingin seperti biasanya.
Christ membaringkan tubuhnya di samping Agatha, menyandarkan kepalanya di pangkuan wanita yang dicintainya sepenuh hati itu.
Menghadapkan wajahnya pada perut ramping Agatha dan tangan yang melingkari pinggang wanita cantik itu.
"Lanjutkan saja pekerjaanmu, aku mau tidur," gumam Christ yang dijawab oleh dengusan Agatha.
"Bagaimana aku bekerja jika kau begitu?"
"Aku hanya mau tidur, Sunshine. Kenapa kau terganggu."
"Kau membatasi ruang gerakku. Tidur di kamar sana, Christ."
Alih-alih mendengarkan ucapan istrinya, Christ menggeleng dan justru mempererat pelukannya yang nenenggelamkan wajahnya di sana. Menghirup wangi tubuh istrinya dalam-dalam seolah tak mau lepas.
Pasrah akhirnya Agatha mengalah dan meraih kembali tab-nya untuk bekerja, membiarkan pria itu tidur di sana.
Untung sofa milik mereka cukup lebar untuk dihuni dua orang berbaring di pangkuannya. Untung saja Agatha sudah kebal dengan tingkah dan sikap manja Christopher Winston.
Christ sendiri sebenarnya tidak tidur, dia hanya mencari alasan untuk tetap berada dekat dengan Agatha.
Lagipula mana bisa dia terlelap jika sekarang sebagian isi kepalanya mengkhawatirkan kemunculan Neona.
Tidak ada jalan mudah untuk menuju keinginan.
Kau harus melewati jalanan penuh halangan di depan kan?
JIka kau tidak bisa melewatinya maka keinginan itu hanya akan menjadi angan dan penyesalan. Dan aku yakin kau tidak ingin ada penyesalan pada akhir ceritamu.
.
.
.
__ADS_1
Riexx1323