Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Kejutan di Maladewa


__ADS_3

...Sepertinya aku tidak akan pernah terbiasa dengan kehadirannya yang selalu tiba-tiba....


...— Agatha —...


.......


.......


.......


Angin dingin berhembus menyambut mereka saat keluar dari bandara Internasional Male. Tentu saja ini memang memasuki musim hujan di Maladewa.


Sopir pribadi sudah menunggu keduanya untuk langsung menuju resort. Jadwal mereka akan dimulai nanti malam untuk menghadiri undangan jamuan makan dari salah satu rekanan mereka.


"Apa kau butuh sesuatu yang lain?" tanya Joshua begitu keduanya sampai di depan kamar.


"Tidak, hanya makan malam jadi tidak butuh persiapan banyak kan?" Agatha mengedikkan bahunya tak acuh.


Dia bukan wanita yang akan ribut dengan ini itu sebelum menghadiri sebuah pesta atau pertemuan. Agatha cukup singkat dan tidak begitu peduli pada macam-macam perhiasan maupun aksesoris yang akan dipakai, gaun mana yang mencolok perhatian, sepatu apa yang cocok, atau pergi ke salon dan mempersiapkan diri selama berjam-jam.


Agatha bukan wanita seperti itu.


Dia tahu yang perlu dia gunakan dalam acara penting yang kebanyakan masih dalam lingkaran bisnis, paham dengan busana yang fashionable dan untungnya Agatha memiliki selera tinggi.


Bahkan gaun sederhana pun akan tampak istimewa jika digunakannya, dan dia tidak akan berhias berlebihan dengan bermacam aksesoris atau make up. Dia akan menggunakan apa yang membuatnya nyaman. Begitu juga dengan tas, sepatu, atau tatanan rambut. Bahkan hal paling sederhana dengan satu jepit di rambutnya yang tergerai akan membuatnya tampak sempurna. Itulah Agatha Anderson.


Setelah menyuruh Joshua beristirahat kembali, Agatha keluar sendirian. Sudah lama dia tidak merilekskan dirinya sendiri. Yah meskipun sekarang dia juga berada di tengah pekerjaan namun bekerja di tempat seindah Maladewa tidak terjadi setiap hari kan?


Dia berniat mengambil satu hari tambahan di luar jadwalnya nanti sebagai liburan kecil. Tentu saja untuk sahabatnya juga yang selalu berada di sampingnya. Hanya saja kali ini Agatha tidak mengatakan jadwal tambahan ini pada Gabriel ataupun Joshua, pria itu tidak tahu rencana kecilnya.


Sudah sangat lama sejak terakhir kali dia menikmati suasana seperti ini. Setidaknya kali ini dia belajar untuk kembali menikmati seperti yang selalu dikatakan Joshua padanya.


Seandainya dia ada disini, dia pasti sangat senang melihat keindahan alam.


Udara memang cukup berangin namun cukup cerah meski ini memasuki bulan hujan di Maladewa.


Agatha kemudian duduk di pinggir dermaga, menatap hamparan air sebening kristal di bawah kakinya. Entah kenapa dia tiba-tiba memiliki ide liburan kecil ini. Lalu matanya tak sengaja menatap kearah jari manisnya dimana cincin 'pertunangan'-nya tersemat.


Ada sebersit rasa keberatan terselip di hatinya, tentu dia masih tidak rela terikat hubungan dengan Christopher Winston.


Agatha tidak pernah menduga dia akan terjebak pada situasi seperti ini.


Dia yang selama ini menentang hubungan dalam bentuk apapun terutama terkait urusan bisnis justru memilih sendiri pertunangan bodoh ini demi sebuah kerjasama.


Demi Senna Rod.


Ya, jika bukan untuk Senna Rod Agatha tidak akan sudi menerimanya.


Satu-satunya alasan agar dirinya terhubung 'dengannya'.


Satu helaan napas darinya begitu mengingat kembali tentang-nya.


Aku merindukanmu.


Apa kau bahagia di sana tanpaku?


Lamunan singkatnya terhenti ketika ponselnya bergetar. Sepertinya Joshua menyadari kepergiannya.


'Kau dimana?'

__ADS_1


"Jalan-jalan sebentar. Kau kenapa sudah bangun? Aku menyuruhmu beristirahat cukup, Josh."


'Bagaimana aku istirahat jika kau menghilang dari radar pandangku?'


"Aku tidak sedang di culik. Kenapa kau heboh begitu?"


'Kau—Agatha Anderson, kuperingatkan jangan membuatku sakit kepala dengan segala tingkah apapun yang kau lakukan. Cukup aku selalu mendapatkan omelan dari ayahmu dan Gabriel.'


"Joshie, memangnya aku melakukan apa? Aku hanya jalan-jalan selagi kau tidur. Dan aku menyuruhmu istirahat jadi jangan pikirkan aku. Okay?" balas Agatha kesal, dia menyuruh sahabatnya itu berhenti khawatir sejenak, kenapa Joshua tidak mengerti?


'Tapi kau tidak pernah jalan-jalan selama ini.'


"Oh God, Joshie! I'm not a child, aku bisa menjaga diri."


'Ya dan terakhir kali mengatakan itu, kau tersesat hampir satu kilometer dariku. Kau tidak ingat itu?'


Agatha mendengus kesal, terkadang Joshua bisa lebih galak dari Gabriel dan yah, dia akui kalau semua omelan sahabatnya itu benar.


'Segera kembali ke kamarmu.'


"Hmm."


'Agatha...'


"Iya aku kembali sekarang."


.


.


.


Malam itu jamuan makan malam diadakan di villa pribadi Wisteria yang merupakan salah satu rekanan bisnis utama dari San Derria Hotels & Resort milik keluarga Anderson.


Sudah banyak sebenarnya tempat penginapan, villa dan lainnya yang ada di Maladewa namun San Derria menawarkan layanan elite dan privat berupa pulau pribadi di tengah laut. Villa elegan dengan dua dan tiga kamar tidur, juga pemandangan dengan akses langsung menuju pantai, dan tentu saja kolam renang pribadi, Jacuzzi dan olahraga alam bawah laut.


Agatha sedang berbincang dengan beberapa orang rekan ketika sang tuan pemilik acara berseru menyambut tamu yang baru datang.


"Selamat datang, tuan Winston! Senang sekali akhirnya anda dapat memenuhi undangan saya."


Tentu saja ucapan sang pemilik acara menjadi perhatian seluruh tamu tak terkecuali Agatha yang kini menatap tidak percaya pada sosok pria dengan black suit yang tengah tersenyum padanya.


WINSTON?


DAMN IT!


Agatha bahkan tidak bisa merespon bisikan beberapa orang di sampingnya karena keterkejutannya.


"Tentu saja tuan Alfred, maafkan jika selama ini saya tidak sempat datang memenuhi undangan anda."


"Tidak masalah tuan Winston, saya maklum. Saya benar-benar senang anda ada di sini sekarang."


Agatha yang melihat itu kini mengalihkan pandangannya mencari sosok sang sahabat yang sejak beberapa menit lalu pamit mengambil minum. Lalu manik cokelatnya menemukan Joshua sedang berbincang dengan seorang wanita di halaman dekat kolam dan Agatha tidak membuang waktu segera menghampiri mereka.


"Joshua Sanders, can we talk for a second?" ucapnya menginterupsi dan sebelum sahabatnya itu merespon Agatha sudah menarik lengan Joshua menyingkir dari sana.


"Ada apa Agatha?"


"Ada apa katamu? Kenapa kau tidak bilang kalau Winston akan ada di acara ini!"

__ADS_1


"Eh, kau tidak tahu? Aku sudah memberikan daftar tamu undangan padamu sebelumnya kan, kupikir kau sudah membacanya."


"Daftar apa—oh ****!"


Agatha ingat Joshua memang selalu memberikan daftar tamu pada acara yang akan mereka hadiri.


Agatha selalu membacanya dan selama ini dia tidak memikirkan tamu lain akan seperti apa. Lalu kenapa kali ini dia tidak membacanya dengan sungguh-sungguh? Bagaimana mungkin dia tidak melihat nama Christopher Winston disana?


Sialan!


"Aku tidak tahu dia akan ada disini!" jawabnya merasa kesal.


"Lalu apa masalahnya jika Christ disini?" Joshua, entah kenapa malam ini lebih bodoh dalam menanggapi ucapannya.


"Masalahnya adalah aku tidak ingin bertemu dengannya! Apa kau tidak mengerti itu? Aku tidak ingin ada kontak lain dengannya di luar prediksiku!"


"Tapi dia sekarang adalah tunanganmu, Agatha."


Satu kalimat dari Joshua yang membuat Agatha berpikir untuk mendorong sahabatnya itu ke laut sekarang.


"Joshie! I told you—"


"Sunshine? I'm looking for you, sedang apa kalian di sini?"


Dan bagai jin lampu yang muncul saat namanya di sebut, Christopher Winston sudah berdiri di belakang mereka.


Agatha memicingkan matanya sinis pada pria yang sedang tersenyum padanya itu.


"Hai Christ," sapa Joshua ramah dengan eye smile-nya.


"Hai Joshua, senang bertemu denganmu lagi," keduanya bersalaman dan saling menepuk bahu satu sama lain.


"Kau. Kenapa kau ada disini?!"


"Tentu saja menghadiri undangan, Sayang. Memangnya apa lagi?"


"Stop calling me with your cringe things! I'm not your lover!"


"But you are my fiancé."


Satu kalimat lain yang membuat Agatha bungkam dan diam-diam mengeratkan kepalan tangannya.


Melihat itu Christopher justru tertawa ringan kemudian meraih tangan Agatha.


"You're so cute. Ayo ke dalam, banyak orang yang ingin menemui kita sebagai pasangan. Joshua, aku bawa sahabatmu dulu ya."


Joshua tersenyum tertahan melihat ekspresi Agatha, dia tahu sahabatnya itu sudah di ambang batas kesabaran dan sudah pasti dia akan menjadi pelampiasan amarah Agatha nanti.


Tapi itu masih nanti. Biarkan dia bebas sebentar.


"Silahkan, dengan senang hati Christ."


**** you!


Setidaknya itulah umpatan yang di katakan Agatha melalui matanya. Dan Joshua tertawa melihat itu


.


.

__ADS_1


.


Riexx1323.


__ADS_2