
Dia membangun tembok tinggi agar tak seorangpun masuk tanpa ijin.
Tapi kurasa sudah saatnya ada seseorang yang bisa menerobos tembok itu.
-Joshua-
.
.
.
Tidak ada yang salah dengan hari-harinya, semua berjalan dengan baik seperti biasanya.
Seperti itulah Joshua Alarice Sanders menjalani rutinitasnya selama ini. Hanya saja ada hal menarik yang terjadi akhir-akhir ini dan cukup membuatnya sedikit tergelitik, apalagi ini tentang sahabat kesayangannya, Agatha.
Joshua sudah mengenal Agatha sejak mereka masih berusia remaja, hingga keduanya masuk di universitas yang sama.
Agatha yang memang terlahir dalam keluarga konglomerat langsung ikut dalam bisnis keluarga mereka setelah lulus. Tapi jangan salah menilai, Agatha tidak begitu saja mewarisi segala kemewahan dan properti keluarga Anderson karena sama seperti orang lain dia pun harus bekerja keras membuktikan kemampuannya untuk mencapai posisinya yang sekarang bahwa dia memenuhi standar dan kecakapan yang pantas bagi keluarga Anderson.
Joshua Alarice Sanders bukan pria yang sekedar beruntung mengenal Agatha, dia sendiri berasal dari keluarga kaya namun masih di bawah sepuluh besar jika dibandingkan dengan keluarga Anderson.
Bisnis keluarganya cukup untuk membuatnya berada di posisi tinggi dan menjadikannya direktur utama, namun seperti yang kalian tahu dia bekerja sebagai personal asisten Agatha. Pekerjaan yang membuatnya nyaris dikeluarkan dari daftar keluarganya sendiri karena Joshua harusnya melanjutkan firma hukum milik ayahnya.
Bukan tanpa alasan, bukan juga karena Joshua Sanders diam-diam menyukai sahabatnya seperti kisah novel romance yang biasa dia baca, namun dia tidak bisa meninggalkan sahabatnya itu sendirian. Agatha tidak bisa hidup tanpa dirinya.
Terdengar berlebihan?
Memang, tapi itulah kenyataan sebenarnya.
Kejadian di masa lalu Agatha membuat mereka terikat dan tidak bisa saling melepaskan. Jika kalian bertanya hal besar apa yang membuat keduanya seperti itu, kalian akan mengetahuinya dari Agatha nanti.
Baiklah, kita hanya akan membahas tentang dua sahabat ini dari sudut pandang seorang Joshua sekarang.
Agatha adalah wanita yang mengagumkan bagi Joshua.
Wanita yang tegar dalam keadaan sulit apapun, selalu melakukan segalanya dengan usahanya sendiri, wanita dengan insting kuat, juga sikap yang penuh pertimbangan dan tegas.
Agatha memperlihatkan kepribadian tegas dan dingin di hadapan orang, namun yang sebenarnya Agatha wanita yang sedikit manja dan hangat. Sisi dirinya yang tidak ditunjukkannya pada orang lain.
Dan Joshua menyukai Agatha yang seperti itu.
Dulu saat mereka masih sama-sama muda, Joshua sempat berpikir menyukai Agatha sebagai pria pada wanita namun dia akhirnya menyadari bahwa rasa sukanya pada Agatha tidak seperti itu.
Joshua pernah sekali meninggalkan Agatha saat jatuh cinta dengan seorang wanita di masa lalu, namun Joshua segera menyesali keputusannya kala itu karena di saat dia merasakan bahagia, Agatha justru merasakan sebaliknya.
__ADS_1
Kejadian terburuk yang pernah dilihatnya dalam hidup sahabatnya. Ketika untuk pertama kalinya dia menemukan sosok terapuh dan lemah dari sahabatnya, sosok yang bahkan tidak ingin dilihatnya lagi.
Joshua sadar hanya dia yang bisa membuat hidup Agatha kembali seperti sebelumnya. Menjadikan Agatha yang rapuh tak terlihat atau bahkan tidak akan pernah dilihat oleh orang lain.
Joshua yang uluran tangannya diterima dan disambut oleh Agatha, Joshua yang menjadi dinding pertahanan bagi Agatha hingga perlahan wanita itu kembali mendapat kekuatannya. Tanpa perjanjian tanpa kesepakatan atau apapun keduanya terikat oleh benang tak kasat mata hingga tidak mungkin dipisahkan.
Dan betapa Agatha menjadi bergantung padanya saat itu hingga memaksanya menjadi personal asisten dan menentang keluarga Sanders.
Karena itulah sebagian orang mengira keduanya merupakan sepasang kekasih yang hanya mengatas namakan persahabatan sebagai alasan.
Tapi kenyataannya bukan itu yang terjadi, tidak ada hubungan lebih di antara keduanya selain persahabatan dan saling peduli seperti keluarga.
Joshua juga tahu rumor mereka yang semakin menyebar karena sulitnya Agatha didekati oleh pria selain dirinya.
Agatha memiliki semua aspek kesempurnaan kecuali perasaan yang oleh sebagian orang disebut cinta.
Dan sikap itu akhirnya mengusik ketenangan keluarga Anderson yang mulai memikirkan generasi penerus dari putri mereka.
Karena itulah tak hanya sekali dua kali, bahkan sudah puluhan kali keluarga Anderson menerima permintaan perjodohan untuk putri semata wayang mereka itu yang mengakibatkan Agatha mengamuk.
Dan ketika beberapa waktu lalu Gabriel menghubunginya agar datang ke mansion Anderson, Joshua bisa
menebak bahwa untuk kesekian kalinya ada orang yang melamar Agatha. Hanya saja Joshua tidak pernah tahu bahwa pria ini akan berbeda dari kandidat kandidat sebelumnya. Seorang pria dari keluarga Winston.
Gabriel mengatakan bahwa dia mendapatkan pria yang tepat untuk Agatha dan sudah mengenal keluarganya. Joshua percaya pada penilaian Gabriel yang juga mencintai Agatha sebesar dirinya, Gabriel mengatakan bahwa keluarga Winston memilki reputasi dan riwayat yang bersih.
Lalu seperti yang kalian tahu saat Joshua mengatakan hal ini pada Agatha, wanita itu menolaknya, begitu juga saat Gabriel dan Ayahnya ikut bicara. Namun sepertinya Agatha tidak pernah menduga bahwa Christopher Winston tidak bisa ditolak begitu saja.
Dan benar, pria itu tidak berhenti meski Agatha sudah mengatakan dengan jelas bahwa dia tidak menerima lamaran itu. Christopher Winston tetap pada tujuannya mendekati wanita dingin ini tanpa keraguan sama sekali.
Jujur, Joshua terkesan dengan pria ini. Cukup menghiburnya dengan segala hal yang cukup berani untuk mendekati sahabatnya itu.
Seperti saat pertemuan pertama pria itu bahkan sudah bisa memasuki akses pribadi apartemen Agatha dan juga mendapatkan nomor ponsel pribadinya. Joshua bahkan diam-diam
sudah melacak jejak pria itu dan menemukan fakta bahwa meski sedikit kriminal tapi Christopher Winston bukan psikopat yang akan mengancam keselamatan Agatha.
Sepertinya kali ini sahabatnya itu menemukan lawan yang tepat, seseorang yang bisa menandingi sifat keras kepalanya nanti.
Dan kemarin Joshua terkejut mendapati pria itu ada di apartemen Agatha di pagi hari. Sangat aneh mengingat sahabatnya itu bukan tipe yang mudah membawa orang asing ke dalam ranah pribadinya sementara beberapa waktu lalu Agatha menganggap pria itu sebagai orang yang dibencinya.
Joshua menarik seulas senyum tipis di ujung bibirnya dan berpikir mungkin hal ini bisa membuat Gabriel terkejut.
Tapi Joshua tidak akan mengabarkan hal ini pada Gabriel ataupun tuan Anderson sekarang, dia akan mengamati sahabatnya itu beberapa saat lagi.
Suara kombinasi password yang ditekan menandakan ada seseorang yang membuka sandi pintu apartemennya, Joshua menolehkan kepalanya ke arah pintu bersiap menyambut seseorang yang akan datang.
__ADS_1
Senyumnya terkembang saat melihat wanita itu datang dengan langkah menghentak, melepas heels tingginya lalu berjalan ke arahnya yang berada di ruang tengah dan menghempaskan dirinya di sofa.
"Sialan!"
"Kau baru datang dan itu kalimat pertamamu padaku?"
"Aku tidak mengumpat padamu, Josh. Aku mengumpati hari-hariku yang rasanya semakin sial saja," wanita itu kini melepas blazernya yang berwarna hazel meninggalkan sleevless berwarna putih yang melekat di tubuh atasnya.
"Apa kau baru saja berlari menyusuri jalanan ibukota di tengah hari begini?"
"Tidak, tapi aku baru saja berlari dari lubang neraka yang terus mengejarku bahkan di hari minggu," kini Agatha merebahkan dirinya di sofa dengan paha Joshua sebagai bantalnya.
"Kau darimana?"
"Baru saja kabur dari Gabriel dan direksi. Mereka terus menerus mengejarku untuk segera menyetujui pembukaan hotel Granada. Kau tahu aku selama ini sudah menundanya dan sepertinya membuat mereka kehabisan kesabaran."
"Kau memang penguji kesabaran yang luar biasa. Ini bahkan sudah dua tahun sejak hotel itu siap dengan segalanya tapi kau terus saja mengeluh dengan manajemen di sana. Bukankah aku sudah menyelesaikannya untukmu?"
"Ya, dan aku masih tidak puas," kini Agatha memiringkan tubuhnya menyamankan diri, lalu memejamkan matanya. "Seandainya aku bisa menyeretmu di akhir pekan maka aku tidak perlu merasa bagai di neraka seperti sekarang," keluhnya membuat Joshua tertawa ringan.
Memang sejak awal Joshua menetapkan syarat untuk tidak bekerja di akhir pekan karena bagaimanapun dia ingin quality time untuk dirinya sendiri meski pada akhirnya Agatha akan merecokinya seperti sekarang.
"Jika orang lain melihat ini akan menimbulkan salah paham dan rumor besar," keluh Joshua pada wanita yang kini tampak menikmati kipasan tangan darinya meski bisa dikatakan apartemen Joshua sangat dingin.
"I don't care. Lagipula tidak ada orang yang akan melihat karena pengunjung apartemenmu hanya aku dan Gabriel."
Sungguh orang lain akan salah paham jika melihat mereka sekarang. Agatha yang berbaring nyaman di pangkuan Joshua serta tangan pria itu yang kini menyisiri rambut kecoklatan Agatha. Sikap yang sangat tidak biasa untuk sebuah persahabatan.
Mereka biasa mendapat rumor karena hal ini, meski saat bekerja Agatha kembali menjadi pribadi dinginnya. Tapi rumor tetaplah rumor karena sedingin dan sekaku apapun Agatha di luar sana, hanya satu pria yang selalu bersamanya yaitu Joshua.
Bahkan Gabriel pernah salah sangka pada mereka yang kemudian hanya ditanggapi dengan senyuman tak acuh dari keduanya.
Joshua tersenyum melihat Agatha yang kini sudah terbang ke alam mimpi, diraihnya blazer yang tadi dilempar wanita itu di atas sofa dan di selimutkannya pada tubuh Agatha.
Selalu seperti ini, Agatha yang mengacaukan hari hari bersantainya.
"Bagaimana aku bisa berkencan jika kau terus seperti ini padaku," keluhnya pelan pada Agatha yang sama sekali tidak mendengar dan lelap dalam tidurnya.
.
.
.
Riexx1323.
__ADS_1