
...Malam pertama adalah hal yang mendebarkan. Itu benar. Hanya saja bagi kami berdua itu untuk alasan yang sama sekali berbeda dari orang lain....
.......
.......
.......
Agatha terbangun ketika merasakan gerakan gelisah beberapa kali dari sampingnya. Membalikkan tubuhnya dia melihat Christ yang berselimut masih membuka mata dengan memeluk guling.
"Ada apa, kau belum tidur?" gumam Agatha parau.
"Ah, maaf. Apa aku membangunkanmu?" tanya Christ dengan tatapan tidak enak.
"Yah, sedikit. Tidurlah, besok kita akan berangkat pagi kan?"
"Hm, aku akan mencoba untuk tidur. Maaf."
Agatha hanya merespon dengan anggukan pelan sebelum berbalik memunggungi Christ lagi. Sementara Christ diam-diam menatap punggung wanita yang sudah menjadi istrinya itu, ingin menanyakan satu hal yang tadi lupa mereka bicarakan karena saat dia kembali dari kamar mandi tadi, Agatha sudah tertidur.
"Ada yang ingin kau katakan, Christ? Kau bisa melubangi punggungku dengan tatapanmu itu," akhirnya Agatha berbalik kembali menatap Christ yang sedikit kaget karena kepekaan Agatha.
"Emm, Agatha... seperti yang kita bicarakan tadi, kita berdua melewatkan momen malam pertama tapi aku ingin memastikan sesuatu lebih dulu."
"Apa?"
"Sejauh apa batasan skinship yang bisa kita lakukan?" tanya Christ sedikit ragu dan was was istrinya itu mungkin saja marah.
Agatha mengerjapkan matanya dan tampak berpikir, keduanya kini saling berhadapan dengan Christ yang tampak waspada serta Agatha yang wajahnya masih setengah mengantuk. Jujur saja Agatha belum memikirkan hal itu.
Benar juga, sekalipun aku dan dia tidak melakukan hubungan 'itu' bersama, tapi akan aneh kan jika sepasang suami istri sama sekali tidak saling bersentuhan?
Bahkan aku sering memeluk Joshie, dan melakukan banyak skinship dengannya selain ciuman dan tidur bersama tentu saja.
Jadi sebatas apa aku akan membiarkan Christ menyentuhku? — batin Agatha.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Agatha pada akhirnya.
Aku ingin memilikimu seutuhnya tentu saja dalam artian benar-benar memiliki dirimu- tapi kurasa itu akan membuat kita bercerai dengan usia satu hari pernikahan. — batin Christ.
"Entahlah, aku akan mengikuti keinginanmu saja," pasrah Christ yang memang tidak ingin membuat kesalahan dengan jawaban yang keluar dari mulutnya.
"Okay, we can do anything except having ***," jawab Agatha yang tentu membuat Christ menegakkan tubuhnya dan bersandar pada headboard.
"Wait—Agatha, what do you mean anything?" sungguh dia tidak bisa mempercayai telinganya dan berpikir bahwa itu mungkin hanya halusinasinya saja.
"Seperti yang kukatakan tadi, kecuali satu hal. Kurasa aku juga tidak mungkin memperlakukanmu tidak adil dalam hubungan ini. Yah anggap saja sebagai rasa terimakasihku. Aku tidak akan rugi apapun selama kita tidak berhubungan badan."
Christ termenung mendengar penjelasan Agatha, ada rasa sakit yang diam-diam menusuk hatinya saat Agatha mengatakannya seperti bentuk rasa terimakasih. Bukan hubungan dengan rasa yang lebih dari itu. Bukankah itu artinya Agatha hanya mengasihaninya saja?
Tapi tidak apa-apa, ini adalah awal baginya untuk membiasakan agar Agatha menyukainya nanti.
__ADS_1
Meskipun pahit tapi tidak apa-apa kan? Langkah awal selalu sulit.
"Baiklah, aku mengerti," jawabnya menatap lurus manik coklat Agatha, perjalanannya baru akan dimulai sekarang.
"So, can I hug you?"
"Ya."
"And can I kiss you?"
"Ya."
"Anytime I want it?"
"Selama kau melakukannya di waktu yang wajar maka aku tidak keberatan."
Kemudian tanpa aba-aba lengan besar Christ meraih Agatha dalam dekapannya. Dan itu cukup mengejutkan Agatha yang refleks menolak.
"Kau bilang aku boleh melakukannya sesuka hatiku kan?"
"Iya tapi tidak tiba-tiba juga," gerutu Agatha yang kini hanya diam saat Christ mengeratkan pelukannya.
"Aku ingin memelukmu sekarang, kau sudah bilang tidak akan menolak kan?"
"Iya iya, kenapa kau sangat berbeda dari pria menyebalkan yang sebelumnya? Kemana perginya Christopher yang sombong itu?"
"Kapan aku sombong?"
"Memasuki area privasi seseorang dengan akses pribadi hanya bisa dilakukan oleh orang dengan kekuasaan tak terbatas. Dan aku bisa menghitung dengan jari siapa saja yang mampu melakukannya."
"Wah, coba dengar dengan telingamu apa yang baru saja kau katakan. Itu merupakan kesombongan tuan Winston."
"Oh, maaf kalau begitu nyonya Winston. Mendapatkan kekuasaan seperti itu di luar keinginanku tapi akan kumanfaatkan sebaiknya, karena seperti yang kau bilang hanya beberapa orang yang bisa melakukannya."
Mengedikkan bahunya acuh, Agatha diam hanya mendengarkan.
"Oh, Christ. Ada yang kuminta darimu."
"Hmm, apa?" pria itu sudah memejamkan mata dan memeluk erat tubuh ramping Agatha.
"Kau tidak boleh melarang apapun mengenai hal yang berkaitan dengan Joshua. Tidak tentang hubungan kami dan semuanya."
Melonggarkan dekapannya agar bisa menatap wajah Agatha, Christopher terheran dengan ucapan istrinya itu.
"Kenapa tidak boleh? Wajarkan jika pasanganmu cemburu, apalagi sahabatmu itu seorang pria tampan dan sempurna seperti Joshua."
"Cemburu hanya untuk pasangan yang sebenarnya, kita kan tidak."
"Lalu menurutmu hubungan kita ini disebut apa? Suami istri tapi bukan pasangan?"
Agatha menghela pelan, "Baiklah anggap saja seperti 'Friend with Benefit' tapi menikah."
__ADS_1
Christopher menatap lurus dalam mata Agatha sementara banyak sekali pertanyaan dan keingintahuan baru di kepalanya tentang istrinya. Semua tentang Agatha selalu di luar ekspektasinya namun anehnya dia tidak keberatan dengan hal itu.
"Kedengarannya tidak terlalu buruk, jadi kita berteman tapi menikah dan saling memberi keuntungan?" lanjutnya memastikan.
"Hmm, anggap saja begitu."
"Apa hubunganmu dengan Joshua juga seperti ini?"
"Tidak. Tapi dia segalanya bagiku seperti halnya Gabriel untukku."
"Kalian sudah lama berteman?"
"Ya, lama sekali. He's my everything."
"Bagaimana jika suatu hari aku menyingkirkannya?" tanya Christ tiba-tiba membuat Agatha menjauh dan menatapnya tajam.
"Maka aku akan menyingkirkanmu lebih dulu," jawabnya dingin dan Christ tahu itu bukan pertanda baik.
"Kenapa serius sekali? Aku hanya bercanda dan tidak mungkin melakukannya, Agatha."
Melihat istrinya masih memandangnya dengan menusuk, Christ menyuggingkan senyum meminta maaf dan mengusap puncak kepala Agatha, "Maafkan aku, sungguh aku tidak akan melakukannya. Aku hanya bercanda, janji."
Agatha tidak menanggapi apapun dan berbalik memunggungi Christ. Dia kesal sekalipun itu hanya candaan dia tidak suka. Agatha paling tahu dan memahami apa itu kehilangan dan baginya cukup sekali rasa sakit itu meninggalkan luka dalam untuknya.
Joshua, Gabriel dan ayahnya adalah orang-orang yang harus dijaga dan dilindunginya dari apapun karena dia tidak mau kehilangan mereka.
Christ merasa bersalah karena sudah membuat mood istrinya itu berubah drastis, hingga dengan pelan dia mendekat dan mengintip dari balik bahu Agatha.
"Agatha, aku minta maaf karena sudah bicara sembarangan. I really sorry for that."
"Tidurlah Christ. Kau sudah terlalu banyak bicara hari ini. Aku lelah, selamat beristirahat," pungkasnya dengan nada dingin yang membuat Christ tidak bisa berkata-kata.
Dengan penuh penyesalan, pria itu membaringkan tubuhnya di samping Agatha dan melingkarkan lengannya di atas selimut tebal yang membungkus tubuh Agatha.
Wanita itu hanya diam, tidak menolak atau menanggapi apapun dan Christ sadar dia mengacaukan malam pertama mereka.
"Goodnight, Agatha," bisiknya lirih sebelum menenggelamkan wajahnya di untaian rambut lembut Agatha.
Aku tidak akan bisa melakukan hal seperti itu lagi, Agatha.
Menyingkirkan seseorang yang berarti bagimu dan membuatmu tenggelam dalam kehilangan.
Pada akhirnya akan menyeretku jatuh dalam jurang yang begitu dalam dan gelap juga.
Aku tidak akan mengulangi hal yang sama, Agatha.
Aku janji. — Christ.
.
.
__ADS_1
.
Riexx1323.