Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Tamu Tak Terduga


__ADS_3

...Kau memulai permainan ini tapi akulah yang nanti akan mengakhirinya....


.......


.......


.......


Sudah dua minggu sejak MediCe beroperasi di laboratorium Hellig dan hasil yang didapatkan ternyata lebih baik. Meskipun belum empat puluh persen setidaknya krisis tidak akan terjadi di Senna Rod.


Agatha senang karena hal itu. Dia baru kembali dari Granada menyelesaikan masalahnya dengan manajemen hingga akhirnya hotel itu siap dibuka pekan depan.


Joshua yang melihat satu persatu permasalahan mereka selesai turut merasa senang, apalagi hal ini membuat suasana hati Agatha menjadi lebih baik. Maka setelah mengunjungi laboratorium siang itu, dia mengajak Agatha untuk makan siang.


"Aku ingin makanan home made untuk makan siang."


"Apa?"


"Masak untukku, kita pulang ke apartemen."


"Agatha, bukankah kau kejam? Aku ingin mengajakmu makan untuk merayakan keberhasilan kita tapi kau malah memintaku memasak?" keluh Joshua saat mereka dalam perjalanan kembali.


"Kau sendiri yang mengatakan akan membuatku senang."


"Bukan begitu, mari kita lakukan dengan cara lain. Ayolah aku ingin steak dan hal lain yang lebih untuk ini."


"Tapi aku mau masakanmu."


Menghela kesal akhirnya pria itu merubah arah tujuannya menuju apartemen. Dia tidak bisa menolak Agatha.


Namun dunia memberikan banyak kejutan tak terduga karena saat mereka tiba di apartemen Agatha, ada orang lain yang tengah menunggu disana.


"Apa yang kau lakukan disini?" Agatha melempar tatapan tidak suka saat melihat Christopher Winston menunggunya di lobi bersama pria satunya yang ditemuinya sebelum ini.


"Tentu saja menunggumu. Aku menelepon ke kantormu, sekertarismu bilang kalian tidak kembali ke kantor dan karena jadwalmu dimulai lagi agak sore jadi kuputuskan datang kemari." jelasnya santai.


"Kau yakin dengan apa yang kau katakan? Terdengar seperti penguntit di telingaku."


Mendengar tuduhan Agatha hanya membuat Christopher tertawa kecil.


"Kau sudah bertemu denganku, jadi kau bisa pergi sekarang."


"Agatha!" desis Joshua saat mendengar ucapan kasar wanita di sampingnya ini. Bahkan dilihatnya Leon, pria yang datang bersama Christopher itu tampak terkejut.


"Maafkan dia Christ, kuharap kau tidak tersinggung," ucapnya yang entah kenapa merasa tidak enak meski pria dihadapannya itu tenang.


"Tidak apa Josh, kurasa aku harus membiasakan diri. Lagipula aku tahu resikonya saat memutuskan untuk melamarnya," Christopher menyunggingkan senyum kecil yang membenarkan bahwa pria ini sepertinya sudah mempersiapkan diri menghadapi Agatha.

__ADS_1


"Thanks Christ, aku cukup lega mendengarnya."


"Sebenarnya aku datang untuk mengajak kalian makan siang."


"Ah, kami memang berencana makan siang 'sedikit mewah' untuk merayakan beberapa hal. Tapi wanita disampingku ini memaksaku untuk memasak. Bukankah menurutmu itu cukup kejam?" tanya Joshua dengan nada yang sangat kentara bahwa dia masih kesal.


"Jadi kalian akan memasak? Aku akan membantumu jika tidak keberatan Josh," tawar Christopher ringan yang membuat Agatha mendelik mendengarnya.


Oh ayolah, dia hanya ingin makan masakan Joshua dengan tenang seperti biasa. Kenapa pria ini harus ikut campur?


"Eh, aku tidak apa-apa. Kau pasti sibuk, jangan pedulikan kami Christ. Aku baik-baik saja," tolak Joshua yang merasa sungkan jika harus membuat pria ini membantunya.


"Aku sedang tidak sibuk, ya kan Leon?"


"Hah?" Pria bernama Leon itu tampak mengerjapkan matanya sebelum akhirnya mengiyakan dengan senyum.


Pada akhirnya suasana hati Agatha berubah 180 derajat karena kehadiran dua pria lain yang mau tidak mau harus diterimanya atas paksaan Joshua. Sementara Agatha membiarkan kedua pria itu mulai sibuk di dapur, dia memilih untuk menunggu di ruang tengah bersama Leon.


"Kau tidak ikut kesana?" tanya Agatha pada Leon yang kini sibuk dengan tablet di tangannya.


"Ya? Oh, aku tidak bisa memasak dan aku tidak ingin menghancurkan dapurmu nona Anderson...?"


"Kau bisa memanggilku Agatha saja."


"Oh, baiklah. Agatha."


Dulu sekali pernah ada hari dimana apartemennya di kunjungi oleh beberapa orang, hanya saja itu sudah beberapa tahun yang lalu. Semua hal itu sudah berlalu bersama waktu, hanya menyisakan Joshua dan dirinya.


Sementara itu di dapur nampaknya dua manusia yang belum lama bertemu ini menemukan sebuah kecocokan jika dilihat dari sikap satu sama lain.


"Jadi kau pandai memasak juga Christ? Tidak kuduga orang sepertimu bisa berteman dengan perabotan dapur," Joshua sedang sibuk mengiris beberapa sayuran tersenyum kecil pada pria di belakangnya yang sibuk dengan panci di atas kompor.


"Tidak terlalu pandai, hanya saja dulu aku suka berekperimen dengan makanan. Ibuku bilang aku cukup berbakat menjadi koki," ujarnya terkekeh geli.


"Penilaianku akan berlaku jika aku sudah merasakan hasilnya," gurau Joshua.


"Aku yakin kau akan memberiku rate yang tinggi."


Keduanya cakap mengolah dan mempersiapkan ini itu dengan baik tanpa perlu membuat dapur Agatha menjadi berantakan.


"Kau sendiri suka memasak? Terakhir aku melihatmu membawa sandwich untuk Agatha," kali ini Christopher bertanya sembari mengambil potongan sayur dan daging yang sudah disiapkan oleh Joshua.


"Yah, aku bisa karena terbiasa mengurusnya. Dia seseorang yang memiliki selera sederhana namun sulit."


"Apakah itu termasuk tugas seorang personal asisten juga?"


Joshua tertawa mendengar gumaman Christopher, "Sebenarnya tidak sama sekali. Kami berteman sejak lama dan karena aku adalah satu-satunya teman yang tahan dengannya maka mau tidak mau aku harus mengurusnya," jawab Joshua terkekeh.

__ADS_1


"Cukup lama berteman ya?" kali ini Christopher bertanya dengan suara seperti gumaman sehingga Joshua berpikir tidak perlu menjawabnya.


"Kalian sudah selesai?" Leon muncul di dapur dan tampak mengamati dua pria dihadapannya.


"Sebentar lagi selesai, harusnya kau membantu bukan malah menunggu diam begitu," omel Christopher.


"Kau tahu aku tidak bisa memasak sama sekali. Lagipula banyak yang masih harus kukerjakan bukan?" Christopher mendengus kecil mendengar jawaban Leon.


"Kau lumayan juga tuan Sanders"


"Joshua."


"Ah, baiklah. Joshua."


"Dimana Agatha?" tanya Joshua saat matanya menangkap sahabatnya itu tidak ada diruang tengah.


"Sepertinya masuk ke ruangan di sana," jawab Leon yang kemudian merecoki Christopher dengan mengambil beberapa udang yang sudah matang di tangan pria itu. Sementara Joshua memutuskan untuk pergi menemui Agatha setelah mencuci tangannya. Tidak baik membiarkan wanita itu berada dalam suasana hati yang buruk sekarang.


Di balkon kamarnya, wanita itu berdiri dengan latar gedung-gedung tinggi di belakangnya. Tampak menyesap pelan rokok di tangannya, pandangan mata yang biasanya tak terbaca dan dingin itu entah kenapa tampak sedikit sayu. Ada kedalaman yang tak bisa dijelaskan di sana seolah sedang berjalan menyusuri ruang dan waktu yang jauh dari tempatnya sekarang.


"Hei."


Joshua berdiri di sampingnya dan tersenyum lembut seolah berusaha menarik wanita ini kembali ke masa kini. Agatha menoleh dan tak lama menyandarkan kepalanya di bahu pria yang kini mengambil batang rokok dari jarinya.


"Sedang apa disini, kau marah padaku?" tanya Joshua yang dijawab oleh gelengan dari bahunya.


"Tidak. All these things just make me remind about... you know I don't mean to be mellow, but I can't help myself. Sorry."


Joshua hanya diam, menarik wanita itu dalam pelukannya ringan dan mengusak puncak kepalanya. "I knew that, and no need to feel sorry Agatha."


"Tapi aku merusak suasananya kan?"


Joshua menarik Agatha dari pelukannya dan menatap sahabatnya itu. "Tidak ada yang rusak Agatha, perasaan ini milikmu dan hanya kau sendiri yang bisa mengendalikannya. Semua itu bukan untuk dihapus atau bahkan dihilangkan. Dia berhak untuk disimpan, untuk dikenang sewaktu-waktu rasa rindu itu datang," pria itu menghela pelan sebelum melanjutkan, "Hanya saja kini kau harus memberikan ruang kosong dalam hatimu dimasuki oleh orang lain. Bukan untuk mengganti apa yang sudah ada tapi memberikan kekuatan baru agar keberadaannya tidak akan menghilang."


Wanita itu menunduk dan tersenyum tipis, senyuman yang sudah lama tak pernah ada dibibirnya. "Ini tidak akan mudah."


"And I'll always be your side," kedua manik mereka bertemu dan ada sebuah rasa saling memahami, sebuah kepercayaan yang meyakinkan mereka bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Baiklah sebaiknya kita keluar karena aku merasa tidak enak membuat kedua tamu kita menunggu."


"Biarkan saja," gumam Agatha yang mendapat kekehan geli dari Joshua.


.


.


.

__ADS_1


Riexx1323.


__ADS_2