
Aku tidak ingin sebuah kecelakaan menjadi awal hubungan kita, tapi kupikir tidak ada jalan lain.
-Christopher Winston-
.
.
.
Sudah dua bulan ini Agatha sangat sibuk, hampir seminggu sekali dia akan berpindah dari satu kota ke kota lain atau dari negara satu ke negara lain. Pembukaan hotel Granada, kerjasama dengan Sunny Jewelry, peninjauan resort di Maldives dan sederet pekerjaan lain yang dengan sangat baik hati diserahkan Gabriel padanya.
Sekalipun dia melakukan protes besar besaran kepada Gabriel dan ayahnya, pada akhirnya Agatha tetap akan menjalankan semua tugas itu dengan profesional dan sempurna, tentu saja ditemani oleh Joshua bersamanya.
Dan siang itu saat keduanya baru saja selesai bertemu dengan direksi pusat, seseorang perwakilan dari MediCe datang menemui Agatha untuk melaporkan bahwa gudang bahan mengalami kebakaran sehingga semua persediaan habis tanpa sisa sementara mereka harus mengirimkan persediaan pada Senna Rod Hospital sesegera mungkin. Medice adalah salah satu pabrik farmasi dan pusat penelitian milik keluarga Anderson.
"Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi, apa yang dilakukan orang-orang itu di sana?!" sembur Agatha seketika, merasa kepalanya akan meledak sebentar lagi. Sudah banyak sekali yang harus dipikirkan tanpa harus menambah satu lagi.
"Apa penyebabnya? Bukankah sistem keamanan kita selama ini tidak ada masalah?" kali ini Joshua bertanya, dengan suara yang lebih tenang daripada wanita di sampingnya yang kini tampak menahan diri itu, dan menjadi tugasnya untuk menjadi tuas rem Agatha.
"Kami sedang menyelidiki sebabnya tuan Sanders," jawab pria yang tampak kusut di depan mereka itu.
Tentu saja ini bukan hal kecil mengingat MediCe adalah pabrik besar yang menyuplai banyak obat pada beberapa rumah sakit, dan jika pekerjaan tertunda karena kecelakaan ini maka itu akan buruk.
"Aku akan kesana," ujar Agatha membuat kedua orang dihadapannya itu menatapnya terkejut karena keputusannya yang tiba-tiba.
"Agatha, tapi kita masih punya banyak hal yang harus dikerjakan," Joshua mengerti dia tidak bisa melarang keinginan wanita ini jika menyangkut pekerjaan, tapi dia tahu sahabatnya ini sudah sangat lelah selama dua bulan terakhir dengan banyaknya pekerjaan dan dia ingin membuat sahabatnya itu tenang sejenak. "Aku bisa pergi kesana sendiri."
"Ini tidak akan selesai hanya dengan mengirimnya kembali bersama perwakilan dari kita. Aku harus menyelesaikannya sendiri dan memastikan mereka bekerja dengan benar. Aku tidak mau ada masalah untuk Senna Rod."
"Maafkan saya nona Anderson, tapi saya datang meminta kebijakan anda untuk penanganan sesegera mungkin karena mereka membutuhkan pengiriman sangat mendesak."
__ADS_1
Itulah masalah terbesarnya, bukan dampak kerugian material yang perlu dikhawatirkan tapi dampak pada masalah internal ketersediaan bahan dan beberapa obat hasil pengembangan MediCe yang hanya menyuplai khusus untuk Senna Rod.
"Berapa persen kerusakannya? Josh, bisakah kau menghubungi Gabriel untukku?"
"Kerusakannya sekitar 25% dan jika kita harus menunggu bahan dari Swiss akan butuh waktu lebih lama untuk memproduksinya dan Senna Rod tidak bisa menunggu."
Sialan!—batin Agatha.
"Anda bisa kembali dan usahakan sebisa mungkin minimalisir kerusakan di sana, Mr. Clark. Aku akan segera menyusul setelah membicarakannya dengan tuan Anderson," ucapnya kepada pria yang menjabat sebagai direktur MediCe itu yang kemudian bergegas pergi setelah mendapat perintah dari Agatha.
"Kenapa kau harus repot-repot kesana sendirian, biarkan aku yang pergi kau urus saja pekerjaan di sini dan yang terpenting, istirahatlah sebentar Agatha. Pekerjaan ini tidak akan ada habisnya dan tidak semuanya harus kau sendiri yang menanganinya," ucap Joshua yang jujur saja merasa sifat keras kepala Agatha sangat menjengkelkan di saat seperti ini.
Kenapa wanita ini harus merepotkan dirinya jika dia memiliki ratusan bawahan yang bekerja dibawahnya dan siap untuk diperintah? Joshua pernah menanyakan hal ini dan jawaban Agatha hanya 'aku tidak menyukai sesuatu yang lambat dan bertele-tele' dan itu cukup untuk membuat Joshua tidak lagi bertanya sekalipun dia ingin mendebatnya.
"Karena Senna Rod tidak bisa menunggu lama Josh, kita butuh secepatnya. Menurutmu jika aku memindahkan fungsi ke laboratorium darurat kita ke Swiss apakah waktunya akan cukup?"
"Itu mungkin tapi hasil yang tersedia tidak akan memenuhi permintaan dari Senna Rod. Tetap butuh waktu untuk mengerjakannya kembali Agatha."
"Tarik napas, hembuskan pelan dan aku sarankan kau beristirahat." ujarnya penuh pengertian.
"Tidak bisa."
"Istirahat sebentar saja, okay? Sebentar saja turuti apa yang kukatakan, Agatha," potongnya menyela protes wanita di hadapannya itu. Untung saja saat ini mereka hanya berdua di ruang rapat, jika ada yang melihat ini pasti akan muncul gosip baru di kantor.
"Aku akan pergi menghubungi Gabriel, kembalilah ke ruanganmu dan istirahat," ucapnya penuh penekanan pada kalimat terakhir lantas keluar meninggalkan Agatha yang kemudian memijit kepalanya mendesah pelan.
Sungguh, ini adalah hari terburuk di antara hari-hari buruknya yang lain dan benar apa yang dikatakan Joshua bahwa dia butuh istirahat, tapi sepertinya tidak akan bisa. Sekalipun tubuhnya bisa diajak beristirahat tapi kepalanya akan terus berputar dari satu urusan ke urusan lain. Menegakkan tubuhnya kemudian Agatha beranjak dan kembali ke ruangannya, mencoba untuk menuruti saran Joshua meski mungkin hanya akan berlangsung 15 menit.
Agatha menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya dan menarik napas dalam sebelum menghembuskannya pelan, berusaha merilekskan bahunya dan mulai memejamkan mata meski saat melakukan itu dia merasa seperti seorang diktator yang berleha-leha sementara yang lain sedang sibuk bekerja.
Berhentilah berpikir dan mulai istirahat! — bahkan di dalam kepalanya pun suara omelan Joshua terdengar jelas membuat Agatha tanpa sadar tersenyum sebelum akhirnya dia kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
Sampai sesuatu mengagetkannya dan membuatnya terbangun, Agatha mendapati dirinya benar-benar tertidur setelah hampir dua bulan seperti neraka dia tidak pernah melakukan hal ini.
Agatha tertegun dengan sehelai selimut yang menutupi tubuhnya.
Apa tadi Joshua datang tetapi tidak membangunkannya?
Tangan Agatha baru bergerak meraih ponselnya di atas meja bermaksud menghubungi sahabatnya itu ketika sebuah suara menginterupsinya.
"Sudah bangun? Aku khawatir kau memerlukan ciuman dariku untuk bangun dari tidurmu."
Seketika Agatha memutar kursinya menghadap suara dari balik sofa ruang tunggunya. Itu bukan suara Joshua atau Gabriel, siapa?
Seorang pria dalam balutan kemeja biru muda tampak sedang duduk santai kemudian memutar tubuhnya untuk menghadap Agatha, dan saat itulah mata Agatha langsung menyipit tajam.
"Kau! Apa yang kau lakukan di ruanganku?!" tanyanya tajam melihat Christoper Winston di sana.
"Bagaimana kau bisa masuk kesini?!" tanyanya tajam karena seingatnya tadi sebelum mencoba 'beristirahat' Agatha sudah menyetel kunci otomatis pada pintunya yang hanya terbuka oleh aksesnya dan Joshua.
"Tentu saja aku masuk lewat pintu," jawab pria itu santai.
Agatha merasakan ketenangan yang tadi dirasakannya hanya ilusi setelah melihat pria ini sekarang. Seharusnya dia tidak perlu menanyakan cara pria ini masuk karena apartemennya pun bisa dibobol dengan mudah. Sungguh dia mulai berpikir pria ini mungkin saja bos mafia atau sejenisnya yang terbiasa menggunakan cara ilegal untuk memasuki tempat dengan kode akses atau keamanan tertentu.
Sekarang sepertinya hidup Agatha tidak lagi aman dengan hadirnya pria ini.
.
.
.
Riexx1323.
__ADS_1