Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Sebuah Permintaan


__ADS_3

...They said, difficult roads will lead you to goods destination....


...But still, it's too difficult....


.......


.......


.......


Agatha sedang membereskan beberapa hal dengan pekerjaannya ketika pintu kamarnya diketuk oleh ibu mertuanya.


Ah, sudah satu minggu mereka tinggal di mansion keluarga Winston.


"Agatha, kau sedang sibuk? Apa ibu mengganggu?" tanya perempuan paruh baya yang masih berkharisma itu, berjalan mendekati putrinya yang sedang duduk di sofa panjang dekat jendela.


"Tidak bu, ada apa? Ibu tidak ke rumah sakit?" Agatha menggeser duduknya dan mempersilahkan ibunya agar duduk di sampingnya.


"Hari ini ibu mendapat jadwal sore. Lagipula ibu ingin sesekali bersantai di rumah. Memangnya kapan lagi ada kesempatan bisa berbincang denganmu jika kalian tidak menginap?" balas wanita itu sembari mengelus pelan kepala Agatha dengan sayang.


Agatha sebenarnya merasa bersyukur sekaligus bersalah ketika di hadapkan dengan ibunya ini. Pernikahan mereka bukanlah sesuatu yang tulus dan membohongi ibu mertuanya dalam hal ini membuatnya merasa sangat bersalah. Mertuanya itu begitu baik, peduli dan sayang padanya.


"Aku juga senang bila ada waktu untuk berbincang dengan ibu."


"Sayang, sebenarnya ibu tahu ini bukan wewenang ibu untuk menanyakannya. Hanya saja—" menatap Agatha dalam sorot yang sulit wanita itu seolah menimbang.


"Ada apa bu, katakan saja."


"Hubunganmu dan Christ baik-baik saja kan?"


"Kenapa ibu menanyakan hal itu, kami baik-baik saja," jawab Agatha yang tidak mengerti kenapa tiba-tiba ibunya menanyakan hal ini.


"Ibu lega jika hubungan kalian baik-baik saja. Ini sudah satu tahun lebih kalian menikah, apa kalian tidak ingin memberikan keturunan?"


Pertanyaan ibunya telak membuat Agatha tidak bisa berkata-kata, sebenarnya dia sering mendapat pertanyaan ini dari Joshua dan Gabriel dan dia bisa dengan mudah mencari alasan untuk menjawabnya. Tapi bagaimana dengan ibu? Haruskah dia menambah kebohongan lagi?


"Itu... aku dan Christ sepertinya belum siap memiliki keturunan. Kami berdua masih sama-sama mengutamakan pekerjaan jadi rasanya sulit jika memilikinya sekarang," jawabnya berusaha terdengar tenang dan meyakinkan dengan kebohongannya.


"Lalu kapan?"


"Ibu, sepertinya aku harus mendiskusikan hal ini lebih dulu dengan Christ."


"Mendiskusikan? Tidak butuh diskusi untuk mewujudkan buah cinta. Kalian tidak merasakan hal itu saat bersama?" tatapan mata yang menuntut dan seolah menyelidik itu membuat Agatha merasa tidak nyaman.


"Bu..."


"Agatha, jika alasan kalian karena sibuk mengutamakan pekerjaan maka sudah seharusnya salah satu dari kalian mengalah. Dan sayangnya dalam kasus ini, wanitalah yang harus mengalah demi menghasilkan keturunan dan memberikan kasih sayang dalam keluarga. Nak, kau tidak akan kehilangan karirmu. Kau bisa mendapatkannya kembali setelah masa anak-anakmu mulai mandiri."

__ADS_1


Agatha tidak bisa mengatakan apapun untuk menjawab pernyataan sang ibu. Bagaimanapun dalam keadaan ini dialah yang bertanggungjawab.


"Ibu tidak meminta banyak hal dari kalian, tapi aku maupun ayahmu tidak lagi semakin muda. Kami semakin tua, dan sekalipun kami senang melihat anak-anak kami bahagia tapi kami juga serakah untuk mendapatkan kepastian akan penerus keluarga. Bagi kalian mungkin ini terlalu kolot, tapi ibu hanya ingin kalian mempertimbangkan itu dan mewujudkannya. Jangan menunda apa yang masih bisa di usahakan, Nak."


Setelah mengatakannya dan mengusap punggung tangan Agatha lembut, sang ibu keluar dari kamar meninggalkan Agatha dengan beban baru di kepalanya.


Masalahnya adalah pernikahan yang tidak sepenuhnya benar ini.


Dia dan Christ bahkan tidak bisa dikatakan benar-benar pasangan karena tidak pernah sekalipun melakukan 'hal itu' selama ini. Ada batas skinship yang telah mereka sepakati. Dan jujur Agatha tidak menyangka Christ bisa menepatinya.


Ada waktu-waktu di mana Christ selalu memulai untuk memeluknya, menciumnya entah itu dalam intensitas ringan ataupun berat. Meski pada setiap akhirnya pria itu akan melepaskan diri lebih dulu sebelum mengurung dirinya beberapa saat di dalam kamar mandi.


Agatha bukan anak-anak dan dia tahu apa yang terjadi pada suaminya itu setelah sesi 'skinship' mereka, yang bagi pasangan normal akan berakhir menjadi penyatuan keduanya.


Dia tahu Christ menahan diri demi menepati janjinya. Tapi diapun tidak bisa berbuat apa-apa kan?


Mereka memiliki kesepakatan dengan batas waktu yang hingga sampai sekarang belum bisa diputuskannya bagaimana perasaannya pada Christ.


Dia menyadari ketulusan pria itu selama ini. Selalu menjadikannya prioritas dalam hidupnya, memberikan banyak hal yang tidak jarang membuatnya terkesan, bahkan Agatha menyadari bahwa sosok menyebalkan Christ sudah berubah menjadi pria yang banyak mengalah demi dirinya.


Agatha sendiri selalu bingung pada dirinya. Dia tahu Christ begitu baik dan mungkin benar jika dia harus mencoba membuka hatinya lagi. Namun rasa sayang dan bersalah yang selalu mengingatkannya pada Mikael juga tidak bisa begitu saja diabaikannya.


Dia tidak bisa menceritakan hal ini pada Joshua karena sejak awal sahabatnya itu memang tidak tahu tentang pernikahannya yang hanya kesepakatan. Jika mengetahui sejak awal pasti sahabatnya itu akan menentang keras. Agatha tidak ingin orang-orang di sekitarnya kesulitan dan menjadi beban.


Ayahnya, kakaknya dan Joshua tidak boleh sampai tahu tentang ini. Dan sekarang dia harus menanggung konsekuensi menyimpan masalah ini sendirian dan tidak bisa meminta nasihat atau pendapat. Satu-satunya yang bisa diajak bicara hanya Christ.


"Hai, kau masih perlu waktu lama untuk pulang?"


'Ada apa Sunshine? Kau membuatku khawatir.'


"Aku tidak apa-apa. Christ, kita perlu bicara."


'Aku akan pulang 1 jam lagi setelah rapat direksi, kau keberatan?'


"Tidak, aku akan menunggu."


'Sunshine?'


"Hmm..."


'Aku mencintaimu.'


"... sampai nanti Christ."


Pilihan terbaiknya adalah mendiskusikan hal ini agar jawaban yang diambil tidak menyakiti siapapun.


.......

__ADS_1


.......


.......


Christ tergesa menaiki tangga menuju lantai dua kamarnya. Sejak istrinya tadi mengatakan ingin bicara hal serius, pikirannya tidak tenang.


Begitu membuka pintu kamarnya, netranya memindai seisi ruangan mencari keberadaan istrinya itu.


"Agatha, aku pulang."


Tidak ada jawaban yang terdengar, membuatnya merogoh ponsel di sakunya dan menghubungi nomor istrinya namun disadarinya ponsel itu tergeletak di atas bantal.


Kemana dia?


"Agatha! Sunshine!"


Langkahnya menyusuri seisi kamar namun tidak dapat menemukan Agatha. Keluar dari kamarnya, Christ menyusuri tiap ruangan di mansion besarnya ini. Rumah ini terlalu besar jika digunakan untuk petak umpet.


Apa mungkin di tempat Arthur?


Ya, kakaknya itu memang tinggal di sini atau lebih tepatnya di bagian kanan mansion bersama istri dan anaknya. Biasanya Agatha mengunjungi Jennie di sana.


Baru akan melangkah kesana, sudut matanya menangkap siluet Agatha di halaman belakang. Istrinya itu berdiri memunggunginya. Langkahnya perlahan berjalan mendekat.


"Agatha," panggilnya membuat wanita itu menoleh.


"Oh sudah pulang?" jawabnya kembali, sebatang rokok yang sudah tersisa setengah ada di jepitan jemari lentiknya.


"Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau disini."


"Ah, maaf. Aku hanya mencari tempat untuk merokok," balasnya yang kemudian menyesap rokoknya kembali.


Melihat itu Christ mendekat dan menatap kedua manik coklat yang menjadi favoritnya itu.


"Aku tidak akan melarang namun akan lebih baik bila bibir manis ini berhenti merokok," bisiknya sebelum mencium pelan bibir Agatha dan tangannya dengan pelan namun pasti mengambil batang rokok itu dari tangan Agatha.


"Ada apa, Sunshine?"


"Ibu meminta seorang cucu."


.


.


.


Riexx1323.

__ADS_1


__ADS_2