
...It just a nightmare, you'll be okay when you wake up....
.......
.......
.......
"Aku menghindarinya, apa lagi? Dia mengajakku bersiap pergi dan kukatakan padanya aku masih ada pekerjaan denganmu. Jadi biarkan aku di sini sampai dia bosan menunggu."
"Astaga, Agatha! Kau ini benar-benar—" Joshua tampak kehilangan kata-kata hanya untuk sekedar mengomentari sikap sahabatnya ini. "Kau tidak boleh bertindak seperti ini pada tuan Winston. Dia sudah menolong kita dengan kebaikan hatinya dan kau berbuat tidak sopan begini?" omel Joshua kesal.
"Kebaikan hati mana yang kau maksud? Menjadikanku sebagai imbalan atas bantuannya kau sebut itu baik? Kau tidak peduli padaku?"
"Bukan begitu Agatha, tapi ini keterlaluan. Dia datang dengan niat baik mengajakmu bersiap, dia menjemputmu tanpa diminta di sela-sela waktu sibuknya dan seperti yang kau katakan bahwa dia baru kembali dari Milan tapi dia masih mau repot-repot kemari untukmu. Bagian mana dari perbuatannya yang kau sebut jahat?"
Agatha mendengus mendengar omelan Joshua, padahal dia mendatangi sahabatnya ini untuk bersembunyi tapi malah mendapat omelan besar. Lagipula dia memang tidak suka jika Christopher Winston selalu muncul tiba-tiba dihadapannya, terasa seperti kebebasannya dirampas begitu saja. Kenapa pria ini tidak menyerah saja.
"Kembali ke ruanganmu sekarang."
"Josh, No I don't."
"Agatha, perlukah aku menghubungi Gabriel dan memastikan princessnya ini bersiap?" Joshua tersenyum mengancam dengan tangannya yang menggenggam ponsel, dia tahu Agatha benci hal rumit.
"Pengadu! Just let me here for a while, Josh," masih enggan Agatha menggenggam tangan Joshua dan berusaha meraih ponselnya namun nihil, pria itu sudah memindahkannya ke tangan yang satunya.
Menghela kesal, Joshua beranjak dari duduknya "Baiklah kuberi waktu 10 menit kemudian kau harus kembali," lalu pria itu keluar ruangan meninggalkan Agatha yang berusaha mengatur isi kepalanya yang tidak lagi jernih itu.
Di ruangan lain, Christopher Winston tampak menikmati waktunya menunggu Agatha tanpa tahu apa yang terjadi. Sebenarnya dia cukup lelah karena urusan mendadaknya di Milan, dan dia tidak sabar menunggu untuk nanti malam, jadilah dia datang menghampiri wanitanya.
Suara pintu terbuka membuat pria itu menoleh dan mendapati Joshua Sanders memasuki ruangan dengan segaris senyum di wajahnya.
"Oh, tuan Sanders? Bukankah harusnya anda bersama Agatha sekarang?" tanyanya bingung.
"Tuan Winston, senang bertemu anda kembali. Ya aku bersama Agatha tadi, tapi dia bilang anda ada disini jadi kupikir aku ingin menyapa."
"Anda tidak perlu repot-repot begitu, tapi terimakasih," Christopher tersenyum simpul pada Joshua yang tampak santai tidak seperti orang yang seharusnya sibuk. "Bolehkah aku memanggilmu Joshua saja? Aku benci terdengar formal, kau juga bisa memanggilku dengan nama."
"Ah, baiklah. Kau datang untuk membawa Agatha pergi?"
"Ya aku akan membawanya ke butik dulu."
.
.
__ADS_1
.
Agatha memandangi wanita yang entah sudah keberapa kalinya membawakan gaun dan memaksanya menggunakan ini itu selama hampir satu jam. Dia ingin sekali melemparkan sesuatu pada pria yang kini sedang sibuk dengan ponselnya sambil sesekali melirik kearahnya itu.
Sialan! you're fucking bastard! —batinnya mendidih kesal.
Semua ini bermula dari dua jam yang lalu ketika Joshua secara terang-terangan mengkhianatinya dan mengatakan pada Winston bahwa dia sudah tidak membutuhkan Agatha di kantor hingga dengan senang hati Winston membawanya pergi sekalipun Agatha menolak dengan berbagai alasan namun sepertinya pria itu menulikan telinganya.
Sekarang di sinilah dia berada, mencoba entah berapa lusin gaun yang dibawakan atas pilihan Christoper Winston. Ingin sekali dia meneriaki pria itu namun lagi-lagi Agatha harus menjaga sikap kan?
"Do you want to dressing me like hell? Pilih saja satu yang mana pun!" dia pada akhirnya tidak tahan dan mengutarakan kekesalannya ketika beberapa pegawai butik kembali dengan membawa beberapa potong dress lagi. Pria yang diajak bicara itupun menoleh dan memandangnya, sungguh Christopher Winston adalah mimpi buruk.
Pria itu diam beberapa saat sebelum akhirnya menyuruh pegawai toko untuk membungkus semua pakaian yang sudah dicoba Agatha. Dan memilih satu untuk dikenakan wanita itu.
"I love this one. It's suit for you, more beautiful in white like an angel." bisiknya saat Agatha berjalan keluar dengan kepala berasap.
Pria itu masih sempat menyunggingkan senyum kecil melihat Agatha tidak menanggapi ucapannya dan melenggang pergi begitu saja.
Keduanya menuju restoran ternama yang sudah dipesan khusus oleh Winston. Agatha sudah merasakan keengganan yang nyata ketika kakinya melangkah turun dari mobil, menghela napasnya kemudian berjalan dengan sempurna dan memasang ekspresi in general-nya ketika berada di depan umum. Tidak mempedulikan pria yang menunggunya untuk berjalan bersama, pria yang dengan mudah menyunggingkan senyuman kecil padanya.
Agatha melihat ayahnya bersama Gabriel dan juga Joshua sedang duduk berbincang dengan seorang wanita paruh baya yang tampak cantik dan keibuan juga seorang pria tampan duduk di sebelahnya. Sekali lagi Agatha menghela napasnya, sungguh pemandangan ini tidak pernah sekalipun ada di benaknya.
"Kalian sudah datang," sapa Gabriel membuat semua orang serentak menoleh ke arah mereka berdua. Dan rasanya Agatha ingin meneggelamkan diri ke dasar bumi.
"Maaf membuat kalian menunggu lama," jawab Chrisopher yang kemudian duduk di samping ibu dan kakaknya setelah sebelumnya menarik kursi duduk untuk Agatha.
Dan harus Agatha akui bahwa orang yang kemungkinan besar adalah ibu dari dua orang pria di hadapannya ini tampak ramah dan lebih biasa daripada wanita konglomerat lainnya.
"Selamat malam, nyonya Winston. Senang bertemu dengan anda," Agatha tersenyum membalas sapaan wanita itu.
Jujur ini sangat canggung, Agatha memilih untuk rapat dengan direksi sepuluh kali dalam sehari dibandingkan pertemuan semacam ini. Dari sudut mata terlihat ayahnya sangat menikmati momen ini, begitu juga Gabriel. Hanya Joshua yang sesekali meliriknya dengan tatapan 'aku tahu kau tidak menyukainya, tapi berusahalah' seperti itu.
Makan malam itu berlangsung cukup lancar, dimulai dari perkenalan keluarga oleh masing masing orangtua. Lalu pembahasan mengenai lamaran hingga keputusan akhir penerimaan lamaran itu. Cukup bijaksana menyembunyikan fakta bahwa semua ini berdasarkan perjanjian hubungan kerjasama, Agatha sepertinya tidak perlu memikirkan cara rumit jika harus menyelesaikan hubungan ini nanti pada wanita itu. Agatha hanya cukup menjaga jarak dan mengakhirinya secepat mungkin.
Dan di hadapan semua orang secara resmi Christopher Winston melamarnya dengan sebuah cincin yang kini tersemat di jari manisnya. Senyum tak bisa lepas dari wajah pria itu, begitu manis meski sayangnya itu tidak mempengaruhi Agatha sama sekali. Semua orang tampak bahagia dan puas dan bahagia, dan luput bahwa sang tokoh utama wanita tidak merasakan semua itu sama sekali.
Di sepanjang malam itu Agatha hanya diam dan bicara sesekali jika nyonya Winston atau yang lain bertanya padanya. Selebihnya dia hanya diam seperti patung lilin yang ada di sebuah pameran. Sampai akhirnya pertemuan makan malam itu berakhir.
"Aku senang sekali malam ini, Sayang. Kuharap putraku tidak menyusahkanmu dan kelak akan membahagiakanmu," ujar nyonya Winston sesaat sebelum mereka berpisah. Mengangguk dan tersenyum singkat, Agatha menanggapi wanita itu.
"Aku bahagia akhirnya putriku akan menikah," tuan Anderson yang berdiri di belakang putrinya itu tersenyum dan mengusap kepala Agatha ringan sebelum kemudian memasuki mobilnya, meninggalkan Agatha bersama Joshua dan Gabriel.
"Aku begitu terharu melihat princessku akhirnya memilki seseorang di hidupnya," Gabriel dengan dramatis menekankan tangan kanannya pada dada seolah merasakan hal luar biasa disana.
"Just shut up! Gab, jangan bersikap yang membuatku ingin mencincangmu sekarang."
__ADS_1
"Sayang, jangan marah-marah. Seharusnya kau tersenyum di hari bahagia ini."
"Diam."
"Well, aku juga merasa senang melihatmu seperti ini. Setidaknya kau bisa mengendalikan diri pada situasi ini, dan kuharap semuanya semakin membaik nanti," kali ini Joshua tersenyum dan mengelus pelan kepala sahabatnya itu membuat si pemilik hanya menghembuskan napas kesal.
"Berhenti membicarakan ini. Aku mau pulang," Agatha berjalan menuju mobil Joshua dan meninggalkan kedua pria di belakangnya yang hanya bisa saling pandang sebelum akhirnya menyusul.
"Jaga adikku dan buat suasana hatinya lebih baik. Aku harus pulang. Sampai jumpa, Josh."
Joshua menemukan Agatha tengah menyandar dengan mata terpejam di dalam mobil.
"You did well, and congrats."
"Just shut up!"
"Aku sudah berpikir negatif pada reaksimu sebelum ini, aku lega kau baik-baik saja."
"Apa yang kau nilai baik-baik saja? Aku sangat ingin melempar sesuatu sekarang. Damn it!"
Keduanya menuju apartemen Agatha, dan setelah memastikannya dalam keadaan baik, Joshua kembali ke apartemennya sendiri.
Pria itu diam-diam merasa khawatir sekaligus lega.
Dia tahu pasti bagaimana hati sahabatnya itu, mungkin sangat berat untuknya tapi Joshua bersyukur karena mungkin Christopher adalah pria yang pantas bersama Agatha.
Agatha mungkin belum sepenuhnya pulih dan setelah semua usahanya selama ini Joshua berharap kedatangan Christopher juga akan memberi kesembuhan meski pelan-pelan.
Kuharap kau tidak keberatan dengan semua ini.
Kuharap kau bahagia untuknya.
Aku tahu kau sangat menyayanginya tapi kali ini bantu aku untuk membuatnya menemukan bahagianya lagi.
Kau akan selalu ada dalam hidupnya jadi semoga kali ini dia benar benar bisa tersenyum kembali seperti dulu.
Kau mau membantuku kan?
Dengan tatapan sendu pria itu kemudian menghela napasnya. Penuh harap kali ini.
.
.
.
__ADS_1
Riexx1323.