
Aku menyukai kehidupanku saat ini.
Jangan mengacaukannya.
.
.
.
Harusnya tidak ada orang yang berada di lantai yang sama dengannya karena dia satu-satunya yang berada di lantai 27.
"Nona Agatha Anderson."
Itu bukan sebuah sapaan namun lebih pada pernyataan bahwa pria ini memastikan sudah menemukan orang yang tepat.
"Siapa anda?" tanya Agatha yang melangkah keluar dari lift dan berhenti untuk menatap lawan bicaranya itu.
Pria itu tersenyum tipis. Kemudian mengulurkan tangannya pada Agatha.
"Christopher Winston."
Agatha mengerutkan kening menatap pria di hadapannya. Hari ini benar-benar gila bahkan sepertinya kegilaan itu belum berakhir. Agatha mengambil ponselnya dari dalam tas mengabaikan uluran tangan dari pria di hadapannya ini dan segera mencari kontak seseorang.
Merasa Agatha tak akan membalas jabat tangannya, pria tampan itu justru tersenyum kecil lalu menarik tangannya kemudian memasukkannya dalam saku.
"Halo Miss Magritha, aku ingin bertanya kenapa kau izinkan orang asing berada di lantaiku? Bukankah aku sudah memberitahumu bahwa tidak ada akses selain aku?!" semburnya kesal.
"Maaf nona Anderson, kami sudah mematuhi permintaan anda sebagai pelayanan prioritas kami tetapi tuan Winston memiliki akses privat untuk masuk apartemen anda. Kami sudah melakukan verifikasi dan mengecek validasinya."
Mendengar itu Agatha langsung menatap pria di hadapannya yang masih menyunggingkan segaris senyum di ujung bibirnya. Mematikan teleponnya dengan tidak senang Agatha melipat kedua tangan di depan dada dan mengarahkan tatapan tajam pada pria itu.
"Bukankah tidak sopan dan termasuk tindakan kriminal membobol masuk wilayah privasi seseorang dengan penipuan?"
"Ini bukan tindakan kriminal nona Anderson."
"Lalu apa? Anda orang yang dibayar oleh siapa? JH company? Wright Company? CJ&Co? Atau siapapun yang lain?" tanya Agatha tajam dan menginterogasi.
"Bukan dari siapa pun nona Anderson," jawab pria itu masih dengan senyum tipisnya. "Untuk wanita yang tinggal sendirian, anda cukup pemberani. Bahkan pada orang asing sekalipun sepertinya anda tidak takut dengan banyak nama sebagai ancaman."
Agatha tersenyum miring sarkas.
"Hentikan basa basi anda dan katakan tujuan anda. Menculik? Memeras? Atau mungkin membunuh? Meski sepertinya itu tidak tercermin dari penampilan anda, tapi kurasa penjahat sekarang lebih pandai menyamarkan jati diri mereka," ucapnya tajam.
Pria itu terkekeh pelan mendengar semua tuduhan Agatha. Lalu mengambil satu langkah lebih dekat pada Agatha, kembali mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Can I introduce my self Miss Anderson?"
Agatha tidak tahu apa motif pria asing ini dan bagaimana bisa dia memasuki wilayah privasinya dengan mudah. Namun cukup gila jika pria itu bisa kemari hanya dengan tujuan berkenalan.
Seolah bisa membaca isi pikiran Agatha, pria itu menatap Agatha mencoba meyakinkan. "Pertanyaan anda akan terjawab jika anda mau menerima jabat tangan saya."
Masih dengan tatapan tajam Agatha perlahan mengulurkan tangannya membalas jabat tangan pria di hadapannya itu.
"Tidak perlu menyebutkan nama, karena anda sudah tahu siapa saya." ucap Agatha yang dengan cepat menarik tangannya lagi.
"Baiklah, dan anda cukup tahu dan mengingat nama saya. Christopher Stefan Winston. Orang yang akan menikahi anda nona Anderson."
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut pria di hadapannya, rasanya ada sebuah lonceng di benturkan di kepala Agatha sekarang.
"Beraninya anda bicara lancang seperti itu, sangat kurang ajar untuk seseorang yang baru saja bertemu. Oh wait! Winston?"
Seketika Agatha tersadar dan teringat sebuah nama yang tadi diucapkan oleh Gabriel. Keluarga Winston, orang yang mengajukan lamaran pernikahan padanya.
Damn!
Sialan.
Bagaimana bisa?
"Melihat keterkejutan anda sepertinya cukup perkenalan kita hari ini nona Anderson. Saya akan berpamitan sekarang, jadi sampai jumpa lagi calon istriku."
Laki-laki itu tersenyum, menundukkan kepalanya sekilas sebelum menghilang memasuki lift. Meninggalkan Agatha dalam keadaan terkejut dan hanya berdiri diam.
.
.
.
Agatha berendam dalam bathup-nya yang dipenuhi aroma mawar. Menenggelamkan seluruh tubuhnya hingga menyisakan kepala, harusnya dia memanjakan diri dan membuang semua stresnya tapi kepalanya berisi puluhan pertanyaan atas kejadian hari ini.
__ADS_1
Dia sudah akan mengamuk setelah kepergian laki-laki 'Winston' tadi namun rasa lelah tubuhnya lebih mendominasi untuk segera direlaksasi.
Agatha beranjak, menyambar bathrobe dan memakainya kemudian berjalan keluar menuju kamarnya. Di raihnya ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur, berniat segera menginterogasi Joshua dan Gabriel namun urung ketika melihat notifikasi pesan dari nomor asing di ponselnya.
"I think you're in a bad mood now,
Miss Anderson."
"It's my contact, Christoper Winston."
"Save it, karena mungkin mulai sekarang saya akan sering menghubungi anda. Dan satu lagi, maaf membuat anda terkejut tadi.
Dan tadi, saya tidak bermaksud menakuti anda."
Lagi.
Agatha melihat bagaimana pria ini bahkan memiliki nomor ponsel pribadinya. Dengan tidak sabar di teleponnya Joshua.
"Josh! Katakan padaku kebohongan dan trik apa yang kau lakukan diam-diam dibelakangku?"
"Agatha, tanpa sapaan tiba-tiba...?"
Agatha mendengus kesal, "Katakan apakah kau dengan berani menyebarkan akses privasiku?"
"Agatha kau menuduhku tiba-tiba? Wait!What happened to you? I don't understand, ada apa?" Joshua terdengar bingung di ujung sana.
"There is a stranger and he is here. Dia ada di apartemenku."
"HAH?!"
"He even has my personal contacts."
"Agatha, jangan bercanda. Aku kesana sekarang! Wait for me, okay!"
"No need Josh, he's already gone."
"HAH? Are you really okay?"
"Yeah Josh, but looks like I'm not," Agatha menghela pelan, mendengar nada panik Joshua dia tahu pasti bahwa bukan sahabatnya itu yang membocorkan privasinya.
"Aku akan kesana, tunggu sebentar."
"No need Josh. Ini sudah malam, aku tidak mau mengganggu istirahatmu. But for your information, he is Christopher Winston."
"Yeah."
"Keluarga Winston yang melamarmu?"
"Hmm."
"Tapi bagaimana bisa dia bisa masuk dan berada di apartemenmu?"
"Jadi bukan kau yang memberikan informasi pribadiku?"
"Agatha! I'm your friend! Best friend you ever had! Meski sebagai pegawaimu aku bisa di suap oleh uang sekalipun, tapi aku tidak akan pernah melakukannya, you know me so well Agatha."
"Baiklah, ya ya aku tahu. Hanya ingin memastikan."
"Kau meragukanku setelah selama ini kita bersama?"
"Tidak Josh, bukan begitu hanya saja this is the craziest day that happened! Sinting. Dan aku terlalu lelah."
"Agatha, istirahatlah."
"Baiklah, maaf sudah mencurigaimu. Sampai besok Josh."
Sekali lagi Agatha menghembuskan napas lalu dia segera berganti untuk menghubungi sang kakak, Gabriel.
"Hei my little princess, my sweetheart, my love, ada apa?"
"Berhenti memanggilku seperti itu."
Gabriel terkekeh di ujung sana, "Tidak mau, itu panggilan kesayanganku. Tapi ada apa? Tidak biasanya kau menggangguku malam-malam begini."
"******* you! Jelaskan padaku kenapa kau sampai berbuat begini padaku Gab? Sebenci dan sekesal itukah kau padaku?" Agatha tidak peduli pada protes kakaknya itu setelah mendengarnya mengumpat.
"Apa sih yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti, coba jelaskan dengan baik adikku tersayang, katakan pelan-pelan."
"Masih pura-pura tidak mengerti? Kau keterlaluan kali ini Gab. Untuk apa kau memberikan nomor akses apartemen dan nomor ponsel pribadiku pada orang asing?"
"Memberikan akses-apa!? Akses apartemen pada siapa?"
__ADS_1
"Berhenti berpura-pura Gab, kau keterlaluan!" nada tinggi Agatha terdengar dan itu bukan pertanda yang baik untuk Gabriel.
"Kau! Kenapa memberikan akses apartemenku pada pria itu! Ini pelanggaran privasi Gab, dan ini tidak sopan SAMA SEKALI!"
"Wow, wait! Agatha, aku sungguh-sungguh tidak mengerti apa dan siapa yang kau maksud!"
"Christopher Winston! Dia ada di apartemenku dan aku yakin 1000% ini ulahmu Gab!"
"Eh-apa?!"
"Dia ada di apartemenku, menghubungi nomor pribadiku dan terang-terangan mengatakan dia akan menikahiku. Menurutmu ide gila siapa itu?" semburnya pada sang kakak dengan intonasi menuduh.
"Agatha tenang dulu. Aku tidak pernah memberikan akses pada siapapun termasuk Arthur. Kau yakin?"
"Menurutmu aku sangat kebosanan sehingga sembarangan menuduh orang lain?"
"Agatha tenang..."
"BAGAIMANA AKU BISA TENANG KETIKA ORANG ASING BISA KELUAR MASUK SEENAKNYA DI RUMAHKU GAB?!" teriak Agatha pada akhirnya. Dia sangat kesal pada kakaknya itu, sama sekali tidak peduli bahwa dia membenci hal-hal rumit seperti ini. Lagipula lamaran itu bahkan baru di dengarnya dua hari yang lalu dan baru tadi siang mereka membicarakannya dan sekarang pria itu berani bertindak sejauh ini? Gila. Dan Agatha semakin yakin untuk menolaknya.
"Agatha kau membuatku khawatir. Aku kesana sekarang dan kita bicarakan."
Agatha mengakhiri sambungan telepon dengan Gabriel dan kini menunggu kedatangan sang kakak. Kenapa tiba-tiba Winston ini datang dengan segala berita dan mengacaukan harinya?
.
.
.
Agatha menatap Gabriel kesal sebelum akhirnya berjalan menuju meja kerjanya mengambil sebatang rokok dari laci, menyalakannya, menghisapnya dalam lalu menghembuskannya pelan. Membuat Gabriel terbatuk karena dia tidak tahan dengan asap rokok.
"Lalu siapa? Aku sudah bertanya pada Joshua dan dia tidak melakukannya."
"Yeah, tentu mana mungkin Joshua berani melakukan hal sejauh ini sekalipun aku atau ayah memintanya. Dia pasti menolak dan memilih membantah lalu memihakmu," jawab Gabriel mengingat perangai pria yang menjadi sahabat adiknya itu.
Keduanya terdiam, yang satu sibuk dengan rokoknya sementara yang satu sibuk menikmati whiskinya.
"Mau pindah ke rumah utama sementara waktu?" tawar Gabriel dengan senyum di sudut bibirnya karena dia tahu jawaban apa yang akan di berikan adiknya itu.
"Tidak. Kembali hidup bersamamu dan ayah hanya akan membuatku semakin gila setiap harinya. Thanks," jawaban Agatha membuat Gabriel tertawa kecil, meski sekarang dia mulai berpikir jika yang dikatakan Agatha benar maka ini artinya pelanggaran privasi yang mengancam kan? Dia jadi tidak tega meninggalkan Agatha sendirian.
"Mau kuberikan penjagaan ekstra? Akan kutempatkan beberapa penjaga terbaikku di sini."
Agatha menatap Gabriel lalu tersenyum, "Terimakasih Gab," kemudian menghembuskan kepulan asapnya lagi tepat di hadapan sang kakak.
"Agatha! Uhuk uhuk! Sial, jangan menghembuskan asap busuk itu di wajahku! Uhukk!" Gabriel mengibaskan tangannya menghalau kepulan asap rokok di udara. Selalu saja seperti ini, benar-benar kepribadian mereka kadang seolah terbalik antara siapa yang suka rokok dan tidak.
Oh, dan masalah rokok.
Maaf jika Agatha yang seorang wanita penuh wibawa, cantik dan berkelas ini tiba-tiba muncul dengan rokoknya. Kalian harus ingat bahwa dia bukan wanita dengan kepribadian biasa.
Dan bukan hal yang baru atau tabu bagi orang-orang yang sudah lama mengenalnya, karena baginya rokok adalah pelarian terbaik ketika dia merasa sudah terlalu gila, juga adalah pilihan terbaiknya untuk menghindari minuman beralkohol meski dia memiliki toleransi yang cukup tinggi tapi Agatha benci mabuk.
Sekalipun sama berdampak buruk namun bagi Agatha kepulan rokok lebih baik daripada kehilangan kewarasan dan kesadaran yang bisa mengakibatkan masalah.
"Jujur saja aku bahkan belum bertemu Winston muda secara personal. Aku hanya tahu tentangnya dari Arthur dan tentu saja dari lamaran itu. Jika kau mengira aku bohong, maka jawabannya adalah tidak. Akupun sama terkejutnya denganmu, tapi ayolah Agatha tidakkah kau ingin mencobanya untuk lamaran kali ini?"
"Mencoba untuk apa? Kau tahu aku benci semua hal gila yang disebut pernikahan."
"Agatha, bukankah sekarang saatnya kau mencoba merasakan kembali cinta?"
Agatha merotasikan bola matanya mendengar ucapan Gabriel. Cinta baru? Yang seperti apa? Bagi Agatha hidupnya sudah tidak memiliki awal yang baru. Dia cukup menikmati hidupnya saat ini.
Setelah kepulangan Gabriel, Agatha berencana untuk tidur ketika sebuah notifikasi pesan muncul di ponselnya.
"Have a nice sleep Agatha.
I don't thinking if I bother you now, and just wanna say that I'm not a bastard, okay?"
Agatha kesal, cukup baginya tahu bahwa pria ini seperti penguntit yang menyebalkan. Agatha tidak yakin apakah keluarga Winston ini memang keluarga terhormat dengan kelakuan seperti ini.
Dia berani mengganggunya sejauh ini dengan sangat pribadi.
Agatha melempar ponselnya, memejamkan matanya dan memaksa tidur meski isi kepalanya kini berputar kemana-mana.
.
.
.
__ADS_1
Riexx 1323.