Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Kejelasan


__ADS_3

Aku percaya bahwa menunggu untuk orang yang tepat itu layak dilakukan.


Bahkan jika untukmu, ribuan tahun pun akan kulakukan.


...— Christopher Winston —...


.......


.......


.......


Joshua memijit keningnya perlahan, kepalanya serasa berdenyut setelah menerima penjelasan dokter mengenai kondisi Agatha.


Tiga puluh menit yang lalu setelah memeriksa dan memberi Agatha obat penenang, dokter mengajaknya bicara. Kondisi fisik Agatha memang baik-baik saja, namun rupanya tidak begitu dengan psikisnya.


Akibat kekurangan oksigen dan tidak sadarkan diri selama dua hari sebelumnya, Agatha mengalami disorientasi waktu jangka pendek. Padahal tidak ada pemicu serius yang bisa menyebabkan hal ini. Ketidaksadarannya saja merupakan hal janggal karena menurut dokter Agatha tidak mengalami trauma apapun akibat jatuhnya.


Joshua sudah memberitahukan hal ini pada Gabriel, dan tentu saja putra sulung keluarga Anderson itu hanya bisa menerima dengan pasrah. Karena dia sendiri sedang mengurus sang ayah.


Begitu keluar dari ruangan dokter, dia disambut oleh Christopher yang tampak frustasi di depan pintu.


"Jadi apa kondisinya? Bagaimana?"


Joshua menatap pria di hadapannya itu sebelum menghela pelan, "Bisakah kita bicarakan hal lain sebelum aku menjelaskan padamu Christ?"


"Apalagi Josh, jangan buat aku terlihat seperti orang bodoh disini."


"Aku tidak bermaksud begitu."


Keduanya kembali duduk di depan ruangan Agatha.


"Christ, apa yang sebenarnya terjadi hari itu? Apa yang kalian lakukan?"


"Joshua, berapa kali harus kujelaskan bahwa kami hanya berbincang. Aku ingin menanyakan padanya tentang keseriusanku dalam hubungan ini. Bahkan aku belum sempat menanyakannya secara jelas saat Agath tidak fokus dan tiba-tiba jatuh ke air."


"Hanya itu? Kau yakin?"


"Apa kau mencurigaiku melakukan hal buruk padanya?" nada suara Christopher sedikit berubah emosional.


"Aku tidak mengatakan begitu."


"Tapi kau terdengar begitu."

__ADS_1


Kedua pria itu kembali terdiam, masing-masing berusaha meredam emosi masing-masing.


"Maaf. Aku tidak bermaksud menuduh atau apapun hanya saja—Christ, bolehkah aku tahu alasanmu sebenarnya mengejar Agatha?"


Christ diam dengan ekspresi yang sepersekian detik terlihat berbeda namun tak lama kemudian kembali biasa, dia mendongak dan menatap lurus ke arah Joshua.


"Aku mencintainya, mungkin ini terdengar klise namun aku benar-benar jatuh cinta padanya."


"Lalu kenapa kau tidak langsung menolongnya saat dia jatuh ke air? Kenapa kau justru berteriak meminta bantuan dari atas?"


"Joshua, aku dalam keadaan panik dan tidak bisa memikirkan hal selain meminta pertolongan."


"Tapi pria yang jatuh cinta rela melakukan apapun untuk orang yang dicintainya. Sikapmu tidak menunjukkan hal itu, Christ."


Christopher menghela, "Aku memiliki trauma dengan sesuatu yang berkaitan dengan tenggelam. Kukira aku sudah sembuh karena aku sudah bisa kembali berenang, menyelam dan berada di dekat air yang luas tapi kenyataannya aku kembali panik dan ketakutan saat melihat Agatha jatuh," jelas Christ dengan nada penuh penyesalan.


"Maaf, aku benar-benar tidak ingin membuatnya celaka atau apapun itu, Josh."


"Baiklah, aku akan percaya pada apa yang kau katakan," jawab Joshua, tentu saja penyelidikan diam-diamnya sebelum ini menunjukkan tidak ada catatan buruk pada pria ini. Dan sekarang karena pria ini berstatus sebagai tunangan Agatha, akan lebih baik jika dia menjelaskan kondisi Agatha sekarang. Christopher masih menatapnya menuntut penjelasan.


"Aku minta maaf jika sikapku membuatmu tersinggung, Christ," Joshua menghela pelan, "Agatha terbangun dalam kondisi yang tidak baik, dia mengalami disorientasi waktu," ucap Joshua memelan di akhir, rasanya sakit menggambarkan keadaan Agatha.


"Disorientasi waktu? Maksudmu, dia mengalami kebingungan tentang situasi sekarang?"


Ekspresi Christoper berubah menjadi lebih dingin, tampak melamun memikirkan penjelasan Joshua dan meski hanya sekilas ada sedikit ketakutan pada wajahnya.


"Apakah masa lalu dalam ingatannya adalah hal yang seharusnya tidak perlu diingatnya sekarang?" tanyanya pelan.


"Sayangnya adalah ya, masa lalu yang  seharusnya terlupakan. Jika kau mencintainya, kuharap itu benar dan sekarang adalah saatnya kau membuktikan itu." 


Christoper menatap dalam mata Joshua sebelum mengangguk, "Apa masa lalu itu, Josh?"


"Agatha yang kau kenal adalah wanita dingin dan keras kepala serta sedikit menyebalkan, dan aku yakin dia sudah mengatakan padamu bahwa dia tidak bisa jatuh cinta."


Christopher tersenyum tipis mengingat semua penolakan Agatha yang berkata bahwa wanita itu tidak mencintainya. Haruskah benar-benar seperti itu?


"Ada alasan kenapa dia menjadi seperti itu. Agatha bukan patung lilin, dia seorang manusia yang juga memiliki hati dan perasaan namun sayang sekali hatinya sudah rusak. Dan rusak parah itu membuatnya mengubur semua hal hingga tak tersisa untuk 'sebuah hubungan'," jelas Joshua dengan tatapan menerawang mengingat sosok sahabatnya itu.


"Bisakah kau membantuku menyembuhkan hatinya?"


Christopher terdiam mendengar pertanyaan dari Joshua, ekspresinya tidak bisa ditebak oleh tatapan Joshua yang ingin memastikan kesungguhan pria di sampingnya itu.


"Jika kau merasa terlalu berat untuk mencintainya dengan kondisi seperti itu, sebaiknya kau melepaskannya Christ. Lagipula hubungan diantara kalian sekarang hanyalah berdasarkan sebuah kerjasama."

__ADS_1


"Aku tidak akan melepaskannya, Josh," jawab Christoper tanpa ada keraguan dalam suaranya, matanya kini menatap Joshua penuh keyakinan.


"Apa aku bisa mempercayaimu?" 


"Kau bisa percaya padaku sepenuhnya. Aku akan membawakan hati yang baru untuk Agatha dan tidak akan pernah membiarkannya terluka."


"Baiklah. Aku percaya padamu, Christ. Namun ingat satu hal, jika kau menyakiti Agatha meski hanya seujung kecilpun maka aku akan menghajarmu dengan tanganku sendiri tanpa ampun." 


Keduanya saling menatap dalam diam seolah memastikan apakah bisa saling mempercayai satu sama lain. Bagi Christopher itu adalah sebuah janji yang akan ditepati sementara bagi Joshua adalah pembuktian dari sebuah kepercayaan.


"Boleh aku tahu masa lalu seperti apa yang menjadikannya begitu?" tanya Christopher yang entah kenapa lebih pelan dan kali ini ada getar dalam suaranya saat mengucapkannya.


"Agatha dan cinta pertamanya, namun tak bertahan lama di dunia. Namanya Mikael dan pria ini telah meninggal tujuh tahun yang lalu."


Dan entah karena saat itu memang sunyi atau karena keduanya sedang membicarakan hal yang menyakitkan namun suasana saat itu terasa membeku. Bahkan bunyi lembaran kertas suster penjaga yang ada di ujung lorong terdengar di telinga mereka.


.


.


.


Joshua menyandarkan punggungnya pada sofa setelah tiga puluh menit yang lalu dia berusaha keras membujuk Christopher untuk pulang. Pria yang keras kepala seperti Agatha.


Pikirannya kini penuh dengan berbagai hal yang tiba-tiba saja muncul setelah perbincangan serius tadi sore. 


Diletakkannya layar pipih yang sejak tadi ada di pangkuannya, dia baru saja selesai dengan semua laporan perusahaan. Lelah sekali rasanya masih harus bekerja di tengah semua kekhawatiran dan kecemasannya. Dia tidak mungkin meninggalkan Agatha walau sebentar saja, tidak ada orang yang cukup di percaya untuk itu selain Gabriel yang sekarang ada di rumah sakit lain.


Ah, iya...


Saat Agatha terjatuh ke laut, di hari yang sama tuan Anderson mengalami kecelakaan kecil dalam perjalanannya ke Jerman untuk menemui putra bungsunya. Karena kecelakaan kecil itu sakitnya yang belum sepenuhnya pulih kembali memburuk. Dan membuatnya harus menjalani prosedur kesehatan di sana bersama Gabriel.


Agatha tentu saja belum tahu, dan Joshua tidak ingin tergesa menyampaikan kabar itu di tengah kondisi sahabatnya yang tidak baik seperti ini. Satu persatu dia akan menyelesaikan semuanya.


Dan masalah Christ, entahlah tapi dia yakin pada pria itu. Dan dia benar-benar berharap kehadiran Christ bisa membawa lembaran hidup baru untuk sahabatnya.


.


.


.


Riexx1323.

__ADS_1


__ADS_2