Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Tentang Ketulusan Yang Lain


__ADS_3

...Takdir bekerja dengan caranya sendiri. Sepintar apapun kau berusaha menghindar, dia akan tetap menemukanmu pada jalannya....


.......


.......


.......


Joshua masih terlelap dalam tidurnya di sofa sampai-sampai dia tidak sadar ada seseorang yang duduk di sampingnya. 


Agatha sudah sadar sejak satu jam yang lalu, masih merasa bingung dengan keadaan namun saat pandangannya jatuh pada sosok sang sahabat yang terlelap diantara beberapa berkas pekerjaan, kebingungannya perlahan berangsur menghilang.


Menatap antara Joshua dan infus di tangannya membuat Agatha merasakan serangan rasa bersalah yang besar dalam hatinya.


Sepertinya aku menyusahkan Joshua lagi.


Netranya beralih pada jam dinding yang menunjukkan pukul 1 dini hari, dia di rumah sakit dengan Joshua yang tertidur kelelahan.


Hanya ada dia dan Joshua yang sekarang dan itu artinya tidak ada Mikael. 


Sampai kapan seperti ini? Agatha sebenarnya merasa lelah dengan perasaannya sendiri yang terus mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin akan terjadi.


Bukan.


Dia bukannya ingin melupakan Mikael, sama sekali tidak seperti itu. Cintanya tidak akan pernah berubah. Hanya saja terkadang Agatha merasa hatinya terlalu mencintai begitu kuat hingga rasanya melelahkan.


Agatha menarik selimut untuk menutupi tubuh Joshua, sahabatnya itu benar-benar anugerah terbaik yang diberikan Tuhan padanya. Joshua yang selalu merelakan waktu dan segala hal untuknya. Dia berjanji untuk membuat sahabatnya itu mendapatkan kebahagiaannya sendiri nanti.


Kembali ke ranjang pasiennya, Agatha menyadari sebuket mawar putih di atas nakas samping tempat tidurnya, dan secarik kartu ucapan tergeletak cantik di sampingnya.


^^^Agatha...^^^


^^^Aku tidak tahu harus mengatakan apa selain maaf, kuharap kau segera terbangun dari tidurmu. Maaf karena sudah membuatmu seperti sekarang. Aku tidak bermaksud mencelakaimu.^^^


^^^Maaf aku tidak bisa menunggumu sampai kau terbangun, dan aku percaya Joshua lebih dari cukup untuk berada di sampingmu (meskipun aku akan segera menggantikan posisinya) tapi sekarang aku harus mengalah kan?^^^


^^^Besok aku akan datang lagi. Cepatlah kembali sadar, Sunshine.^^^


^^^- Christ -^^^


Menghembuskan napasnya pelan, Agatha meletakkan kembali kartu ucapan itu dan mengambil buket mawar yang masih tercium wangi segarnya itu. Dulu, buket lily putih hampir setiap hari selalu ada menghiasi meja kamarnya dari toko bunga yang berada dua blok dari rumah madam Anna.


Di bukanya laci nakas mencari keberadaan ponselnya yang terabaikan beberapa hari ini. Dilihatnya banyak panggilan tak terjawab dari Gabriel, kakaknya itu pasti sudah khawatir kalang kabut. Agatha tersenyum tipis, dia baru saja akan menghubungi sang kakak ketika suara Joshua terdengar.


"Agatha...?"


Joshua buru-buru terbangun dari tidurnya dan menghampiri Agatha, menarik sahabatnya itu dalam dekapannya.


"Kau sudah bangun? Aku benar-benar khawatir padamu. Aku akan panggil dokter," Joshua melepas pelukannya namun Agatha menahan lengannya.


"Tidak perlu Joshie, aku tidak apa-apa."


"Tapi dokter harus memeriksa keadaanmu."


"I'm okay, tidak apa-apa."


Setelah menelisik sejenak, Joshua menghembuskan napas pasrah dan duduk di tepi ranjang. Mendekap kembali tubuh Agatha yang sebelumnya terlihat tak berdaya.


"Maaf, aku membuatmu khawatir. Aku menyusahkanmu lagi ya?" tanya Agatha lirih teredam dalam dekapan Joshua.

__ADS_1


"Kau harus mengganti liburanku yang gagal dan nyaris membuatku jantungan," gerutu Joshua yang ditanggapi oleh senyum kecil Agatha.


"Maaf. Aku akan menggantinya dengan liburan tanpa batas waktu."


"Kau memecatku?"


"Bukan begitu, hanya jika kau ingin berlibur nanti maka aku tidak akan menetapkan batas waktu, kau bisa mengambil waktu sebanyak yang kau mau."


"Hmm, akan kupertimbangkan."


"Apanya? Aku yang memberimu ijin, kenapa kau pertimbangkan?"


"Karena aku tidak yakin meninggalkanmu sendirian. Satu hari tanpaku saja kau sudah tenggelam di laut, apa jadinya jika aku pergi lama?"


Agatha terkekeh pelan mendengar gerutuan Joshua. Kemudian melepaskan pelukannya, Agatha kembali berbaring dengan lengan Joshua sebagai bantalnya.


"Kalau begitu kita bisa berlibur bersama."


"Ya ya, baiklah."


Kemudian keduanya terdiam, menikmati suara detik jarum jam di dinding.


"Joshie, aku bertemu dengannya."


"Hmm."


"Dia masih sama seperti terakhir kali kami bertemu. Pelukannya masih sehangat dulu, senyumannya juga,"


"Agatha, kumohon..."


"Tidak apa-apa, aku sadar itu hanya mimpi, tapi rasanya terlalu indah dan membuatku tidak ingin terbangun."


Joshua tidak berkata apa-apa hanya mengeratkan pelukannya dan mengusap pelan puncak kepala Agatha.


"Dia bahagia di sana, Agatha. Dan Mikael akan lebih bahagia jika melihatmu kembali seperti Agatha-nya yang dulu."


"Benarkah? Tapi aku bahagia saat bersamanya."


"Lalu bagaimana denganku? Kau tidak bahagia bersama denganku? Tidak bahagia bersama ayahmu dan Gabriel?" Joshua mengambil napas panjang sebelum melanjutkan.


"Mikael akan bahagia jika kau kembali melanjutkan hidup dan tidak terkurung dalam masa lalu. Bukan untuk melupakannya, hanya cukup kembali bahagia."


Agatha terdiam, tidak menjawab atau merespon apapun. Hatinya yang lelah, pikiran serta egonya yang bertahan, semua hal yang akhirnya membuat air matanya kini luruh dalam dekapan Joshua.


"Aku akan selalu bersamamu, dan aku akan membawamu untuk mendapatkan bahagia itu. Dan aku yakin momen itu akan segera datang," bisik Joshua lembut.


.


.


.


Keesokan paginya Agatha dikejutkan oleh kedatangan Christopher yang terlihat sedikit berantakan. Sepertinya dia kekurangan jam tidur.


Pria itu tampak lega melihatnya tersadar namun kecemasan masih jelas tergambar di wajahnya. Setelah berbincang sebentar, Joshua meninggalkan keduanya dan membuat suasana kamar rawat itu kembali hening. Agatha sendiri tidak tahu harus  mengatakan apa.


"Maaf."


"Maaf."

__ADS_1


Suara keduanya terdengar bersamaan bagai irama tajam setelah keheningan yang lama. Mereka saling menatap sebelum akhirnya sama-sama membuang pandangan.


"Agatha, tidak ada yang kuminta sekarang selain maaf darimu."


"Tidak apa Christ, aku yang seharusnya yang minta maaf karena membuat keributan yang tidak perlu. Aku tidak apa-apa."


"Tapi Agatha..."


"Tidak apa-apa, jangan merasa bersalah," ujar Agatha pelan, bagaimanapun ini bukan kesalahan Christopher sepenuhnya. Dirinyalah yang terlalu banyak memikirkan segala sesuatunya dengan berlebihan.


"Aku ingin memelukmu tapi sepertinya tidak boleh ya?" tanya Christ dengan seulas senyum samar yang ada diujung bibirnya.


Agatha tidak menjawab apapun namun tangannya perlahan terulur dan menepuk pelan punggung tangan pria yang berdiri di samping ranjangnya itu. "Terimakasih sudah khawatir."


Joshua kembali bersama dokter yang kemudian memeriksa kondisi Agatha, dan setelah memastikan Agatha baik-baik saja, dokter memberikan ijin untuk pulang meski harus banyak beristirahat selama sepekan.


"Kau yakin kita langsung pulang saja?" tanya Joshua memastikan saat Agatha memintanya berkemas. Dia memang ingin mereka segera kembali tapi tidak di hari yang sama saat keluar dari rumah sakit.


"Kalian mau kuantar?" tawar Christopher yang masih ada disana dan membantu mereka berkemas.


"Kalau kau mengantar kami, lalu bagaimana dengan urusanmu disini?"


"Aku sudah menyelesaikannya Josh, tidak perlu khawatir. Jadi bagaimana?"


Joshua melirik Agatha yang kini berjalan ke toilet untuk ganti baju. Kemudian setelah memastikan sahabatnya itu menutup pintu, Joshua mendekati Christopher.


"Aku harus memberitahunya tentang keadaan tuan Anderson tapi rasanya tidak pas sekarang. Aku khawatir dia akan—"


"Kalian membicarakan apa?"


Joshua menoleh dan mendapati sahabatnya itu sudah berjalan mendekat.


"Ada apa dengan ayah?"


"Agatha, maaf karena aku tidak langsung memberitahumu tapi ayahmu mengalami kecelakaan di hari yang sama saat kau jatuh ke laut."


"Kecelakaan? Apa maksudmu?" tanya Agatha yang kemudian meraih ponselnya di atas nakas lalu menghubungi Gabriel namun tidak tersambung.


Dan saat itu juga ponsel Joshua berdering, sebuah panggilan masuk dari kantor pusat yang mengabarkan bahwa mereka butuh Joshua secepatnya.


"Agatha, maaf tapi sepertinya aku harus segera kembali. Ada masalah dengan salah satu investor kita," Joshua terlihat bimbang antara pergi atau tidak.


"Pergilah Josh, aku tidak apa-apa. Aku akan langsung menemui ayah."


"Sebaiknya kita kembali dulu, aku akan menemanimu nanti."


"Tidak apa-apa, Gabriel bisa menjemputku."


"Agatha, tuan Anderson berada di Jerman. Kecelakaan itu terjadi saat dia akan menemui Zander."


"Apa?"


"Aku akan menemaninya," ucap Christopher tiba-tiba membuat Agatha dan Joshua menoleh padanya.


"Aku akan menemani Agatha ke Jerman. Kau bisa percayakan padaku, Josh."


.


.

__ADS_1


.


Riexx1323.


__ADS_2