
...Hidupku sudah sangat berat sebelum ini. Dan kurasa akan jauh lebih berat setelah aku bertemu denganmu....
...—Agatha—...
.......
.......
.......
Pukul tujuh pagi.
Agatha masih nyaman dalam gulungan selimutnya. Sebenarnya dia sudah terbangun sejak tadi namun mengingat ini hari liburnya maka dia ingin bermalas-malasan sebentar saja. Joshua sudah mengiriminya pesan bahwa sahabatnya itu akan pergi olahraga air nanti dan menawarkan apakah dia bersedia ikut. Tentu saja dia dengan senang hati menolak karena dia berencana menghabiskan waktu di resort atau mungkin hanya jalan-jalan menikmati keindahan pantai.
Agatha baru akan kembali memejamkan mata saat ponselnya kembali bergetar memunculkan notifikasi dari Joshua lagi.
'Kalau kau tidak mau ikut denganku, jangan pergi kemana-mana sendirian. Aku tahu kau bukan anak kecil tapi kemungkinan kau hilang jauh lebih besar dari seorang anak-anak'
Oh ayolah, kenapa Joshua tidak bersenang-senang justru malah sibuk mengkhawatirkan dirinya?
'Iya iya, aku akan diam disini. Nikmati saja liburanmu dan jangan berisik,' tulis Agatha.
Benar-benar Joshua ini lebih suka mengomel dari Gabriel.
'Baiklah, awas saja kau menghilang saat aku kembali. Tidak akan kucari!' ancam Joshua diakhir pesannya.
Agatha melemparkan ponselnya dan merenggangkan tubuhnya. Dia tidak pernah bermalas-malasan karena setiap paginya selalu dikejar oleh jadwal pekerjaan. Dan ditambah dia memang tidak pernah mau berlibur.
'Tidak mau'
Sekali lagi ponselnya bergetar, kali ini panggilan telepon. Agatha dengan kesal meraih ponselnya yang sebelumnya dia lempar.
"Apa lagi Josh? Jangan menggangguku! Aku akan diam saja dan tidak kemana-mana, jadi berhenti khawatir dan bersenang-senanglah!"
"... Agatha?"
Bukan Joshua.
Agatha segera menjauhkan ponsel dari telinganya, Damn! Christopher Winston!
"O-oh...hai, selamat pagi Christ," jawabnya kemudian, sambil merutuki dirinya sendiri yang tidak melihat lebih dulu nama si pemanggil.
"Kau sudah marah-marah sepagi ini? Ada apa?"
"Maaf Christ, aku salah mengira kau adalah Joshua."
Terdengar suara tawa kecil di seberang sana, "Tidak apa-apa, aku harus membiasakan diri kan?"
Apa maksudnya? — batin Agatha yang merasa malu.
"Jadi kenapa kau mengubungiku pagi-pagi?"
"Kau tidak lupa apa yang ku katakan semalam kan? Aku akan menemani liburanmu hari ini."
Agatha mengerang dalam hati, sial! Dia lupa sama sekali dengan apa yang terjadi semalam, padahal dia sudah membayangkan bagaimana rasanya bersantai seharian.
"Tidak bisakah dibatalkan?"
"Kenapa? Kau ada acara lain?"
__ADS_1
Agatha menjauhkan ponselnya untuk menghela pelan, bagaimana caranya agar pria ini tidak mengganggu hidupnya?
"Tidak ada, aku hanya ingin-berlibur dengan santai Christ."
"Aku tidak akan mengajakmu melakukan hal yang serius. Bersiaplah sekarang, kita harus sarapan."
"T-tapi Christ! Tunggu!" Agatha bahkan belum mengatakan apapun dan pria itu sudah mematikan sambungan ponselnya.
Sekarang Agatha benar-benar melemparkan ponselnya keatas nakas di samping tempat tidurnya. Siapa memangnya pria itu yang berani-beraninya menyuruh ini itu? Joshua bahkan tidak akan mengganggunya saat dia beristirahat, jadi tidak ada alasan jika dia harus menuruti ucapan Christ. Menarik selimutnya kembali, Agatha berniat melanjutkan tidurnya.
Agatha mengeliat pelan dan merenggangkan tubuhnya, hembusan angin membuatnya terbangun. Rasanya nyaman bisa tidur sedikit lebih lama seperti ini. Baru saja Agatha terduduk untuk melihat jam, manik coklatnya menangkap sosok seseorang yang sedang ada ruang tamunya.
"CHRIST?!"
Kagetnya mendapati pria itu sedang menunggunya dengan segelas minuman dingin di tangan,
"Bagaimana kau bisa masuk? A–ah ya, aku lupa kalau kau ahli membobol privasi orang lain."
"Sudah bangun? Aku menunggu selama 2 jam tapi kau malah mengejekku?" pria itu berjalan mendekatinya yang kini sudah seratus persen sadar dari kantuknya.
"Aku sudah bilang di batalkan bukan?"
"Tapi aku tidak mau."
"Kenapa harus menggangguku di hari liburku, ayolah Christ biarkan aku bersantai. Padahal aku sudah bersusah payah menyuruh Joshua pergi agar bisa sendiri."
"Aku sudah minta ijin pada Joshua utuk menemanimu dan katanya aku boleh membawamu kemanapun hari ini."
Agatha memutar bola matanya, bagaimana mungkin sahabatnya itu selalu berkhianat dan memilih memihak Christopher Winston. Agatha berjalan ke dapur dan mengambil segelas air minum, mengabaikan pria yang sejak tadi menatap padanya.
"Jadi kau tidak mau kemana-mana?"
"Baiklah aku akan menemanimu disini. Dan karena ini sudah jam 11 sebaiknya kau mandi, Sayang. Kita sarapan sekalian makan siang."
"Christopher Winston!"
"Ya?"
"Aku tidak suka kau sembarangan memanggilku!" ucap Agatha tegas dan menatap lurus kearah pria yang justru tersenyum lebar mendengarnya. Christ perjalan maju hingga mereka berdiri berhadapan.
"Tapi aku suka padamu, Agatha," kemudian Christ memutar tubuh Agatha dan mendorongnya menuju kamar mandi. "Cepat bersihkan dirimu agar kita segera pergi."
"Jangan mengaturku, Christ!" Agatha berusaha menolak namun kekuatannya tidak cukup.
"Hurry up, darling. Atau mau kubantu?" bisik Christ tepat di samping telinga Agatha membuat wanita itu mendelik dan menghentakkan kaki masuk ke kamar mandi.
Christ tertawa ringan melihat wanita itu kesal. Sungguh mengganggu Agatha sangat menyenangkan.
.
.
.
Keduanya saat ini ada di sebuah kapal yang disiapkan khusus oleh Christ. Dan pada akhirnya meski dengan kekesalan yang masih tersisa, Agatha mengikuti pria itu sekarang.
Beberapa orang yang mengenali mereka bersikap sedikit berlebihan. Agatha bahkan mulai berpikir sepertinya Christopher Winston lebih cocok jadi aktor atau apapun itu karena pria ini memiliki banyak pengggemar.
"Bagaimana aku makan jika orang-orang itu terus menatap seolah kita ini artis?" ujar Agatha sarkas karena dia terus melihat beberapa orang yang mencuri pandangan memuja pada mereka.
__ADS_1
"Kau tidak nyaman? Akan kusuruh mereka pergi," kemudian pria itu pergi ke bagian dalam dan bicara dengan seseorang, tak lama orang-orang yang tadi beraktifitas tadi bergantian masuk.
"Banyak staf baru dan mereka masih belum bisa mengendalikan diri. Maaf membuatmu tidak nyaman."
"Hm."
Setelah selesai makan Christopher memaksa Agatha untuk pergi ke tempat fasilitas olahraga dalam air. Yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh wanita itu.
"Lalu kau mau kemana? Melihat-lihat kota, berbelanja mungkin?"
"Aku sudah bilang tidak mau tapi kau memaksa, jadi terserah kau mau kemana."
"Karena tidak mau olahraga air, bagaimana kalau kita berkeliling saja melihat pantai sekitar?"
Agatha hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban. Dia memang ingin jalan-jalan di sekitar pantai tapi tidak bersama pria ini. Sepertinya bayangan liburan indah di kepalanya sudah menguap dengan kehadiran Christopher Winston.
"Agatha."
Yang dipanggil hanya menoleh tanpa niat untuk menjawab namun tatapannya menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut pria itu.
"Aku ingin bertanya dan kuharap kau tidak marah-marah. Cukup katakan hal yang logis nanti sehingga aku bisa memahaminya."
"Tergantung persoalan apa yang akan kau katakan, Christ."
Christ tampak bimbang sesaat namun tak lama bibirnya kembali menyunggingkan senyum kecil. Agatha sebenarnya cukup heran kenapa pria ini selalu tersenyum padahal dia tidak pernah membalas atau bersikap baik padanya.
"Ini tentang kerjasama dan pertunangan kita."
Mendengar itu, Agatha tahu kemana arah pembicaraan ini dan dia belum menyiapkan jawaban tepat untuk ini. Dia ingin mengakhirinya tapi kini dia tahu bahwa yang terlibat dalam hubungan ini bukan hanya mereka. Agatha tahu benar kebahagiaan yang dirasakan oleh Ayahnya dan di sudut hatinya yang paling dalam diapun merasa senang melihat kebahagiaan sang Ayah. lalu di sisi lain ada Ny. Winston yang sejak pertemuan mereka membuat Agatha yakin bahwa wanita itu baik dan tulus sehingga Agatha merasa tidak nyaman jika harus membayangkan wanita itu kecewa nanti.
Tapi hatinya tidak bisa berbohong. Dia tidak mencintai Christopher Winston. Tidak bisa.
Hatinya masih terikat di sana, masih menjadi serpihan yang tidak mungkin utuh kembali. Dan bukankah sangat jahat jika dirinya yang tidak bisa jatuh cinta ini terikat sebuah hubungan?
Sekalipun Christopher Winston adalah orang yang menyebalkan namun dia tidak berhak mendapat perlakuan tidak adil seperti ini apalagi ini menyangkut tentang hati.
"Agatha..."
Christ mungkin bisa mendapatkan wanita lain jika mereka putuskan untuk mengakhiri kerjasama ini, tapi bagaimana dengan kedua orangtua mereka?
"Agatha..."
Sekarang berbagai suara dan pertanyaan muncul dalam kepala Agatha, sial.
Dia sudah lama tidak seperti ini lagi, ah—Joshua! Agatha butuh Joshua sekarang karena kepalanya mulai pusing mendengar suara-suara ini. Agatha berusaha mengendalikan diri dengan berpegangan pada besi pagar kapal.
"Agatha, kau tidak apa-apa?"
Suara Christ bahkan terdengar jauh dan begitu lirih. Dia butuh Joshua sekarang, dia butuh sahabatnya itu sekarang.
"Agatha, AWAS!!!"
.
.
.
Riexx1323.
__ADS_1