Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Pertimbangan Yang Terlambat


__ADS_3

...Bahkan batu yang keras pun bisa berlubang jika terus menerus terkena tetesan air. Aku yakin hati manusia pun sama....


.


.


.


Hasil dari pembuatan obat MediCe untuk Senna Rod sudah mencapai 70% dan itu adalah hal yang bagus. Setiap hari bahkan Agatha mengecek langsung ke laboratorium Hellig disela-sela kepadatan jadwalnya. Sampai sekarang Senna Rod adalah prioritasnya dan akan selalu begitu.


Senna Rod adalah Rumah Sakit milik keluarga Anderson yang sudah ada sejak lama, namun sejak sepuluh tahun yang lalu memiliki sebuah tempat perawatan khusus untuk disabilitas yang sengaja dibangun karena permintaan Agatha.


Berada di kawasan yang sama dengan Senna Rod utama, letak perawatan khusus ini ada di sayap timur bangunan yang memiliki luas seperempat dari keseluruhan wilayah rumah sakit. Tempat ini dikelola langsung oleh Agatha dan Joshua, bahkan tuan Anderson tidak ikut campur dalam pengelolaannya karena putrinya itu sangat sensitif jika menyangkut hal ini.


Itulah sebabnya Agatha kehilangan kendali atas emosinya saat terjadi kecelakaan pada MediCe. Pengembangan khusus yang dibuat MediCe untuk Senna Rod sebenarnya di khususkan untuk perawatan pasien disabilitas yang dilakukan atas keinginan Agatha.


Karena itulah, kemajuan pekerjaan mereka menumpang di laboratorium Hellig membuatnya merasa senang, baginya itu adalah hal terbaik di banding semua kerja kerasnya yang lain.


Siang itu Agatha menuju ke Senna Rod setelah kembali dari laboratorium. Menjadi sebuah kebiasaan pribadi untuk Agatha berkunjung dan bertemu dengan pasien di sana. Pusat perawatan khusus ini terhubung dengan sebuah rumah panti sosial untuk orang-orang berkebutuhan khusus yang sudah lama berhubungan baik dengan Agatha.


Setelah memarkir mobilnya, Agatha turun dan menuju ruangannya yang ada di lantai tiga setelah sebelumnya mampir ke ruang dokter jaga untuk memberikan beberapa kopi yang dibawanya.


"Kau datang? Lama tidak bertemu Agatha," seorang pria berpakaian dokter berdiri di depan pintu ruangannya dengan seulas senyum ramah di wajahnya.


"Hai Felix, kupikir kau tidak ada jadwal hari ini karena aku tidak melihatmu di ruang jaga."


"Aku sedang berada di ruangan pasien tuna rungu," pria itu berjalan masuk dan Agatha menyambutnya dengan sebuah pelukan ringan. "Apa kabarmu sekarang, sepertinya lebih baik dari sebelumnya."


"Ya, seperti yang kau tahu aku hanya seperti ini," Agatha tersenyum dan memandangi pria di hadapannya itu lembut. "Aku mengkhawatirkan keadaan karena kecelakaan yang terjadi di MediCe."


"Aku sempat menghubungi Joshua dan dia bilang semuanya baik-baik saja, jadi kupikir tidak perlu mengganggumu."


Ya baik-baik saja karena aku sudah mengorbankan diriku dengan pertunangan sialan demi Senna Rod. — batin Agatha.


"Sungguh tidak ada masalah serius kan? Aku tidak mau kau menyembunyikan sesuatu dariku Agatha."

__ADS_1


"Tidak apa-apa Felix, semuanya sudah baik-baik saja. Hanya sedikit kepanikan di awal."


Pria itu menatap Agatha sejenak, seolah menyelidik apakah wanita di hadapannya ini sedang berbohong atau tidak. Namun melihat keadaan emosional dan sikapnya, sepertinya Agatha baik-baik saja.


Menghembuskan napas lega, pria itu kemudian duduk lalu keduanya larut dalam pembahasan tentang beberapa kejadian yang terlewat oleh Agatha di bulan-bulan sibuknya sebelum insiden MediCe, membahas beberapa hal yang direncanakan di masa depan untuk memperbaiki pelayanan di Senna Rod.


"Agatha, apa ini? Kau mengikat hubungan dengan seseorang?" Felix tiba-tiba bertanya saat matanya menangkap sebuah cincin yang tersemat di jari manis Agatha.


Dan seperti baru menyadari sesuatu, Agatha melirik tangan kanannya dan tanpa sadar meremas jemari dimana cincin itu berada. Dia belum menjelaskan masalah ini pada Felix, dan ini adalah bagian lain dari 'sesuatu yang tidak mudah' untuk dijelaskan oleh Agatha.


"Felix..."


"Ada yang harus kau jelaskan padaku Agatha"


"Felix, dengarkan aku lebih dulu dan jangan berasumsi apapun sampai aku selesai."


Felix hanya diam, menyilangkan kedua tangannya di depan dada siap untuk mendengarkan. Ekspresinya masih sama, ada keterkejutan disana namun masih tidak ada emosi lain yang muncul.


"Seperti yang kau tahu selama ini bahwa Ayah dan Gabriel selalu menyodorkan banyak lamaran untukku dan aku selalu menolaknya. Kali ini hal yang sama terjadi, ada lamaran yang datang dan aku menolaknya, namun pria ini berbeda dari banyak pria sebelumnya. Dia terus mencoba untuk mendekatiku bahkan setelah aku terang-terangan bersikap buruk padannya. Dia bahkan melakukan hal-hal di luar nalar hanya untuk mendekatiku," Agatha berhenti sejenak untuk melihat ekspresi Felix yang masih diam mendengarkan.


"Boleh aku tahu siapa namanya?" tanya Felix.


"Christopher Winston, dia adalah putra dari dr. Alfred Winston dan dr. Cassandra Merre, aku yakin kau mengenal atau setidaknya sering mendengar nama mereka."


"Pasangan dokter bedah kardiotoraks yang terkenal itu?" Felix terlihat terkejut dengan fakta yang baru didengarnya. Tentu saja karena hampir semua dokter di rumah sakit besar pasti mengenal mereka berdua. Keduanya adalah dokter bedah dengan keahlian dan tingkat keberhasilan tertinggi yang pernah ada. Dan hampir menangani sebagian besar kasus bedah bahkan yang tersulit sekalipun, sayang sekali dokter Alfred Winston harus meninggal tiga tahun yang lalu akibat sebuah kecelakaan lalu lintas. Dan meski kini berjuang sendirian, dokter Cassandra masih merupakan dokter yang paling diharapkan oleh pasien naratama kardiotoraks.


"Jadi maksudmu adalah putra mereka yang melamarmu?" tanya Felix masih belum sepenuhnya mempercayai pendengarannya.


"Ya, begitulah."


"Dan kau sudah menolaknya? Lalu apa hubungannya dengan cincin di jari manismu itu?"


"Benar, aku sudah menolaknya. Dan seperti yang kukatakan padamu sebelumnya bawa pria ini tidak mau menyerah dan melakukan apapun untuk terus mendekatiku sampai pada insiden MediCe dia menawarkan sebuah bantuan."


Felkix menaikkan alisnya begitu mendengar kalimat yang dilontarkan Agatha, "Bantuan apa? Setahuku putra mereka tidak ada yang memiliki profesi sama dengan orangtua mereka."

__ADS_1


"Benar, Christopher bukan seorang dokter dan saat itu terjadi dia menawarkan bantuan dengan meminjamkan laboratorium pribadinya sebagai tempat pembuatan obat khusus milik Senna Rod."


Agatha dengan cepat melihat perubahan ekspresi di wajah Felix, namun pria itu tidak mengatakan apa-apa.


"Kau tahu akan butuh waktu lama jika kita harus menunggu bantuan atau mengirim ke Swiss dan di sana tidak selengkap apa yang ada di MediCe. Sementara kalian butuh suplai ini secepatnya dan dalam waktu yang begitu sempit aku bingung harus melakukan apa. Penawaran dari Christopher memberikan harapan namun ada imbalan yang harus dibayar untuk itu."


Keduanya terdiam dan tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Agatha tahu mengatakan hal ini pada Felix sebenarnya sangat ingin dia hindari karena pertunangan sementaranya ini bukan sesuatu hal yang harus diketahui banyak orang kan?


"Dan apa tepatnya imbalan itu?"


"Aku harus menerima lamarannya," jawab Agatha pada akhirnya, yang entah kenapa ada rasa pahit saat dia mengucapkannya pada Felix.


Pria itu mengangguk pelan tampak mencerna semua informasi dari Agatha sebelum akhirnya menarik napas panjang dan menatap Agatha dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku tidak tahu harus berkata apa, haruskah aku berterimakasih atas apa yang kau lakukan demi Senna Rod atau sedikit menyesalkan keputusanmu."


"Kau marah padaku? Aku benar-benar tidak bermaksud apapun, aku hanya tidak ingin Senna Rod mengalami krisis karena kesalahan orang-orang MediCe."


"Aku tahu Agatha, kau memprioritaskan Senna Rod di atas segalanya. Tapi bukankah terburu-buru jika keputusanmu akan mempengaruhi hidupmu di masa depan?"


"Ini hanya sebuah pertunangan Felix, bukan berarti aku memberikan hatiku pada pria itu. Hubungan ini hanya berdasar kerjasama dan aku berniat untuk menyelesaikannya begitu kerjasama ini berakhir."


"Tapi keputusanmu akan mempengaruhi hidup orang lain Agatha, apa kau tidak berpikir telah mempermainkan hati pria itu?"


Agatha terdiam mendengar kalimat yang Felix ucapkan dan sejujurnya dia tidak memikirkan itu. Dia tidak tahu apakah Christopher mengejarnya karena benar-benar jatuh cinta atau ada alasan lain hanya saja bagi Agatha itu tidak penting karena sejak awal Christopher harusnya tahu dia menolak. Jadi bukankah harusnya dia siap untuk patah hati?


Felix bangkit dari duduknya, "Aku masih harus menemui pasienku yang lain, terimakasih dan selamat atas pertunanganmu, Agatha," ucapnya berlalu setelah menepuk pelan bahu wanita itu dan meninggalkan Agatha sendiri dalam diamnya.


.


.


.


Riexx1323.

__ADS_1


__ADS_2