Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Sandungan Yang Disingkirkan


__ADS_3

...Jangan pernah terlena oleh kesejukan angin yang berhembus tenang....


...Karena sejujurnya ada badai yang bersiap datang dari belakang....


.......


.......


.......


Pria berkacamata dan berambut pirang itu tampak sedikit berkeringat dingin setelah hampir 45 menit duduk di hadapan Agatha.


Dia tidak menyangka sang nona besar akan datang langsung secepat ini.


"Jadi Jeff, bagaimana kau akan menyelesaikan ini? Bukankah menurutmu ini terlalu lama, biasanya kau mampu melakukannya kurang dari 30 menit. Lalu ada apa lagi sekarang?" Agatha yang sejak tadi menunggu sudah tampak tidak sabar.


Pria di hadapannya itu sejak tadi sibuk di depan layar komputernya, berusaha melakukan tugasnya.


Selama merekrut pegawai Agatha tidak pernah salah. Semua yang lolos dari seleksinya adalah yang terbaik dari yang paling baik. Jeffrey adalah orang yang direkrutnya lima tahun yang lalu. Dia yang bertanggung jawab untuk pengamanan data base perusahaan dan selama ini tidak pernah ada masalah yang tidak bisa diselesaikan olehnya.


"Maaf, Nona. Serangan eksternal kali ini benar-benar tidak terduga sehingga akan butuh waktu lama dan saya tidak yakin bisa me-recovery semua data yang ada. Kita akan kehilangan banyak," jawabnya pelan.


"Kau yakin?"


"Ya nona, maafkan saya."


"Baiklah, mulai hari ini aku menonaktifkanmu dari jabatanmu sampai waktu yang tidak ditentukan," final Agatha dengan tenang.


"Nona! M—maksud anda saya di pecat?" pria bernama Jeffrey itu sekarang tampak panik sampai-sampai bangkit dari duduknya.


"Tidak. Aku bilang menonaktifkanmu, bukan memecatmu."


"Tapi nona Agatha—saya, saya tidak melakukan kesalahan, ini semua kecelakaan!"


"Kecelakaan kau bilang?" tanya Agatha dingin kemudian melemparkan sebuah diska lepas ke atas meja. "Serangan kerusakan dari ekstrenal kau bilang, Jeff? Aku sudah melihat sendiri apa yang terjadi. Penyusupan internal yang di sengaja. Sekarang kau bisa menjelaskan ini padaku?"


"D—darimana anda mendapatkan ini, Nona? Tidak mungkin—" gugup pria itu dan tampak semakin pucat.


"Apa yang tidak mungkin, Jeff? Kau tidak berpikir bahwa kau adalah satu-satunya orang terbaikku kan? Jika menurutmu begitu, maka kau salah besar. Kau bukan satu-satunya,"


"Nona, anda tidak bisa—"


"Apanya yang tidak bisa?" Agatha mencondongkan tubuhnya dan menatap lurus ke arah pria yang kini terlihat tak berdaya itu.

__ADS_1


"Aku bisa melakukan apa saja Jeff, dan aku selalu serius pada semua hal yang menjadi wewenangku. Apa yang kau laporkan padaku sama sekali berbeda dengan yang ada di dalam diska lepas ini. Jadi mau katakan apalagi?" suara Agatha begitu dingin dengan tensi yang membuat sakit kepala orang-orang yang ada dalam ruangan ini.


Joshua dan Christ hanya diam menyaksikan semuanya, keduanya tidak berani bersuara di tengah suasana yang mirip dengan ruang interogasi ini. Padahal niat Joshua memanggil sahabatnya tadi untuk datang kemari bukanlah seperti ini.


Sementara tatapan Agatha terus fokus dan terkunci pada pria pirang di hadapannya, Jeffrey sendiri sudah tampak seolah tak bernyawa, keringat dingin membasahi tubuhnya dan wajahnya pucat sementara terlihat dia sedang berusaha berpikir untuk bertahan.


"Maafkan aku, Nona..." ucap pria itu pada akhirnya memandang Agatha dengan tatapan memohonnya, namun tidak ada yang berubah dari ekspresi sang nona besar.


"Baiklah. Artinya kau menerima keputusan akhir dariku, dan kuingatkan sekali lagi agar kau lebih berhati-hati Jeff. Jangan memainkan trik apapun apalagi denganku," setelah mengucapkan itu Agatha beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan ruangan dengan sisa-sisa kehidupan dari pria bernama Jeffrey yang tampak menyesal dan tak berdaya itu.


Joshua dan Christ berjalan mengikuti Agatha keluar dan keduanya bersamaan menghembuskan napas lega begitu menutup pintu di belakang mereka.


"Aku terkejut."


"Ya, aku paham ini pertama kalinya kau melihatnya seperti itu. Percayalah, itu bukan yang paling buruk," sahut Joshua, "Aku selalu berdebar sekalipun sudah sangat sering melihatnya."


"Kau luar biasa Josh, kuharap dia tidak akan menampakan kepribadian itu di rumah," gurau Christ yang mendapat cengiran geli dari Joshua.


Sementara wanita yang mereka bicarakan sudah melangkah jauh di depan mereka tanpa menoleh lagi ke belakang.


.......


.......


.......


"Iya, kami harus ke rumah ibu. Kau tahu sendiri kan, profesi ibu sebagai dokter terbaik membuatnya jarang ada dirumah," jawabnya enteng seolah barusan tidak terjadi apa-apa sementara kedua pria di hadapannya masih beradaptasi dengan keadaan.


"Tidak mau makan siang bersama dulu?" tawar Joshua, yang kemudian menatap Christ meminta persetujuan.


"Terserah kalian," ucap Christ yang memang tidak mungkin untuk melarang.


"Baiklah, tapi aku ingin masakanmu Joshie."


"Agatha!"


Tersenyum lebar Agatha merangkul lengan Joshua, "Iya iya, aku hanya bercanda. Tapi aku serius rindu pada masakanmu."


Joshua tentu tidak enak dengan Christ karena bagaimanapun sahabatnya ini sudah bersuami sekarang dan sikapnya bisa di salah artikan.


"Agatha, jangan lagi begitu. Kau sudah bersuami dan dia ada di sini, bagaimana mungkin kau memelukku di depan Christ? Astaga, maafkan aku Christ."


"Dia tidak akan marah, iya kan?" Agatha menoleh pada suaminya itu yang kemudian tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Aku tidak akan bisa marah Josh, dan kau tidak perlu khawatir," pria itu tampak tidak bercanda dengan ucapannya, membuat Joshua bingung.


"Ayo kita pergi," Agatha menggandeng Joshua untuk keluar namun langkah kakinya terhenti setelah dua langkah.


"Kemarilah Christ, kau tidak mau pergi?" tanyanya sembari mengulurkan tangan kanannya pada suaminya.


Christ menyambut tangan itu dan menggenggamnya erat dan mulai berjalan bersama. Terlihat aneh memang, namun Agatha tidak peduli apalagi pada tatapan orang-orang. Sudah cukup suasana hatinya kesal sebelum ini, jadi sekarang dia ingin memperbaiki mood-nya.


.......


.......


.......


Restoran sederhana yang ada di Sevendials menjadi favorit Agatha dan mereka bertiga sudah ada di sana duduk menunggu hidangan.


"Aku tidak menyangka kau datang kesini," gumam Christ yang menatap jalanan di luar yang ramai terlihat dari jendela kaca.


"Sudah lama kita berdua tidak kemari. Kapan ya terakhir kali sepertinya dua tahun yang lalu," timpal Joshua yang menerawang mengingat kenangan mereka.


"Kalian sering kemari?" tanya Christ penasaran. Agatha yang dikenalnya tidak menyukai keramaian kan?


"Ya dulu, kami bertiga sering kemari bahkan hampir tiap hari."


"Bertiga? Dengan siapa lagi?"


Pertanyaan Christ seolah menyadarkan Joshua bahwa dia salah bicara dan kini tatapan menyesal itu diarahkannya pada Agatha yang balas menatapnya diam.


"Oh itu... ada satu lagi teman kami. Ehm... ngomong-ngomong kenapa lama ya makanannya keluar?" ucap Joshua berusaha mengalihkan pertanyaan. Dia sadar jika dilanjutkan akan membuat suasana hati Agatha memburuk.


Sementara Agatha tampak sedikit gelisah namun berusaha tampak biasa saja. Christ cukup menyadari suasana aneh yang muncul dari pertanyaannya. Tangannya kemudian terulur untuk menggenggam jemari lentik istrinya dan tersenyum seolah menenangkan.


"Aku suka suasana di sini, nanti sering-sering kemari bersamaku ya?" ucapnya membuat Agatha terkejut tak menyangka sebelum akhirnya mengangguk.


Melihat itu Joshua merasa lega dan menyesali kebodohan mulutnya. Benar dulu dia dan Agatha memang sering kemari berdua namun jauh sebelum itu selalu ada Mikael yang ikut sebelum pemuda itu meninggalkan dunia di belakangnya untuk selamanya.


.


.


.


Riexx1323.

__ADS_1


__ADS_2