
...Kuharap kebahagiaan yang datang bukan hanya ilusi yang dalam sekejap mata akan menghilang. Kuharap ini bertahan untuk selamanya....
...Bukankah kebahagiaan adalah buah dari kesabaran?...
.......
.......
.......
Christ terbangun oleh cahaya mentari yang menyeruak dari balik jendela kaca yang gordennya sudah terbuka lebar. Matanya menatap sekeliling mencari jejak istrinya namun tidak ada.
Apakah yang semalam hanya mimpinya?
Memikirkan itu membuat perasaannya kembali kecewa. Beranjak turun dari tempat tidur dia berniat membuat kopi untuk menjernihkan isi kepalanya. Namun lagi-lagi dia dikejutkan dengan keberadaan istrinya itu di dapur.
"Agatha."
"Hey, selamat pagi," istrinya itu menoleh dan tersenyum padanya, tangannya menyodorkan segelas kopi yang diterimanya dengan perasaan hangat.
"Tidak biasanya aku melihatmu di dapur, tidak ke kantor?" langkahnya mendekat untuk melihat apa yang sedang dilakukan Agatha. "Sedang membuat apa?"
"Mau membuat sarapan pagi pengganti makan malam kita yang batal," Agatha memang sudah menyiapkan banyak bahan meskipun semua itu belum disentuh olehnya.
"Mau memasak apa?"
"Aku tidak tahu. Masih memikirkannya dan aku tidak punya ide untuk itu," berbalik untuk menghadap ke arah suaminya, Agatha menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Apa sebaiknya kita makan di luar saja? Memasak tidak cocok untukku," putusnya menyerah.
"Akan lebih istimewa jika kau yang memasak untukku, Sunshine."
"Tapi kau tahu aku tidak pernah memasak sama sekali. Memang sebaiknya kita keluar sekarang, aku lapar," Agatha baru melangkahkan kakinya ketika lengannya ditahan oleh Christ yang sejurus kemudian memeluknya.
"Apa lagi?"
"Kenapa dalam semalam kau berubah menjadi seperti ini, aku menyukainya," bisik Christ yang kini menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.
"Seperti yang kukatakan semalam, aku hanya mencoba menjadi lebih baik," dan dalam suara yang ketus itu Christ menangkap kegugupan di dalamnya.
Dia tahu hal seperti ini tidak mudah bagi istrinya yang selalu membatasi diri dari orang lain.
"Kita tidak usah makan di luar."
"Lalu? Aku lapar, Christ."
"Baiklah, kita akan memasak bersama," Christ melepaskan pelukannya dan memandang istrinya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
"Apa?"
"Kau lupa kalau suamimu ini jago memasak? Kau meremehkanku?"
"Ah, aku lupa," Agatha mengedipkan mata beberapa kali karena dia benar-benar tidak ingat.
__ADS_1
Selama satu tahun hidup bersama mereka memang tidak pernah menggunakan dapur untuk memasak secara pribadi kecuali untuk membuat minuman. Ada bibi dari mansion utama yang bertugas memasak dan membersihkan rumah setiap hari, dan khusus hari ini Agatha meliburkan tugas si bibi. Tujuannya untuk membuat sarapan gagal sudah, harusnya dia sadar pada kemampuannya yang nol besar dalam hal dapur.
"Baiklah, kalau begitu masaklah untukku," ucapnya melepaskan lengan Christ yang melingkar di pinggangnya, kemudian berjalan keluar dapur.
"Aku bilang kita yang memasak bukan aku, Sunshine. Kenapa kau pergi?" tuntutnya pada sang istri.
"Aku mau mandi. Nanti kubantu," jawab Agatha yang sekarang sudah menghilang dari pandangan Christ.
Dan seperti yang kalian tahu betapa tergila-gilanya Christ pada Agatha, kini pria itu justru menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum lebar. Baginya sikap Agatha sangat menggemaskan.
Mungkin sebaiknya kita harus memeriksakan kesehatan pria ini, karena level kecintaannya pada Agatha patut dipertanyakan.
.......
.......
.......
Keduanya kini duduk berhadapan dengan semangkuk sup jamur yang sudah nyaris habis. Pada akhirnya mereka atau lebih tepatnya Christ memasak menu sarapan biasa yang mudah dan cepat dibuat karena istrinya itu terus menerus menggerutu karena lapar.
Lagi-lagi ada sikap Agatha yang berubah dari ketus dan dingin menjadi ketus yang sedikit biasa, pokoknya begitulah. Sekalipun Agatha bisa bersikap lebih manis kepada Joshua, tapi untuk saat ini Christ cukup puas dengan itu.
Dia sadar kedekatannya tidak bisa dibandingkan dengan Joshua.
"Tidak bersiap ke kantor?" tanya Christ yang melihat istrinya itu masih santai dan belum bersiap.
"Tidak untuk hari ini, aku sudah katakan pada Joshua untuk menjadwalkan ulang beberapa meeting," jawab Agatha ringan kemudian menambahkan, "Ibu menghubungiku kemarin dan meminta kita untuk kesana."
"Kenapa ibu tidak menghubungiku? Tidak biasanya."
Sungguh pemandangan di mana wanita ini sibuk di dapur merupakan hal yang langka.
Getar ponsel di atas meja yang menandakan panggilan masuk di ponsel Agatha mengalihkan perhatian keduanya. Agatha menyahut ponselnya cepat sebelum menjawabnya dengan senyuman.
"Hey Babe, do you miss me? Ada apa?" suaranya mengalun menggoda membuat Christ mau tidak mau kini memfokuskan pandangannya pada sosok sang istrinya, siapa lagi yang di panggil istrinya begitu selain Joshua? Dirinya sendiripun tidak pernah mendapatkan panggilan istimewa itu.
"Seperti yang kukatakan kemarin padamu, aku sepertinya tidak akan ke kantor hari ini. Aku dan Christ akan pergi kerumah ibu."
'.....'
"Bukankah Gabriel sudah menanganinya, kau sendiri tahu peraturannya kan."
'.....'
"Akan kutunggu hari ini sampai pukul dua siang. Jika dia tidak bisa melakukannya sesuai perintah, aku sendiri yang akan membuat pekerjaannya berakhir," suara itu terdengar tegas dan dingin, Agatha saat bekerja selalu berkali lipat menyeramkan sekaligus mengesankan.
Menutup panggilan ponselnya dengan raut wajah yang serius, Agatha menatap Christ.
"Sepertinya nanti siang aku harus kembali ke kantor."
"Ada apa?"
"Terjadi kerusakan pada database perusahaan yang beberapa waktu lalu sudah ditangani oleh Gabriel namun sekarang kerusakannya semakin parah dan berpotensi menghilangkan banyak data."
__ADS_1
"Tidak ada salinannya?"
"Ada, tapi kepala divisi menolak memberikannya dengan alasan pemindaian ulang."
"Mungkin memang harus melakukan pemindaian, kenapa tidak menunggu saja?"
"Aku tahu benar tidak ada yang perlu dipindai dalam data itu Christ. Aku tidak mempekerjakan satu orang dalam satu perusahaan. Ada yang tidak benar dalam proses kali ini dan sepertinya aku harus melihatnya secara langsung."
Christ menghela napasnya dan memandang kagum pada istrinya itu, sikap Agatha dalam bekerja kurang lebih sama sepertinya. Tidak suka sesuatu yang gagal, sia-sia dan semua harus berjalan dengan sempurna.
"Mau kutemani?" tawarnya dengan senang hati karena dia sendiri mengajukan cuti dua hari pada Arthur.
"Kau tidak berusaha mencuri informasi apapun dari perusahaanku kan?" balas Agatha yang membuat suaminya itu kini menatapnya tak percaya.
"Agatha, astagaa! Aku ini suamimu dan kau berpikir begitu padaku?"
"Yah, sekalipun kita suami istri tapi perusahaan kita masing-masing kan. Tidak ada salahnya aku curiga sedikit," kemudian tanpa peduli pada suaminya yang masih terkejut akan sikapnya, wanita itu melenggang pergi ke kamar.
"Aku tidak percaya dia sempat memikirkan untuk curiga padaku, kenapa menggemaskan begitu?" gumam pria itu kemudian mengekori istrinya ke kamar untuk bersiap.
.......
.......
.......
"Kau sudah menjalankan perintahku?" suara seseorang di balik telepon itu terdengar antusias.
"Sudah. Tapi sepertinya ini tidak akan mudah."
"Tidak apa-apa, ini hanya permulaan kecil. Aku akan menunjukkan beberapa pertunjukkan lagi untuk membuatnya menarik."
"Baik Nona, apakah artinya tugasku selesai?"
"Ya, tugasmu berakhir. Aku sudah membayar sejumlah uang padamu. Ingat, tidak boleh ada jejak apapun yang mengarah padamu ataupun padaku."
"Baik, Nona."
Menutup sambungan teleponnya, wanita itu tersenyum puas. Dia akan memulai sedikit demi sedikit pertunjukan untuk kekasih hati dan pasangannya. Dia sendiri tidak bertujuan besar hanya saja ingin membuat mereka merasakan rasa malu dan sakit hatinya saja.
"Kalian berdua adalah orang yang mengkhianatiku. Mari kita lihat apakah kalian berdua bisa menghadapi badai yang akan kubuat," tangannya meraih potret dua orang yang sedang tersenyum.
"Untukmu Christ, aku masih sakit hati dengan caramu meninggalkanku seolah aku ini bukan apa-apa. Kaupikir semua yang kulakukan untukmu itu apa? Kau harus membalasnya kan?" kemudian pandangan matanya beralih kepada potret si wanita.
"Agatha Anderson, aku membencimu meskipun kau tidak menyadarinya. Kau juga pasti tidak mengenalku kan? Tapi tidak apa-apa karena sebentar lagi kita akan sering bertemu."
Neona tersenyum lebar lalu bangkit dari duduknya, menatap kesibukan kota Manhattan dari jendela kaca tempatnya berada sekarang.
.
.
.
__ADS_1
Riexx1323.