
...Pernahkah dalam hidup ini kau bertanya apakah takdir selalu berpihak padamu, atau justru berpaling memusuhimu?...
...Untaian benang kusut yang kembali saling melilit ketika aku baru berusaha mengurainya....
.......
.......
.......
Christ tergesa mengendarai mobilnya begitu turun dari pesawat dan melesat menuju apartemennya.
Beberapa jam lalu sebelum landas, Christ sempat mengirimkan pesan kepada istrinya untuk mengabarkan kepulangannya.
....
Sunshine, kau masih ada di kantor?
^^^Iya.^^^
^^^Pekerjaanmu sudah selesai?^^^
Ya, tapi aku ketinggalan penerbangan.
^^^Kalau begitu tidak jadi kembali?^^^
Jadi.
Arthur sudah menanganinya dan aku sangat lega.
^^^Padahal kembali di hari besok^^^
^^^juga tidak masalah.^^^
^^^Jangan membuat dirimu lelah.^^^
(Benar kan, istrinya itu lupa dengan anniversary mereka)
Tapi aku mau pulang sekarang.
Sudah rindu padamu.
^^^Kenapa selalu mengatakan hal menggelikan seperti itu?^^^
Sunshine...
Kau tidak rindu padaku?
^^^Tidak,^^^
^^^kau biasa meninggalkanku untuk bekerja kan.^^^
Agatha...
^^^Hhh,^^^
^^^Baiklah... cepat pulang.^^^
Tunggu aku kembali,
Aku ingin kita makan malam bersama.
^^^Baiklah.^^^
^^^Sampai nanti.^^^
....
Mengingat pesan yang saling mereka kirimkan tadi membuat hatinya serasa penuh dengan kupu-kupu.
Tapi sekarang sudah pukul 23.13 dan itu sudah terlalu malam untuk mengajak istrinya itu makan malam.
Kepalanya menoleh kesamping dimana sebuket mawar putih yang sudah disiapkannya untuk Agatha.
Kenapa jadi berantakan seperti ini?
Begitu sampai dan turun dari mobil, langkahnya tergesa setengah berlari menaiki lift menuju lantai teratas tempat tinggalnya.
Kedua tangannya penuh dengan sebuket bunga di tangan kanan dan sekotak kue ditangan kiri. Dengan susah payah dibukanya password pada pintunya.
__ADS_1
Lampu yang sudah dimatikan menandakan istrinya itu mungkin sudah tidur. Tentu saja sekarang hari sudah akan berganti dan Christ merasa kacau, dia sudah berusaha tapi keadaan tidak mengijinkannya sampai tepat waktu.
Memasuki kamarnya yang temaram dilihatnya Agatha berbaring menyamping seperti biasanya. Sepertinya istrinya itu benar-benar sudah tidur. Langkahnya perlahan mendekat, meletakkan kotak kue dan buket bunganya diatas nakas, mendudukkan dirinya di samping istrinya yang berbaring memunggunginya.
Christ menggeser tubuhnya lebih dekat, mengintip wajah cantik istrinya dari balik bahu wanita itu.
"Happy anniversary, Sunshine. Sorry for coming late on our special day. I love you, Agatha," bisiknya pelan di telinga Agatha.
Kekecewaan di hatinya terasa semakin dalam karena dia merasa gagal menjadikan hari ini spesial bagi mereka.
Mungkin,
Agatha tidak menganggap ini sesuatu yang istimewa, tapi baginya ini adalah hari yang sangat dinantikannya.
Dengan perasaan yang masih berantakan Christ berniat membersihkan dirinya sebelum tidur, sampai gerakan pelan Agatha membuatnya berhenti.
"Christ?"
"Hey, Sunshine. Apa aku membangunkanmu?" tanyanya pelan dengan seulas senyum samar.
"Kau sudah pulang, pukul berapa sekarang?" gumam Agatha yang berbalik menghadap suaminya itu dengan setengah mengantuk.
"Sekarang pukul 1 dini hari," jawabnya ragu,
"Agatha, hmm tidur saja lagi. Maaf membuatmu terbangun," padahal dia ingin sekali mengucapkan 'happy anniversary' secara langsung pada Agatha tapi tiba-tiba saja lidahnya terasa kelu.
Tidak mengatakan apapun lagi kemudian Agatha kembali memejamkan matanya, tampaknya wanita itu benar-benar setengah sadar menanggapi kepulangan suaminya.
Menghela napas pelan dan berusaha untuk tidak merasa emosional dengan semua yang terjadi hari ini, Christ melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Mungkin guyuran hangat air shower bisa meredakan semua rasa kesal dan kecewanya.
Apakah sikapnya ini terlalu berlebihan?
Mungkin iya.
Sebagai pria yang mencintai dalam hitungan waktu yang tidak sebentar, memperjuangkan cintanya untuk hati yang tak bisa mencintai, mengusahakan sikap hangat meskipun selalu mendapatkan balasan yang dingin tapi dia tidak pernah mau menyerah. Jika kalian bertanya apakah dia kecewa maka jawabannya adalah iya. Kadang dia merasa semua hal yang dilakukannya mungkin sia-sia karena hingga detik ini istrinya itu belum bisa membalas perasaannya.
Sikap baik Agatha padanya hanyalah bentuk terimakasih, kesopanan dan kewajiban dan sebatas menjalankan tugasnya sebagai istri.
Bukannya meredakan emosinya, guyuran air shower justru membawanya pada potongan kisah cintanya yang panjang dan tidak berujung. Juga tentang rasa sakit masa lalu yang ingin dilupakannya.
Christ masih akan mencintai Agatha meskipun seringkali dia melihat istrinya itu tengah menatap sendu lembaran-lembaran dari catatan kusam yang selalu dibawa oleh Agatha kemanapun dia pergi.
Jika Agatha bisa mencintai tanpa henti maka diapun bisa melakukan hal yang sama.
Bahkan setelah kematianmu pun aku harus bersaing dengan kenanganmu...?
Ya...
Christ mengenal pemuda tunawicara itu.
Dia mengenal cinta pertama yang sampai sekarang masih menjadi cinta di hati istrinya itu. Orang yang tak akan pernah bisa dia kalahkan.
Bagaimana mengalahkan orang yang sudah mati?
Akan lebih mudah jika bersaing melawan orang hidup.
Dia bisa menggunakan usaha, kekayaan ataupun kekuatannya untuk bersaing melawan.
Namun orang itu sudah mati.
Bahkan jika dia berjuang mengerahkan segala yang dia milikipun tidak akan bisa sebanding dengan semua kenangan Mikael pada Agatha.
Sial.
Kenapa dia harus merasakan ini dihari yang seharusnya membuatnya bahagia?
Anniversary yang berantakan.
Dan rasa kecewa datang bersama kecemburuan dari masa lalu.
Matanya perih sekarang, dan bersama derasnya air yang membasahi tubuhnya, kristal bening dari sudut matanya ikut luruh mengalir.
Dia bukanlah baja kuat yang bisa menjadi perisai terbaik bagi seseorang
Namun dia berusaha menjadi tembok benteng yang kuat untuk melindungi tidak hanya satu orang namun semua hal yang dicintainya.
Dan sekuat apapun dia berusaha tegak berdiri menantang dunia
Dia tetaplah seorang manusia
__ADS_1
Seorang pria yang di ujung rasa kecewanya bisa terluka
Bisa kecewa
Bisa bersedih
Dan menangis
.
.
.
Setelah hampir satu jam berada di kamar mandi dengan segala kerumitan di kepala dan hatinya, Christ merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Menatap punggung istrinya dan bahunya yang naik turun seirama dengan deru napas halus tidurnya. Diam-diam menghela napas panjang berulang kali mencoba menetralkan segala perasaannya.
Ada baiknya dia segera tidur dan mengenyahkan seluruh rasa overthinking-nya.
Dia terlalu lelah hari ini.
Baru dua detik memejamkan mata, dia dikejutkan oleh gerakan pelan tiba-tiba di sampingnya dan lengan yang melingkari pinggangnya lembut.
"A–gatha?" bisiknya pelan dan ragu.
Kaget tentu saja. Ini adalah pertama kalinya Agatha memeluknya selama mereka tidur bersama.
Selama ini istrinya itu selalu tidur dengan posisi menyamping membelakanginya dan tidak pernah sekalipun balas memeluknya.
Selalu Christ yang memeluk Agatha dari belakang. Selalu Christ yang menyandarkan kepalanya di bahu Agatha, selalu Christ yang memulai mencium Agatha meski tidak pernah sekalipun istrinya itu membalas perlakuannya. Agatha hanya menerima semua yang dilakukannya tanpa menolak ataupun membalas. Hanya formalitas dari salah satu tugasnya sebagai istri.
Christ masih membeku tak bergerak sampai istrinya itu bersuara,
"Aku hampir mengira kau pingsan di kamar mandi. Kenapa lama sekali," gumam wanita itu parau masih dengan mata yang terpejam.
"Agatha, kau masih terbangun? Ada apa?" Christ yang masih tidak menyangka mendadak gugup dan tidak tahu harus bagaimana.
"Hm, aku menunggumu."
Apalagi ini?
Ada apa dengan Agatha kali ini?
Christ yakin istrinya itu tidak sedang menggigau.
"Agatha—"
"Happy anniversary, Christ. Sekalipun sekarang sudah lewat satu hari," ucap Agatha dengan suara seraknya dan masih dengan mata yang terpejam.
"Agatha?"
Wanita itu kemudian membuka matanya perlahan, mendongakkan kepalanya agar bisa menatap wajah Christ.
"Kenapa kau berekspresi begitu?"
"Aku hanya terkejut, kupikir kau sama sekali tidak mengingatnya," jawabnya jujur, dan dia merasakan lengan Agatha yang melingkar di pinggangnya mengerat. Perlahan tangannya menyentuh lengan ramping itu.
"Agatha kau tidak apa-apa kan? Maksudku–kenapa tiba-tiba memelukku seperti ini?"
"Cause this is our anniversary. Thank you for being nice to me and always trying to make me happy, I really appreciate it," Agatha menatap suaminya yang masih tak bisa berkata-kata, mendorong tubuhnya lebih dekat dan mengecup sekilas bibir Christ membuat si empunya semakin terkejut.
"I think I should repay all your efforts from now on..."
Kembali merebahkan tubuhnya yang masih sangat mengantuk, kali ini Agatha menyandarkan kepalanya pada dada bidang Christ, mengeratkan pelukannya dan menyamankan posisinya.
Christ tidak bisa mengatakan apa-apa, dia masih berpikir ini adalah mimpi.
Benarkah ini Agatha?
Kenapa tiba-tiba...
"Sebaiknya kau berhenti berekspesi terkejut seperti itu. Cepatlah tidur," gumam Agatha teredam. "Jantungmu bisa lepas jika terus berdetak sekencang itu," gumamnya kemudian yang justru membuat wajah Christ serasa terbakar malu.
Ragu dan tidak percaya akhirnya kedua lengan kokoh itu mendekap erat tubuh ramping Agatha, mengeratkan pelukannya seolah memastikan bahwa ini bukan hanya ilusinya saja. Karena sungguh hal seperti ini adalah pencapaian yang besar dari kesabaran dan ketulusannya selama ini. Christ bahagia dan merasa bahwa kesialanya seharian kemarin sudah terbayarkan.
"Terimakasih, aku mencintaimu Agatha. Aku mencintaimu," bisiknya berulang kali penuh haru dan memeluk istrinya itu seolah tidak ada hari esok untuk mereka.
.
.
__ADS_1
.
Riexx1323.