Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Ingatan Masa Lalu


__ADS_3

...Jangan pernah datang jika kau berniat pergi. ...


...-Agatha-...


.......


.......


.......


Senyum yang ada di bibirnya tak henti berkembang sejak tadi. Hanya dengan bertemu dan menyapa beberapa pasien 'istimewanya' Agatha merasa bahagia.


Bahkan dia bisa lupa tentang semua kesibukannya jika sudah berada di tempat ini. Senna Rod adalah salah satu tempat favoritnya selain rumah panti sosial madam Anna.


Di rumah panti Agatha bisa bertemu banyak anak kecil dan juga beberapa anak penyandang disabilitas maka di Senna Rod adalah sebaliknya.


Tidak semua anak di rumah panti madam Anna penyandang disabilitas. Hanya ada beberapa anak difabel sementara yang lain tidak. Sementara di Senna Rod lebih banyak pasien difabel dewasa daripada anak-anak.


Dulu saat pertama kali datang ke rumah panti, Agatha selalu berpikir bagaimana dunia bekerja dengan kejam karena membiarkan anak-anak seperti mereka terlantar.


Mungkin banyak anak di sana yang ditinggalkan orangtuanya begitu saja sampai di depan panti atau ditemukan madam Anna di tempat lain di pinggir jalan hingga dibawanya pulang.


Sejauh yang Agatha tahu, madam Anna adalah seorang wanita berhati malaikat yang mungkin sengaja dikirim Tuhan untuk mengurus anak-anak tidak beruntung ini. Wanita yang tidak keberatan mengambil tanggungjawab sebagai orangtua untuk anak-anak ini.


Dan yang membuat Agatha sangat tersentuh adalah madam Anna yang juga merawat anak-anak difabel dan berkebutuhan khusus yang telah ditinggalkan begitu saja oleh keluarga mereka hanya karena mereka 'berbeda'. Saat orang lain memandang sebelah mata maka madam Anna justru merentangkan kedua lengannya untuk merangkul mereka.


Agatha memang selalu hidup dalam kecukupan yang berlimpah namun bukan berarti dia tidak peduli dengan lingkungan sosial di sekitarnya.


Setiap orang memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam menjalani kehidupan yang baik, terlepas apapun keadaan mereka. Hak untuk kehidupan yang layak baik itu sudah tersedia atau harus diusahakan. Tidak terkecuali anak-anak ini karena meskipun mereka berbeda tapi mereka juga makhluk sosial yang berhak mendapatkan perlakuan sama.


Madam Anna mengajarkan anak-anaknya untuk peduli dan berlaku adil terhadap anak-anaknya yang berbeda dan Agatha kagum karena semua itu terlihat harmonis.


Tidak ada perbedaan.


Dan semua ini hadir dalam hidup Agatha karena seseorang. Sosok istimewa yang mengajarkan padanya tentang keseimbangan dan keadilan dalam hidup. Seseorang yang mengajarkan banyak hal dalam kekurangannya namun justru itu menjadikannya sempurna.


.......


.......


.......


Agatha tersenyum setiap bayangan itu muncul di kepalanya, rasanya seperti waktu yang tidak berlalu. Seperti baru hari kemarin.


Sosok itu bernama Mikael.


Seorang pemuda tuna wicara yang dikenal Agatha karena kecelakaan kecil, yang kemudian membuat Agatha bersyukur seumur hidup karena dipertemukan dengan Mikael.

__ADS_1


Dulu pernah sekali Agatha kabur dari penjagaan ayahnya dan berangkat ke kampus menaiki kereta umum alih-alih di antar sopir. Itu menjadi pengalaman pertamanya menaiki kendaraan umum dan untung saja Agatha tidak terlalu bodoh untuk tahu apa saja yang harus dilakukan untuk naik kereta.


Namun saat kereta itu akhirnya berhenti di stasiun, Agatha sudah ditunggu beberapa penjaga yang dikirim oleh ayahnya yang anehnya tahu dia ada di kereta ini. Tidak mau menjadi tontonan umum dengan dirinya yang dibawa oleh pria bersetelan jas hitam, Agatha menyelinap diam-diam di antara kerumunan orang berusaha menjauhi penjaga yang menunggu di setiap pintu keluar kereta.


Flashback.


Oxford 20xx


Cukup sulit untuk lolos dari pantauan para penjaga karena tepat lima langkah Agatha berhasil keluar dari kereta, para penjaga itu melihatnya dan mulai berjalan ke arahnya.


Agatha yang panik menerobos kerumunan orang dan segera berlari sejauh mungkin dari para penjaga. Agatha berlari sekuat tenaga mengabaikan protes orang-orang yang ditabraknya. Dia benci ayahnya di saaf seperti ini, dia hanya ingin merasakan hidup biasa seperti orang lain tapi selalu ditentang oleh ayahnya.


Setelah lima belas menit berlari menghindar, Agatha berhenti di sebuah gang sempit di antara pertokoan hanya untuk mengambil napasnya yang pendek-pendek sehabis berlari. Dia berniat menghubungi sahabatnya namun urung ketika menyadari ponselnya tidak ada di dalam tasnya begitu juga dengan jurnalnya.


Sejak kapan tasnya terbuka?


Apa dia baru saja kecopetan?


Sialan.


Agatha baru berniat untuk mengumpat ketika bahunya ditepuk pelan oleh seseorang yang membuatnya terlonjak.


Sial, dia akhirnya tertangkap.


Saat membalikkan badan Agatha justru terkejut karena bukan penjaga dari ayahnya yang menemukannya tapi seorang laki-laki dengan obsidian cerulean tengah menatapnya dengan sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya.


"Maaf, tapi apa kau mengatakan sesuatu? Aku tidak mengerti."


Kemudian laki-laki itu merogoh tasnya meraih sebuah notes kecil, dan tangan kirinya kini sibuk menuliskan sesuatu.


'Maaf membuatmu terkejut, aku tidak bermaksud jahat. Dan maaf karena aku tidak bisa bicara.'


Setelah menunjukkan catatan itu pada Agatha, laki-laki itu kembali menuliskan sesuatu.


'Tadi aku sedang berada di jalan bawah tanah stasiun, kupikir kau menjatuhkan sesuatu saat menabrakku dan berlari. Apa ini milikmu?'


Kemudian laki-laki itu merogoh tasnya lagi, kali ini dia menyodorkan sebuah jurnal dan juga sebuah ponsel pada Agatha.


"Oh! Itu milikku!" Agatha menatap kedua benda yang disodorkan laki-laki itu padanya, "Kau mengikutiku untuk mengembalikan ini?"


Laki-laki itu kembali menulis, 'Iya.'


Agatha sempat sedikit tercengang, kenapa laki-laki ini mau repot-repot membuntutinya?


"Terimakasih," ucapnya sopan yang dibalas dengan sebuah anggukan dan senyum kecil yang terlihat ramah bagi Agatha.


'Sepertinya tas mu tadi terbuka saat kau berlari. Lain kali hati-hati ya.'

__ADS_1


Laki-laki itu menatapnya sebelum melangkah pergi tepat saat manik coklat Agatha melihat para penjaga ayahnya berdiri dengan jarak tujuh meter dari tempat laki-laki itu berdiri. Seketika Agatha berlari menjauh dengan panik karena para penjaga itu melihatnya dan menyusulnya.


Agatha berlari sekencang mungkin sampai halaman universitasnya terlihat dan dia tampak begitu lega seperti seorang pelari yang mencapai garis finish.


Dia berjanji dalam hati akan mengamuk nanti saat sampai di rumah.


Agatha berbelok ke arah taman di samping gedung departemen bisnis, berniat untuk beristirahat sebentar. Benar-benar hari yang seru tapi menyebalkan.


Napasnya menderu dengan detak jantung yang berdebar kencang, sebuah senyum tersungging di bibirnya. Joshua pasti akan marah-marah jika mengetahui ceritanya ini, pasti dia akan mengomeli perbuatannya.


Agatha baru akan beranjak ketika sebuah langkah tergesa berhenti di sampingnya, dan lagi-lagi Agatha mendapati laki-laki yang ditemuinya tadi sedang terengah-engah mengatur napas di sampingnya.


"Oh, kau? Sedang apa disini, kau mengikutiku?" tanyanya heran.


Laki-laki itu kembali menggerakkan tangannya dan setelah beberapa saat menyadari sesuatu dan kembali mengambil catatannya.


'Kupikir kau sedang dalam bahaya karena dikejar oleh pria-pria bersetelan hitam tadi. Jadi aku mengikutimu. Kau tidak apa-apa?'


Laki-laki itu masih berusaha mengatur napasnya, rambutnya tampak sedikit kacau karena hembusan angin ketika berlari. Tapi anehnya Agatha justru merasa itu lucu dan tanpa sadar menyunggingkan segaris senyum tipis.


"Aku tidak apa-apa sekarang. Mereka tidak akan mengikutiku kemari. Kenapa kau sampai mengikutiku?"


'Aku hanya khawatir.'


Dan jawaban itu membuat Agatha terdiam.


Kenapa laki-laki ini khawatir padanya?


Dia bahkan repot-repot mengikutinya hanya untuk mengembalikan barang miliknya.


Di lihat dari sosoknya yang tuna wicara bukankah seharusnya laki-laki di hadapannya ini lebih memilih mengabaikannya?


Kenapa justru berbuat baik saat kemungkinan dia sendiri bisa mendapat perlakuan tidak baik?


Orang lain pasti akan lebih memilih tidak peduli.


Agatha masih terdiam saat laki-laki itu mengangguk kecil padanya dan berjalan pergi. Namun manik coklatnya menangkap sesuatu, sebuah pin dengan logo medical department dari universitasnya tersemat di ransel laki-laki itu.


Dia mahasiswa kedokteran disini?


.


.


.


Riexx1323.

__ADS_1


__ADS_2