
Karena kesempatan dan keberuntungan tidak datang bersamaan kedua kalinya.
.
.
.
Joshua menatap wanita di hadapannya yang sejak tadi bersungut-sungut kesal dalam gulungan selimut di sofa. Sesekali wanita itu akan menyesap batang rokoknya entah yang ke berapa. Penampilannya tetap cantik meski rambutnya berantakan dengan kemeja hitamnya yang kebesaran.
Menghela napasnya, Joshua meraih batang rokok dari jemari indah itu kemudian mematikannya paksa. Dia sudah menahan diri sejak satu jam yang lalu, membiarkan wanita ini sekali saja–pikirnya namun justru tidak ada habisnya.
"Kembalikan, Josh," ucapnya serak berusaha mengambil sebatang yang baru namun tangan Joshua sudah lebih dulu mengamankan benda itu dari jangkauannya.
"Berhenti Agatha. Sudah berapa batang yang kau habiskan?"
"Baru lima batang, kemarikan itu padaku."
Joshua berdiri dan menyimpan kotak rokok itu di saku belakangnya, membuat Agatha mau tidak mau kembali menghempaskan tubuhnya bergelung di sofa.
Semalam setelah dia pulang bersama Christopher Winston, Agatha melarikan diri ke apartemen Joshua di tengah malam, dia tidak sanggup menanggung isi kepalanya sendirian.
Dan setelah drama marah-marahnya yang tidak jelas dan berujung membuat Joshua sakit kepala, akhirnya dia mengatakan tentang keputusan yang di buatnya juga kerjasamanya dengan Winston.
"Jika kau menyesalinya sekarang sudah terlambat. Harusnya kau berpikir lebih tenang sebelum mengambil keputusan," ujar Joshua yang menyodorkan segelas jus jeruk pada Agatha.
"Kau sendiri yang memaksaku untuk segera mengambil keputusan. Dan sekarang kau cuci tangan?"
"Well, aku hanya menyarankan agar kau melakukannya segera tidak memaksa. Bukan masalah jika menerima lamaran tuan Winston. Kenapa kau bersikap seolah ini akhir dari dunia?"
"Akhir dari duniaku. Kau tahu benar jika aku membenci hubungan seperti ini."
Joshua duduk di samping Agatha yang kemudian merubah posisinya dan bersandar pada Joshua. Wajahnya masih saja cemberut dan kesal.
"Tidakkah kau berpikir ini adalah jalan yang benar agar kau memulai kembali hidupmu, Agatha?"
"Memangnya hidupku kenapa?"
Mendengar itu Joshua memutar bola matanya, kadang Agatha bisa sangat polos saat mulai membicarakan ini.
"Kau tahu maksudku Agatha, dengarkan aku," Joshua meraih wajah Agatha dan mendongakkan wajah cantik itu menatapnya, "Aku sangat berharap kau bisa menjadi Agatha yang dulu, mendapatkan kembali cinta dalam dirimu, aku tahu kau berusaha tampak baik-baik saja tapi aku bisa melihatnya, kau merasa kesepian."
Tidak ada ekspresi apapun dari Agatha saat Joshua mengatakannya, namun matanya tidak lagi mau menatap manik hitam Joshua.
"Aku tidak kesepian, ada kau di sisiku."
"Aku tahu, dan aku akan selalu ada disisimu Agatha. Tapi bukan aku yang kau butuhkan, kau membutuhkan cinta yang sesungguhnya. Cinta seperti'nya' dulu."
__ADS_1
Agatha melepaskan tangan Joshua dari pipinya, kemudian memilih untuk memeluk pria itu. Menyembunyikan ekspresi wajahnya dalam dekapan Joshua.
"Aku merindukannya."
"Aku tahu," bisik Joshua pada Agatha yang kini sepenuhnya membenamkan wajah pada dada bidangnya, "Jika dia ada sini, pasti dia ingin kau juga merasa bahagia. Dia tidak akan ingin melihatmu seperti ini."
Joshua menyisirkan jemarinya pada surai lembut Agatha, melakukannya seperti sedang menidurkan anak kecil. Sementara Agatha diam tanpa suara.
"Aku tidak mau memaksamu, karena akhirnya kau yang akan menjalani itu nanti. Tapi aku mengharapkan segala hal terbaik untukmu, dan aku tidak akan membiarkanmu mengambil keputusan yang salah. Aku yakin kehadiran tuan Winston bukanlah kebetulan, dia bukan pria sembarangan. Gabriel dan aku sudah memastikannya dan kau pada percaya kami kan?" tanyanya lembut, dia memang sudah menyelidiki Christopher Winston dan hasilnya pria itu memiliki riwayat bersih.
Gabriel sendiri mengatakan bahwa keluarga Winston adalah salah satu keluarga terbaik yang cukup pantas berdampingan dengan keluarga Anderson. Menurut Gabriel, Arthur adalah sahabatnya yang paling baik selama mereka mengenal satu sama lain.
Dan karena ucapan Gabriel itulah, Joshua yakin Christopher Winston adalah pria yang tepat untuk sahabatnya ini.
.
.
.
Awal pekan itu orang-orang dari MediCe resmi berpindah laboratorium ke salah satu milik Hellig. Cukup cepat mengingat baru dua hari kesepakatan itu secara resmi ditandatangani oleh kedua belah pihak dari Hellig dan MediCe. Tentu saja Agatha dan Winston hadir pada saat itu.
Namun yang menyebalkan adalah secara terang-terangan Christopher memperkenalkan dirinya sebagai tunangan Agatha pada para petinggi direksi yang tentu membuat semua orang heboh. Wanita yang selama ini mereka gosipkan dengan asisten pribadinya tiba-tiba datang membawa kerjasama di saat genting dengan tunangannya.
Dan yang lebih menyebalkan adalah reaksi Ayahnya juga Gabriel yang langsung menyambut undangan pemberitahuan Christopher untuk pertemuan keluarga dengan tangan terbuka. Mereka bersikap seperti baru saja mendapatkan warisan keajaiban dunia. Sementara yang bersangkutan hanya diam menelan kekesalan dan melampiaskannya diam-diam pada Joshua.
"Jadi besok kenapa aku harus datang pada acara keluarga kalian?" tanya Joshua ketika Agatha memaksanya ikut pada makan malam besok.
"Tapi sepertinya dia akan segera memiliki pawang yang baru, Gab," Joshua menyahut dan mendapati Agatha menghunuskan tatapan membunuh padanya.
"Jika kalian berdua terus omong kosong seperti ini, aku akan benar-benar berubah pikiran."
"Tidak bisa Sayang, keluarga kita tidak pernah mengingkari janji. Apalagi kali ini kau melakukannya demi kepentingan banyak orang yang meliputi nyawa banyak orang di Senna Rod, jadi sebagai orang yang seharusnya ikut bertanggung jawab aku mengucapkan banyak terimakasih, My Princess," Gabriel meletakkan tangannya di depan dada dengan ekspresi berlebihan yang membuat adiknya itu semakin kesal dan melayangkan sebuah pukulan di lengan sang kakak.
"Kau, brengsek Gab! Seharusnya kau bertanggungjawab dari awal dan bukannya menjadikanku kambing hitam. Dasar Sialan!" Agatha masih terus memukuli sang kakak yang hanya di tanggapi oleh gelak tawa Gabriel yang kemudian berlindung di balik tubuh Joshua.
Ketiganya kemudian kembali ke kediaman Anderson, untung saja hari ini Christopher Winston tidak menampakkan dirinya ketika mereka mendatangi laboratorium hari ini. Leon mengatakan bahwa Christ saat ini sedang berada di Milan dan akan kembali besok.
Sekalian saja tidak usah kembali jadi aku tidak perlu menghadiri makan malam sialan itu—batin Agatha.
Namun keesokan harinya di sore hari Agatha mendapati pria itu datang ke kantornya untuk mengajaknya bersiap lebih awal. Tentu saja Agatha menolak.
"Aku tidak bisa pergi sekarang, tuan Winston."
"Agatha, sudah kubilang biasakan dengan panggilanmu.'
"Ya ya ya, aku tidak bisa pergi sekarang Christ. Joshua sedang menungguku untuk menyelesaikan pekerjaan. Kau tidak perlu khawatir aku datang terlambat karena Joshua akan mengantarku tepat waktu."
__ADS_1
"Aku akan menunggu kalian selesai."
"Ini akan memakan waktu lama."
"Katamu tadi tidak akan sampai terlambat ke acara makan malam kita kan? Itu artinya hanya sebentar," jawab pria itu melirik arlojinya.
Agatha mendesis kesal, sungguh pria ini sangat keras kepala. Apa dia tidak menyadari bahwa dia enggan berlama-lama bersama? Apa dia tidak peka sama sekali?
"Terserah padamu, kalau begitu," Agatha beranjak meninggalkan Christopher Winston menuju ke ruangan Joshua. Dia harus secepatnya kabur dari pria ini, dan Joshua adalah tempat pelariannya sekarang.
Joshua sedang fokus pada layar komputernya ketika Agatha menerobos masuk dengan wajah yang masam kemudian mengunci pintunya.
"Ada apa?"
Wanita itu tidak menjawab, menghempaskan dirinya di sofa dan menyilangkan kedua tangan di depan dada lalu menghembuskan napas keras.
"Aku tidak menyukainya."
"Apa? Siapa? Kau datang tanpa konteks yang jelas dengan tiba-tiba Agatha, apa ada masalah lain?"
"Ya, dan ini membuatku gila."
Mendengar itu Joshua menatap sahabatnya itu dengan alis bertaut heran.
"Tentang apa kali ini? Kumohon jangan beri aku tugas yang semakin tidak ada habisnya."
"Selamatkan aku dari iblis pria itu, Josh. Damn!"
Kepala Joshua berpikir cepat dan paham kemana arah pembicaraan Agatha, kemudian tersenyum kecil. "Jadi apa yang membuatmu kesal sekarang?"
"Apa dia itu tidak punya pekerjaan? Sebagai orang yang bertanggungjawab atas banyak perusahaan bukankah harusnya dia sibuk? Bukankah kemarin asistenya mengatakan dia ada di Milan? Harusnya dia tidak kembali saja."
"Agatha jaga bicaramu. Lagipula pria kemarin bukan asisten Christopher Winston, dia salah satu direktur utama," koreksinya lalu bangkit dari kursinya, berjalan menuju Agatha dan duduk disampingnya.
"Lagipula bukankah itu baik karena dia sudah kembali? Artinya dia tidak mengingkari janji untuk pertemuan keluarga. Lalu apa yang kau keluhkan?"
"Dia menempel seperti jamur. Dan sekarang dia ada disini, di ruanganku!"
Tawa Joshua menyembur mendengar ungkapan Agatha, "Jangan bicara begitu, jika orang lain mendengar akan menjadi hal buruk."
"Aku tidak peduli."
Joshua masih tertawa sampai otaknya mencerna sesuatu, "E-eh? Dia ada disini sekarang? Lantas apa yang kau lakukan disini Agatha?! Astaga!"
.
.
__ADS_1
.
Riexx1323.