
...Ternyata aku tidak hanya bersaing dengan kenangan tentangmu dalam ingatannya....
...Karena aku baru menyadari bahwa dia membawa 'dirimu' ke dalam dirinya sendiri, seolah kalian menjadi satu....
...‐ Christopher to Mikael -...
.......
.......
.......
Hari ini hari terakhir mereka di Bali dan beberapa jam lagi mereka kembali. Masih menggunakan pesawat pribadi Winston hanya saja mereka mengikuti jadwal yang sama dari bandara.
Kemarin setelah membantu si gadis kecil, mereka memutuskan kembali ke vila. Keduanya tampak baik-baik saja namun perasaan keduanya merupakan kebalikannya.
Agatha yang sejak pertemuannya dengan gadis tunawicara itu membawa perasaannya kembali mengingat Mikael. Pertemuan pertama mereka, catatan kecil yang ditulis terburu-buru, dan juga cara komunikasi mereka. Karena di rumah madam Anna ataupun Senna Rod, penyandang tunawicara bisa langsung menggunakan bahasa isyarat dengannya tanpa menulis catatan seperti Mikael dulu. Dan perasaan rindu itu kembali menyelinap menghadirkan sosok hangat yang selalu menghadirkan senyum padanya.
Sementara Christ yang baru pertama kali melihat istrinya menggunakan bahasa isyarat dengan fasih mau tidak mau membuatnya memikirkan kembali sosok pemuda tunawicara yang melekat di ingatannya. Ada sebersit rasa sakit di hatinya jika sosok itu muncul dan kembali menghantuinya.
"Kau sakit?" tanya Agatha tiba-tiba saat mereka menunggu pesawat lepas landas.
"Hm, tidak kok. Ada apa Sunshine?"
"Kau lebih diam daripada biasanya," jawab Agatha, ya meskipun dia tidak peduli pada apa yang pria itu lakukan namun Agatha masih memperhatikan betapa beberapa hari ini pria itu selalu banyak bicara dan sibuk mengajaknya melakukan ini itu. Tapi sejak kemarin tiba-tiba lebih diam.
"Kau khawatir padaku?" tanya Christ lembut dan tersenyum menggoda. Matanya kini fokus menatap wanita cantik yang duduk di hadapannya itu. Wanita yang menjadi dunianya.
"Ya, kau seperti baru saja melihat hantu. Pucat, diam dan banyak melamun sejak kemarin."
"Melihat hantu ya... aku baru saja melihat malaikat di hadapanku."
Agatha merotasikan bola matanya jengah mendengar ucapan Christ.
"Sepertinya aku salah menilai, diam dan istirahat saja," tukas Agatha yang kemudian menyibukkan diri dengan ponsel di tangannya.
Christ tersenyum kemudian berpindah untuk duduk di samping Agatha, dan menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.
"Istirahat disini saja, boleh?" bisiknya kemudian menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Agatha, membuat si empunya terdiam dan sedikit memiringkan kepalanya untuk memberi ruang.
Christ tahu kekhawatirannya pada ingatan masa lalu hanya akan membuatnya dalam suasana hati yang buruk dan itu membuat jarak antara dia dengan Agatha. Dia seharusnya tidak memikirkan hal seperti itu karena istrinya itu hanya akan menjadi miliknya.
.......
.......
.......
Wanita cantik itu melenggangkan kakinya memasuki pekarangan luas yang penuh dengan tanaman hijau. Ini pertama kalinya dia kembali ke rumah ayahnya setelah menikah.
Dia rindu pada ayahnya.
"Kau sudah tidak peduli lagi pada ayah setelah menikah?" itulah kalimat yang dilontarkan sang ayah ketika Agatha datang.
"Kenapa bicara begitu, ayah tidak rindu padaku?" jawabnya yang langsung memeluk ayahnya. Kondisi sang ayah sudah jauh lebih baik dari sebelumnya dan itu membuatnya merasa lega.
__ADS_1
"Tentu saja, Sayang. Tapi dimana menantu ayah? Dia tidak ikut kemari?" tanya tuan Anderson setelah menyadari kalau Christ tidak datang bersama putrinya.
"Oh, dia langsung ke kantor karena katanya ada hal penting mendesak. Nanti menyusul kemari."
Tuan Anderson mengangguk paham, "Bagaimana hubungan kalian, apakah dia baik padamu?"
"Tentu seperti yang ayah dan Gabriel katakan sebelumnya. Kalian ingin aku menikah dengannya karena dia baik kan?"
"Agatha, jangan bicara begitu. Terdengar seperti pernikahan kalian karena paksaan. Ayah sedih mendengarnya."
Mendengar ucapan sang ayah dan juga sorot mata yang tampak surut itu membuat Agatha merasa tidak nyaman hingga seulas senyuman terpaksa muncul di bibirnya.
"Dia baik padaku ayah, jangan khawatir. Ayah hanya perlu fokus untuk memulihkan kesehatan. Atau aku akan marah."
Pria tua itu tertawa kecil mendengar ancaman dari putrinya, bukannya tidak paham atau tidak tahu. Persetujuan putrinya yang tiba-tiba mau menikah setelah puluhan kali menolak membuat sang ayah memahami satu hal bahwa setengah dari pernikahan ini adalah tidak benar. Entah terpaksa atau kesepakatan tapi dia tidak ingin mempertanyakannya, yang dia inginkan hanyalah kebahagiaan putrinya.
"Apapun yang terjadi, ayah berharap kau selalu bahagia. Jadi jangan pernah ragu untuk menerima kebahagiaan yang datang Nak, karena putri ayah ini sangat berhak untuk bahagia," tangan besarnya mengelus pelan puncak kepala Agatha membuat si pemilik diam dan memejamkan matanya.
Sungguh Agatha tahu sebesar apa kasih sayang ayahnya dan dia hanya takut tidak bisa membalas dengan sepantasnya. Setidaknya pernikahan ini salah satu caranya untuk membuat ayahnya bahagia.
Dan di luar pintu kamar yang sedikit terbuka, Gabriel berdiri rapat menyembunyikan tubuhnya. Tatapan matanya sendu menerawang meski segaris senyum samar ada di bibirnya.
"Aku juga menginginkanmu untuk selalu bahagia, adikku. Maafkan kakakmu ini," bisiknya begitu pelan.
.......
.......
.......
Tuan Anderson tampak sangat senang karena anak-anaknya lengkap berkumpul dan si bungsu Zander yang sedang berlibur juga datang. Kebahagiaan itu terasa lengkap lagi setelah Christ benar-benar datang menyusul.
"Sepertinya paman dalam suasana hati yang sangat bahagia," ucap Joshua yang saat itu duduk di sisi kanan tuan Anderson.
"Tentu saja Nak, karena semua anak-anak paman ada di sini dan juga ada kau," jawab tuan Anderson masih dengan raut wajah yang bahagia.
"Kenapa ayah tidak bilang bahwa Zander pulang?" kali ini Agatha bertanya dan mendapati respon kesal dari adiknya.
"Kau tidak peduli pada keberadaanku, Agatha. Dasar pengantin baru," sahut Zander menggerutu namun ditegur oleh tatapan Gabriel.
"Kau seharian ada di kamarmu bahkan mendengarku datang tidak membuatmu keluar darisana. Kau juga tidak pulang di hari pernikahanku," tukas Agatha tidak mau kalah.
"Waktunya tidak pas dan aku tidak mau mengulang karena meninggalkan ujianku."
"Kau benar-benar ya—"
"Agatha sudah, jangan berdebat dengan Zander atau kita tidak jadi makan malam tenang karena kalian," tegur Gabriel yang seketika mendapat tatapan protes dari kedua adiknya.
"Kuharap kau akan terbiasa Christ, mereka memang seberisik itu saat bersama." Joshua berbisik saat menyadari Christ hanya diam menatap keributan di hadapannya.
"Seru ya."
Joshua tersenyum kecil mendapati jawaban Christ, sejujurnya saat ini banyak yang ingin dikatakannya tentang apa yang diketahuinya tentang pria ini kemarin hanya saja tidak bisa terucap. Mungkin tidak sekarang.
"Ini pertama kalinya aku bertemu kakak ipar, ternyata tampan ya," celetuk Zander tiba-tiba dan membuat Christ yang sedang minum tersedak.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa?" Agatha refleks menepuk-nepuk punggung Christ.
"Zander jangan bicara sembarangan," tukasnya.
"Apa? Aku hanya mengatakan fakta, bukankah dia memang tampan?" protesnya merasa reaksi sang kakak aneh.
"Jangan mengatakan hal memuji seperti itu karena hanya akan membuat kepalanya semakin besar," jawab Agatha dengan ekspresi datar namun membuat semua orang mendelik padanya.
"Agatha—"
"Agatha..."
"Agatha!"
Ketiga pria dewasa yang ada di sana serentak menegurnya sementara Zander terkejut dengan sikap kakak perempuanya itu. Hanya Christ yang menatap Agatha berusaha menahan senyum.
"Apa? Dia memuji dirinya sendiri setiap hari, tidak perlu tambahan dari orang lain," jelasnya yang justru semakin membuat ketiganya ingin menarik Agatha keluar karena bagi mereka ucapan wanita itu tidak sopan.
Namun melihat Christ justru tertawa sambil mengusap lembut kepala Agatha membuat semua orang yang ada di sana lebih heran.
"Christ, kau tidak apa-apa?" tanya Gabriel.
"Jangan terpaksa tertawa untuk memaklumi sikap buruknya, Christ," kali ini Joshua bersuara.
"Aku tidak apa-apa, sungguh kalian tidak perlu khawatir karena Agatha sudah sering mengatakan hal itu padaku, jadi aku tidak terkejut," jawabnya tenang dan masih menyisakan senyum.
"Nak, kau yakin bisa menghadapi putriku?" kali ini tuan Anderson bertanya khawatir. "Aku akan mendukungmu sepenuhnya jika kau mengalami kesulitan."
"Tidak apa-apa ayah, aku bisa menghadapi apapun itu tentang Agatha. Ayah tidak perlu khawatir," jawabnya meyakinkan sang ayah mertua.
Christ memang berusaha memahami sifat istrinya itu beberapa waktu kemarin. Sweet things bukan love language dari Agatha. Itu menjadi bagian dan tugasnya untuk memberikan hal-hal manis dan penuh cinta pada istrinya.
Melihat pasangan aneh di hadapannya itu, mau tidak mau membuat Joshua tersenyum. Tatapan cinta dari mata Christ tidak mungkin berbohong kan, dan sahabatnya itu juga meskipun belum bisa dikatakan jatuh cinta tapi sepertinya sudah bisa menerima keberadaan Christ.
Joshua menggeleng pelan mengenyahkan pemikiran buruk yang sebelumnya mengendap di kepalanya. Sepertinya dia tidak perlu mencemaskan ucapan Leon sebelumnya.
"Ada apa?" tanya Gabriel yang duduk di sampingnya heran.
"Tidak Gab, aku senang melihat keanehan mereka," jawabnya dengan tatapan bahagia pada sepasang suami istri manis-dingin itu. Gabriel mengikuti arah matanya dan mengangguk setuju.
"Aku juga bahagia. Setelah masa sulit yang panjang, ya kan?"
"Iya."
"Dasar pasangan aneh. Kuharap keponakanku nanti tidak akan mewarisi keanehan kedua orangtuanya," celetuk Zander membuat hampir semua orang yang sedang makan nyaris tersedak.
"Zander!" teriak mereka semua bersamaan dan membuat si bungsu tertawa lebar.
.
.
.
Riexx1323.
__ADS_1