
Kebaikan selalu tercermin dari sikap tanpa perlu dengan sengaja ditunjukkan.
.
.
.
Oxford 20xx.
Siang itu Agatha berada di perpustakaan umum yang berada satu kawasan dengan kampusnya. Dia sedang mengerjakan tugasnya bersama Joshua saat manik matanya tanpa sengaja menangkap sosok familiar sedang duduk bersama tumpukan buku di ujung barat ruang baca.
Sosok itu tampak sangat fokus, membolak balikkan lembar buku di hadapannya kemudian sesekali mencatat di bukunya. Terus seperti itu tanpa menyadari ada orang lain yang tengah menatapnya.
Tentu saja, perpustakaan ini sangat luas sehingga dari jarak dua puluh meter kau tidak akan menyadari hal-hal kecil di seberang sana.
Manik coklat Agatha tanpa sadar terus mengikuti sosok itu, melihat interaksinya dengan orang lain, gerak geriknya yang cepat dan sigap, dan sepertinya beberapa orang tidak terganggu dengan caranya berkomunikasi. Tanpa sadar segaris senyum terbentuk di sudut bibir Agatha.
"Jika kau datang untuk melamun, sebaiknya kau pergi sekarang," ucap Joshua pelan tapi sepertinya Agatha tidak mendengar karena matanya masih fokus ke satu titik.
"Agatha..."
Sepertinya dia memang orang dengan kepribadian yang baik.
"Akh!" pekiknya kaget saat telapak tangan Joshua tiba-tiba menutupi pandangan matanya. "Joshie!"
"Kau mengabaikan ucapanku sejak tadi dan sibuk melamun. Kita sedang mengerjakan tugas disini jika kau lupa, Agatha," omel Joshua kesal karena tidak biasanya sahabatnya itu mengabaikannya saat belajar seperti ini.
"Iya iya, aku tahu," Agatha mendengua lalu kembali menatap tugasnya yang sebenarnya sudah hampir selesai sebelum terdistraksi oleh tangkapan matanya barusan.
Sesekali Agatha masih mencuri pandang ke seberang. Sekarang sosok itu kini ditemani seorang laki-laki yang sepertinya adalah teman karena keduanya terlihat akrab. Bahkan temannya itu ikut menggunakan bahasa isyarat meski Agatha tadi mendengarnya berbicara normal saat menyapa.
Rupanya ada orang yang bisa menyesuaikan cara komunikasi dengannya.
"Halooo? Apakah Agatha Anderson ada di sini?" kali ini Joshua mengetuk pelan kepala Agatha karena lagi-lagi Agatha melamun. Matanya kini mengikuti arah kemana sahabatnya itu sedang fokus melihat sejak tadi. Namun dia tidak melihat sesuatu yang aneh di sana.
"Apa sih yang membuatmu melamun sejak tadi? Apa ada sesuatu yang menarik perhatian seorang Agatha Anderson disini?"
"Ssshh! Diam Josh, jangan berisik di perpustakaan," tegur Agatha yang kini sudah kembali menghadap bukunya sementara Joshua merotasikan mata mendengar teguran yang seharusnya dia ucapkan pada Agatha.
"Apa yang menarik perhatianmu?"
"Tidak ada."
"I know you so well, Agatha."
"Bukan apa-apa Josh, aku hanya sedikit menghibur mataku," Agatha kini kembali fokus pada tugasnya dan membuat Joshua urung menanyainya lebih jauh. Apapun itu jika Agatha tidak mengatakannya lebih dulu maka yang Joshua lakukan hanya diam menunggu sampai sahabatnya itu bicara nanti.
Ada segaris senyum tipis di sudut bibir Agatha yang tanpa disadarinya berkembang dan membuat perasaannya lebih ringan secara tiba-tiba.
.
.
__ADS_1
.
Hari-hari setelahnya Agatha sering pergi ke perpustakaan hanya untuk sekedar mencari objek yang menarik pandangannya beberapa akhir ini.
Memang kemarin hanya kebetulan tapi bukan berarti tidak akan terjadi lagi kan?
Sebelumnya Agatha tidak pernah sama sekali ke perpustakaan umum, karena selama ini perpustakaan pribadinya sudah cukup memenuhi apapun yang ingin dia cari.
Sosok itu cukup mudah ditemukan meskipun perpustakaan adalah tempat yang membosankan tapi anehnya 'dia' selalu ada di sini setiap Agatha kemari atau lebih tepatnya datang untuk mengamati diam-diam. Sejak kecelakaan kecil mereka sebelumnya, Agatha tidak pernah bertemu dengan 'dia' secara langsung.
Yah, Agatha tidak berniat sama sekali mencarinya sebelum ini mengingat universitasnya begitu luas dengan beberapa gedung terpisah dan ribuan murid.
Dan kebetulan saat bersama Joshua sebelumnya lah yang membuat Agatha entah kenapa jadi 'sedikit' tertarik pada sosok ini.
Sepanjang pengamatannya, Agatha bisa menyimpulkan bahwa laki-laki ini orang yang cukup baik dan meski memiliki 'kekurangan' tapi sosoknya cukup bisa bersosialisasi dan memiliki banyak teman. Cukup mengesankan dan menarik.
Setelah merasa cukup mengamati Agatha memutuskan pergi dari sana dan saat melewati pintu keluar dia dikejutkan oleh seseorang yang sebelumnya berada di jarak sangat jauh darinya kini tiba-tiba berdiri di belakangnya menepuk bahunya pelan.
'Hai, kita bertemu lagi.'
Agatha mengerjap menyadari siapa yang menyapanya sebelum membalas sapaan itu.
"Hai."
'Kau baru selesai dari perpustakaan?' tangan lelaki itu bergerak mengisyaratkan pertanyaannya.
"Ah, iya aku baru saja selesai. Emm, kau mahasiswa di universitas disini?" tanya Agatha pelan sedikit ragu dan merasa sedikit was was berpikir apakah 'pengintaiannya' tadi ketahuan.
Laki-laki itu tersenyum lalu menunjuk sebuah pin yang tersemat di ranselnya. 'Aku mahasiswa dari medical departement' jawabnya.
Laki-laki itu mengeluarkan buku catatan kecilnya dan menuliskan sesuatu disana. 'Apa kau akan kembali ke kelasmu?' di sodorkannya catatan itu pada Agatha.
"Ya, kelasku dimulai 30 menit lagi," jawab Agatha.
Laki-laki itu tersenyum kembali, bukan senyum lebar tapi hanya sebuah senyum kecil di sudut bibirnya namun entah kenapa saat melihatnya membuat Agatha merasa berhenti bernapas sejenak.
Aneh.
Keduanya sampai di persimpangan jalan dan tanpa sadar menghentikan langkah.
'Aku harus ke laboratorium, temanku sudah menunggu. Senang bisa bertemu denganmu lagi," setelah menunjukkan catatannya dan tersenyum, laki-laki itu mengangguk dan berlalu meninggalkan Agatha yang masih terdiam.
Terlalu cepat dan terlalu abstrak. Pertemuannya dengan lak-laki itu. Antara sengaja dan tidak sengaja.
Kemudian Agatha berlalu dari sana dengan perasaan ringan dan berpikir untuk sering mengunjungi perpustakaan lagi nanti.
.
.
.
Dan di hari-hari setelahnya seorang Agatha Anderson lebih sering berada di perpustakaan entah hanya menghabiskan waktu menunggu Joshua atau mengerjakan tugasnya. Yang berbeda adalah kehadiran sosok selain Joshua Sanders yang sesekali datang menemaninya.
__ADS_1
Laki-laki berwajah tampan dan manis itu terkadang ada di sana menemani Agatha yang anehnya diterima dan di izinkan oleh gadis itu berada di sekitarnya. Agatha di kenal sebagai sosok yang sulit di dekati oleh siapapun kecuali Joshua.
Hampir semua orang yang mengenal tentang Agatha Anderson pasti tahu hal itu. Dan sekalipun banyak orang yang cukup terheran dengan pemandangan baru itu namun tak seorangpun yang berani berkomentar asal karena tentu tidak ada yang mau berurusan dengan keluarga Anderson jika terjadi sesuatu. Maka rumor kecil itu hanya menyebar di departemen dengan tenang. Tidak ada yang akan mengomentari secara lantang apalagi laki-laki yang bersama Agatha merupakan sosok yang 'tidak biasa'.
Agatha sedang mengerjakan tugasnya ketika ponselnya bergetar dari saku ranselnya. Joshua calling.
"Kau dimana, Sayang?"
"Di perpustakaan."
"Lagi? Ada apa dengan perpustakaan sekarang, kau sering ada disana akhir-akhir ini."
"Tentu saja ada banyak buku disini, apalagi?"
Terdengar dengusan dari Joshua, "Aku sudah selesai kelas, akan kujemput kesana."
"Baiklah," setelah mematikan sambungan ponselnya, Agatha kemudian mulai merapikan buku-bukunya dan bersiap untuk menunggu sahabatnya itu.
'Kau, sudah mau pergi?' laki-laki manis di hadapannya itu bertanya melalui catatan kecilnya.
"Ah ya, aku sudah selesai. Temanku akan menjemput sebentar lagi."
Laki-laki itu mengangguk kecil, kemudian jarinya sibuk menuliskan sesuatu di catatan kecilnya. 'Kau akan datang lagi besok?'
Agatha tertegun membaca pertanyaaan itu, "Sepertinya tidak, karena besok aku hanya menghadiri kelas sore," kemudian gadis itu beranjak dari duduknya. Setelah mengangguk sebagai tanda berpamitan, Agatha melenggang pergi meninggalkan laki-laki yang sepertiya masih akan mengerjakan tugasnya lagi.
Agatha baru melangkahkan kakinya ke undakan kedua ketika bahunya ditepuk pelan oleh seseorang. Lagi, dia terkejut mendapati siapa yang ada di belakangnya.
'Hai, maaf jika ini tiba-tiba' laki-laki itu menunjukkan catatannya kemudian membaliknya.
'Kita sudah sering bertemu, tapi aku tidak mengenalmu.'
Agatha kembali tertegun dan tidak tahu harus merespon apa sampai laki-laki itu membalik catatannya lagi, 'Aku Mikael, siapa namamu?'
Jadi selama ini dia tidak tahu siapa aku?
Setelah terdiam beberapa saat Agatha kemudian mengulurkan tangannya pada laki-laki di hadapannya itu dan segaris senyum terukir di bibir tipisnya.
"Agatha!"
Gadis itu menolehkan wajahnya saat terdengar suara familier Joshua memanggilnya. Sahabatnya itu sudah berdiri tiga langkah di belakangnya dan sedang menatap heran padanya.
"Kita pergi sekarang?" tanya Joshua yang sekilas matanya menatap pada laki-laki di hadapan Agatha. Gadis itu mengangguk padanya sebelum beralih pada laki-laki satunya.
"Senang bertemu denganmu Mikael," setelahnya Agatha melepas jabat tangan mereka dan berlalu dengan menggandeng lengan Joshua pergi dari sana, meninggalkan laki-laki bernama Mikael yang kini berdiri menatap kepergiannya.
'Agatha.'
.
.
.
__ADS_1
Riexx1323.