Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Keinginan, Kesepakatan dan Janji


__ADS_3

...Pada akhirnya aku terjerat oleh tali yang kupasang sendiri....


.......


.......


.......


"A—apa maksudnya?" tergagap karena seketika isi kepalanya seolah kabur menghilang mendengar kalimat yang baru saja diucapkan istrinya.


"Tadi ibu mendatangiku dan kami berbincang. Dia menanyakan padaku kapan akan memberi keluarga ini keturunan," Agatha melepaskan diri dari pelukan Christ yang sedari tadi membeku diam.


"Lalu kau jawab apa?"


"Kita berdua lebih mengutamakan pekerjaan dan belum siap. Tapi ibu terlihat tidak puas dengan jawabanku dan memintaku mempertimbangkan."


Christ tidak tahu harus merespon dan menanggapi bagaimana karena jika dia salah memberi jawaban maka bisa dipastikan mereka berdua akan bertengkar.


"Lalu kau ingin aku bagaimana?" suara yang begitu ragu dan pelan itu terdengar mengambang di telinganya sendiri. Dia tidak mau berharap istrinya itu berniat mengabulkannya, karena itu tidak mungkin.


"Aku tidak tahu," wanita itu diam sejenak sebelum melanjutkan, "Kenapa ini menjadi lebih rumit dari yang kupikirkan. Aku tidak berpikir akan ada pertanyaan maupun permintaan tentang penerus keturunan. Dan sebenarnya aku sudah sering mendapatkan pertanyaan yang sama dari Gabriel atau Joshua tapi itu berbeda saat aku berhadapan dengan ibu."


"Sebenarnya beberapa waktu yang lalu ayah juga menanyakan hal yang sama padaku."


"Oh, kapan?"


"Beberapa waktu lalu saat kita berkumpul saat Zander liburan."


"Kau tidak bilang padaku?"


"Aku tidak mau membuatmu banyak berpikir seperti sekarang. Meskipun pada akhirnya kau mendapatkan pertanyaan yang sama dari ibu."


Agatha hanya diam, karena pemecahan masalahnya hanya ada satu dan itu tidak mungkin. Satu tahun hidup bersama Christ belum bisa membuatnya yakin memiliki perasaan untuk suaminya itu. Mungkin perasaan nyaman itu ada, dia tidak lagi risih atau canggung saat Christ mulai bersikap manja, dia juga sudah memutuskan untuk bisa membalas sikap Christ padanya. Tapi jika di tanya apakah dia sudah mulai jatuh cinta, jawabannya mungkin belum. Hatinya masih merasa tumpul, tidak sama seperti saat dia bersama Mikael.


"Agatha..."


"Hm."


Christ menatap istrinya itu dengan begitu hangat dan sayang meski sedikit keraguan juga tersirat dalam sorot matanya.


Direngkuhnya kembali wanita itu dalam pelukannya lalu membenamkan wajahnya pada bahu sang istri.


"Apa kau masih belum mencintaiku, Sunshine?" bisiknya parau, setiap kali dia memikirkan perasaan Agatha padanya selalu ada rasa ngilu yang terselip di hatinya.


"Christ..."


"Aku hanya tanya, tidak apa-apa jika kau belum mencintaiku. Aku akan menunggu."


Tidak mampu memberikan jawaban, Agatha hanya menghela napasnya pelan kemudian jemarinya mulai menyisiri surai hitam nan lembut milik pria di bahunya. Entah sejak kapan tapi dia merasa lemah jika Christ bersikap seperti ini, membuatnya merasa bersalah.


"Apa kau tidak merasakan apapun saat kita bersama, Sunshine? Kau tidak berdebar saat kita bersama?" tanya Christ kembali dalam bisikan.

__ADS_1


"Don't you feel anything when we hug and kiss each other? Even when both of us cuddle in sleep?"


Kali ini suara Christ terdengar lebih parau dan pelan, karena sungguh rasanya berat menanyakan hal itu pada Agatha. Christ takut mendengar jawabannya.


Gerakan tangan Agatha yang mengelus rambut pria itu terhenti. Dan diantara banyak hal dari Agatha yang membuatnya berdebar adalah saat-saat  seperti ini. Padahal dia sudah merasa sangat senang karena sekarang Agatha mau membalas perhatiannya. Haruskah harapannya kembali jatuh?


Angin yang bertiup melalui beranda taman belakang membuat suasana di sore itu terlampau sendu dan menyesakkan.


Christ mengeratkan pelukannya, "Kau tidak perlu menjawab pertanyaanku, Sunshine. Tidak apa-apa."


Agatha tidak berniat menjawab pertanyaan itu karena dia tidak tahu jawabannya. Dia tidak mau melukai ketulusan Christ dengan ketidakjelasan perasaannya. Dan yang bisa dia lakukan hanyalah membalas pelukan Christ mengusap punggung tegap itu dengan lembut.


"Maaf, Christ..." bisiknya begitu pelan senada dengan hembusan angin yang menerpa tubuh mereka.


Sore itu keduanya merasakan kebimbangan pada perasaan masing-masing.


Bagi Christ bukan perihal menunggu istrinya itu menjatuhkan hati padanya, namun setiap keraguan dan kebimbangan Agatha ikut menyakitinya. Rasa sesak dan tidak tahan melihat istrinya itu masih terkurung dalam rasa masa lalunya.


Sementara Agatha yang tidak bisa memutuskan apakah dia harus melepaskan perasaanya pada Mikael dan membuka diri pada suaminya? Ada keraguan dan ketidakrelaan dalam dirinya.


Seperti berada di sebuah persimpangan antara mundur dalam sisa kenangan atau maju untuk mengukir kenangan baru yang lebih baik. Dan Agatha ada di tengah persimpangan itu tidak bisa memutuskan langkahnya.


.......


.......


.......


Sedikit rasa sakit akibat pembicaraan serius mereka kemarin masih menyisakan mendung di hati masing-masing. Dan hal itu ditangkap dengan baik oleh Arthur.


"Kalian berdua bertengkar?" tanyanya sontak membuat semua orang mengangkat kepala menatap dua orang yang ditanya.


"Apa? Kami baik-baik saja," jawab Christ sedikit kelabakan dan buru-buru meminum air putih yang disodorkan oleh Agatha.


"Oh, kupikir ada sesuatu karena sikap kalian terlihat jelas," mengedikkan bahunya acuh, Arthur kembali makan dengan tenang bersama putri kecilnya juga istrinya.


"Kau suka sekali mengarang, ini masih pagi dan kau menanyakan hal tidak menyenangkan," sahut Christ seraya melanjutkan makannya.


"Aku tidak mengarang, itu terlihat jelas. Iya kan, Ibu?" tanyanya meminta dukungan pada sang ibu yang kini masih fokus menatap pada putra bungsu dan menantunya itu.


"Kalian bertengkar karena permintaan Ibu?" kali ini suara sang ibu menginterupsi semua orang yang sedang menikmati sarapan untuk kembali fokus pada pembicaraan.


"Kenapa ibu berpikir demikian, aku dan Christ baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatitkan," Agatha cepat-cepat menanggapi karena dia tidak mau pembicaraan ini berlanjut.


Namun Agatha salah, karena justru sang ibu menyelesaikan makan dan meletakkan peralatan makannya.


"Ibu tidak bermaksud untuk menyinggung atau membuat kalian merasa tidak nyaman. Tapi kekhawatiran ibu tidak salah kan, ibu hanya ingin hal sederhana dari kalian. Tidak bisakah kalian mengabulkannya?"


"Ibu, jangan bicarakan ini sekarang," Christ berusaha membuat ibunya tidak membahas tentang keturunan lagi di depan Agatha.


"Lalu kapan? Kalian benar-benar tidak mau punya anak?" kali ini pertanyaan Ny. Winston menghentikan semua pergerakan orang di meja makan itu. Jennie yang mengerti arah pembicaraan itu memilih untuk menghindar dan  membawa putri kecilnya untuk pergi ke taman depan.

__ADS_1


"Bukan begitu, Bu. Aku dan Agatha juga ingin punya anak tapi tidak sekarang. Kami sudah membicarakan ini."


"Kapan? Kalian ingin punya anak setelah ibu tidak ada?"


"Bu!"


"Ibu!"


Bentakan kedua pria itu pada ibunya cukup mengagetkan Agatha, dan melihat ibu mertuanya itu sama terkejutnya.


Kembali tersadar pada kenyataan, Ny. Winston memalingkan wajahnya untuk menghapus setitik air mata di sudut matanya.


"Maafkan aku Bu, aku tidak bermaksud menyakiti hati ibu..." Christ mengulurkan tangan dan menggenggam erat jemari sang ibu.


Ny. Winston menggeleng pelan, "Apa ibu terdengar begitu memaksakan kehendak pada kalian?"


"Ibu semakin tua, kita tidak pernah tahu batasan usia seseorang. Dan sebelum hal itu terjadi, ibu ingin kalian mengabulkan satu keinginan saja."


Agatha dan Christ kini hanya bisa terdiam sementara Arthur menunggu dan mengamati mereka.


"Ibu begitu menyayangi kalian. Harta paling berharga peninggalan ayah kalian. Bukti cinta kami berdua," ucapnya perlahan kemudian kembali menatap Agatha dan Christ.


"Tidakkah kalian ingin seperti itu? Kalian tidak ingin menghadirkan seorang anak sebagai bukti cinta kalian?"


"Bu, kami ingin tapi kami belum siap untuk itu."


"Semua orang tidak akan pernah siap, Christ. Semuanya akan berjalan karena cinta dan kasih sayang satu sama lain. Dan dengan hadirnya anak justru akan menambah ikatan cinta kalian."


Christ menolehkan wajahnya untuk menatap Agatha yang sejak tadi di terdiam. Istrinya itu pasti berpikir keras lagi.


"Agatha, ibu sangat menyayangimu seperti putri ibu sendiri. Ibu harap kau tidak tersinggung dan memaklumi permintaan ibu."


Agatha tersenyum samar sebelum balas menggenggam tangan sang ibu.


"Aku tahu, Bu. Terimakasih sudah menyayangiku, dan maaf aku belum bisa menjadi putri yang sempurna."


"Kau akan sempurna jika menuruti nasihat ibu, pikirkan kembali ya? Kali ini ibu memohon padamu."


"Ibu, jangan seperti ini..." Agatha merasakan beban baru kini ada di bahunya.


"Dicoba dulu ya, Sayang?" desak sang ibu yang membuat Agatha pada akhirnya mengangguk.


"Aku akan mencobanya, Bu."


Dan satu kalimat terakhir dari bibir Agatha sukses membuat Christ menjatuhkan gelas di tangannya.


.


.


.

__ADS_1


Riexx1323.


__ADS_2