
...Aku bahkan tidak pernah meluangkan waktu untuk sekedar jatuh cinta....
...Karena terakhir kali aku jatuh cinta yang terjadi justru kau terluka....
...Dan aku tidak mau lagi membuang waktuku untuk jatuh cinta....
.......
.......
.......
Joshua membolak-balik halaman buku yang sejak tadi tidak dibacanya.
Karena perbincangan anehnya bersama Gabriel tadi siang sekarang kepalanya penuh dengan pikiran-pikiran yang juga sama anehnya. Mungkin benar bahwa dia merasakan kehilangan karena kepergian Agatha yang sekarang sudah memulai hidup barunya.
Setelah acara pesta pernikahan kemarin dia sama sekali belum menghubungi sahabatnya karena tentu dia tidak selancang itu mengganggu waktu mereka.
Dan juga kemarin Christ sempat menghubunginya, menanyakan beberapa kebiasaan Agatha yang mungkin terlewat olehnya dan memastikan wanita itu tidak berada dalam mood buruk saat mereka pergi berlibur. Sepertinya Christ berusaha keras untuk memahami Agatha dari segala sisi dan Joshua merasa lega, karena artinya pria itu akan benar-benar menjaga Agatha.
Mengusak rambutnya kasar Joshua merasa kesal karena perasaaan anehnya ini. Dia senang dengan kehidupan baru sahabatnya namun di sisi lain dia merasa kehilangan dan kosong.
"Hah, kau menyebalkan Agatha," gumamnya kemudian meraih ponselnya yang pernuh notifikasi laporan pekerjaan.
Dia juga tidak memiliki teman selain Agatha dan sekarang dia baru merasakannya.
"Apa aku benar-benar harus pergi kencan?"
Agatha juga tidak menghubunginya sama sekali, dan itu membuatnya merasa tersisihkan. Baru dua hari tapi rasanya begitu lama, padahal sebelumnya sahabatnya itu merengek padanya untuk menolak acara berlibur tapi apa sekarang? Dia bahkan sudah melupakannya.
Mempertimbangkan untuk segera tidur, Joshua menutup bukunya dan beranjak ke kamarnya. Hah, apakah artinya Agatha sudah tidak akan mengunjungi apartemennya lagi seperti dulu? Tidak akan tiba-tiba datang sewaktu-waktu tanpa peduli dia sedang beristirahat atau tidak. Harusnya itu bagus kan? Dia tidak akan terganggu dan mengomel lagi. Namun membayangkannya justru membuat Joshua semakin kesal.
Tepat saat dia baru akan menarik selimutnya, ponselnya bergetar menandakan panggilan masuk. Dengan cepat diraihnya benda pintar itu berharap nama sang sahabat yang muncul di layar panggilan.
Oh, Leon?
Diangkatnya panggilan yang tidak biasa itu sampai terdengar suara ceria khas seorang Leon Alexander di seberang sana.
"Leon? Ada apa, tidak biasanya—"
'Joshuaa~ hai! Kau mengangkat panggilan darikuu~ terimakasihh~' jawab Leon dengan suara mengalun aneh yang tidak biasa.
"Leon, kau sedang dalam pengaruh alkohol?" tanya Joshua yang langsung duduk bersandar dan fokus mendengarkan.
Sepupu Christ itu tidak pernah menghubunginya selain untuk urusan pekerjaan. Lalu kenapa tiba-tiba dia menghubungi dalam keadaan setengah sadar sepertinya.
'Akuu~ tidak mabuk Joshua, aku hanya meminum beberapa botol sendirian karena Christ si diktator itu menguburku dalam pekerjaan yang sebanyak gunung. Dia melimpahkan banyak pekerjaan padaku. Dia bahkan tidak peduli samaa~ sekali,' ujar Leon semakin meracau, membuat Joshua yang ada di seberang menjadi sedikit bingung.
"Leon, kau ada dimana sekarang?"
'Hooo~ apa kau akan kemari dan menggantikan Christ untuk menemaniku minum?'
"Katakan saja dimana."
'Kauu—baikk sekaliii~ Agatha beruntung memilikimu.'
__ADS_1
Joshua tidak sabar mendengar ocehan tidak jelas dari lawan bicaranya di seberang, bukannya apa-apa tapi pria ini terdengar dalam keadaan yang tidak baik karena pengaruh alkohol.
"Katakan saja kau dimana, Leon."
'Ah, aku ada diii—DunBeers sekarang.'
"Tunggu disana dan jangan kemana-mana," Joshua menutup ponselnya lalu beranjak dari tempat tidurnya.
Sepertinya Tuhan masih sayang padanya. Dia baru saja mengeluh kesepian karena tidak memiliki teman, tapi haruskah teman yang di kirimkan padanya adalah seseorang yang dalam keadaan mabuk?
Setelah mengenakan mantel hangat dan meraih kunci mobilnya, Joshua segera turun untuk menuju tempat yang disebutkan Leon.
Bar populer yang dikunjungi oleh orang-orang kelas atas dan dia sama sekali tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki kesana atau tempat sejenisnya.
.
.
.
Joshua menghembuskan napas panjang berkali-kali menatap kesal sekaligus iba pada pria muda yang kini setengah sadar tertidur di sofa ruang tamunya.
Setelah satu jam yang lalu dia bersusah payah membawa Leon keluar dari bar dan berakhir membawanya pulang karena dia tidak tahu di mana tempat tinggal Leon.
Haruskah teman yang seperti ini dikirim untuknya?
"Ah, Joshua~ terimakasih sudah peduli padaku saat Christ membuangku beginii~"
Joshua mengambil duduk di seberang Leon karena dia sendiri tidak suka bau alkohol.
Joshua hanya diam mengamati tanpa memberi respon yang percuma.
"Kita berduaa~ tahu bahwa mereka tidak saling mencintai. Ah, Agatha tidak menyukai tapi Christ si keras kepala itu sangaaat mencintai Agatha!"
"Si bodoh dengan obsesinya pada Agatha! Ah~ dia tidak mau aku menyebutnya obbsesi, menurutnya itu adalah cinta sejati. Hahaha, dia memang jadi bodoh karena terlalu mencintai Agatha selama sepuluh tahun! Bayangkan saja itu!" racau Leon tidak sadar.
Dan ucapan Leon itu membuat Joshua terkejut akan satu hal—mencintai Agatha selama sepuluh tahun? Bukankah mereka baru satu tahun ini saling mengenal?
"Leon, apa maksudmu dengan obsesi dan sepuluh tahun itu?"
"Hmmm~ apanya yang apa?"
"Yang barusan kau katakan mengenai obsesi Christ. Apa maksudnya?" Joshua berpindah untuk duduk disebelah Leon dan menggoyangkan tubuh pria itu agar tidak tertidur.
"Ah~ itu? Christ mencintai Agatha selama sepuluh tahun, bukankah itu obsesi?"
"Kurasa kau memang melantur, Leon. Aku yang bodoh karena percaya padamu," gumamnya merasa kesal.
"Tidak Josh, no no no no. Aku tidak melantur. Agatha adalah cinta pertama Christ sejak masih mudaa~ ah, tapi itu hanya cinta sepihak karena Agatha tidak membalasnya."
"Sejak masih muda? Sejak kapan?" sikap Joshua berubah menjadi serius meski tidak yakin apakah dia harus percaya atau tidak dengan perkataan Leon.
"Hmm~ sejak duluuuu~ kasihan sekali Agatha bahkan tidak meliriknya sama sekali karena memilih pemuda tak bersuara itu. Haha..."
Pemuda tak bersuara?
__ADS_1
Apa maksudnya... Mikael?
"Leon, bangun! Jelaskan padaku!" Joshua meraih bahu pria itu berusaha menyadarkannya namun Leon sudah tidak sadarkan diri dan terbang ke alam mimpi.
"Leon, bangun!"
Dan percuma karena Joshua tidak bisa membangunkan pria itu dan berakhir dengan pikiran berkecamuk mengenai ucapan Leon.
Apa ini?
Apa aku harus percaya dengan ucapannya?
Dia sedang mabuk, jadi 80% ucapannya bisa saja tidak benar.
Tapi tentang pemuda tak bersuara, itu tidak mungkin kebetulan...
Tidak banyak orang tahu hubungan Agatha dan Mikael.
Apa lagi ini? — pikir Joshua.
Kemudian dia segera beranjak menuju ruang kerjanya mencari beberapa dokumen yang disimpannya.
Dokumen tentang hasil penyelidikannya tentang Christopher Winston. Dibacanya kembali semua data dan dipastikannya tidak ada yang terlewat. Tidak mungkin ada kesalahan kan?
Setelah memastikan Leon benar-benar telah tidur sebelum tangannya dengan cepat bergerak mencari kontak seseorang yang diutus olehnya dalam penyelidikan ini.
.
.
.
"Rafe, aku ingin memberimu tugas lain. Selidiki kembali Christopher Winston, semua tentangnya tanpa terkecuali."
'Bukankah aku sudah memberikan hasilnya padamu?'
"Ya, dan aku menemukan sesuatu yang janggal. Mungkin ada fakta yang terlewat."
'Baiklah.'
"Aku menunggu hasil secepatnya. Selidiki terutama tentang kehidupannya sepuluh tahun yang lalu."
Mematikan panggilannya, Joshua mencari kontak Agatha untuk memberitahu sahabatnya itu. Namun urung ketika dia takut terjadi hal buruk lain sebelum bukti dan informasi akurat di dapatkannya.
Dalam hati dan pikirannya Joshua berharap apapun itu, fakta yang baru didengarnya ini tidak benar.
Karena jika benar, artinya dia lengah dalam menjaga Agatha.
.
.
.
Riexx1323.
__ADS_1