
...Dan tak ada hal yang paling menyakitkan selain hidup dalam belenggu rasa bersalah dan penyesalan....
...Karena waktu tidak bisa diulang....
.......
.......
.......
Semua orang kini diam dalam keterkejutan dan ketakutan. Mereka semua tampak menyesalkan apa yang terjadi pada pemuda yang kini terbujur kaku dalam tandu yang kini ada di halaman.
Semua hal bercampur baur begitu membingungkan dan menyesakkan.
Di balik kerumunan orang-orang yang berduka itu Christ dan Neona terduduk dengan ekspresi yang kacau.
Christ tampak mencengkeram rambutnya frustasi. Matanya yang kini kosong itu hanya bisa menunduk. Napasnya memburu dengan detak jantung yang seolah berhenti. Tangannya gemetar dan serasa mati.
Tidak.
Ini tidak mungkin.
Bagaimana ini...?
A-aku hanya...
Bukan karena aku kan?
Semua pertanyaan itu berulang-ulang bergaung di kepalanya. Serasa menyesakkan. Christ tidak berani menatap kedepan dimana Agatha menangis histeris di depan tubuh kaku Mikael.
Gadis itu menggoyangkan tubuh Mikael berusaha membangunkan pemuda pucat di hadapannya itu. Tangisan Agatha terdengar begitu memilukan bahkan membuat semua orang di sana ikut merasakannya dan ikut menangis. Agatha meneriakkan nama Mikael berulang kali seolah pemuda itu bisa mendengarnya.
Namun kenyataannya Mikael tidak akan pernah terbangun lagi.
"Agatha, sudah jangan seperti itu..." suara pemuda yang tadi ikut mencari itu parau, dia tampak sama kacaunya dengan Agatha karena air mata yang membanjiri wajahnya.
"Tidak Felix, ini tidak benar kan? A-aku hanya meninggalkannya sebentar untuk menjawab telepon, t-tapi kenapa...?" Agatha terisak lalu menangis histeris lagi, lengannya masih melingkari tubuh Mikael menahan agar tak seorangpun membawanya.
"Aku tidak tahu kenapa dia ada di sana, Mikael tidak bisa berenang. Kenapa adikku harus berakhir seperti ini?" Felix mengusap kedua matanya yang terus menerus mengeluarkan air mata.
"Ini pasti salah, ini tidak benar... Mikael, dengar aku..." Agatha menyentuh wajah pemuda itu pelan.
"Kau bisa mendengarku kan? Ayo bangun... bangun dan katakan kau hanya bercanda..." tangan gadis itu terlihat gemetar, bukan karena dinginnya cuaca namun karena dia menyadari tubuh pemuda yang dicintainya itu sudah tak lagi memancarkan hangat kehidupan.
"Maaf nona, kami harus segera membawanya ke rumah sakit untuk melakukan autopsi," ucap salah satu petugas yang bersiap membawa Mikael.
"Tidak! Kalian tidak boleh membawanya! Mikael, ayo bangun... kumohon..." Agatha seperti kehilangan akal dan terus berusaha membangunkan Mikael.
"Nona, anda tidak boleh seperti ini. Biarkan kami pergi dan anda akan segera mendapatkan laporannya."
__ADS_1
Felix berusaha menarik Agatha agar gadis itu melepaskan Mikael sementara para petugas membawa Mikael ke rumah sakit.
Dan setelahnya Agatha terduduk lemas di halaman dengan tangisan yang semakin terdengar menyayat hati. Christ melihat itu semua dengan perasaan takut yang luar biasa. Semua yang terjadi di depan matanya terasa tidak nyata dan di saat bersamaan kenyataan memukulnya dengan kesadaran yang menyakitkan.
Dia membunuh pemuda itu.
Dia membunuh Mikael Olivander.
Christ masih tidak bergerak dari tempatnya begitu juga Neona yang sudah menangis terisak di sampingnya.
"Christ, bagaimana ini? Seharusnya kau menuruti saranku dan kita kembali menyelamatkannya... aku takut. Dia mati karena kita..." bisik Neona pelan dalam tangisnya, tangan gadis itu mencengkeram kuat lengan Christ.
"Diam Neona, diam! Aku tidak tahu... aku tidak bermaksud mencelakainya—" Christ menutup mulutnya dan memejamkan matanya kuat-kuat agar tidak menangis karena saat ini dadanya benar-benar terasa sesak oleh penyesalan yang luar biasa besar.
Christ merogoh sakunya mengambil ponsel, dengan tangan gemetar dia memanggil seseorang yang diharapkannya bisa mengeluarkannya dari situasi ini.
"Arth... tolong aku, tolong kumohon."
'Ada apa? Apa terjadi hal buruk padamu atau apa? Katakan yang jelas.'
"A-aku tidak bisa menjelaskannya melalui telepon, jemput aku sekarang. Akan kukirimkan alamatnya," jawabnya dengan napas tertahan.
Tidak ada yang bisa dipikirkannya selain menghubungi sang kakak.
.......
.......
.......
Arthur tentu saja bingung karena sebelumnya yang dia tahu adalah Christ sedang melakukan acara amal di sebuah rumah panti, jadi kenapa ada banyak polisi?
Christ segera berlari menghampiri Arthur saat melihat kedatangan kakaknya itu.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Arthur curiga apalagi wajah Neona dan adiknya terlihat sepucat kapas.
"Aku akan menjelaskannya nanti, tapi kumohon bawa aku pergi dari tempat ini sekarang."
Mengiyakan dengan bingung, Arthur menyuruh Christ dan Neona untuk masuk ke dalam mobil.
Dan setelah Christ menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Arthur tentu saja sangat terkejut mendengarnya.
"Christ, ini tidak benar kan...? Kau tidak sedang bercanda padaku kan? Karena ini sama sekali tidak lucu."
"Aku tidak bercanda, Arth."
Dan rasanya seperti jantungnya jatuh ke mata kaki, Arthur membelalakkan mata tidak percaya. Kepalanya seperti dihantam oleh sesuatu yang berat.
"Kau? Seseorang kini kehilangan nyawa karena sikap impulsifmu itu? Christ!" teriaknya tertahan seperti akan meledak.
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud untuk mencelakainya, Arth! Aku sama sekali tidak bermaksud begitu!" sahut Christ dengan napas menderu karena emosinya.
"Apapun itu kau sudah menghilangkan nyawa orang lain! Astaga!!" Arthur menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi.
"Aku tidak tahu akan begini karena kupikir dia bisa berenang dan danau itu tidak terlalu dalam."
"Kau sudah gila ya? Semua alasan yang kau katakan hanya hal kekanakan berdasarkan sudut pandangmu! Apa kau tidak berpikir sekalipun dangkal tapi air di musim dingin bisa membekukan?"
Christ hanya menunduk diam, dia tahu ini kesalahan terbesar yang dibuatnya. Dan dia tidak tahu bagaimana akan menghadapi ini.
"Kau mendorong dengan sengaja seorang pemuda tunawicara ke dalam danau yang membekukan lalu meninggalkannya dengan pikiran pemuda itu bisa berenang? Itu terdengar seperti alasan seorang pembunuh untuk menghindari tuduhan!"
"Tapi aku tidak membunuhnya, Arth!"
"Tapi kau sengaja meninggalkannya dalam keadaan dimana dia tidak bisa berteriak minta tolong dan itu sama seperti kau menyiksanya sebelum dia kehilangan nyawa!"
"Seharusnya kau menuruti saranku untuk kembali dan menolongnya," kali ini Neona bersuara setelah menangis ketakutan sejak tadi.
"Jika kita kembali maka hal ini tidak akan terjadi," ucap gadis itu lagi. Neona tidak menyangka dia akan menyaksikan sebuah peristiwa hilangnya sebuah nyawa.
"Jadi kau juga menyalahkanku sekarang?" tanya Christ yang kini sudah tidak bisa menahan diri menatap nyalang gadis itu.
"Aku tidak menyalahkanmu tapi seandainya kita kembali maka dia akan selamat."
Christ diam tanpa bisa membantah, baginya memang semuanya benar tapi Christ tidak mau dirinya di cap sebagai pembunuh.
Aku tidak membunuh.
"Arth, kumohon tolong aku untuk menghindari ini. Aku tidak mau," ucapnya lagi pada sang kakak yang kini terlihat kacau juga.
"Aku akan mengusahakannya jadi kalian harus bersikap biasa saat memberikan keterangan kesaksian," ujarnya kemudian.
"Aku akan mengatakan kejadian sebenarnya, aku tidak bisa. Ini membuatku takut," Neona menggeleng cepat.
"Neona!"
"Aku tidak bisa, ini sudah keterlaluan. Setelah sengaja meninggalkannya sekarang kau juga akan menutupi kejadian sebenarnya?" gadis itu kini mulai menangis kembali.
"Aku akan mencari cara untuk mengatasinya tapi tidak dengan mengakuinya sekarang. Kumohon kau mengerti posisi kami Neona," ucap Arthur mengakhiri.
Dan seperti itulah Christ meminta pada Arthur sehingga kasus itu ditutup dengan pernyataan bahwa,
'Pemuda tunawicara kehilangan nyawanya setelah terjatuh di danau dalam keadaan suhu dingin tanpa sempat meminta pertolongan.'
.
.
.
__ADS_1
Riexx1323.