Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Rencana dan Rencana


__ADS_3

...Apapun yang kau lakukan untuk menolakku, aku tidak akan pergi darimu....


...—Christopher—...


Agatha merasa pipinya kaku karena tersenyum sejak tadi. Sebenarnya dia terbiasa begitu saat ada pertemuan bisnis, tapi keberadaan Christopher Winston di sampingnya membuatnya berbeda.


Pria ini lebih menyebalkan dari Gabriel yang selalu populer di setiap acara dengan puluhan orang menatap penuh kekaguman. Christopher lebih dari itu karena bahkan banyak para petinggi yang menyukainya tidak hanya para wanita.


Dan sejak pria itu dengan seenaknya membawa dirinya kembali ke acara, mereka menjadi pusat perhatian dengan status baru mereka. Agatha bahkan melihat sang pemilik acara tidak keberatan jika perhatian para tamu lain teralihkan oleh Christopher.


Beberapa dari para petinggi itu mengeluh kecewa karena kabar pertunangan mereka. Tentu saja alasannya jelas karena orang-orang itu menginginkan putri mereka berjodoh dengan Christopher Winston.


Namun fakta bahwa wanita yang dipilih adalah Agatha Anderson membuat orang-orang itu tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Agatha adalah perwakilan dari kesempurnaan itu sendiri untuk bersanding dengan pria seperti Christopher Winston.


"Sampai kapan kau akan menyeretku dalam situasi ini? Apa kau tidak melihat tulang pipiku kaku?" bisik Agatha pada pria di sampingnya yang tampak senang itu.


"Hm? Coba kulihat sini," dan tanpa aba-aba Christ menangkup pipi Agatha dengan lembut dan mendekatkan wajahnya.


"Apa yang kau lakukan?" desis Agatha membelalak.


"Memeriksa keadaan tunanganku."


"Lepas! Damn! Kau tidak lihat kita jadi pusat perhatian?!" Agatha menahan diri untuk tidak mengutuk dan mendorong pria di hadapannya ini keras-keras.


Dasar sialan!—batin Agatha.


Christopher hanya tersenyum melihat kekesalan Agatha kemudian melepaskan tangannya dari pipi wanita itu. Tangan kirinya dengan cepat melingkari pinggang Agatha.


"Karena calon istriku sudah lelah, sebaiknya kita sudahi dulu," ucapnya pelan masih dengan segaris senyum di bibirnya dan segera undur diri dari beberapa orang disana.


Christ membawa Agatha kembali duduk di meja mereka. Oh ya, Christ sengaja meminta perubahan mejanya agar menjadi satu karena sebenarnya meja mereka terpisah. Sementara Agatha mengedarkan pandangan mencari keberadaan Joshua.


Acara akan segera dimulai, kemana sahabatnya itu?


"What are you looking for?" tanya Christ yang melihat Agatha tidak fokus.


"Joshie. Where is he?"


Christ ikut mengedarkan pandang, lalu di lihatnya Joshua sedang bersama beberapa orang di samping gazebo luar.


"He is there," ucapnya memberitahu Agatha yang kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas.


"Sampai kapan kau akan meninggalkanku sendirian? Cepat kembali," ucapnya kemudian mengakhiri sambungan telepon bahkan sebelum Joshua merespon.


Tak lama yang dicari pun segera datang menghampiri mereka. Tampak sedikit heran melihat kekesalan di wajah Agatha.


"Ada apa?"


"Kau lupa ini adalah bagian dari bekerja? Sedang apa kau di sana dengan para wanita itu?" kesal Agatha.


"Kau juga sedang bersama Christ jika kau lupa. Kenapa aku harus jadi orang ketiga?"


"Aku diseret olehnya! Harusnya kau menyelamatkanku, Joshie!" bisik Agatha kesal, dia sungguh tidak berharap Christopher Winston muncul di sini.


"Ehem, maaf menginterupsi tapi apakah kalian lupa aku ada disini?" tanya Christ pelan membuat kedua orang di depannya kemudian terdiam dan tersenyum kikuk.


Selama ini Christ memperhatikan bahwa hubungan Agatha dan Joshua itu unik. Mereka selalu bertengkar setiap saat namun juga saling memahami satu sama lain. Love hate relationship.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam ketika acara itu berakhir.


Agatha sebenarnya sudah ingin pergi sejak tadi hanya saja beberapa orang yang menemuinya dan berbincang mengenai kerjasama pengembangan fasilitas resort. Dan Agatha baru mengetahui kalau ternyata perusahaan Winston adalah investor terbesar untuk penyediaan pesawat terbang amfibi di Maladewa. Padahal sebelumnya Agatha yakin tidak ada nama Winston dalam daftar perusahaan investor maupun lainnya.


"Ware & Xander."


"Apa?" tanya Agatha saat Joshua tiba-tiba menyebutkan nama yang terdengar tidak asing di telinganya.


"Perusahaan yang mengelola dan mendistribusikan pesawat terbang di sini, Ware & Xander. Ternyata itu di bawah naungan milik perusahaan Winston. Aku juga baru tahu karena selama ini sepertinya Christ tidak pernah turun langsung. Selama ini keluarga Alexander yang mengelolanya."


Agatha hanya diam mendengar penjelasan Joshua. Kini keduanya sedang dalam perjalanan kembali ke resort.

__ADS_1


"Oh, kau memintaku untuk tidak mengurus tiket penerbangan kita besok. Ada apa?" tanya Joshua.


"Ah itu, sebentar," Agatha meraih ponselnya kemudian mengirimkan sesuatu pada Joshua. "Aku sudah beli tiketnya sendiri, periksalah."


Joshua kemudian memeriksa ponselnya dan menatap heran.


"Kau salah beli? Ini penerbangan dua hari lagi bukan besok."


"Memang benar."


Joshua mengernyit mendengar jawaban Agatha. "Maksudnya?"


"Satu hari tambahan. Extra holiday. "


"Agatha, are you kidding me?"


"I'm not, Joshie anggap saja ini sedikit penebusan selama beberapa bulan ini."


"Then I should get a long vacation. Tidak hanya sehari."


"So you don't want to take it? Baiklah akan kukembalikan," sahut Agatha yang mendadak kesal.


"No! I'll take it, Baby. Itu artinya dalam satu hari aku bebas tugas?"


"Hm."


Joshua menyeringai lebar kemudian mengecup kening Agatha singkat.


"Thanks Love."


"I'll give you long vacation later, tidak sekarang karena kita masih memiliki banyak jadwal."


"Okay."


Keduanya sampai di resort dan Agatha membiarkan sahabatnya itu bersuka cita atas liburan kecilnya. Dia tahu mereka hampir tidak pernah berlibur sekalipun sudah berulang kali Agatha meminta Joshua cuti. Sahabatnya itu selalu menolak dengan alasan tidak tega meninggalkannya.


Oh hell, no.


Christopher Winston.


"Ada apa?"


"Boleh kujemput sekarang?"


"Ini sudah hampir tengah malam kalau kau lupa."


"Oh Agatha, kita bahkan pernah menghabiskan pagi bersama. Kau tidak ingat?"


"Diam."


"Jadi boleh?"


"Apa yang kau inginkan? We just met a few hours ago Christ."


"It's in a formal meeting and I want to meet in personal now."


Agatha menghela pelan, kepalanya pening jika di hadapkan pada sikap keras kepala Christopher.


"Terserah Christ, sekalipun kularang kau pasti tetap akan muncul kan."


"You know me so well. I'll be there in ten minutes."


Dan sambungan ponsel mereka terputus. Agatha masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri kenapa dengan bodohnya dia menawarkan kerjasama hingga harus terjebak dalam permainan Winston seperti ini.


Dia ingin menghubungi Joshua tapi kemudian ingat untuk membiarkan sahabatnya itu beristirahat tanpa gangguan.


Baiklah, dia akan mengatasi sendiri Christopher Winston dengan segala sikap menyebalkannya.


Dan benar saja, sepuluh menit kemudian pria itu sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Entah darimana pria ini bahkan tahu letak kamarnya.

__ADS_1


"Mau jalan-jalan sebentar?"


"Christ, ini sudah hampir tengah malam."


"Kalau begitu di dalam saja, biarkan aku masuk," dan dengan satu senyuman pria ini masuk begitu saja bahkan sebelum Agatha mengijinkannya.


"Hei!"


"Aku tidak akan macam-macam, Agatha. Kemarilah."


This bastard—


Christopher melepaskan jasnya, menyisakan kemeja biru muda yang masih sangat rapi di jam segini.


Agatha mempersilahkan pria itu duduk kemudian menyusul duduk di seberangnya.


"Aku senang bertemu denganmu disini."


Aku tidak.


"Kupikir kita benar-benar berjodoh karena selalu bertemu."


Bukannya terlihat seperti kau sengaja mengikutiku? Apanya yang kebetulan?


"Aku juga terkejut melihatmu." balas Agatha acuh.


"Kau tidak senang?"


Agatha tidak menjawab dan hanya mengedikkan bahu.


"Kau akan kembali besok?" tanya Christ lagi.


Agatha berpikir cepat untuk membohongi pria ini. Dia tidak mau liburannya terganggu.


"Ya, aku akan kembali besok."


"Hm begitu, tapi aku tidak melihat namamu di jadwal penerbangan besok."


Damn!


"Terserah padaku mau kembali kapan. Kenapa kau selalu mencampuri urusan pribadiku?"


"Karena aku ingin memastikan calon istriku baik-baik saja."


"Diam."


"Baiklah, karena besok Joshua akan berlibur maka aku akan menggantikannya untuk menemanimu seharian."


"Ap—darimana kau tahu? Joshua memberitahumu?"


Christopher menggeleng pelan, "Sahabatmu itu tidak akan memberitahuku. Meski begitu aku selalu tahu apapun tentangmu, Agatha."


Agatha merasa jengkel luar biasa. Pria di hadapannya ini sungguh menguras emosinya tiap kali mereka bertemu.


"Tidak mau. Jangan ganggu aku."


"Besok pagi aku akan menjemputmu."


"Christ!"


"Yes, Sunshine? Aku akan kembali sekarang, good night and get rest Agatha."


.


.


.


Riexx1323.

__ADS_1


__ADS_2