Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Pendosa Yang Mencari Pengampunan


__ADS_3

...The greatest day in your life and mine is when we take total responsibility for our attitudes. That's the day we truly grow up....


.......


.......


.......


Christ membuka matanya dengan napas terengah dan peluh membasahi dirinya. Beberapa kali matanya mengerjap mencari kesadaran akan keberadaannya yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.


Apakah aku sedang bermimpi?


Diusapnya keringat dingin di keningnya, dia masih ada di kamar pesakitannya dan tertidur di sana. Kamar ini selalu berhasil membawa mimpi buruknya kembali, rasa takutnya kembali dan perasaan bersalah yang menekannya bagaikan gunung batu.


Getaran ponsel di sampingnya membuatnya menoleh untuk menjawab panggilan dari Leon.


"Hm, ada apa?" jawabnya pelan, kepalanya masih terasa berputar dan dia merasa lemas tanpa tenaga.


'Kau! Darimana saja? Kau gila ya menghilang tiba-tiba?' teriak sepupunya itu dari seberang sana.


"Aku tidak kemana-mana, bukankah aku sudah bilang padamu akan menemui Arthur di rumah? Dan sepertinya aku ketiduran setelah pembicaraan kami," jawabnya pasrah karena dia sendiri tidak melakukannya dengan sengaja.


'Kau tidak bohong kan? Aku juga menghubungi Arthur tapi dia bilang tidak tahu kau dimana setelah kalian selesai bicara. Ada apa sebenarnya?'


Christ menghela napasnya panjang, "Seperti yang kukatakan padamu jika pembicaraan dengan Arthur hanya akan membuatku merasakan hal itu lagi. Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang."


'Aku tidak bisa mengatakan apa-apa jika pembahasan itu kesana. Tapi sepertinya kau sekarang harus segera mengecek ponselmu jika tidak ingin ada hal buruk lain yang terjadi.'


Christ mengerutkan kening bingung, "Ada apa?"


'Agatha mencarimu sejak tadi dan dia bertanya padaku. Sepertinya dia tidak percaya kalau aku sedang tidak bersamamu,' jelas Leon.


'Kumatikan dulu ya. Cepat buka ponselmu.'


Christ segera menggeser layar ponselnya dan melihat ada puluhan pesan dan juga panggilan tak terjawab dari Agatha dan Leon. Christ melirik bar angka yang menunjukkan jam saat ini. Pukul 03.15 dini hari dan sudah hampir tujuh jam dia ada di sini. Dia tidak memberi kabar apapun pada Agatha, pasti istrinya itu mencarinya.


Christ ragu saat tangannya dengan gemetar akan menekan panggilan ke nomor istrinya. Rasa yang dialaminya barusan masih terasa nyata dan menganggunya. Rasa takut juga perasaan bersalah itu kembali menghinggapinya dan dia tidak sanggup bicara pada Agatha sekarang.


Kenapa? 


Kenapa harus sekarang perasaan dan mimpi buruk itu kembali?


Jika suatu hari nanti Agatha tahu yang sebenarnya akankah istrinya itu masih mau menerimanya padahal sekarang Agatha sudah mulai bisa membuka hati untuknya?


Christ terduduk menatap lantai marmer putih di bawah kakinya, kepalanya sudah merasa pusing memikirkan berbagai kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Dan dia berharap semua kemunginan buruk tidak akan terjadi. 

__ADS_1


Tepat saat itu ponselnya kembali bergetar dan memunculkan nama Agatha di layarnya. Tangannya perlahan meraih benda itu, ragu untuk menjawabnya dan akhirnya Christ hanya mengabaikan panggilan itu.


Dia tidak bisa menghadapi Agatha dengan keadaannya yang sekarang.


.......


.......


.......


Agatha sudah berulang kali mencoba menghubungi nomor Christ namun sejak tadi tidak mendapat jawaban. Dia sudah menghubungi Leon dan pria itu tidak tahu menahu dimana keberadaan Christ setelah pulang dari kantor.


Tidak biasanya seperti ini.


Hari-hari biasanya Christ akan menghujaninya dengan pesan teks dan juga akan menelepon beberapa kali. Tapi hari ini tidak ada kabar apapun selain siang tadi saat dia meminta memberitahu suaminya itu bahwa dia akan pulang terlambat karena pergi bersama Joshua dan Felix.


Namun saat Agatha pulang pukul sepuluh malam, pria itu tidak ada di apartemen mereka. Agatha mulai sedikit khawatir saat sudah terlewat tengah malam namun tidak ada kabar dari suaminya itu.


Semua pesannya terkirim namun tidak dibaca. Panggilan darinya tersambung tapi tidak juga dijawab.


Apa mungkin terjadi sesuatu?


Tapi jika ada hal buruk yang terjadi sudah pasti Leon atau keluarganya akan memberi kabar kan?


Agatha sebenarnya sudah sangat mengantuk namun tidak bisa tidur dengan tenang karena memikirkan keberadaan Christ. Agatha bahkan sudah menghabiskan segelas susu dan secangkir kopi selama menunggu. Sudah hampir pagi dan dia harus segera tidur. Jika sampai besok Christ tidak pulang, dia akan pergi ke kediaman Winston untuk mencarinya.


.......


.......


.......


Christ berjalan keluar dari kamarnya berniat segera pulang ke apartemennya sebelum Agatha mungkin mencarinya. Tepat saat itu ibunya justru sedang duduk dengan wajah tegang di ruang depan.


"Ibu?" sapanya membuat wanita itu menoleh dan tersenyum tipis padanya.


"Kau belum pulang? Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanyanya kemudian mengulurkan tangan meminta agar putranya itu duduk di sampingnya.


"Ibu sudah pulang?" tanya Christ pelan, dia tahu ibunya pasti pulang lewat tengah malam dari rumah sakit.


Ibunya tersenyum meski Christ masih bisa melihat ketegangan di wajah itu.


"Ibu mendengar semuanya dari Arthur. Kenapa kau harus seperti ini? Kedatangan Neona memang sudah memberi ibu firasat buruk. Christ, kau tidak bisa menuruti wanita itu lagi. Ibu akan bicara pada Neona."


"Jangan Bu, kali ini biarkan aku menyelesaikannya dengan caraku. Ibu dan Arthur sudah melakukan banyak hal untukku jadi kali ini kumohon percayakan padaku."

__ADS_1


"Tapi kau hanya akan mengulang masa buruk itu kembali, Nak. Ibu tidak mau melihatmu kembali trauma seperti dulu. Atau biarkan kakakmu yang bicara pada Neona."


"Tidak, Bu. Kumohon kali ini biarkan aku saja. Lagipula sepertinya cepat atau lambat aku harus menghadapinya."


"Tapi Christ, bagaimana dengan Agatha? Ibu cemas kalian akan mengalami masa sulit karena ini," tampak jelas kekhawatiran membayang di wajah sang ibu yang menggenggam erat jemari putranya.


Hatinya serasa ikut diremas saat Arthur memberitahukan keadaan Christ tadi. Putranya itu sudah menanggung banyak beban dan penyesalan selama ini.


Bukankah putranya itu juga layak untuk bahagia?


"Baiklah, ibu akan mencoba percaya dan membiarkanmu menyelesaikan ini. Tapi saat kau tidak sanggup dan merasa berat, kau harus mengatakannya pada ibu atau kakakmu. Mengerti?"


Christ tersenyum dan memeluk ibunya dengan keharuan dan penyesalan yang luar biasa, air mata kembali menggenang di sudut matanya. Dia bersyukur dan beruntung memiliki keluarganya. Sekalipun dia melakukan kesalahan tak termaafkan tapi keluarganya tidak lantas membuangnya begitu saja. Mereka memang marah dan menghukumnya namun di saat yang sama mereka juga meraih tangannya, merengkuh dan melindunginya.


"Thank you, Mum. Love you so much," bisiknya pada sang ibu yang balas memeluk dan mengusap punggungnya dengan hangat.


.......


.......


.......


Langkah kakinya pelan dan meragu saat berada di depan pintu.


Mungkin dia meyakinkan orang lain bahwa dia baik-baik saja, namun hanya dirinya yang tahu betul betapa berat perasaannya saat ini.


Christ membuka pintu pelan, tidak ingin menimbulkan bunyi apapun yang mungkin akan membangunkan Agatha karena sekarang pukul enam pagi dan biasanya istrinya itu masih terlelap dalam tidurnya.


Menyalakan lampu ruang tengah, Christ dibuat terkejut melihat Agatha yang tertidur di sofa dengan tangan wanita itu masih memegang ponsel.


Apakah Agatha tertidur saat menunggunya pulang?


Hatinya terasa semakin berat memikirkan hal itu. Lantas dengan pelan Christ mendekat lalu bersimpuh di hadapan istrinya.


Dibelainya pelan wajah cantik itu seraya berusaha agar tak membangunkan pujaan hatinya itu.


"Maafkan aku, Agatha."


Bisiknya pelan nyaris tak terdengar dan beban berat itu kembali luruh dalam air mata yang perlahan turun di pipinya. Terisak pelan Christ menutup mulutnya agar tak membangunkan Agatha.


"Maafkan aku, maaf..."


.


.

__ADS_1


.


Riexx1323.


__ADS_2