
...Bagian tersulit sebuah keadaan adalah memulai sesuatu....
.......
.......
.......
Joshua melirik wanita yang sejak tadi meringkuk di sofanya dengan selimut tebal membungkus tubuhnya.
Sejak selesai makan malam Agatha langsung membajak sofa yang selalu jadi tempat favoritnya dan juga mengambil selimut tebalnya.
Dan belum mengatakan apa-apa lagi.
"Jadi sebenarnya kau berniat untuk bicara padaku atau tidak? Kalau tidak sebaiknya aku mengantarmu pulang sebelum aku menjadi tertuduh menculik istri orang."
"Aku tidak boleh menginap?"
"Kau sudah gila? Atau kau mau membuatku jadi tertuduh?" sahut Joshua kesal lalu menghampiri Agatha dan duduk di sebelahnya.
"Bukan begitu."
"Lalu?"
Agatha menatap Joshua ragu sekaligus takut, bingung bagaimana harus mulai bercerita.
"Joshie, menurutmu aku harus bagaimana?"
"Apanya? Katakan dengan jelas."
"Mereka ingin aku segera memiliki keturunan."
Hening.
Sepersekian detik kesunyian itu terasa lama sampai akhirnya Joshua berdehem kecil.
"Lalu apa masalahnya? Bukankah aku juga sudah sering mengatakannya padamu? Aku mau keponakan."
"******* you man! Bukan begitu!" Agatha meninju lengan Joshua dengan kesal.
"Lalu kau mau aku mengatakan apa? Melarangmu memiliki keturunan?" Joshua terlihat berusaha menahan kekesalannya, "Bukankah itu hal wajar bagi setiap pasangan?"
Wajar saja.
Tapi aku dan Christ bukan pasangan itu.
"Jangan bilang kau tidak mau hamil?" tanya Joshua ragu, tidak mungkin Agatha berpikir begitu kan?
"I don't know," jawab Agatha setelah terdiam cukup lama.
Joshua mendekat dan meraih tangan Agatha yang kemudian digenggamnya. "Kenapa? Jangan bilang kau merasa takut atau tidak siap?"
Agatha menggeleng. "Bukan begitu. Seperti yang kau tahu kalau aku masih—berusaha membiasakan diri dengan Christ dan ini tidak mudah. Aku hanya tidak mau menambah beban."
Maafkan aku Joshie, untuk sementara hanya ini yang bisa kukatakan padamu terlepas dari kesepakatan itu.
"Agatha, kenapa kau berpikir ini akan menjadi beban? Bagi sebagian besar orang kehadiran seorang anak bisa menjadi faktor yang akan mendekatkan dan mempererat hubungan antar pasangan. Mungkin itu bisa terjadi pada kalian, kenapa tidak dicoba, kau sudah berusaha menerima semua sejauh ini kan?" Joshua tahu memang sulit bagi Agatha tapi sahabatnya itu sudah mau mencoba membuka hati, jadi dia harus mendukung kan?
"Tapi aku tidak bisa—"
"Kau sudah tanya pendapat Christ tentang ini?"
"Kami sudah bicara sebelumnya, dia menyerahkan semuanya padaku."
__ADS_1
Joshua memijit keningnya yang mendadak pusing dengan ketidakjelasan hubungan pernikahan sahabatnya. Yang satu keras kepala dan yang satu cinta buta. Jika dibiarkan ini tidak akan berjalan dengan baik kan pada akhirnya.
"Agatha, do you love him?" pertanyaan yang sederhana namun sulit dijawab.
"I don't know... mungkin aku tidak membenci atau risih dengan keberadaannya seperti dulu. Tapi aku tidak yakin itu cinta."
"What do you think about him, Agatha? He's your husband and you have to love him."
Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Agatha, wanita itu hanya diam dengan tatapan melamun. Jika dipikirkan kembali Christ sudah terlalu baik untuk berusaha dan menunggunya, apakah sekarang saatnya dia memberikan balasan yang layak untuk suaminya itu?
Diraihnya ponsel yang sejak tadi dibiarkannya tergeletak di meja dan menekan sebuah nomor yang dalam satu deringan sudah menjawab.
"Jemput aku di apartemen Joshua, aku tidak mau dijemput sopir. Sampai nanti," dan begitu saja diputuskannya panggilan itu.
Agatha tidak tahu keputusannya ini benar atau salah bahkan akan disesalinya atau tidak. Yang jelas dari sudut hatinya dia merasa bahwa sudah waktunya dia membalas kebaikan Christ.
Sementara Joshua menatap Agatha dengan lembut dan tersenyum, kedua tangannya refleks meraih tubuh ramping Agatha dalam dekapannya. Lagi-lagi dia lega atas keputusan yang akhirnya diambil oleh sahabatnya itu.
"Jadi akhirnya kau yakin?" tanyanya sembari menepuk-nepung punggung sempit Agatha.
"Entahlah aku tidak tahu tapi seperti katamu aku harus mencoba untuk menghargai ketulusannya kan?"
"Hmm, iya... aku bahagia untukmu selalu, Agatha. Selalu."
"Aku tahu, thanks for everything Joshie."
.......
.......
.......
Jalanan yang ramai di jam seperti sekarang terlihat seperti latar bergerak yang mengiringi perjalanan sepasang manusia yang sedang membawa berat perasaan masing-masing.
Dan meski berusaha terlihat biasa saja, Agatha tahu suaminya itu datang dengan terburu-buru untuk secepatnya sampai.
"Sudah makan malam?" suara Christ memecah keheningan diantara mereka, pria itu menoleh pada istrinya yang sejak tadi diam memandangi keriuhan jalan dari jendela.
"Sudah tadi bersama Joshie. Kau sendiri?" balasnya bertanya dan dijawab oleh gelengan pelan dari Christ.
"Em... belum karena tadi tidak sempat, banyak yang harus ku kerjakan," jawab pria itu berdusta. Jelas sekali dia sejak tadi sibuk dengan perasaannya dan diskusi penuh kekesalan bersama Leon.
"Kalau begitu ayo makan malam."
"Tapi kau sudah makan?" jawab Christ ragu.
"Kutemani saja. Aku ingin ke tempat pertama kali kau menyeretku untuk makan malam menjelang dini hari."
Christ tersenyum mengingat kejadian itu, dulu dia yang memaksa istrinya itu untuk makan meskipun ditolak pada awalnya. Rasanya baru kemarin dia memburu Agatha dengan segala caranya memaksa, dan sekarang wanita itu sudah menjadi istrinya.
"Kau yakin mau kesana?" tanyanya meyakinkan karena entah kenapa tiba-tiba dia berdebar membayangkannya.
"Tentu, ayo kita kesana."
Dan senyum lebar yang muncul di bibir Christ terlihat begitu melegakan dan menyenangkan. Ada kehangatan yang terpancar pada wajah pria itu yang membuat Agatha tanpa sadar ikut tersenyum.
Ada perbedaan besar saat keduanya sampai di tempat itu. Dulu Christ mati-matian memaksa Agatha datang, memaksa wanita itu mengikutinya dengan kesal, memaksa wanita itu untuk makan dan sekarang situasinya terbalik.
Agatha yang mengajaknya datang, Agatha yang memaksanya untuk tidak melewatkan makan malamnya, dan perubahan paling besar adalah Agatha yang kini berjalan di sampingnya dengan memeluk lengannya.
Christ tidak pernah merasa sebahagia ini. Hal sederhana namun selalu menjadi luar biasa jika Agatha ada di dalamnya.
"Selamat malam Elle," sapa Christ pada wanita yang sedang sibuk dibalik konter minuman.
__ADS_1
"Christ!! Astaga! Kau—kalian?" wanita itu tampak senang sekaligus terkejut kala matanya beralih dari Christ lalu Agatha yang ada di sampingnya.
"Istriku ingin sekali datang kemari, seharusnya aku mengajaknya sering-sering datang ya?" timpal Christ yang tersenyum pada wanita yang masih terkejut itu.
"Kalian sudah menikah?" tanyanya yang diangguki oleh Christ sebagai jawaban.
"Dan kau tidak memberitahuku kabar bahagia ini?" tuntutnya yang diikuti oleh tawa ringan Christ.
"Maafkan aku Ellena, tapi pernikahan kami memang tidak dikabarkan secara luas."
"Ah, aku mengerti. Kalau begitu selamat ya! Aku bahagia untuk kalian," ucapnya kemudian memberi sebuah pelukan hangat untuk mereka berdua.
Dan setelah obrolan singkat itu, mereka menunggu di meja yang terletak di sudut ruangan dekat pintu kaca tepat menghadap halaman samping yang ditumbuhi oleh tanaman penuh daun yang terawat.
"Kau yakin tidak mau ikut makan?"
Agatha menggeleng, "Tidak usah, aku sudah cukup makan tadi."
"Hm, baiklah. Bagaimana tadi bersama Joshua? Kalau kuingat lagi kalian sudah lama tidak meluangkan waktu bersama terlepas dari pekerjaan."
Agatha menatap lurus pada manik gelap Christ sebelum mengangguk, "Aku juga baru menyadarinya bahwa aku merindukan apartemennya."
"Apartemennya?"
"Ya, dulu hampir setiap hari aku berada di sana setelah melepaskan diri dari pekerjaan. Apartemen Joshua adalah rumah keduaku, bahkan Gabriel pasti tahu dimana mencariku saat aku tidak ada di rumah."
Christ tersenyum, "Ya, bisa kulihat kalian sedekat itu."
"Aku bahkan sering menginap di sana dan akan selalu datang menganggu ketika dia mengambil liburnya," sebuah senyuman kini tergambar di bibir Agatha sementara ingatannya kembali ke masa-masanya dan Joshua.
Kemudian menyadari bahwa semenjak dia menikah, pertemuannya dengan Joshua hanya berada dalam seputar pekerjaan, dia tidak lagi bisa merecoki sahabatnya itu sesering dulu karena dia harus pulang bersama Christ.
"Aku tidak meluangkan waktu untuknya," gumamnya pelan dan merasa menyesal karena merasa meninggalkan sahabatnya itu tiba-tiba.
Hidangan yang ditunggu pun datang bersama sebotol anggur yang khusus disiapkan oleh Ellena sebagai hadiah selamat darinya.
Tentu saja diterima dengan senang hati oleh keduanya yang kemudian dinikmati setelah makan malam. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin disampaikan satu dan lainnya namun keduanya ragu untuk mengawali pembicaraan. Lagi-lagi mereka hanya duduk diam menikmati anggur dan suasana malam yang semakin larut dan tempat ini semakin hidup menjelang larut malam.
"Agatha, ada hal yang ingn kukatakan padamu," Christ meletakkan gelasnya dan menghela pelan sebelum menatap dalam-dalam netra coklat wanita yang dicintainya itu.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Agatha menatap suaminya itu dalam-dalam, "Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Aku dulu atau kau dulu?" tawar Christ masih dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Bolehkah aku dulu yang bicara?" Agatha harus segera mengatakannya sebelum dirinya kembali tidak yakin dengan keputusannya.
"Baiklah, silahkan."
"I don't know how to start, and I know it's too late but I have to tell you."
Agatha mengambil napas panjang sejenak yang membuat pria di hadapannya itu berdebar penasaran, "Let's try this, menjadi sepasang suami istri yang sesungguhnya," pungkas Agatha mengakhiri kalimatnya dengan berdebar dan sedikit lega.
Sementara Christ menatapnya dengan mata melebar tak percaya dan sepertinya pria itu tidak bisa berkata-kata untuk menanggapi ucapan istrinya selain debar jantungnya yang begitu cepat, napasnya yang penuh serasa menyesakkan dan sudut matanya yang memanas oleh air mata.
Dia tidak salah dengar kan?
.
.
.
Riexx1323.
__ADS_1