
...Sebuah kepercayaan itu bagaikan sebuah kaca yang tipis. Begitu dia retak maka tak akan pernah kembali seperti semula....
.......
.......
.......
Ruangan yang tampak sepi tanpa penghuni itu tampak semakin sunyi menjelang malam. Senja sudah terlewat beberapa saat yang lalu namun rupanya hal itu tidak membuat si pemilik ruangan menyalakan penerangan untuk menghalau kegelapan yang datang.
Joshua duduk di meja kerjanya dengan kepala tertunduk bertumpu pada kedua tangannya. Dia sungguh tidak menyangka pada kebenaran yang baru diketahuinya tadi.
Setelah bertemu teman lamanya, Vernon yang dulu merupakan ketua dalam kegiatan sosial kampus dimana Mikael dan Agatha serta dirinya ikut di dalamnya, kepala Joshua kini lebih pusing. Sebelumnya Vernon memang membawa semua dokumentasi mereka dulu dan Joshua dengan cepat meneliti dan fokus mencari satu orang yang sebenarnya dia harapkan tidak ada. Namun dia tidak bisa menutupi keterkejutannya karena mendapati sosok Christ ada di sana bahkan hampir di semua potret kebersamaan mereka dalam setiap kegiatan sosial. Sayangnya Vernon tidak bisa mengingat jelas sosok Christ, tapi ada hal janggal lain yang dikatakan oleh Vernon.
Christ menghilang setelah kejadian kecelakaan dalam kegiatan mereka yang sayangnya menewaskan Mikael.
Mungkin kebetulan tapi saat dia kembali memperhatikan memang sejak saat itu sosok Christ tidak ada dalam setiap potret kegiatan lagi.
Joshua mengerutkan kening karena yang dia tahu adalah setelah kepergian Mikael, Agatha dan dirinya memang mengundurkan diri tidak mengikuti kegiatan apapun lagi. Lalu bagaimana dengan Christ?
Kenapa dia merasa tidak nyaman dengan kejanggalan ini?
Pekerjaannya di RedSky memang bisa diselesaikan dalam waktu dua hari dan dia memiliki satu hari kosong selama di sini. Haruskah dia tinggal untuk mencari tahu kebenarannya?
Sekarang pikirannya terbang beralih pada Agatha. Sahabatnya itu sepertinya belum tahu apapun mengenai hal ini. Jika Christ memang menyembunyikan sesuatu yang sekiranya berbahaya untuk Agatha, apa yang harus dia lakukan? Padahal dulu dia sendiri yang mendorong Agatha untuk menikahi Christ.
Semoga Christ tidak menyembunyikan apapun. Semoga hanya sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan kejadian apapun di masa lalu. Semoga menghilangnya informasi pribadi Christ tidak berkaitan dengan hal buruk. Dan semoga hanya kebetulan waktu menghilangnya Christ bertepatan setelah kepergian Mikael.
.
.
.
Gabriel sedang sarapan bersama sang ayah dan juga Zander saat ponselnya berdering. Tentu hal itu mendapat tatapan teguran dari sang ayah yang melarang keras menyela makan dengan hal lain.
"Maaf, Ayah," ucapnya pelan meminta maaf namun manik coklatnya sempat melirik kearah layar ponselnya yang menampilkan nama 'Arthur'.
Ada apa ya, tidak biasanya. — batin Gabriel yang terpaksa mengabaikan panggilan itu agar tidak mendapatkan omelan sang ayah.
"Waktu makan kita tidak menyita sampai 60 menit, ayah tidak suka kalian mencampurinya dengan hal lain," tegur tuan Anderson.
"Ya, Ayah," jawab kedua putranya serentak.
Zander melirik kesal pada Gabriel yang karena ulah kakaknya itu dia jadi ikut kena omel di pagi hari.
__ADS_1
"Ayah, kapan Agatha kemari? Aku sudah pulang tapi ayah tidak memanggilnya untuk pulang," gerutu Zander.
"Maaf, ayah lupa. Lagipula kenapa tidak memintanya sendiri?" tanya tuan Anderson melirik putra bungsunya itu.
"Agatha tidak akan mau menuruti permintaanku. Tapi dia pasti akan menuruti ayah," lanjutnya merajuk.
"Bilang saja kau sebenarnya takut Agatha akan marah kan?" sahut Gabriel menggoda.
"Tidak! Kenapa aku harus takut pada Agatha? Aku hanya tidak mau—"
"Apa?"
Suara angkuh yang sangat familiar itu membuat ketiga orang yang masih berada di meja makan sontak menoleh ke arah pintu. Agatha berdiri di sana dengan kedua tangan bersilang di depan dada tidak lupa dengan senyum dinginnya.
"... Agatha!" seru si bungsu terkejut sampai-sampai menjatuhkan garpunya.
"Kenapa tidak bilang kau akan datang sepagi ini, Sayang? Ayah bisa menunggumu untuk sarapan jika kau memberitahu lebih dulu."
Agatha berjalan mendekati dan memeluk sang ayah.
"Aku sudah sarapan tadi, kalian lanjutkan saja," ujarnya kemudian duduk di samping si bungsu.
"Dimana Christ?" tanya Gabriel yang menyadari adik iparnya itu tak kunjung muncul.
"Aku baru mengantarnya ke kantor, dia bilang harus ke perusahaan cabang pagi ini," jelas Agatha yang mengambil segelas susu milik si bungsu dan membuat Zander mencebik kesal.
"Aku sedang bekerja dari rumah karena Joshua sedang tidak ada dan aku juga tidak memiliki jadwal penting," jawabnya santai.
"Dia ada di RedSky?" tanya tuan Anderson kemudian, "Aku harus memberi putra angkatku itu banyak balasan nanti. Dia bekerja sangat baik bahkan lebih baik dari yang kuharapkan," lanjutnya dengan sikap puas dan bangga.
"Ayah bahkan tidak memujiku begitu," gerutu Gabriel yang langsung mendapat senyuman lebar dari Agatha.
Mereka selesai makan dan berpindah ke ruang santai di halaman belakang namun Gabriel meminta ijin untuk menjawab panggilan teleponnya sebentar.
Gabriel naik ke ruang kerjanya dan dengan segera menghubungi kembali Arthur. Tidak biasanya sahabatnya itu melakukan panggilan berkali-kali seperti ini.
"Arthur, ada apa? Maaf tadi aku sedang bersama Ayah."
'Gabriel! Akhirnya kau menjawab.'
"Maaf, Arth."
'Gabriel, ada yang harus kusampaikan padamu. Bawahanku melapor bahwa seseorang sedang mencari tahu tentang masa lalu Christ. Apa kau tahu hal itu?' tanya Arthur yang terdengar tegang.
"Apa maksudmu? Mencari tahu bagaimana?"
__ADS_1
'Ada seseorang yang berusaha mencari tahu tentang Christ di luar semua data pribadi yang ada. Sepertinya orang ini tidak percaya dengan informasi yang telah kusebar.'
"Tunggu, tenang dulu Arth. Aku sama sekali belum tahu hal itu. Bagaimana mungkin? Kenapa tiba-tiba ada yang mencari tahu?" Gabriel memastikan tidak ada orang lain di dekat ruang kerjanya kemudian menutup pintu.
"Tunggu Arth, jika orang ini tidak percaya pada informasi yang ada sampai mencari tahu seperti ini bukankah itu artinya orang ini dekat dengan Christ?"
'Kemungkinan begitu, tapi siapa? Dan untuk apa?'
"Siapapun di sekitar Christ bisa saja melakukannya. Tapi bukankah ini akan berbahaya?"
'Karena itulah aku ingin kau mengawasinya. Aku lebih takut ini akan membahayakan pernikahan Christ dan Agatha. Kau tahu maksudku kan?'
"Baiklah, Arth. Aku mengerti dan aku akan membantumu untuk hal ini. Sebaiknya kau mencari cara agar informasi itu tetap terjaga."
'Baiklah, aku akan memberikan kabar lagi padamu nanti.'
"Baiklah, Arth."
'Gabriel...'
"Ya?"
'Thanks, for everything.'
"Tentu saja, Arth. Ini kita lakukan demi orang-orang yang kita sayangi kan?"
'Ya.'
Setelah menutup sambungan telepon, Gabriel menghela napas panjang. Tatapannya menerawang pada langit-langit ruang kerjanya. Dia melakukan banyak hal untuk orang-orang yang dia sayang, apalagi kali ini untuk Agatha. Dia rela melakukan apapun agar Agatha bahagia, tidak ingin lagi melihat adiknya itu kembali ke masa-masa tersulitnya.
Gabriel berjalan keluar menghampiri ayah dan kedua adiknya yang sedang berbincang. Mereka adalah harta sesungguhnya baginya. Dia tidak pernah menduga akan melakukan hal sejauh ini untuk kebahagiaan adiknya.
Agatha.
Aku tahu ini mungkin akan menyakitimu, tapi percayalah ini kulakukan karena aku sangat menyayangimu.
Kau harus percaya pada kakakmu ini.
Aku akan melindungimu dengan caraku.
.
.
.
__ADS_1
Riexx1323