Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Sebuah Kisah


__ADS_3

Tidak ada orang yang benar-benar bisa berpisah dengan masa lalu.


.


.


.


Di rooftop rumah sakit, pria itu berdiri bersandar pada pagar pembatas dengan segelas kopi di tangannya yang sejak tadi bahkan belum di minumnya.


Felix terdiam dengan tatapan menerawang ke arah langit di atasnya. Setelah keluar dari ruangan Agatha dia langsung menuju kemari karena sebenarnya dia sudah melakukan kunjungan pasien sejak pagi tadi. Sesekali helaan napas terdengar darinya begitu lirih dan terdengar lelah.


Entah bagaimana dia mendeskripsikan perasaannya sekarang, terlalu bercampur aduk hingga dia tidak tahu harus apa. Pertama, dia terkejut dengan berita pertunangan Agatha, kedua dia merasa sedikit senang atas berita itu, namun ada sedikit perasaan kecewa dan bersedih yang muncul di hatinya. Dia tahu tidak ada hak baginya untuk memastikan perasaan seseorang, tapi dia tahu benar perasaan wanita itu selama ini. Dia mungkin juga berharap wanita itu akan bahagia tapi tidakkah ini terlalu cepat? atau malah terlambat?


Felix Arsen adalah seorang dokter umum di Senna Rod yang secara khusus menangani pasien disabilitas. Bisa dikatakan dunia disabilitas sangat dekat dengan hidupnya. Felix di besarkan di sebuah panti asuhan sejak kecil karena dia telah dibuang oleh orangtuanya, tidak memiliki saudara selain sesama yang berada di panti bersamanya. Dan banyak saudara di pantinya yang merupakan penyandang difabel sehingga Felix sudah terbiasa berkomunikasi dengan mereka, berkegiatan bersama mereka dan memperlakukan mereka sama seperti yang lainnya.


Dia diajarkan untuk tidak membedakan perlakuan hanya karena perbedaan yang mereka miliki. Dan karena sejak kecil dia sendirian, maka dia sangat menghargai dan menyayangi saudara-saudaranya lebih dari apapun. Pernah suatu hari terjadi kebakaran di rumah panti tempat tinggal mereka yang mengakibatkan beberapa saudara-saudara kecilnya menjadi korban. Dan yang paling diingatnya adalah dua orang saudaranya yang merupakan penyandang tuna rungu dan tuna wicara harus menjadi korban yang tidak terselamatkan dalam kecelakaan itu. Dia ingat betul saudaranya tidak mendapatkan pertolongan yang tepat karena keterbatasan mereka dalam menyampaikan keluhan dan dokter yang saat itu tidak memahami bahasa isyarat mereka sehingga tindakan cepat yang seharusnya dilakukan untuk menyelamatkan nyawa justru terlewat dan membuat nyawa mereka melayang.


Dia tahu benar rasa sakit akan kehilangan itu, saat dia berusaha menerjemahkan apa yang dikatakan dua saudaranya yang kesakitan kepada paramedis dan dokter tapi sayangnya mereka fokus untuk menolong orang-orang lain yang 'umum' tanpa keterbatasan. Felix masih berumur tiga belas tahun saat itu, dia berusaha bicara namun tidak didengar karena saat itu ibu panti mereka juga mengalami luka parah dan banyak orang kehilangan fokus saat kekacauan itu, Felix yang diabaikan berusaha mencari pertolongan dari orang-orang dewasa itu namun sayang sekali pada akhirnya saat dia berhasil membawa seorang petugas medis, nyawa dua saudaranya sudah tidak tertolong.


Felix kecil menangis dan menyalahkan dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa saat itu, dia yang berusaha menyampaikan, dia yang tidak bisa bertindak cepat seperti para orang dewasa dan berakhir kehilangan saudaranya. Sejak saat itu Felix bertekad dalam hatinya untuk menjadi seorang dokter yang memberikan pertolongan cepat khususnya bagi orang-orang yang sama seperti saudaranya, penyandang keterbatasan.


Felix belajar dengan keras untuk mewujudkan keinginannya, mulai belajar mati-matian hingga mendapatkan beasiswa pendidikan yang cukup meringankan demi bisa membiayai pendidikannya yang cukup mahal. Dia tidak ingin membebani panti tempatnya tinggal.


Di panti tempatnya tinggal, anak asuh dengan usia tujuh belas tahun sudah dibebaskan untuk memilih apakah dia ingin tinggal di panti atau tinggal mandiri karena usia mereka sudah legal secara hukum. Saat itu Felix memilih untuk tetap tinggal di sana membantu Madam Anna mengasuh anak-anak yang lain dan Felix mulai mencari pekerjaan yang sesuai dengan jadwal sekolahnya hingga akhirnya Felix masuk sebuah universitas ternama dan memilih jurusan kedokteran seperti keinginannya.


Hingga dia mengenal Agatha sepuluh tahun yang lalu. Keduanya berada di satu universitas yang sama dan bertemu dalam sebuah acara amal dari universitas. Agatha adalah salah satu yang bisa mengerti dan menerima tujuannya ketika banyak orang lain memandang remeh keinginannya. Gadis itu bahkan sangat tertarik dengan visi misinya. Karena hal itulah Felix terdorong semakin bersemangat mengejar tujuannya.


Dan semua itu tidak sia-sia karena Felix bisa menjadi seperti sekarang. Salah satu dokter umum yang sukses menangani banyak pasien khusus penyandang disabilitas. Kelebihan Felix yang bisa menggunakan dan memahami bahasa isyarat adalah keutamaannya di antara dokter lain sehingga bisa dikatakan dia benar-benar dokter spesialis difabel yang menangani dengan cepat, tepat dan sempurna. Dan dia merasa berterimakasih karena Agatha membangun rumah sakit khusus ini.

__ADS_1


Felix berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dari para pasiennya karena dia terbiasa. Banyak orang yang mengaguminya dan itu membuat Felix merasa bangga karena bisa mencapai tujuannya. Dia tidak pernah merasa lebih tinggi dari orang lain, dan sifat ramahnya itu justru membuatnya semakin disukai.


Namun jauh di sudut hatinya, ada perasaan yang tidak puas, seolah tidak lengkap dalam hidupnya.


Ya, tidak lengkap.


Seharusnya dia tidak meraih semua ini sendirian, seharusnya ada seseorang yang berdiri bersamanya menikmati kesuksesan ini. Seseorang yang juga menjadi motivasi dan semangatnya untuk terus berjalan meraih tujuannya selama ini. Seseorang yang sudah menjadi bagian hidupnya dan akan selamanya begitu.


Hembusan angin dingin yang menerpa wajahnya membuat Felix kembali ke kenyataan. Seulas senyum yang tampak getir tersemat di bibirnya.


Seharusnya kau ada disini.


Bersamaku.


Aku sudah mewujudkan semua keinginan kita.


Apa kau melihatnya?


Kau melihatnya juga hari ini kan?


Dia masih sama seperti dulu.


Hanya saja hari ini dia datang dengan berita yang sedikit mengejutkan.


Felix tersenyum dan matanya kemudian menangkap sosok Agatha yang tampaknya sedang berbincang dengan salah satu pasien tuna wicara.


Wanita itu sesekali tersenyum saat membaca pesan bahasa dari si pasien. Agatha mulai belajar bahasa isyarat sejak dia mulai sering berkunjung ke panti tempat Felix tinggal dan khususnya Agatha belajar bahasa isyarat karena 'seseorang'.


'Seseorang' yang menjadi magnet bagi wanita seperti Agatha, yang bahkan bagi orang seperti Felix sosok Agatha begitu jauh dan terlalu tidak mungkin untuk di dekati. Namun karena 'seseorang' inilah Felix mengenal Agatha, berteman dengan wanita ini hingga sekarang.

__ADS_1


Sosok yang istimewa bagi Felix dan Agatha, seseorang yang menjadi alasan keduanya bertahan hingga sekarang dan terus melakukan seperti apa yang 'dia' inginkan. Bahkan setelah tujuh tahun berlalu sosoknya masih meninggalkan jejak yang nyata bagi mereka. Seolah dia ada di sini bersama mereka dengan semua hal tentangnya yang sama sekali tidak berubah.


Felix tersenyum, manik matanya masih mengikuti sosok Agatha yang berbincang dengan satu pasien lalu pasien lain seperti seorang dokter yang sedang melakukan kunjungan.


Pasien di sini sudah tidak asing dengan Agatha yang memang sering datang, terutama pasien yang telah mendapatkan perawatan jangka panjang. Beberapa pegawai rumah panti tempat Felix besar juga bekerja di sini untuk membantu dan mereka cukup akrab dengan Agatha.


Bahkan madam Anna sangat menyukai Agatha karena kebaikan serta kepedulian wanita itu pada anak-anak asuhnya.


Felix mengalihkan tatapannya kearah lain sekedar untuk menghela napas hingga maniknya menangkap sosok seseorang yang tersenyum padanya di bawah sana, berdiri tepat di koridor menuju taman rumah sakit.


Dan juga tatapan bahagia yang sosok itu tujukan pada Agatha yang berdiri dengan jarak sepuluh meter darinya.


Senyum yang sama.


Wajah yang sama bahagianya.


Felix mengedipkan matanya hanya untuk memastikan sosok itu bukan ilusinya saja, namun bahkan sebelum dia menyadarinya sosok itu sudah menghilang.


Kenapa kau selalu tersenyum seperti itu?


Apa kau tahu aku benar-benar merindukanmu?


Kau begitu jahat padaku Mikael.


.


.


.

__ADS_1


Riexx1323.


__ADS_2