Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson


__ADS_3

Apa dia benar benar segila itu hanya untuk melakukan ini?


Sialan.


.


.


.


"Good morning my Agatha, wow!" seru Joshua terkejut saat membuka pintu apartemen dan melihat Agatha duduk ditemani sebatang rokok.


"Agatha ini masih pagi dan kau sudah merokok!?" amuknya yang kemudian menyita batang putih yang terselip di antara jari lentik Agatha.


Agatha menghembuskan asapnya ke arah samping agar Joshua tidak menghirupnya. Sahabatnya ini benci menghirup asap rokok sama seperti Gabriel.


"Apa jadwal hari ini?" tanya Agatha tak acuh lalu meraih sepotong buah jeruk.


"Meeting dengan orang interior yang sejak kemarin menunggu bertemu denganmu."


"Bukankah aku sudah menjawab emailnya, kenapa harus bertemu? Mereka bisa menyelesaikan ini sendiri kan."


"Kau meminta revisi tiap dua hari sekali jika kau lupa. Dan mereka sudah terlalu baik mengubah semuanya sesuai dengan keinginanmu. Mereka ingin memastikan sendiri seleramu yang seperti iblis," mendengar jawaban Joshua membuat Agatha mengernyitkan dahi.


"Iblis?"


Joshua yang sedang mengambil air dingin dari dalam kulkas menoleh menatap Agatha, "Kenapa? Kau tidak tahu mereka menyebutmu atasan iblis dengan semua revisi dan keluhanmu setiap saat?"


"Berani sekali."


"Agatha kau kadang harus menyadari bagaimana kau menghancurkan kerja keras mati-matian mereka. Tentu saja wajar jika mereka kesal dan berpikir begitu tentangmu."


"Mereka kugaji untuk bekerja sesuai perintahku Josh, jika mereka mengeluhkan segalanya harusnya mereka berhenti membuang waktu dan mencari pekerjaan lain."


"Tapi kau keterlaluan Agatha. Tidak semua orang bisa bekerja mengikuti ritme yang sama denganmu. Proses yang dicapai setiap orang berbeda dan kau harus menghargai itu karena mereka melakukan hal terbaik yang bisa dilakukan untukmu."


Agatha memutar bola matanya mendengar ucapan Joshua. Sudah bosan dengan omelan yang hampir setiap saat dia dengar dari Joshua tentang pekerjaan semua bawahannya. Selama ini dia mencoba memaklumi banyak hal dan itu sudah termasuk toleransi paling baik darinya, tidak lebih.


"Aku sendiri heran kenapa aku masih saja tahan bekerja denganmu saat seharusnya aku bisa mengurus firma hukumku sendiri alih-alih berada di sampingmu," ucap Joshua yang kini duduk di meja makan, mengupas apel untuk dirinya sendiri.


"Jika kau berani melangkahkan kaki untuk meninggalkanku maka jangan harap kau akan melihat firma hukummu masih berdiri tegak Josh."


Joshua mengedikkan bahunya sebagai jawaban atas ancaman Agatha yang sering didengarnya. Keduanya memang selalu meributkan banyak hal-hal kecil entah dalam urusan pekerjaan atau personal seperti saat ini.


.


.


.


Mereka berada di dalam perjalanan menuju ke tempat meeting. Agatha meneliti laporan dari sekertarisnya sementara Joshua mengemudi.

__ADS_1


"Jadi bagaimana semalam?" tanya Joshua memecah keheningan di antara mereka.


"Hm, apa?"


"Tentang Winston, kau sudah menanyakanya?"


"Aku sudah bilang pada Gabriel semalam."


"Lalu apa katanya? Dia yang memberikan akses?"


"Bukan."


"Eh? Bukan Gabriel? Lalu siapa?" tanya Joshua, dia pikir Gabriel atau tuan Anderson yang mungkin melakukannya.


"Gabriel bilang dia bahkan belum pernah bicara secara langsung dengan Winston ini. Lamaran sebelumnya juga hanya disampaikan melalui Arthur Winston."


"Kau mau aku menyelidikinya? Aku akan meminta Fred melakukannya, ini cukup serius jika sampai Gabriel saja tidak tahu," lanjut Joshua yang kini mulai khawatir.


"Ya jika kau tidak keberatan. Thank you Josh."


.


.


.


Wanita itu baru saja berjalan keluar dari ruangan dan memasuki lift menuju lantai satu.


"Jadi jadwal selanjutnya apa Josh?"


Agatha mendengus kecil, terkadang dia merasa Joshua seperti mesin penjawab otomatis yang akan berbicara selama satu jam penuh sampai Agatha harus menutup mulutnya sesekali.


Agatha melirik jam tangannya, sekarang pukul tiga siang, masih ada dua jadwal yang bisa membuatnya pulang larut nanti.


"Apa kau ada janji lain?" tanya Joshua melirik Agatha disampingnya.


"Tidak, aku hanya senang pulang larut lagi. Jadi aku tidak perlu bertemu Gabriel atau pria tuaku."


"Agatha tak bisakah kau bersikap lebih ramah pada ayahmu dan bersikap layaknya seorang anak perempuan?" keluh Joshua yang kerap kali mendengar ungkapan atau ucapan kasar Agatha pada ayahnya. Dan tentu saja seorang Agatha tidak akan peduli dengan itu.


"Aku sudah cukup bersikap sopan saat aku kecil, Josh."


Keduanya baru saja akan melangkah keluar begitu lift berhenti dan terbuka, namun seseorang ada di depan mereka.


"Hello sunshine, where are you going?" sapanya dengan senyum manis yang tertuju pada Agatha.


Joshua refleks menoleh dengan tatapan penuh tanya karena bagaimanapun tidak akan ada seorang pria yang berani tiba-tiba menyapa Agatha seperti itu.


"Permisi, anda menghalangi jalan," ucap Agatha yang kini menatap pria di hadapannya itu dengan ekspresi terganggu.


"Dingin sekali, padahal aku hanya ingin bertemu sebentar."

__ADS_1


Joshua yang masih tidak paham situasinya kini semakin menuntut penjelasan dari Agatha melalui pandangannya, lalu dia melirik jam tangannya. "Agatha, we need to go."


"Bisakah anda menyingkir, aku buru buru," Agatha berjalan lebih dulu menerobos pria di hadapannya. Namun baru dua langkah kakinya terhenti karena lengannya ditahan oleh pria itu.


"We need to talk Miss Anderson."


"No, I don't. And I tell you Mr. Winston, jangan pernah muncul dihadapanku lagi."


Setelah mengatakannya Agatha menyentakkan lengannya, namun sepertinya Christoper Winston adalah orang yang memiliki nyali yang besar atau memiliki 1000 nyawa karena dia berani mengganggu Agatha.


Dengan tangan yang masih menahan lengan Agatha, pria itu mendekat dan memangkas jarak di antara mereka.


Tatapan Winston begitu dalam seolah menyelami kedua manik coklat wanita di hadapannya ini, sementara Agatha menatap tajam pada kedua manik gelap itu tanpa sedikitpun rasa takut.


Cukup lama keduanya berada dalam posisi itu hingga sang pria memutuskan memundurkan sedikit tubuhnya namun masih menggenggam lengan Agatha, merundukkan kepalanya sedikit tepat di sebelah telinga Agatha.


"Baiklah, aku akan menurutimu kali ini tapi jangan harap aku akan berhenti."


Tidak ada jawaban keluar dari bibir Agatha yang menatap lurus ke depan seolah tidak mendengar apa yang baru saja Winston muda itu katakan.


"I like it, I love your attitude Miss Anderson," dengan sebuah senyuman miring yang tipis si pria melepaskan genggamannya pada Agatha dengan lembut.


Agatha segera melangkahkan kakinya meninggalkan pria itu berdiri disana tersenyum penuh kepuasan.


"Are you okay? Sini kulihat tanganmu," Joshua menghentikan langkahnya dan menyentuh lengan dimana Christopher Winston tadi mengenggamnya. "Sakit?" tanyanya memijit pelan.


"Tidak."


"Baguslah, itu artinya tidak memar."


Agatha terdiam selama perjalanan mereka. Dia memiikirkan bagaimana pria bernama pria itu memasuki hidupnya dalam dua hari ini secara terang terangan dan tidak masuk akal.


Agatha masih menahan diri untuk tidak mengeluarkan kalimat-kalimat menusuknya pada si pria mengingat status mereka dari keluarga kelas atas yang harus menjaga martabat serta nama keluarga masing-masing.


Agatha menghela pelan membuat Joshua yang sedari tadi fokus mengemudi kini melirik ke arahnya.


"Ada apa? Kau terganggu dengan sikap tuan Winston?"


"Ya."


Joshua terkekeh kecil sebelum melanjutkan, "Tapi Agatha, aku cukup terkesan dengan sikapnya yang tenang sekalipun kau melemparkan tatapan membunuh padanya."


Agatha berdecak kecil mendengar argumen Joshua. Memang selama ini tak ada yang tahan dengannya jika sudah begitu, semua orang lebih memilih untuk tidak membantah atau menentangnya dan menuruti semua perintahnya, toh selama ini semua yang dilakukannya tidak pernah menyakiti siapapun.


"Well, we'll see that. Akan kupastikan dia pergi."


Mendengar jawaban Agatha yang datar membuat Joshua tersenyum, "That's My Agatha."


.


.

__ADS_1


.


Riexx1323.


__ADS_2