Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Rantai Pengikat Si Pendosa


__ADS_3

..."Of all the things i felt but never really shown. Perhaps the worst is that i ever let you go. I should not ever let you go." ...


.......


.......


.......


"Christ?" parau suara Agatha saat menyadari belaian lembut di kepalanya dari sosok di hadapannya itu.


"Kau sudah pulang?"


Christ tersenyum lembut, "Iya, aku sudah pulang," jawabnya pelan karena rasa sesak di dadanya masih terasa.


Dipandanginya wajah cantik istrinya itu, "Kau lama menungguku ya? Maaf."


"Darimana saja, kenapa tidak menjawab panggilan juga pesanku?" tanya Agatha dengan mata yang masih setengah terpejam karena mengantuk.


"Maaf, aku tertidur di rumah ibu," jawab Christ yang kemudian duduk di samping Agatha.


"Ada apa? Kau tidak mengatakannya padaku sebelumnya," Agatha bangun dari posisinya dan ikut duduk di samping Christ.


"Tidak ada apa-apa, hanya ada hal yang perlu kubicarakan dengan Arthur tapi ternyata aku sampai ketiduran karena terlalu lelah. Maaf ya membuatmu khawatir."


Agatha tertegun, tidak biasanya Christ bersikap selembut ini bahkan Agatha merasa ada yang berbeda dari sikap suaminya itu.


Memang Christ selalu memperlakukannya dengan baik selama ini tapi sikapnya lebih sering menggodainya daripada sepenuhnya lembut begini. Bahkan hari ini semua kalimat pria itu penuh dengan kata 'Maaf' yang di hari-hari biasanya lebih sering menimpali ucapannya dengan pertanyaan retorik penuh percaya diri.


Dan lagi ada yang berbeda dengan senyum pria itu.


Agatha bisa merasakan hal itu namun dia tidak mau bertanya, karena jika Christ tidak mengatakan apapun berarti pria itu tidak ingin membagikan hal itu padanya dan Agatha menghormati itu.


Keduanya terdiam cukup lama, sama-sama menyelam dalam pikiran masing-masing. Tidak ingin mengutarakan hal yang mereka rasakan. Ada keraguan dan ada kepercayaan namun berbaur abstrak tidak berbatas dengan jelas.


"Kau tidak bersiap? Mau kuantar berangkat ke kantor?" tanya Christ masih dengan senyum tipisnya.


"Kau tidak ke kantor?" tanya Agatha kembali.


"Sepertinya aku akan istirahat hari ini, lagipula tidak ada jadwal penting hari ini. Mungkin aku bisa mengerjakan beberapa hal dari rumah," jelas Christ.


Dia tidak bisa pergi kemana-mana dengan perasaannya ini. Dia hanya akan semakin kacau jika memaksakan diri.


"Kalau begitu beristirahatlah, aku akan berangkat bersama sopir nanti," Agatha tersenyum simpul sebelum satu tangannya terulur pada Christ mengajak suaminya itu agar beristirahat lebih nyaman di kamar mereka.


.


.


.


Agatha baru saja memasuki lobi kantornya ketika sebuah suara lembut dan manis menyapa pendengarannya.


"Nona Agatha."


Panggilan itu membuatnya menoleh dan mendapati sosok Neona tersenyum padanya dari belakangnya.


"Senang bertemu dengan anda, nona Agatha," ucap wanita itu masih dengan senyumnya.


"Ah, anda nona Walker kan?" balas Agatha bertanya, dia ingat wanita yang dikenalnya sebagai mantan tunangan Christ itu.


"Panggil saja aku dengan Neona, tidak perlu terlalu formal."

__ADS_1


"Tapi saya tidak biasa untuk bicara informal pada orang asing, maaf," jawab Agatha terus terang.


"Ada apa anda kemari? Ada keperluan apa?"


Neona tersenyum kecut mendengar jawaban Agatha namun tak lama senyum itu kembali terlihat manis seperti sebelumnya.


"Tidak apa-apa, anda akan terbiasa nanti," jawabnya, "Saya tidak ada hal penting sebenarnya, saya datang untuk mengundang anda makan siang secara langsung karena sebelumnya pertemuan kita tidak terlalu baik."


Agatha menatap wanita dengan senyuman terlalu manis itu dengan tatapan datarnya. Dia tidak tahu kenapa wanita ini terlihat berusaha untuk dekat dengannya sejak awal pertemuan mereka.


"Maaf, saya tidak bisa. Banyak hal yang harus saya kerjakan hari ini," jawab Agatha menolak karena dia tidak bisa begitu saja mengubah jadwalnya tiba-tiba, Joshua bisa marah-marah padanya seharian.


Neona tampak masam mendengar jawaban Agatha, padahal dia sudah merendahkan harga dirinya untuk mengajak wanita ini makan siang bersama.


"Rupanya anda sangat sibuk. Sepertinya anda memang tidak bisa sembarangan ditemui ya," ucap Neona kecewa kemudian tersenyum kembali sebelum berbalik, "Kalau begitu saya permisi."


Agatha hanya diam menatap Neona yang melangkah menjauh.


"Nona Walker?" panggilnya membuat Neona menoleh.


"Mungkin kita bisa makan siang lain kali. Saya akan segera menghubungi anda nanti," ucap Agatha yang tentu saja membuat Neona tertegun di tempatnya.


"Tentu, saya akan menantikannya," jawab Neona yang kemudian tersenyum dan berlalu pergi.


Dua wanita yang berjalan dengan arah yang berbeda.


Agatha memang tidak pernah mengiyakan undangan atau ajakan dari relasinya di luar jadwal formal yang telah ditentukan. Tapi mungkin bisa dicobanya kali ini karena diapun ingin mengetahui masa lalu Christ dari wanita ini.


Sementara Neona yang sejak awal mendekati Agatha dengan tujuan tertentu merasa senang karena akhirnya wanita itu membuka sedikit jalannya untuk lebih dekat. Dia sudah mengorbankan harga dirinya hanya untuk mendekati seorang Agatha yang dibencinya.


.......


.......


.......


'Ada apa? Aku harus ke RedSky setelah ini tapi masih menunggu dokumen dari Carren.'


"Apa peninjauan ulang di sana sudah dimulai?"


'Ya, berlangsung dalam tiga hari kedepan.'


"Josh..."


'Ada apa, Agatha?'


"Hm? Tidak apa-apa, nanti saja jika kau sudah tidak sibuk. Bukan sesuatu yang penting," jawabnya pelan karena sebenarnya ada hal mengganggu di pikirannya yang ingin dia bagi dengan Joshua.


'... Agatha? Kau yakin tidak apa-apa?'


"Hm? Ya aku tidak apa-apa. Cepat sana kerja atau aku akan mengurangi digit angka untuk gajimu nanti," ucapnya kemudian tertawa ringan.


'Okey Boss, I'll doing my best,' balas Joshua sama-sama tertawa.


Setelah mematikan sambungan ponselnya Agatha menghela panjang. Dia tidak mau mengganggu Joshua yang sedang sibuk. Entah kenapa akhir-akhir ini ada sedikit perasaan berat di hatinya yang ingin dia bagi pada sahabatnya itu.


Mungkin nanti kalau Joshua sudah kembali.


.......


.......

__ADS_1


.......


Christ sedang ada di ruang kerjanya memindai beberapa laporan dari Leon ketika ponselnya berdering.


Dari Neona.


Dengan penuh keengganan dijawabnya panggilan itu.


"Ada apa lagi?"


'Harus seketus itu kau menjawab panggilanku? Kurasa aku tahu kenapa kau dan Agatha bisa menikah, karena kalian memiliki kemiripan. Kau tahu apa itu?' tanya Neona dengan sarkas.


Christ hanya diam dan tidak berniat menanggapi apapun yang dilakukan Neona.


'Kalian berdua sama-sama brengsek.'


"Neona jaga bicaramu!"


'Kenapa aku harus? Sebaiknya kau ajarkan istrimu menjaga bicaranya. Apa dia pikir hanya dia satu-satunya wanita yang sempurna?'


"Berhenti bicara omong kosong dan katakan apa maumu," tukas Christ yang tidak tahan untuk berlama-lama bicara dengan Neona.


'Lihat, bahkan kalian sama-sama angkuh.'


Christ menghela napasnya tidak sabar, "Kututup jika kau tidak ada kepentingan."


'Hei Christ, siapa bilang kau boleh melakukannya?' sanggah wanita itu cepat.


'Baiklah, aku mau kau menjemputku untuk makan siang.'


"Jangan gila, Neona! Aku sudah beristri. Aku tidak bisa sembarangan menjemput wanita lain."


'Dan aku tidak peduli. Dengar Christ, aku sudah berbaik hati mengundang istrimu untuk makan siang bersama tapi dia menolaknya.'


"Kau! Apa maksudmu? Neona sudah kukatakan jangan berani-beraninya kau mendekati Agatha!"


'Aku hanya mengundangnya untuk makan siang. Memangnya ada apa lagi selain itu?' terdengar tawa dari bibir Neona yang membuat Christ merasa ingin melempar ponselnya.


"Kuperingatkan kau untuk tidak macam-macam Neona."


'Kau selalu berburuk sangka padaku Christ. Setelah bertahun-tahun aku harus menyimpan kejahatanmu,' tukas wanita itu tajam.


Christ mengepalkan tangannya erat berusaha agar emosinya tidak terpancing oleh Neona.


'Jadi bagaimana permintaanku tadi? Ya atau tidak? Bukankah seharusnya kau mengiyakannya untuk menggantikan istrimu yang sudah menolakku?'


Memejamkan matanya frustasi dengan tangan kiri memijit kening, Christ tidak menjawab apapun. Neona dan Agatha tidak boleh bertemu selain dalam urusan pekerjaan.


"Baiklah. Aku akan menjemputmu."


'Bagus sekali! Aku akan menunggumu!' setelah mengucapkannya Neona menutup telepon.


Christ merasakan tekanan luar biasa setelah dia terbangun dari mimpi terburuknya. Dia tidak menyangka kesepakatannya untuk memenuhi keinginan Neona akan membawanya pada hari-hari penuh beban seperti ini.


Dia mengira sudah berhasil melewati masa kelam dan tidak perlu khawatir. Namun mimpinya semalam cukup untuk membuatnya tersadar bahwa sekalipun disembunyikan namun rantai dosa itu masih mengikatnya dengan kencang.


Dan hari ini niatnya untuk beristirahat justru berakhir dengan hal yang justru membuat kepalanya penuh dengan beban.


.


.

__ADS_1


.


Riexx1323.


__ADS_2