Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Perlindungan Sebuah Rasa Sakit


__ADS_3

...Perjalanan waktu yang panjang selalu penuh kenangan, bahkan jika didalamnya ada hal-hal yang ingin kau tinggalkan....


...Waktu selalu membawa segalanya, entah pergi atau kembali....


.......


.......


.......


Agatha berjalan sedikit tergesa karena sebelumnya Leon menghubunginya dan memberitahukan bahwa Christ sedang dalam keadaan yang tidak baik. Leon menyuruh sopir mengantarkan pria itu pulang karena Leon harus menggantikan Christ untuk menghadiri meeting saat ini.


Padahal tadi pagi kelihatannya tidak apa-apa. Apa mungkin ada kaitannya dengan kepergian Christ yang terburu-buru tadi pagi?


Begitu melangkahkan kakinya di dalam apartemen Agatha mengedarkan pandang ke ruang depan namun suaminya itu tidak ada di sana, maka dengan langkah pasti Agatha menuju kamar mereka.


"Christ?" panggilnya pelan saat dilihatnya pria itu duduk di sofa dekat jendela kaca. Pria itu menoleh saat mendengar suara Agatha.


"Agatha? Kau sudah pulang?" tanyanya bingung melihat istrinya itu sudah pulang.


"Leon menghubungiku dan mengatakan kau tiba-tiba sakit," Agatha meletakkan tangannya di kening pria itu, "Kau demam, kita ke rumah sakit sekarang," ujarnya.


Agatha berbalik hendak bersiap namun gerakannya terhenti saat lengan kokoh Christ melingkari pinggangnya dan pria itu menyandarkan kepala di punggungnya.


"Tidak perlu ke rumah sakit. Temani aku di rumah saja, ya?" ucap pria itu parau.


Setelah pertemuannya dengan Neona pagi tadi membuatnya berpikir tentang banyak hal, dan tidak ada hal lain selain merasa bersalah. Semua yang dia lakukan selama ini hanya kesalahan. Sejak saat itu hingga sekarang dia yang membohongi Agatha. Bagaimana jika istrinya itu tahu dan pergi darinya? Dia yakin bisa menerima semua kemarahan wanitanya itu tapi tidak dengan perpisahan. Christ mengeratkan pelukannya.


"Christ? Suhu tubuhmu panas dan kita harus ke dokter."


"Dokter tidak akan banyak membantuku, Agatha."


Agatha membalik tubuhnya perlahan dan menghadap suaminya itu, menangkup wajah Christ membuat pria itu mendongak menatapnya, Wajah pria itu sangat pucat hari ini, sorot mata yang biasanya ceria dan penuh kehangatan itu tampak sayu, bibir merah yang selalu tersenyum itu kehilangan warnanya. Agatha tidak pernah melihat Christ dalam keadaan seperti ini sebelumnya.


"Kupanggil dokternya kemari ya?"


Christ menggeleng dan memilih untuk menenggelamkan wajahnya pada dekapan Agatha. Dia tidak butuh dokter. Dia hanya ingin semua mimpi buruk ini berakhir. Dia hanya ingin hidup bahagia bersama Agatha, apa hal itu saja tidak boleh didapatkannya?


Agatha pasrah, pria ini tidak mudah dibujuk dan akhirnya Agatha membimbing prianya untuk merebahkan diri dan beristirahat dengan benar di tempat tidur. Jujur dia tidak pernah merawat orang sakit seumur hidupnya.


Setelah berganti pakaian Agatha menyusul Christ di pembaringan mereka. Tentu saja Agatha tidak berniat tidur apalagi ini masih terang benderang di jam bekerja, karenanya dia hanya duduk bersandar di kepala ranjang menemani Christ yang kini sudah memeluknya dengan kepala merebah di atas perutnya. Agatha tidak bisa menolak tentu saja karena itu dia memilih diam sembari mengelus surai lembut prianya.


"Aku menghubungi ibu untuk memberitahukan keadaanmu. Kau yakin tidak mau ke dokter?"


Sekali lagi pria itu menggeleng. Padahal sudah jelas wajahnya sepucat itu dengan suhu tubuh yang membuat Agatha khawatir. Bahkan dalam eratnya pelukan Christ, Agatha bisa merasakan tubuh pria itu gemetar.

__ADS_1


"... Agatha."


"Hm?"


"Jangan pergi, ya? Jangan tinggalkan aku."


"Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu dalam keadaan begini?"


Dan entah kenapa ada desir aneh dalam hati Agatha saat Christ justru semakin menenggalamkan diri dalam pelukannya. Keringat dingin mulai membasahi kening pria itu yang diseka lembut oleh Agatha.


Sebenarnya ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Christ, kenapa pria itu tiba-tiba demam seperti ini, masalah apa yang membuatnya pergi terburu-buru pagi tadi, juga tentang ucapan Neona sebelumnya. Tapi semua pertanyaan itu belum menemukan waktu yang tepat untuk dikatakan.


Selang tiga puluh menit kemudian Christ sudah jatuh dalam ketidaksadaran, ritme napasnya yang teratur membuktikan pria itu sudah jatuh ke alam mimpi.


Agatha masih mengusap pelan surai lembut itu karena dia sendiri tidak mengantuk. Agatha tengah berpikir bagaimana akhirnya dia berada dalam situasi seperti ini. Pria yang kini tertidur pulas dalam pelykannya itu bahkan tidak pernah sekalipun dia bayangkan akan ada dalam hidupnya. Dia yang selama ini menganggap hal seperti ini tak akan pernah ada dalam hidupnya, tak pernah merasakan kehangatan dan debar selain bersama Mikael yang selama ini memenuhi hati dan pikirannya.


Ah, mengingat Mikael masih menyisakan kerinduan yang nyata untuknya. Pria dengan senyum manis yang selalu bersikap tulus padanya.


Menghalau rasa sesak yang tiba-tiba datang menyeruak menarik napas dalam-dalam sebelum tangannya meraih ponsel di atas nakas.


Banyak email dan pesan yang dikirim oleh Carren. Gadis itu sangat rajin dan teliti sebagai sekretaris yang baru 6 bulan bekerja dengannya dan Joshua.


Oh, bicara tentang Joshua, sahabatnya itu belum memberi kabar lagi. Apa mungkin sedang istirahat?


Baru berpikir untuk menghubungi sang sahabat, Agatha dikejutkan oleh panggilan masuk dari sang ibu yang buru-buru dijawabnya.


'Sayang, maaf ibu baru selesai dengan pasien. Bagaimana keadaan Christ?'


"Dia sedang tidur sekarang."


'Bagaimana suhu tubuhnya? Masih panas?'


Agatha tidak perlu memeriksa karena jelas tubuh pria itu sekarang terasa panas di atas kulitnya.


"Masih panas tapi dia tidak segemetar tadi. Bu, maaf tapi bisakah ibu mampir ke apartemen kami? Aku tidak pernah merawat orang sakit sebelumnya," ucap Agatha sedikit malu karena bagaimanapun kenyataannya dia tidak bisa melakukannya.


'Tentu saja, ibu kesana sekarang. Kau perlu hal lain yang mau ibu bawakan?'


"Tidak ada, ibu bersedia datang saja aku sudah sangat berterimakasih karena Christ benar-benar tidak mau ke dokter atau rumah sakit."


'Baiklah. Ibu akan segera datang,' ujar wanita itu lembut dan menenangkan.


'Agatha?'


"Ya?"

__ADS_1


'Terimakasih sudah menjaga Christ. Ibu harap kalian berdua selalu bahagia.'


Dan setelah mengucapkannya, Ny. Cassandra mematikan sambungan telepon itu meninggalkan Agatha yang terdiam karena ucapan ibunya yang tiba-tiba seperti itu. Memang biasanya sang ibu sering mengatakan hal-hal baik padanya tapi kali ini terdengar berbeda.


.


.


.


Siang itu di tengah-tengah jadwal kunjungannya pada pasien, Ny. Cassandra mendapatkan telepon dari menantu kesayangannya.


Agatha mengabarkan bahwa putranya sedang sakit dan dengan keras kepala tidak mau ke dokter. Dengan berat wanita itu menghela sebelum menenangkan sang menantu yang terdengar khawatir.


Dia sendiri bukannya tak khawatir dengan keadaan putranya. Tentu saja dia merasa khawatir tapi ini bukan kali pertama Christ tiba-tiba demam seperti ini. Karena dia tahu putranya termasuk orang yang jarang dan kebal dengan sakit apapun seperti demam, flu atau apapun.


Demam yang dialami Christ bukan karena virus atau apapun. Cassandra ingat bahwa dulu di masa kelam itu putranya sering mengalami hal ini.


Demam psikogenik.


Itulah yang dialami oleh Christ. Demam yang disebabkan oleh faktor psikologis karena sedang stres bukan karena virus atau penyebab lain.


Cassandra sudah menduga hal ini akan segera dialami oleh putranya lagi semenjak kemunculan Neona. Tak ada yang bisa dilakukannya untuk mencegah hal itu.


Bertahun-tahun sudah dia berusaha menyembuhkan dan menghidupkan kembali Christ hingga putranya itu bisa seperti sekarang. Namun dia tak punya kuasa untuk menghalangi kehadiran Neona sekalipun wanita itu bisa membahayakan psikologis Christ lagi seperti sekarang.


Cassandra berusaha menyadarkan dirinya sendiri bahwa cepat atau lambat dalam hubungan Christ dan Agatha, putranya itu harus bisa menghadapi kenyataan yang ada.


Dan mungkin sudah saatnya.


Langkahnya tenang saat berjalan turun dari mobil menuju apartemen anak-anaknya. Untuk sekarang yang bisa dia lakukan adalah berada di samping mereka dan memastikan mereka tidak lagi jatuh terpuruk.


Mereka yang terikat oleh takdir yang rumit.


Kesalahan masa lalu yang membelenggu hati dan hidup kedua anaknya.


Sama-sama rapuh namun memiliki benteng yang kuat di sekeliling mereka.


Keluarga dan cinta.


Dan Cassandra memastikan dia adalah salah satu dari benteng perlindungan itu.


.


.

__ADS_1


.


Riexx1323.


__ADS_2