Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Keraguan


__ADS_3

...Seperti berjalan menyusuri setapak yang berujung tebing dengan jurang di kanan dan kiri menungguku terjatuh,...


...Aku tidak bisa memutar langkahku bahkan untuk kembali. Hanya berbekal harapan akan adanya sebuah jembatan di ujung tebing yang akan menyelamatkan langkahku....


.......


.......


.......


Agatha berjalan cepat menuju apartemennya, dia menyempatkan diri pulang untuk mengajak Christ makan siang bersama berhubung pria itu tidak enak badan. Tapi masalahnya adalah Christ tidak bisa dihubungi sejak dua jam yang lalu. Sedikit membuatnya khawatir dan berpikir mungkinkah terjadi hal-hal buruk pada pria itu.


"Christ?" panggilnya begitu melewati pintu dan masuk ke ruang tengah, namun tidak ada sahutan dari pria itu. Agatha berjalan menuju kamarnya dan berpikir mungkin saja pria itu tertidur namun kamarnya kosong, bahkan di ruang kerja atau di ruangan lain juga tidak ada.


Dia pergi kemana?


Agatha kembali mencoba menghubungi ponsel pria itu namun panggilannya dialihkan. Pilihannya di saat seperti ini adalah menghubungi Leon.


'Hai, Agatha. Ada apa?' tanya Leon ceria di seberang sana, rasanya memang Leon ini tidak pernah marah karena dia selalu berada dalam suasana hati yang bagus saat Agatha mencarinya.


"Ah, Leon maaf kembali mengganggumu. Apa Christ sedang berada di kantor sekarang? Dia bilang sedang tidak enak badan tadi pagi jadi aku memutuskan untuk pulang dan mengajaknya makan siang bersama namun dia tidak ada." 


'Ah, itu—ya dia tadi ke kantor dan sedang diskusi bersama tim pemasaran. Ya tadi sekertarisnya mengatakan itu padaku," jawab Leon yang entah kenapa terdengar ragu.


"Aku mencoba untuk menghubunginya sejak tadi tapi tidak bisa. Baiklah Leon, terimakasih informasinya. Semoga harimu menyenangkan," ucap Agatha sebelum menutup sambungan teleponnya.


Ada yang aneh dengan cara Leon menjawab pertanyaannya, ada keraguan yang bisa didengar oleh Agatha namun dia berusaha mengabaikan perasaan janggal itu.


Menuju ruang kerjanya, Agatha membuka laci dan mengambil rokoknya. Sudah lama dia bercengkerama dengan batang rokoknya, dengan pemantik di tangan untuk dinyalakannya dan menghisap batang rokok itu pelan sebelum mengepulkan asapnya ke udara.


Sejujurnya ada perasaan aneh yang dipikirkannya akhir-akhir ini.


Saat membenci Christ perasaannya murni dan terasa biasa saja. Namun semakin dia berusaha membuka hatinya untuk dekat dan menerima Christ justru ada keraguan yang hadir mengiringi perasaannya.

__ADS_1


Baiklah, dia sudah mulai menyukai Christ namun dia sendiri tidak tahu kenapa dan apa sebab munculnya keraguan itu. Bukan ragu akan perasaannya tapi keraguan itu lebih mengarah pada pribadi Christ.


Tidak ada yang salah sebenarnya dari sikap suaminya itu. Christ selalu baik dan hangat padanya. Sabar menghadapi segala sikapnya yang tidak ramah. Dan sabar menunggunya yang tidak bisa mencintai dengan benar. Christ tidak pernah berkata kasar atau marah padanya. Pria itu selalu memberikan senyuman hangat dan mengatakan hal-hal yang menyenangkan untuk mengajaknya bicara.


Jika diingat lagi memang Christ adalah pria yang baik dan itulah yang membuat Agatha memutuskan untuk membuka hatinya. Dia menghargai semua kebaikan yang pria itu berikan padanya.


Dan sekarang setelah Agatha mengakui perasaannya, dia justru merasa ragu pada sosok pria itu. Christ menjadi lebih lembut dari biasanya. Senyum hangat dan ceria itu tergantikan oleh senyum dengan kelembutan yang lain seperti menyimpan arti dalam.


Seharusnya itu membuatnya semakin yakin tapi dia merasa Christ menjaga jarak dengannya. Sering menghilang tanpa kabar dan lebih pendiam. Agatha tidak tahu kenapa tapi beberapa kali dia memergoki Christ menatapnya dengan pandangan sayu yang sama sekali berbeda dari biasanya.


Hembusan asap rokoknya yang entah sudah keberapa itu tampak dinikmati oleh Agatha. Waktu menunjukkan pukul dua siang dan seharusnya dia kembali ke kantor. Setelah menimbang sesaat Agatha meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Carren, aku tidak kembali ke kantor. Kirimkan saja data-data yang perlu kulihat dan juga data yang perlu persetujuanku," perintahnya pada Carren sekretarisnya.


Mungkin sebaiknya dia bekerja dari rumah karena tidak ada jadwal penting selain tadi pagi dengan pihak furniture, Joshua juga tidak ada di kantor, dan lagi sebaiknya dia menunggu Christ kembali.


Agatha membuka beberapa dokumen yang tadi sempat dibawanya sembari menunggu berkas lain dari sekretarisnya. Sesekali dia menghembuskan asap rokoknya ke udara dengan tenang sementara tangannya yang lain bekerja.


.......


.......


.......


Christ dan Neona sudah selesai makan siang sejak tadi dan sekarang wanita itu membawanya ke sebuah cafe dengan private view.


"Neona, sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?" tanya Christ kemudian setelah mereka berdua terdiam cukup lama.


"Aku tidak ingin apapun selain membuat kau dan istri tercintamu itu menderita sepertiku."


"Apa menurutmu aku tidak merasa menderita?" Christ membalas tidak sabar.


"Kau mendapatkan apa yang kau mau. Kau bisa hidup bahagia sekarang tanpa perlu memikirkan masa lalu."

__ADS_1


"Neona, kau salah menilai. Aku tidak pernah sekalipun melupakan saat itu. Aku mencoba untuk kembali hidup setelah bertahun-tahun terkurung di dasar penyesalan."


"Jika kau hanya ingin membalas dendam padaku sebaiknya kau hentikan. Kumohon, Neona."


Wanita itu memalingkan wajahnya, "Kau tahu Christ, setelah memutuskan pertunangan kita dan setelah pertengkaranku dengan keluargamu waktu itu hidupku tidak pernah bahagia. Aku pergi dan bermaksud melupakan semua hal buruk yang terjadi tapi aku justru merasa terbebani. Aku merasa seperti penjahat diantara orang-orang tanpa mereka sadari."


"Aku mengalami mimpi buruk tentang apa yang kulihat malam itu. Aku tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya terjadi pada orang lain. Aku mengunjungi psikiater demi menyembuhkan ketakutanku pada mimpi setiap malam. Aku tetap berusaha menjaga rahasiamu sekalipun aku sendiri kesulitan. Dan selama waktu sulit itulah aku kembali mempertanyakan rasa sukaku padamu. Kenapa aku dengan bodohnya jatuh cinta pada pria yang sudah menghilangkan nyaea orang lain."


"Neona, jangan mengatakan seolah aku adalah satu-satunya orang jahat."


"Kau memang jahat, Christ. Kau mematahkan hatiku padahal kau tahu bahwa aku menyukaimu selama empat tahun. Kau selalu mengatakan kejadian itu sebagai sebuah kecelakaan yang tidak disengaja padahal jelas kau sengaja."


"Berapa kali kukatakan itu tidak benar. Aku tidak pernah sengaja melakukan itu. Aku juga sepertimu yang mengalami mimpi buruk setiap malam. Aku bahkan harus mengurung diriku selama ini hanya untuk menyembuhkan diri. Aku juga merasa gila setiap kali bayangannya muncul di kepalaku. Merasa betapa kotor diriku."


"Harusnya kau mengakuinya Christ."


"Tidak."


"Aku menyesal mengikutimu malam itu, aku menyesal mencintaimu yang justru membawaku dalam hidup penuh ketakutan. Kau membuatku kehilangan banyak kebahagiaan," timpal Neona penuh dengan penekanan.


"Aku hanya penasaran bagaimana reaksi istrimu itu jika dia tahu hal yang sebenarnya."


Kemudian Neona bangkit dari duduknya, "Aku akan membuatmu menyesal Christ dengan begitu rasa sakit dan ketakutan yang kurasakan bisa terhapus."


Christ menatap kepergian Neona dengan perasaan yang tidak menentu namun yang paling dominan adalah perasaan takut.


Dia takut apa yang dikatakan Neona akan benar-benar terjadi.


Dia tidak bisa dan tidak mau kehilangan Agatha.


.


.

__ADS_1


.


Riexx1323.


__ADS_2