Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Terkuaknya Sebuah Luka


__ADS_3

...Seharusnya aku tahu bahwa dunia memang tak pernah berpihak padaku....


.......


.......


.......


Agatha berjalan kembali menuju kamarnya dengan langkah gemetar dan berhenti di depan pintu. Menatap pria yang kini sudah bangun dari tidurnya dengan setengah bersandar pada headboard, tersenyum lega menatap padanya.


"Morning Sunshine, darimana? Aku mencarimu," ucapnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Agatha masih bergeming di depan pintu menatap suaminya dengan tatapan yang sama sekali berbeda dari beberapa jam sebelumnya.


"Sunshine, ada apa?" menyadari ada yang berbeda dari ekspresi istrinya, Christ menyambar jubah tidurnya, beranjak menghampiri Agatha.


Ketika jarak mereka terpaut tiga langkah Agatha justru melangkahkan kakinya mundur menjauh, dan itu membuat Christ mengernyit heran.


"Sunshine, ada apa? Apakah terjadi sesuatu padamu?"


"Berhenti disana," ucap Agatha dengan intonasi dingin yang bahkan Christ tak pernah mendengarnya.


"Sunshine... apa aku melakukan kesalahan, apa aku menyakitimu?"


Agatha menjatuhkan lembaran foto yang sedari tadi digenggamnya ke lantai di depan Christ. Melihat itu tentu Christ semakin bingung namun di detik selanjutnya dia merasa jantungnya jatuh merosot ke lantai bersamaan saat matanya menangkap potret yang selama ini disembunyikannya.


Potret sekumpulan pemuda di depan undakan batu dan beberapa potret wanita cantik yang kini ada di hadapannya.


"Agatha—ini.. darimana kau—"


Christ sama sekali tidak pernah menduga Agatha akan menemukan foto-foto itu. Dia tidak pernah menunjukkannya pada siapapun dan harusnya itu ada di laci ruang kerjanya. Kenapa Agatha bisa sampai di sana?


Tapi itu tidak penting sekarang, bagian terpentingnya saat ini adalah bagaimana dia menjelaskan keberadaan foto masa lalu juga coretan kalimat yang selalu dia tulis pada foto-foto itu?


"Agatha, aku bisa jelaskan—"


"Jadi yang dikatakan oleh wanita itu adalah benar?" parau Agatha masih dengan suara dinginnya.


"Wanita — siapa?"


"Mantan tunanganmu."


"Neona? A-apa yang dia katakan padamu?" panik Christ yang melangkah maju namun Agatha justru semakin menjauh.


"Tidak penting apa yang dia katakan. Bukankah semua ini sudah menjelaskan semuanya?"


Agatha memejamkan matanya berusaha untuk menahan rasa sakit dan sesak yang ada di hatinya karena ada satu hal yang mengusik pikirannya sekarang.


Tangan kanannya yang sedari tadi ada di balik tubuhnya kini terulur kedepan dengan sebuah foto di tangannya.


"Jelaskan kenapa kau menulis ini."


Sekuat apapun dia berusaha, pada akhirnya suaranya terdengar bergetar.


Christ terdiam tanpa bisa memberikan jawaban.


Itu foto Mikael.


Yang dulu didapatkannya saat dia menyelidiki kedekatan pemuda itu dengan Agatha. Namun yang membuatnya semakin buruk adalah coretan kalimat di foto itu.


'Apa yang membuatmu istimewa hingga orang cacat sepertimu berani mendekati Agatha-ku?'


'Aku pasti akan menyingkirkanmu. Dan membuatmu tidak lagi bisa bersama dengan Agatha.'


Rasanya Christ ingin berteriak dan menjelaskan pada wanita yang menatapnya dengan kekecewaan dan ketidakpercayaan itu. Tapi suaranya tidak bisa keluar bahkan bibirnya terasa kelu.


"Kau. Sudah mengenalku sejak lama?" tanyanya menuntut.


Christ hanya terdiam.


"Jawab jika aku bertanya."

__ADS_1


Christ memejamkan matanya tak mampu lagi menatap sang istri dan hanya bisa mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Agatha.


Agatha tertawa sarkas, "Kau sungguh sesuatu Christopher Winston. Jadi selama ini kau membohongiku?"


"Bukan seperti itu Agatha, aku tidak berniat membohongimu. Tidak pernah—"


"Jadi kau mengenal Mikael? Jelaskan. Kenapa kau menulis kalimat tidak beradab itu pada fotonya."


"Agatha, aku tidak ada maksud apapun. Itu hanya emosi yang bodoh saat aku masih muda. Tidak lebih," jelasnya dengan raut memohon agar wanitanya itu mau mendengarkan penjelasannya.


"Kebohongan apalagi yang kau sembunyikan dariku? Kau tahu Christ, aku sudah berusaha meletakkan kepercayaanku padamu setelah semua usahamu padaku. Tapi ternyata semua itu hanya pura-pura?"


Agatha menyeka bulir kristal yang meluncur turun dari sudut matanya. Dia tidak menangis histeris namun hatinya terasa cukup marah dan sakit.


"Agatha, aku bisa jelaskan. Dengarkan dulu ya?" Christ melangkah dan mengulurkan tangannya namun Agatha semakin mundur.


"Tidak. Ini cukup menjelaskan semuanya. Menjauh dariku Christopher Winston."


Agatha menyalakan ponsel di tangannya, menekan panggilan pada sebuah kontak.


"Joshie, jemput aku sekarang."


'Agatha? Ada apa?'


"Jemput aku sekarang. SEKARANG!"


Mematikan ponselnya cepat, Agatha berjalan menuju kamarnya melewati Christ kemudian mengunci pintu. Mengganti jubah tidurnya dengan pakaian lalu keluar.


"Agatha—tunggu, jangan pergi!" cegahnya saat Agatha bergegas melangkah menuju pintu.


Christ berlari ke kamarnya dan mengganti piyamanya cepat sebelum berlari mengejar Agatha yang sudah menaiki lift ke lantai bawah.


Dia tidak bisa membiarkan Agatha pergi seperti ini. Kepalanya sakit. Baru satu kebohongan yang terungkap namun Agatha sudah semarah ini. Bagaimana jika Agatha tahu satu fakta lagi bahwa dia sudah membunuh Mikael?


Begitu pintu lift terbuka, Christ berlari menyusuri lobi mencari keberadaan Agatha. Dilihatnya istrinya itu berada di depan menunggu Joshua dengan raut wajah yang kacau. Langkahnya berderap menghampiri.


"Agatha. Jangan pergi, kita bicarakan ini lebih dulu. Dengarkan penjelasan dariku, kumohon."


Ada rasa sakit dan ngilu di hati Christ saat mendengar namanya diucapkan begitu asing dari bibir Agatha. Bibir yang sama mengucap namanya penuh kasih beberapa jam yang lalu.


Semuanya berubah dalam waktu yang cepat. Karena kesalahannya.


"Kalian sedang apa di luar?"


Suara manis yang mengalun terdengar tidak asing membuat kedua orang itu menoleh. Neona sedang berjalan menuju mereka dengan senyum di bibirnya.


Christ nyaris mengumpat kalau saja hatinya tidak terasa ngilu saat ini. Sementara Agatha hanya menatap dingin wanita di hadapannya itu.


"Selamat pagi nona Agatha," sapanya ramah tidak peduli pada tatapan Christ yang memohon dan memperingatkannya.


"Neona, ini bukan waktu yang tepat. Sebaiknya kau pergi dari sini," tukas Christ gusar. Dia tidak mau Neona memperumit keadaannya sekarang.


"Kenapa kau bersikap begitu, Christ? Padahal aku datang untuk mengundang kalian berdua untuk sarapan," jawab Neona dengan tenang.


"Ini bukan waktu yang tepat, pergilah Neona."


Mengabaikan kedua orang di hadapannya, Agatha gelisah menunggu keberadaan Joshua yang kemudian tiba dan menghentikan mobilnya di depan mereka.


"Agatha! Ada apa?" sapa pria itu yang buru-buru turun menghampiri.


Entah hanya perasaan Agatha atau memang benar Joshua menatap dingin pada Christ sebelum berdiri di sampingnya dan menariknya protektif dalam dekapannya.


"Joshie..." Agatha memeluk sang sahabat erat tanpa peduli pada Christ yang menatap terluka.


"It's okay, I'm here Agatha."


"Agatha, dengarkan aku dulu—"


"Don't you dare, Christopher Winston," ucap Joshua mengancam.


"Aku suaminya kalau kau lupa, Joshua Sanders. Biarkan aku bicara pada istriku," balas Christ tidak mau mengalah. Kali ini dia tidak boleh kehilangan Agatha lagi.

__ADS_1


Joshua bungkam. Dia memang tidak berhak. Christ adalah suami Agatha namun dia tidak akan peduli pada status itu jika sudah menyangkut kebahagiaan Agatha.


"Take me away from here, Joshie."


"Agatha, please—"


Christ menahan lengan Agatha, sementara wanitanya itu menepisnya.


"Sepertinya kalian sedang dalam situasi yang tidak baik. Ya, mau sampai kapanpun ternyata keberadaan Joshua Sanders-lah yang tidak akan pernah tergantikan dalam hidup seorang Agatha," ucap Neona menginterupsi ketegangan diantara mereka.


Christ kini menatap tajam pada Neona seolah siap menerkam.


"Apa? Bukankah itu benar?" lanjut Neona menjawab tatapan dari Christ, dan wanita itu tidak terlihat takut sama sekali meski melihat kemarahan menyala dalam sorot mata Christ.


"Dulu maupun sekarang, seorang Agatha dan Joshua Sanders tidak terpisahkan. Kurasa langkahmu sudah salah sejak awal, Christ. Harusnya kau menyingkirkan tuan Sanders alih-alih si bisu waktu itu."


"NEONA!"


Suara teriakan itu terdengar mengejutkan bahkan untuk dua sahabat yang kini menatap Neona terkejut.


"Apa m-maksudmu nona Walker?" tanya Agatha terbata. Dia tidak salah memahami kalimat Neona kan?


"Bukankah aku sudah mengatakan pada anda, nona Anderson. Bahwa Christ sudah jatuh cinta pada anda sejak bertahun-tahun yang lalu? Anda sudah menanyakan hal itu padanya?"


"NEONA DIAM!"


"Kenapa Christ? Sudah seharusnya kau jujur pada istrimu kan?" cemooh Neona, wanita itu tersenyum miring mengejek.


"Jika anda sudah mengetahuinya maka seharusnya anda juga tahu apa yang dia lakukan pada kekasih anda si tunawicara itu kan?"


Christ yang tidak lagi mengontrol emosinya melangkah maju hendak menghentikan Neona namun Joshua lebih dulu menahannya.


"Lepaskan aku!" sentaknya.


"Tidak sampai dia selesai bicara."


Neona tertawa, "Lucu sekali. Kalian bahkan tidak tahu apa-apa," tatapan Neona kini beralih fokus pada Agatha.


"Kau tahu hal yang lucu di sini nona Agatha? Pria yang kini suami anda itulah yang membunuh kekasih anda. Dia yang mendorong kekasih anda ke danau malam itu."


"NEONA!!!" Christ memberontak berusaha melepaskan diri dari pegangan Joshua namun pria itu memegangnya kuat seolah tahu Christ akan menyerang Neona.


Agatha merasa dunia di bawah kakinya terjungkir dan runtuh. Wanita itu jatuh terduduk di tempatnya dengan pandangan kosong.


Apa yang barusan didengarnya?


Tidak mungkin kan... A-apa?


Jantungnya berdegup begitu kencang. Kepalanya pusing dan pendengarannya serasa berdenging.


"Agatha, jangan percaya padanya! Dengarkan aku—"


"Kau bisa percaya padaku nona Agatha. Menurutmu darimana aku tahu detail kejadian itu? Akulah satu-satunya saksi yang melihat kekasih anda jatuh ke danau setelah di dorong olehnya," final Neona meyakinkan Agatha.


"Tidak! Bukan begitu! Agatha—"


PLAK!!!!


Satu tamparan keras terdengar menggema membuat Christ terdiam.


Di hadapannya, Agatha kini berdiri dengan tatapan penuh amarah, takut, kecewa dan terluka. Membuat Christ tidak lagi bisa berkata-kata.


Bukan tamparan Agatha yang menyakitinya. Namun tatapan kebencian Agatha padanya sudah mampu membuat menghancurkan dirinya.


.


.


.


Riexx1323

__ADS_1


__ADS_2